
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Sekarang Fadly sudah dibawa pulang ke apartement keluarga Dewantara yang berada di Amerika oleh kedua orang tuanya.
Selama satu bulan ini Fadly berusaha untuk tetap makan meskipun tidak berselera, minum obat yang diberikan dokter dan juga beristirahat secara teratur. Agar penyakitnya segera sembuh dan ia bisa pulang ke Indonesia, lalu bertemu Tari kembali. Itulah yang ada dalam rencananya.
Meskipun kata dokter ia sudah pulih 100%, tapi kedua orang tuanya masih belum mengizinkannya untuk pulang ke Indonesia. Alasan mereka karena Fadly harus check up kembali. Padahal Fadly tahu, itu tidak perlu karena ia sudah pulih 100%.
Fadly hanya sangat menghargai kedua orang tuanya yang telah membiayai pengobatannya dan membawanya jauh-jauh hingga ke negara ini.
Semenjak kepulangannya ke apertement, ia hanya berdiam diri di kamar. Memainkan game favoritnya, melihat-lihat isi sosmednya. Tentu dengan menggunakan ponsel baru yang dibelikan Tuan Haris.
Tuan dan Nyonya Haris sudah membuang ponsel lama Fadly. Mereka mengatakan pada Fadly, bahwa ponsel itu sudah hancur pada saat Fadly mengalami kecelakaan.
Orang tua Fadly berbohong, agar Fadly tidak dapat menghubungi Tari lagi.
Saat melihat-lihat sosmednya, banyak teman yang memberikan semangat untuknya pada saat ia mengalami kecelakaan. Tapi yang waktu itu dan sekarang ia inginkan adalah semangat dari Tari. Gadis yang paling dirindukannya.
Semenjak kejadian kecelakaan itu, sudah genap dua bulan ia tidak melihat wajah Tari.
***
Tari sedang berbicara pada pelanggannya yang akan mempermak bajunya ketika Sandi datang ke kios jahitnya. Pelanggannya adalah seorang pria, yang membuat Sandi tidak suka.
Melihat Tari berdekatan dengan pria lain membuat Sandi menjadi hilang kendali, hilang akal, emosinya cepat tersulut. Tari adalah miliknya, meskipun belum disahkan secara agama dan negara.
"Mulai besok kamu tidak usah pergi ke kios ini lagi. Cepat selesaikan semua pekerjaan kamu dan berikan baju-baju itu pada pemiliknya. Setelah itu, sembari menunggu beberapa hari lagi pernikahan kita. Kamu hanya boleh tinggal dirumah. Dengan begitu, tidak ada pria-pria lain yang berdekatan dengan kamu. Paham?" ucap Sandi ketika mereka tinggal berdua di kios.
Sandi mengucapkannya dengan tegas. Seolah ia adalah seorang bos yang sedang memerintah kacungnya dan kacungnya harus menurutinya.
Setelah dua bulan bersama, Tari sudah cukup berani menjawab kata-kata dari Sandi. Tari pun menjawab enteng dan tidak ada maksud apapun, "Kalau saya gak menjahit, saya akan dapat uang dari mana, Mas?"
__ADS_1
Secara tidak langsung Sandi sedikit tersindir karena ia memang tidak pernah memberikan uang pada Tari. Hanya biaya perobatan untuk operasi Pak Syabani saja yang ditanggungnya, selain itu ia tidak pernah mengeluarkan uang yang lainnya untuk biaya keperluan Tari dan keluarganya.
Sedangkan untuk biaya makan dan keperluan Tari dan Bu Rosita selama di rumah sakit, itu mengandalkan uang sisa-sisa tabungan Tari. Meskipun Sandi terbilang kaya, tapi Tari bukan type gadis yang suka meminta-minta pada orang lain, meskipun orang itu adalah calon suaminya sendiri.
"Oh, kamu menyindir Mas, Tari?" tanya Sandi dengan suara meninggi karena sudah tersulut emosinya sejak tadi.
"Sama sekali gak, Mas. Maksud Mas menyindir apa."
Tari mengucapkan itu secara spontan, ia memang tidak memikirkan terlebih dahulu respon dari calon suaminya itu. Ia berpikir, ya memang benar jika ia harus bekerja menjahit untuk menghasilkan uang, tidak meminta pada Sandi.
Karena selama ini, pria itu tidak pernah memberikan uang padanya dan ia pun tidak berharap untuk diberi. Sehingga Tari berpikir, jika Sandi menyukai wanita yang mandiri dan tidak selalu berharap pada laki-laki.
"Karena Mas gak pernah kasih uang jajan ke kamu, ya kan?" ucap Sandi masih dengan suara tingginya, matanya tajam menatap Tari.
Tari hanya tersenyum kecut, ia sama sekali tidak ingin membuat Sandi merasa tersindir dan menjadi marah seperti ini. Sungguh, pria yang usianya berjarak sepuluh tahun dengannya itu sama sekali tidak dewasa menurut Tari.
"Kamu pikir sendiri ya," Sandi mengucapkannya sembari menyentuh kening Tari dengan jari telunjuknya.
"Kamu kira biaya operasi bapak kamu itu sedikit? Kamu kira waktu kita mondar-mandir ke kantor polisi itu gak mengeluarkan biaya? Kamu pikir siapa yang membayar jasa pengacara yang membela kamu itu? Ha!?"
Tari tertunduk lesu, ia tidak menyangka. Jika kata-katanya tadi sangat menyakiti hati Sandi.
Jika wanita diluar sana selalu benar, namun Tari selalu salah dimata Sandi selama ini. Dan Tari lah yang selalu meminta maaf duluan, meskipun ia benar.
"Bilang aja kamu gak mau di rumah karena kamu mau berdekatan terus sama pria-pria pelanggan kamu itu kan? perempuan g* tel kamu!"
Sontak Tari yang sedang duduk di depan mesin jahitnya menengadah menatap Sandi yang sedang berdiri dengan wajah tidak sukanya. Ia sudah meminta maaf, namun mengapa pria itu menjadi semakin emosi.
"Kenapa? gak terima?"
"Mas, cukup!"
Tari beranjak dari tempat duduknya, sekarang mereka berdiri berhadapan.
"Hanya karena ada pelanggan saya seorang pria yang mau jahit baju-bajunya mas bilang saya perempuan ga* tel? Mas lihat sendiri kan tadi saya dan pria itu hanya membahas tentang baju yang mau dipermak. Masalahnya dimana, Mas?"
Tari merasa dirinya sudah menjaga jarak dengan pelanggan pria nya tadi. Saat Sandi datang pun Tari semakin menjauhkan dirinya saat berbicara. Namun entah apa yang dipikirkan Sandi sehingga ia sangat marah seperti itu.
"Itu karena mas datang tadi. Kalau gak ada Mas? mungkin kalian akan melakukan hal me* sum disini. Siapa yang tahu?"
__ADS_1
"Astaghfirullah,," Tari menangkupkan tangannya untuk menutup wajahnya. Bulir bening sudah mengalir dari matanya.
Sandi menatap Tari dengan wajah yang masih memerah menahan amarah. Kecemburuannya sudah sangat membakar emosinya. Apalagi Tari tidak mau dilarang untuk tidak menjahit lagi. Emosinya semakin menguar.
"Kalau Mas bilang saya perempuan yang seperti itu, untuk apa Mas mau menikahi saya?" tanya Tari.
"Asal kamu tahu ya, LESTARI!!! awalnya saya cinta sama kamu. Tapi setelah beberapa kali kamu menolak lamaran saya. Bahkan setelah tiga tahun berlalu kamu masih belum menerima saya juga. Rasa cinta itu hilang, lenyap begitu saja, ditelan kesombongan kamu!" ucap Sandi dengan mata penuh emosi dan menekankan kata Lestari.
Yang tadinya ia membahasakan dirinya Mas, sekarang menjadi saya karena emosinya itu.
"Dan saat kamu datang malam itu, mengemis pertolongan saya. Dan bermohon pada saya untuk menikahi kamu. Ya, saya menerima kamu, tapi karena saya kasihan sama kamu," dengan sangat menyakitkan Tari, kata-kata itu keluar dari mulut Sandi.
'Omong kosong apa yang dikatakan pria dewasa namun seperti anak-anak ini? Bukankah pria itu sendiri yang mengatakan, jika hutang kontrakan rumahnya mau segera lunas, pria itu akan dengan senang hati menerima Tari datang kerumahnya, namun harus mau menikah dengannya. Tapi, apa yang barusan pria itu katakan tadi? Tari yang bermohon untuk dinikahi? Hah lelucon macam apa ini?' Tentu Tari mengatakan itu hanya berani didalam hatinya saja.
"Yasudah, Mas. Kalau begitu kita batalkan saja pernikahan ini. Mas gak cinta kan sama saya?" Tari menantang Sandi.
"Oh, jadi setelah saya menolong kamu, uang saya sudah banyak keluar untuk kamu. Dan persiapan pernikahan sudah 100%, kamu mau membatalkan pernikahan ini?" ucap Sandi masih dengan berapi-api.
"Undangan sudah tersebar!!! Kamu mau bikin malu kekuarga saya, dengan membatalkan pernikahan ini, HA!!!" lanjut Sandi, pria itu membentak Tari di depan wajah Tari.
Tari yang tidak kuat hatinya merosot kebawah, sembari memegangi dadanya yang terasa amat sesak.
Hari pernikahan itu semakin dekat, namun Tari semakin melihat dengan jelas perangai Sandi yang tidak baik.
Sandi menyuruh Tari untuk segera pulang ke rumah saat itu juga. Tari hanya menuruti perkataan Sandi saat ini, tidak mau ia membuat semua ini menjadi semakin runyam.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤
__ADS_1