
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Sandi yang baru saja sampai ke rumahnya, menghampiri ayah dan ibunya yang sedang duduk di meja makan, mereka akan bersiap untuk makan siang bersama.
Wajah Sandi yang tampak kusut di sapa ibunya, "Kenapa sih wajah kamu kok kusut dan murung begitu? calon pengantin wajahnya harus berseri-seri."
"Tari, Bu. Ngeyel banget, susah diatur."
"Susah diatur bagaimana?" tanya Bu Hanifa yang sedang sibuk menata makanan di meja makan.
"Dia jahit, dan menerima menjahit baju laki-laki, Bu. Aku gak suka dan aku larang, supaya dia dirumah aja, tapi dia ngeyel."
"Ya ampun, dasar si Tari itu ya! Maksud dia apa coba? Biar ibu nanti datang ke rumahnya dan bilangi dia secara langsung," tampak wajah kesal Bu Hanifa.
Pak Irsyad yang mendengar pun ikut berbicara, "Sudah, Bu. Biarkan mereka memecahkan masalah mereka sendiri, mereka kan sudah dewasa. Kita sebagai orang tua hanya menasehati yang baik, bukan menyalahkan di satu pihak saja."
"Lagian Sandi, memangnya kenapa kalau Tari menerima menjahit baju laki-laki? Mungkin jika menerima menjahit baju perempuan saja akan sedikit mendapat penghasilannya nanti, sebaiknya kamu harus tanya dulu sebelum ngelarang-ngelarang," Pak Irsyad menasehati dengan nada suara yang lemah lembut.
Sandi hanya diam mendengarkan nasehat dari ayahnya.
"Ckk, ayah ini kenapa sih malah belain Tari? bukannya belain anak sendiri," ucap Bu Hanifa yang masih kesal.
"Bukan belain, Bu. Kan sudah ayah bilang, kita sebagai orang tua tidak bisa menyalahkan di satu pihak saja. Mereka kan sudah dewasa, biarkan mereka memecahkan masalah mereka sendiri. Kalau Sandi mengadu tentang Tari, ibu nasehati anak kita dan jangan langsung memarahi Tari," kata Pak Irsyad.
Bu Hanifa memalingkan wajahnya, malas berhadapan dengan suaminya yang membuat ia kesal.
"Dan, sudah sering memang ayah lihat. Jika pasangan yang akan segera menikah itu sering bertengkar. Kamu tahu kenapa?" ucap Pak Irsyad yang menatap Sandi.
Sandi menggeleng.
"Karena pernikahan itu adalah ibadah terlama di dunia. Kebahagiaan yang kamu kasih ke istri kamu nantinya, itu akan bernilai pahala besar. Membuat istri kamu tersenyum saja, kamu sudah dapat pahala. Oleh karena itu, setan sangat tidak suka jika ada dua insan, laki-laki dan perempuan menikah. Makanya setan menghasut kalian supaya kalian bertengkar dan mengagalkan pernikahan kalian sendiri."
Sandi mencerna kata-kata petuah yang diberikan ayahnya. Ia tidak menginginkan pernikahan ini gagal, justru Tari lah yang menginginkan itu.
'Kalau gitu, berarti Tari yang sudah tergoda hasutan setan. Karena tadi dia yang minta untuk menggagalkan pernikahan ini,' gumam Sandi dalam hati.
Sandi malas berdebat dengan ayahnya, ia hanya memilih diam dan tidak berniat membalas perkataan ayahnya.
***
Panggilan Telepon dari Lea masuk, ia melakukan panggilan video, Nyonya Shofia segera mengangkatnya, "Hallo sayang. Rindu banget sama mama ya? sampai bolak-balik telepon begini."
__ADS_1
Lea sedikit merasa kewalahan menangani perusahaan raksasa itu sendirian. Setiap hari ia selalu menanyakan kapan mama dan papanya pulang dari sambungan telepon ataupun video call. Bisa sehari enam hingga tujuh kali ia melakukan panggilan internasional pada keluarganya yang jauh di negeri paman sam itu.
"Hallo, Ma," jawab Lea dengan lesu.
"Jangan lesu gitu dong, sayang. Mama dan papa akan meyakinkan Fadly dulu barulah mama dan papa pulang, kamu yang ngerti dong!" bujuk Nyonya Shofia pada putri sulungnya.
Sebenarnya Nyonya Shofia juga tidak tega meninggalkan Lea sendiri di rumah dan mengurus perusahaan sendiri. Meskipun Lea mempunyai asisten, tapi tetap saja rahasia perusahaan hanya dirinya dan ayahnya saja yang boleh tahu.
Di rumah, sesekali Zakia, tantenya, atau adik mamanya sering berkunjung untuk menemani Lea. Zakia sendiri tidak tinggal satu kota dengan keluarga kakaknya, ia tinggal di Surabaya, namun Nyonya Shofia sengaja menyuruh Zakia untuk sesekali berkunjung ke rumah mereka.
Karena, Zakia juga tidak ada pekerjaan apapun di rumahnya, sehingga ia mempunyai banyak waktu luang untuk menemani keponakannya di Jakarta.
Sementara, suami Zakia adalah kapten kapal pesiar milik keluarga Dewantara. Sehingga ia hanya sendiri tinggal di rumah. Ketika kakaknya menyuruh Zakia untuk ke Jakarta menemani Lea di rumah ia pun kegirangan.
"Iya deh, cepetan dong meyakinkannya, ini sudah dua bulan loh, Ma. Mama dan papa di sana. Mau berapa lama lagi?" raut wajah Lea sudah berubah cemberut.
Panjang percakapan antara ibu dan anak itu, meskipun Lea sudah entah yang keberapa kalinya hari ini melakukan panggilan video. Tapi ibu dan anak itu seolah tidak merasakan bosan.
Ketika panggilan itu akan di matikan, Lea baru ingat ada yang akan di sampaikannya.
"Ma.. Ma.. Tunggu, Ma. Ya ampun, hampir lupa aku," ucap Lea tiba-tiba seraya menepuk keningnya sendiri.
"Ada apa? belum puas lagi ngobrol sama mama?" tanya Nyonya Shofia gemes.
"Kemarin di telepon sama Pak Irsyad, dia mau datang ke rumah. Mau kasih undangan ke kita. Katanya anak bungsunya akan menikah minggu ini."
"Wah, kabar baik. Terus?" terlihat wajah Nyonya Shofia sumringah.
"Iya ya, kita juga tidak ada memberi tahu sama sekali tentang Fadly sama Pak Irsyad."
"Iya, Ma."
"Terus gimana, Sayang?" tanya Nyonya Shofia.
"Yaudah deh, dia bilang, semoga Fadly segera pulih dan semoga mama, papa dan Fadly bisa pulang ke Indonesia dengan selamat."
"Ya ampun, Sayang. Bukan tentang Fadly yang mama maksud."
"Jadi apa, Ma?," kening Lea mengernyit.
"Ya tentang anaknya yang mau menikah dong!"
"Oh, itu. Dia ngundang keluarga kita untuk datang ke pestanya."
"Oh, Yasudah kamu datang ya, Sayang."
"Jauh banget, Ma. Tempatnya. Aku gak tahu."
"Kamu ajak saja Andi, Andi paling jago tuh cari alamat," ucap Nyonya Shofia memberi ide pada Lea.
__ADS_1
Mereka memang tidak tahu, jika Fadly waktu itu kabur ke kampung halaman Pak Irsyad. Dan bahkan mengontrak di salah satu rumah kontrakan Pak Irsyad. Yang mamanya tahu hanya, Andi diajak kabur ke kampung oleh Fadly.
"Transfer uang aja deh, Ma," tawar Lea.
"Jangan dong, Sayang. Pak Irsyad itu sudah lama sekali kerja di keluarga kita. Anak sulungnya juga kerja di perusahaan kita. Dan lagi, anak bungsunya yang mau menikah ini atau anak yang satunya lagi ya yang kerja di kapal pesiar kita, Mama lupa. Jadi kalau cuma transfer uang saja rasanya kurang pas, Sayang," ucap Nyonya Shofia agak memaksa Lea.
Lea adalah anak yang penurut, ia tidak akan mengatakan tidak untuk kedua orang tuanya. Dan iapun menyanggupi untuk pergi ke pesta pernikahan anak dari mantan kepala pelayan mereka.
"Yaudah deh, Ma. Aku datang nanti."
"Nah, gitu dong anak mama, nanti kamu belikan perhiasan saja sebagai kado untuk hadiah pernikahan anak Pak Irsyad ya, sayang."
"Iya, Ma."
Nyonya Shofia tersenyum, "Terimakasih, sayang. Sudah mau menuruti mama dan selalu buat mama seneng."
"Iya, Ma. Sama-sama," jawab Lea yang juga tersenyum.
Setelah tidak ada percakapan yang akan dibahas lagi, mereka pun menyudahi panggilan video itu.
***
Sejak lima hari yang lalu Tari sudah menjahit dan menyelesaikan semua baju-baju pelanggannya dan sudah diambil oleh pelanggannya masing-masing. Sudah genap tiga hari ini ia hanya berdiam diri dirumah.
Besok, hari minggu adalah hari dimana ia akan menikah dengan Sandi. Hanya tinggal menghitung jam saja.
Tidak terbayangkan Tari sebelumnya jika dirinya harus menikah dengan pria yang tidak ia cintai. Bahkan pria itu terpaut sepuluh tahun darinya. Pria yang kata-katanya sangat kasar jika berbicara, narsis dan sama sekali bukan type pria yang ia dambakan.
Apalagi pernikahan ini sebatas simbiosis mutualisme. Sandi yang sedari dulu mengharapkan cintanya namun tidak pernah dibalas oleh Tari, kemudian karena Tari sangat membutuhkannya sehingga mereka mengambil kesempatan ini untuk saling menguntungkan diri mereka masing-masing, hal itu membuat hati Tari teriris pedih.
Tak terasa bulir bening pun kembali mengalir dari matanya. Tidak henti-henti ia menangisi nasibnya.
Namun meskipun begitu, Tari tidak pernah mengatakan apapun pada bapaknya. Yang bapaknya tahu, Tari sudah menyukai Sandi. Karena Sandi sudah berubah menjadi orang yang baik tidak sombong dan angkuh seperti dulu.
Sehingga bapaknya pun merestui pernikahan mereka. Dan besok Pak Syabani sendirilah yang akan menikahkan anak gadis satu-satunya itu.
Ia memejamkan matanya dengan sisa-sisa air mata di pipi. Ia benar-benar harus istirahat malam ini, karena besok setelah subuh akan dijemput untuk di rias di rumah keluarga Sandi. Dan memulai sandiwaranya untuk menjadi pengantin bahagia.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤