Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Bahagianya Hati Tari


__ADS_3

Setelah dijenguk oleh Fadly, benar saja keesokan harinya Tari sudah kembali segar. Pikirannya tenang, hatinya bahagia. Kemarin juga selera makannya mulai meningkat, sehingga energi nya sudah kembali pulih.


Tari sudah melanjutkan aktivitasnya kembali, menjahit di kios jahitnya setelah dua hari lamanya ia tidak menjahit. Ia juga sudah memastikan pada ibu sambungnya itu untuk membawa bapaknya check up ke rumah sakit pada hari ini.


Hatinya sangat bahagia karena sudah dijenguk Fadly kemarin. Lelaki itu juga memberikan perhatian padanya. Dengan kata-kata yang lembut, tatapan yang hangat, dan sentuhan tangan Fadly yang mengalirkan energi positif pada Tari.


Pagi hari tadi juga ia menerima pesan melalui sms yang berisi perhatian dari Fadly. Fadly mengingatkannya untuk jangan sampai telat makan yang teratur dan tidak lupa untuk minum obat.


Sehingga ia bekerja dengan semangat sekali hari ini. Beberapa pelanggan sudah ia hubungi untuk mengambil hasil jahitannya karena sudah selesai.


Tadi pagi setelah sampai di kios jahit ia dengan semangat menjahit baju-baju para pelanggannya sehingga baju-baju itu cepat terselesaikan.


Hari sudah beranjak siang, sebenarnya ia ingin terus melanjutkan jahitan baju-baju para pelanggannya. Namun ia terus mengingat pesan dari Fadly bahwa jangan sampai telat makan.


Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya yang akan melanjutkan menjahit. Ia mengambil tempat bekal yang sudah dibawa dari rumah. Ia makan sendiri lalu mengingat kembali kejadian kemarin dimana Fadly sangat perhatian sekali padanya. Tari makan sambil tersenyum sendiri.


Tiba-tiba pintu kiosnya ada yang mengetuk. Tari tersadar dari lamunannya, ternyata yang datang adalah Dodi dan istrinya, Winda. Dodi sudah menikah, sudah sembilan tahun lamanya. Wajah mereka pun tampak sudah tidak muda lagi.


Dulu Winda pernah hamil, tapi Winda keguguran. Setalah itu Winda tidak pernah hamil lagi. Hingga baru tahun ini mereka diberikan kepercayaan lagi oleh Allah. Karena kini Winda sedang hamil anak mereka, Tari kurang tahu berapa umur kehamilan Winda. Tapi yang dilihat Tari, perut Winda sudah sangat besar.


"Numpang makan di kios kamu ya Tari, kasian kak Winda makan di pinggir jalan," ucap Dodi.


Memang kios Dodi letaknya sangat dekat sekali dengan jalan, hal itu akan memudahkan orang yang akan membeli koran tidak perlu turun dari kendaraannya.


Dan kiosnya pun hanya kios yang sangat kecil sekali dengan empat tiang kayu dan diatasnya hanya beratapkan karpet plastik berwarna biru. Di kanan dan kirinya banyak tergantung koran yang dijual Dodi, majalah-majalah disusun Dodi dirak kayu dibagian depan.


Kemudian ada bangku plastik untuk Dodi duduk. Dan untuk istirahatnya, apabila Dodi lelah ia akan merebahkan tubuhnya sejenak dibawah, beralaskan tikar.


"Iya, yuk makan bareng, Tari juga baru aja mau makan nih," ucap Tari pada sepasang suami istri itu.

__ADS_1


"Kakak numpang ke kamar mandi dulu ya Tari, mau buang air kecil," ucap Winda dan berjalan menuju belakang kios Tari.


"Biasalah ibu hamil, bawaannya kencing melulu Tar," ucap Dodi sembari tertawa dan diikuti Tari yang juga tertawa.


Tari tidak sadar dari tempatnya dan Dodi duduk kini ada yang menatap mereka dengan wajah memerah menahan marah. Enggan berlama-lama melihat adegan apa yang tersaji di depan matanya, orang itu pergi dengan perasaan kesal dan marah.


Winda sudah keluar dari kamar mandi dan mereka bertiga duduk di bawah dengan tikar yang digelar Tari sebelum Dodi dan Winda tadi datang.


Ketika sedang makan, Dodi menanyakan perihal majalah bekas yang ia berikan pada Bu Rosita tempo hari.


"Majalah bekas yang kamu pesan itu udah ada Tari, tapi gak banyak jadi kamu gak bisa pilih. Kemarin udah abang pilihkan dari tahun yang paling terbaru," ucap Dodi seraya memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Sekarang mana majalahnya bang?" tanya Tari.


"Lah.. kan udah abang kasih ke ibu kamu," jawab Dodi.


"Tapi ibu gak ada ngasih ke Tari."


Tari berpikir, waktu ibu tirinya itu kecelakaan, Tari melihat memang Bu Rosita membawa sesuatu seperti majalah. Tapi Dodi bilang majalahnya ada lima, trus mengapa Bu Rosita tidak keberatan membawa majalah itu? Dan lagi mengapa Bu Rosita tidak mengatakan padanya? Ia bertanya-tanya dalam hati.


"Yaudahlah bang, nanti Tari tanyakan aja ke ibu."


Setelah selesai makan Bang Dodi mengantarkan Winda pulang ke rumah mereka dan Bang Dodi menitipkan kios jualannya sebentar pada Tari.


Sepeninggal mereka, Tari mengambil ponselnya, ingin melihat lagi pesan dari Fadly tadi pagi. Karena memang berulang kali ia melihat pesan itu di ponsel bututnya.


Tapi setelah dilihatnya ternyata ponsel itu padam karena kehabisan daya. Karena sudah berulang kali Tari menatap ponsel itu hanya untuk melihat pesan dari Fadly ia sampai lupa mencharge ponselnya. Tadi sebelum makan siang juga banyak pelanggannya yang ia hubungi melalui sms menggunakan ponsel itu. Sehingga baterainya cepat habis, apalagi ia tadi malam juga tidak mencharge ponselnya.


Ia beranjak akan mencharge ponsel itu, tapi chargernya tidak ia temukan. Ia periksa tasnya juga tidak ada.

__ADS_1


Tari membuang nafasnya kasar, ia kesal karena lupa membawa chargernya. Akhirnya ia memasukkan kembali ponselnya yang sudah sangat ketinggalan zaman itu ke dalam tas. Nanti sore ketika pulang ia akan langsung mencharge nya. Semoga tidak ada pelanggan yang menghubunginya lagi, batinnya.


Lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk karena dua hari ia tidak menjahit. Hingga sore ia melakukan pekerjaannya menjahit baju.


Sungguh tidak terasa melelahkan karena bekerja dalam keadaan hati yang bahagia dan pikiran yang tenang.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.15 Wib. Akhirnya ia menghentikan pekerjaannya. Membereskan semua yang berserakan, disusunnya baju-baju yang sudah selesai ia jahit.


Dan memisahkan kain yang belum dijahit. Ia juga menyusun barang-barang yang tergeletak di lantai lalu menyapu lantai itu hingga bersih.


Setelah kios jahitnya sudah tampak bersih dan rapi. Nampaklah majalah bekas yang dikatakan Dodi tadi padanya. Tari menghitung majalah itu, total semuanya ada lima.


Ok, berarti benar yang dikatakan Dodi ada lima majalah. Dan semuanya sudah lengkap. Batinnya. Ia tersenyum puas.


Setelah beres menyelesaikan semuanya, kemudian ia menutup pintu kios jahitnya dan menguncinya. Lalu berjalan sedikit kearah kiri, dan memasuki gang. Ketika sedang berjalan di gang itu, Dodi memanggilnya. Tari berhenti.


"Yuk! abang anter kamu. Kebetulan abang mau nganterin majalah pesanan orang, rumahnya searah dengan rumah kamu."


"Wah! rezeki anak solehah nih dapat tumpangan," celetuk Tari dengan girang, sembari naik ke boncengan belakang motor bebek Dodi.


Dodi yang mendengar celetukan Tari pun terkekeh.


Motor bebek Dodi sudah jarang sekali di service sehingga jika dikendarai dengan kencang akan keluar asap hitam dari knalpotnya. Sehingga motor bebekpun berjalan lambat. Membuat orang yang melihat pengendara yang ada diatasnya seperti menikmati sekali perjalanan mereka.


Di sebelah Tari dan Dodi lewat motor sport hitam dengan deru motor yang kencang. Pengendaranya memakai helm yang tertutup, sehingga tidak bisa dikenali orang lain. Tapi Tari hafal betul siapa pengendara motor itu, yang tak lain adalah Fadly.


#####


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, rate bintang lima, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih


__ADS_2