
Fadly melihat mobil yang membawa Nyonya Shofia dan Lea telah berangkat. Mereka pergi dengan mobil terpisah. Tadi mobil mereka terparkir didepan mobil Fadly, sehingga Nyonya Shofia dan Lea tidak melihat Tari yang masuk ke mobil Fadly.
Tari sudah siap memasang sabuk pengaman, "Ayo! Mas berangkat," serunya pada Fadly dengan wajah riang gembira.
Fadly bingung, apakah ia harus membawa Tari bersamanya. Ia tidak bisa mengatakan Tidak pada Tari. Lama ia mempertimbangkannya. Ia sebenarnya bisa saja membawa Tari bersamanya, tapi pasti Nyonya Shofia akan memarahinya, karena tidak menurutinya. Tapi sekali lagi, Fadly tidak kuasa menolak permintaan sang pujaan hati. Berulang kali Tari mengatakan, ia ingin ikut karena bosan di Mansion terus-terusan sepanjang hari dan tidak melakukan apa-apa. Akhirnya Fadly menyalakan mesin mobilnya, Fadly menoleh kearah Tari, senyum gadis itu semakin merekah tatkala Fadly menjalankan mobilnya.
Perjalanan menuju hotel tidak memakan waktu lama, karena hari itu adalah hari libur sehingga jalanan tidak macet. Mereka sampai di hotel milik Lea dan bertemu Nyonya Shofia dan Lea.
Nyonya Shofia terkejut dengan apa yang dilihatnya, karena Fadly datang bersama Tari.
"Kenapa kamu ikut, Tari?" tanya Nyonya Shofia dsngan wajah yang tidak bisa diartikan. Ada semburat kecewa, marah dan juga takut menjadi satu.
"Tari bosan, Ma. Di mansion terus dan tidak melakukan apa-apa. Jadi terpaksa aku ajak," jawab Fadly membela Tari. Nyonya Shofia tidak menjawab apa-apa ia berbalik dan terus berjalan meninggalkan mereka. Fadly tahu mamanya kecewa.
***
Pertemuan mereka dengan pihak wedding organizer telah selesai. Mereka juga sudah melihat hall yang akan dipakai untuk acara resepsi pernikahan Tari dan Fadly nanti. Saat itu tepat pukul dua belas siang. Lea mengajak mereka untuk makan di restoran yang berada di hotel miliknya.
Mereka makan siang hanya bertiga, Tari, Lea dan Nyonya Shofia saja. Sedangkan Fadly izin untuk berpisah dari mereka. Karena ada hal yang harus ia urus. Fadly sudah mengatakannya pada saat sarapan tadi pagi, dimana siang ini ia harus meninjau lokasi yang akan ia jadikan tempat cabang Lestari tour and travel. Jadi, Fadly bukan hanya memiliki jasa travel di Bali saja, namun nantinya ia juga memiliki jasa travel di Jakarta.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak menuruti perkataan mama?" ucap Nyonya Shofia, pandangannya mengarah kearah Tari.
Sedangkan Tari kini jantungnya sedang bergemuruh. Ia tahu ia salah, karena pada saat sarapan ia sudah manut dengan mengatakan "Ya" saat Nyonya Shofia melarangnya untuk ikut ke Lea Dewantara Hotel. Tapi saat ini ia malah sudah bergabung bersama calon mertua dan kakak iparnya itu di hotel tempat perayaan pernikahannya nanti.
Lama Nyonya Shofia menunggu jawaban Tari, namun sepertinya gadis itu tidak tahu harus menjawab apa, sehingga Tari hanya diam saja.
"Mama hanya tidak ingin kamu mengalami hal-hal yang tidak diinginkan diluar. Ya, memang kalau kamu dirumah bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Kalau memang sudah takdir mau dirumah, mau dijalan pasti bakal terjadi. Tapi setidaknya, kan kita bisa meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan diluar rumah, apalagi dijalan."
Mendapat wejangan dari Nyonya Shofia yang sedikit mengarah ke rasa marah, Tari semakin menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menjawab bahkan hanya sekedar menatap calon mertuanya itu ia tidak berani.
"Mama tidak marah. Hanya saja mama kecewa, kenapa kamu tidak menurut! Yasudahlah, ayo makan makanan kamu. Setelah itu kita segera pulang!"
Nyonya Shofia tersenyum dan mengelus lembut lengan kanan Tari, "Nanti mama akan temani kamu membuat kegiatan dirumah, biar kamu tidak bosan."
Mendapat sentuhan dan kata-kata lembut dari Nyonya Shofia, Tari jadi berani mendongakkan kepalanya. Ia menatap Nyonya Shofia, ada kesungguhan dan ketulusan dari ucapan calon mertuanya itu, hati Tari menghangat.
Mereka bertiga cukup lelah, setelah selesai makan siang, mereka memutuskan langsung pulang. Karena Fadly sedang tidak bersama mereka, jadi Tari pulang bersama Nyonya Shofia dan juga Lea. Mobil mereka yang disupiri oleh Andi sudah terparkir diluar didepan pintu masuk hotel, karena Lea sudah menelepon Andi tadi.
Tari, Nyonya Shofia, dan juga Lea berjalan beriringan.
__ADS_1
"Aku didepan saja, Ma. Jadi mama dan Tari dibelakang," ucap Lea membuka suara saat berjalan di lobby hotel.
Saat sudah berada didekat mobil, Lea membuka pintu depan mobil, masuk ke mobil dan duduk disamping Andi sang supir mereka sejak dulu. Kemudian disusul Nyonya Shofia yang membuka pintu belakang mobil, lalu masuk. Kejadian berikutnya, hanya dalam hitungan detik, pada saat Tari hendak masuk mobil ada sebuah mobil sedan berwarna hitam dengan kecepatan tinggi menerobos dan berniat menabrak Tari.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat Fadly langsung menarik tangan Tari, kecelakaanpun terhindari. Fadly memeluk Tari, ia tidak akan membiarkan calon istrinya dicelakai orang. Siapapun orang yang berniat menabrak Tari tadi, Fadly pastikan hidup orang itu tidak akan tenang. Bahkan Fadly sangat ingin sekali melenyapkan orang itu sekarang juga.
Fadly masih memeluk Tari, tangan kirinya dipunggung Tari. Sedangkan tangan kanannya ia kepalkan karena rasa marah yang amat sangat pada orang yang ingin menabrak Tari tadi.
Mobil sedan hitam tadi langsung dikejar oleh security. Saat ini Tari sedang shock, tubuhnya lemas. Jika saat ini ia tidak sedang dipeluk Fadly, mungkin ia sudah jatuh terduduk dilantai.
Nyonya Shofia dan Lea turun dari mobil, cepat-cepat mereka memghampiri Tari. Ada kekhawatiran diraut wajah keduanya. Mereka tidak ingin Tari terluka. Tidak ingin sesuatu apapun terjadi pada Tari.
"Tari! Nak, kamu tidak apa-apa kan? Apa yang sakit, Sayang?" ucap Nyonya Shofia sangat khawatir. Ia melihat wajah Tari yang masih dipelukan Fadly, sudah pucat pasi, ia memegang tangan Tari, lalu berjongkok ingin memeriksa kaki Tari. Didepan matanya sendiri ia melihat mobil itu melintas dengan kecepatan tinggi, terlihat sekali dengan sengaja memang ingin mencelakai Tari.
.
.
To Be Continued...
__ADS_1