Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Menjadi Tour Guide Lagi


__ADS_3

Hallo readers tercinta..


Author up kan sedikit potongan bab sebelumya ya, mungkin akak readers terlupa karena terlalu lama up. Mohon di maaf keun 😁😁


.


.


Sebelumnya...


Tari tercekat mendengar jika kiosnya sudah dirubuhkan orang, ada rasa perih dihatinya saat tahu kios jahit peninggalan bapaknya sudah rata dengan tanah.


Banyak sekali kenangan di kios jahit itu. Mulai dari ia remaja, masih belajar menjahit. Sampai sekarang ia tumbuh dewasa dan sudah mahir menjahit, kios itulah yang menjadi saksi bisu perjalanannya mencari rezeki.


Mereka bertiga duduk di warung bakso di pinggir jalan, mereka saling bertukar cerita. Tari mentraktir Dodi makan. Ketiganya memesan menu yang sama.


"Sepertinya sedang ada yang menang lotre nih!" ucap Dodi ketika semangkuk bakso sudah tersaji dihadapannya.


"Hahaha.., Alhamdulillah Bang, Tari sedang dapat rezeki lebih."


"Oh! Alhamdulillah kalau begitu. Banyak ya yang jahit baju sama kamu?"


"Justru gak ada jahitan baju, Bang."


"Loh?! Terus rezeki lebih dari mana?"


Tari dan Bu Rosita saling berpandangan mereka melempar senyum satu sama lain.


"Pertama kali pindah di daerah pesisir pantai sampai tiga minggu lamanya tidak ada satupun yang menjahitkan baju sama Tari, Bang. Terus Tari punya ide untuk menjahit topi pantai dan menjajakannya berdua bersama ibu. Alhamdulillah banyak yang suka. Topi itu udah Tari beri label sendiri, Bang. Namanya Lestari Hat Collection. Dan sekarang topi hasil desain dan jahitan Tari sudah banyak yang menjajakan meskipun Tari dan ibu tidak ikut turun tangan langsung menjual ke pantai."


"Wah! Alhamdulillah ikut senang abang dengarnya."


Mereka pun melanjutkan memakan bakso yang mereka pesan tadi.


.


Bab 72


Mereka sudah berpisah setengah jam yang lalu. Tari dan Bu Rosita sudah berkeliling mencari bahan untuk membuat topi pantai. Tari mendatangi toko yang sudah menjadi langganannya, dan mendatangi toko lain saat di toko langganannya tidak ada bahan yang ia cari.


Belanja kali ini Tari membeli banyak bahan untuk membuat topi. Karena stok topi dan stok bahan di rumahnya sudah benar-benar habis.


Dodi pun begitu, setelah berpisah dengan Tari dan Bu Rosita tadi ia pun berkendara menuju kios jualannya. Ditengah jalan yang padat kendaraan, tiba-tiba ia teringat akan seseorang yang mencari Tari. Ya, Fadly lah yang ia maksud.

__ADS_1


Dodi membelokkan motornya ke tepi, ia berniat akan kembali lagi ke pusat pasar untuk memberitahu Tari tentang Fadly yang beberapa hari ini mencari-cari Tari. Betapa ia melupakan laki-laki tampan itu.


Dodi mengutuk dirinya sendiri, karena lupa meminta nomor ponsel Tari yang masih aktif. Karena nomor ponsel lamanya sudah tidak dapat dihubungi lagi.


Dodi malajukan motor bebeknya dengan cepat dan kembali ke pusat pasar. Namun setelah ia sampai dan berkeliling mencari Tari, gadis itu sudah tidak ada. Entah toko mana yang gadis itu singgahi sehingga Dodi tidak dapat menemukannya. Setiap toko bahan kain Dodi singgahi untuk menemukan Tari, tapi Tari tidak ia temukan.


Akhirnya Dodi menyerah, ia tidak bisa lebih lama lagi mencari Tari disetiap toko bahan kain. Karena ia juga harus buka kios koran dan majalahnya, pelanggannya sudah banyak yang menunggu. Ia pun menuju parkiran dan pulang.


***


Fadly sudah lelah, ditengah teriknya matahari sudah setengah harian ia mencari anak lelaki remaja yang menjajakan topi pantai yang waktu itu di beli oleh Florentina dan teman-temannya, tetapi anak itu juga belum terlihat batang hidungnya.


Sejak pagi-pagi sekali Fadly sudah sampai ke pantai Green untuk mencari Tari. Ia mencoba peruntungannya mencari Tari di pantai itu. Ia tidak tahu dengan pasti apakah penjahit topi pantai itu adalah Tari nya yang ia cari atau bukan, tapi ia akan tetap mencobanya.


Tapi sampai keringat bercucuran dan baju sudah basah karena keringatnya sendiri pun Tari tidak ia jumpai. Anak remaja yang menjajakan topi waktu itu juga tidak ada.


Fadly melangkahkan kakinya ke salah satu warung makanan yang ada di pinggir pantai Green. Perutnya yang lapar meminta untuk diisi sejak tadi ia hiraukan karena terus mencari dan tidak sabar ingin bertemu anak remaja penjual topi pantai yang waktu itu. Ingin menanyakan langsung topi pantai yang anak itu jajakan itu buatan siapa.


Sudah menahan lapar, tapi orang yang ia cari tidak juga kunjung ia temukan membuat perutnya semakin terasa lapar dan sakit.


Tadinya ia ingin menahan saja rasa lapar diperutnya itu, karena uang yang ia miliki sangatlah minim. Tapi, ia berpikir kembali jika ia tidak makan pasti kesehatannya akan menurun. Tentu akan susah untuk mencari keeradaan Tari. Oleh sebab itu ia pergi ke warung untuk makan. Masalah uang, ia akan pikirkan nanti.


Fadly duduk di salah satu bangku di warung itu. Orang-orang berkulit putih berambut pirang yang lebih mendominasi warung itu.


Kali ini Fadly benar-benar menikmati sajian yang ada di hadapannya. Kudapan yang ia pesan sangat pas di lidahnya.


Seorang pengunjung Bule laki-laki berdiri menghampiri meja kasir, "How much, sir" tanya Bule laki-laki tersebut pada bapak pemilik warung.


Bapak pemilik warung tampak terdiam saat Bule laki-laki itu bertanya. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan Bule itu padanya. Kembali Bule tadi bertanya. Namun jawaban bapak pemilik warung, "Saya tidak tahu mister ngomong apa," jawabnya lugu.


Fadly yang paham akan hal itu langsung berdiri membantu sang pemilik warung.


"Pak, mister ini mau bayar. Dia bertanya berapa makanan yang harus dia bayar," jelas Fadly.


Si Bule laki-laki seperti paham apa yang diucapkan Fadly, ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Oh, hehehe.. Baik. Saya hitung dulu, tolong bilang sama mister ini, Mas," ucap si bapak.


Fadly melakukan percakapan sedikit pada Bule itu. Mereka saling berkenalan, Si Bule laki-laki itu yang diketahui ternyata namanya adalah Bastian. Bastian berasal dari Amerika.


Setelah Bastian membayar makanannya Bastian mengucapkan terimakasih pada Fadly.


"Terimakasih, Fadly," ucap Bastian yang tentunya dengan bahasa inggris.

__ADS_1


Bapak pemilik warung pun sama, ia mengucapkan terimakasih pada Fadly karena sudah membantu menerjemahkan percakapannya dengan Bastian.


"Terimakasih Mas Fadly, kalau gak ada mas Fadly mungkin sampai sekarang Mister Bastian belum selesai membayar," ucapnya sambil nyengir.


"Sama-sama, Pak. Terus tadi waktu para Bule-Bule yang ada di sini mau pesan makanan bagaimana, Pak?" tanya Fadly.


"Kalau tadi mereka tinggal tunjuk-tunjuk menu yang ada di buku menu saja, Mas," jelas si bapak pemilik warung sambil tertawa.


Kemudian, karena Fadly juga sudah menyelesaikan makannya, ia pun membayar dan keluar dari warung itu.


Fadly kembali mengelilingi pantai Green melanjutkan pencarian anak remaja penjaja topi pantai itu. Saat sedang berjalan di tepi pantai, Bastian menghampirinya.


Percakapan pun berjalan antara keduanya, Bastian meminta Fadly untuk menjadi Guide rombongannya.


"Kami ingin ke Bali, Fadly. Apakah kau bisa menjadi guide untuk kami dan mengantarkan kami kesana?" tanya Bastian dengan bahasa Inggris yang sangat kental.


Sejenak Fadly berpikir, keuangannya sekarang sangat-sangat menipis. Mungkin ia memang harus mengesampingkan urusannya mencari Tari. Kali ini ia harus mencari dan mengumpulkan uang yang banyak agar mudah menemukan keberadaan Tari.


Karena Fadly terlihat tampak berpikir, Bastian mengira Fadly sedang mempertimbangkan bayaran yang akan Fadly dapatkan dari dirinya. Ia pun berinisiatif memberi bayaran yang fantastis untuk Fadly.


"Tenang saja brother, aku akan membayarmu lima juta rupiah dalam satu hari," ucap Bastian.


Fadly terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya, ia menatap Bastian dengan intens.


"Kau yakin?" tanya Fadly dengan mata berbinar.


Selama ia tinggal dan di besarkan di keluarga Dewantara, uang lima juta rupiah bukanlah nominal yang besar baginya. Tapi sekarang setelah ia kabur dari Amerika dan memutuskan pulang ke Indonesia untuk bertemu Tari, tentu saja uang lima juta rupiah itu adalah nominal yang sangat besar.


"Tentu. Aku dan teman-temanku melihatmu sangat lancar berbahasa Inggris. Dan sejauh ini kami belum menemukan orang yang sangat lancar berbahasa Inggris sepertimu untuk membantu kami berkomunikasi disini. Jadi kami memutuskan untuk memintamu menjadi tour guide kami," jelas Bastian.


"Apakah tiket pesawat ku ke Bali kalian juga yang menanggungnya?" tanya Fadly lagi. Mengingat saat ini di dompetnya hanya tersisa dua lembar saja uang bergambar Soekarno-Hatta. Tentu uang itu tidak akan cukup untuk hidup selama satu minggu. Apalagi untuk membayar tiket pesawat ke Bali.


"Masalah itu sudah pasti aku dan teman-temankulah yang akan menanggung tiket pesawatmu. Bahkan untuk makan beberapa hari di Bali pun kami akan memberikan uang padamu. Dan membebaskanmu membeli makanan apa saja yang kau mau dan ingin kau beli," ucap Bastian panjang lebar.


Tidak berpikir panjang lebar lagi, Fadly langsung menyanggupi permintaan Bastian. Mungkin ini adalah pertolongan dari Allah disaat ia sudah kehabisan uang.


Mereka akan pergi ke Bali esok hari dan hari ini mereka meminta Fadly mencarikan hotel yang aman dan nyaman untuk menghabiskan malam mereka di kampung itu.


.


.


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2