
Tari masih berada diambang pintu rumah kontrakan tetangganya.
Di depannya kini juga masih ada pria berbaju serba hitam, terlihat ada berjumlah empat orang yang sedang mencari orang yang bernama Fadly.
Lalu setelah Tari mengatakan ia tidak mengetahui nama tetangganya sendiri kepada orang-orang berbaju serba hitam tadi.
"Lalu anda sedang apa disini? anda bilang anda tetangganya dan anda tidak mengetahui nama tetangga anda sendiri. Tapi sekarang anda berada dirumahnya?" salah satu pria berwajah sangar mencecar pertanyaan pada Tari.
"Tetangga saya sakit pak, dia butuh pertolongan. Bukannya sesama tetangga harus saling bantu?" jawab Tari tegas.
"Sedang sakit? sakit apa tuan Fadly?" tanya pria lain yang juga berbadan besar.
"Saya bilang saya tidak tahu nama tetangga saya, kenapa bapak-bapak ini sangat yakin kalau tetangga saya bernama Fadly?" ucap Tari.
Tari yang mempunyai firasat pria-pria berbadan besar ini orang yang tidak baik, Tari juga tidak tahu apakah yang dicari mereka adalah benar tetangganya atau bukan.
Kalaupun mereka benar teman tetangganya, pasti mereka akan membawa pengaruh buruk pada tetangganya itu nantinya. Dan mereka juga datang diwaktu yang tidak tepat, karena tetangga tampannya kini sedang pingsan dan belum sadarkan diri. Akhirnya Tari berinisiatif untuk mengusir mereka.
Dengan galak Tari mengusir mereka pulang, tadinya mereka tidak semudah itu diusir namun Tari mengatakan ingin memanggil para warga setempat agar mereka dipukuli.
Keempat pria bertubuh besar tadi saling pandang satu sama lain. Akhirnya mereka menyerah lalu kemudian mereka pergi.
Biarlah nanti dia yang akan membicarakan hal ini pada tetangganya itu kalau benar tetangganya bernama Fadly, untuk sekarang karena tetangganya sedang sakit, kan juga tidak baik menerima tamu yang juga tidak baik.
Setelah sepi Tari masuk kembali ke dalam. Ia tutup pintu dan melihat keadaan Fadly.
Ia tidak langsung membangunkan Fadly seperti tadi. Cukup lama ia memandangi wajah tampan Fadly. Tanpa sadar tangannya terulur ingin menyentuh wajah fadly. Disentuhnya wajah halus itu.
Fadly yang sudah sadarkan diri dari tadi hanya terdiam dan masih menutup matanya. Dirasakannya tangan Tari yang menyentuh pipinya. Kemudian ia membuka mata.
Tari terkejut, dan langsung menarik tangannya dari wajah Fadly, kemudian mundur menjauhi Fadly.
Fadly tersenyum. Tari yang melihatnya juga tersenyum.
"Ta-tadi saya dan ibu saya mendengar suara pintu yang di dobrak keras sekali. Terus kami kesini ternyata mas pingsan dikamar mandi," ucap Tari menjelaskan dengan gugup karena sudah ketahuan menyentuh pipi tetangganya itu.
"Terimakasih ya atas bantuannya," ucap Fadly dengan tulus dan menampilkan senyum termanisnya dihadapan Tari.
Tari pun membalas senyum itu, dan berkata,
"Tidak usah sungkan, Mas. Namanya juga tetangga jadi harus saling bantu, Mas juga sudah banyak membantu keluarga saya. Memangnya Mas kenapa kok tadi bisa sampai pingsan gitu di kamar mandi?."
"Ah itu, gue demam udah dua hari ini dan gak selera makan apa-apa. Trus tadi gue mau mandi maksudnya biar badan agak segeran. Bukannya segeran malah badan gue jadi lemes banget. Yaudah setelah mandi gue mau masuk kamar trus kepala gue kebentur pintu kamar mandi tuh, dan pandangan jadi gelap trus gak sadarkan diri," tutur Fadly menjelaskan panjang lebar.
"Jadi udah dua hari Mas sakit? berarti abis pulang dari nganterin bapak saya Mas jadi sakit?" tanya Tari dengan sungkan.
__ADS_1
"Gak kok, dari rumah sakit abis nganterin bokap lo gue masih sehat. Trus malamnya gue keluar sama temen-temen disitu ngerasa gak enakan badan gue," jawab Fadly.
"Oh begitu, Berarti ini Masnya belum makan ya? mau saya ambilkan makanan dari rumah saya?" ucap Tari menawarkan.
"Gak usah, ini gue pesan makanan online aja," jawab Fadly.
Kemudian Fadly bangun berniat mengambil ponselnya dan beranjak duduk, namun dilihatnya ada boxer ketat, yang biasa ia pakai untuk ce lana dalam.
Keningnya mengkerut. Lalu Tari mengikuti kemana arah pandangan mata Fadly. Tari gugup dan merasa malu ketika tahu apa yang sedang dipandang Fadly.
"Eum, i-itu, Mas. Ta-tadi Mas kan pingsan di kamar mandi, trus pakaian Mas-nya semua basah jadi saya berniat untuk menggantinya," ucap Tari menjelaskan tanpa ditanya oleh Fadly.
"Jadi-"
"Gak.. gak.. Mas, hehehe gak jadi saya ganti kok," ucap Tari memotong perkataan Fadly, seolah ia tahu apa yang ingin dikatakan Fadly.
"Kenapa gak jadi?" ucap Fadly menggoda Tari sambil menaik turunkan alisnya.
"Ih apaan sih Mas," ucap Tari malu-malu.
Fadly tertawa melihat wajah malu-malu Tari. Kemudian ia melanjutkan niatnya dan memesan makanan online.
"Lo mau makan apa? biar sekalian nih dipesan," ucap Fadly menawarkan.
"Gak usah Mas, saya tadi baru selesai makan," tutur Tari.
"Oh ya, tadi samar-samar gue dengar ada yang cari gue ya?" tanya Fadly.
"Jadi dari tadi mas sudah sadar? Kenapa Mas gak bangun dan menemui mereka kalau memang Mas dengar?" bukannya menjawab Tari malah balik bertanya.
Yang ditanya tampak berpikir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Tadi mereka ada empat orang, berbadan besar-besar Mas, memakai baju serba hitam dan mencari seseorang bernama Fadly. Apa benar nama Mas itu Fadly?" tanya Tari melanjutkan.
"Iya, nama gue Fadly," jawab Fadly singkat.
'Oh berarti benar yang mereka cari itu tetangga ku, trus ngapain yah dia ini berteman sama orang bertampang sangar dan berbadan besar kayak bodyguard gitu?' ucap Tari dalam hatinya.
Karena tidak ada respon dari Tari, kembali Fadly mengeluarkan suaranya.
"Nama lo siapa?" tanya Fadly.
"Tari, Mas," jawab Tari singkat.
"Oh," Fadly mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya Mas, orang-orang yang tadi itu saya usir. Saya minta maaf kalau saya lancang," tutur Tari.
"Gak apa-apa kok Tari, bagus malah kalau lo usir mereka," jawab Fadly sambil senyum sumringah.
"Memangnya orang-orang itu tadi siapa Mas?" tanya Tari penasaran.
"Bukan siapa-siapa kok Tari, yaudah gak usah bahas mereka lagi ya," ucap Fadly.
Lalu setelah mereka saling mengenal, mereka berbicang sedikit. Fadly banyak menanyakan tentang kehidupan Tari, ia sudah mengetahui ternyata Tari adalah seorang penjahit.
Sedangkan Tari hanya menjawab apa yang ditanyakan Fadly. Ia malu dan tidak punya keberanian untuk menanyakan kehidupan Fadly juga.
Kemudian tidak terasa setelah menunggu tiga puluh menit lamanya, makanan yang dipesan Fadly pun datang. Lalu Fadly langsung menyantap makanannya.
Entah kenapa kali ini makanan yang ia pesan sangat enak dan ia benar-benar menikmatinya, padahal baru tadi pagi ia tidak berselera makan apapun.
Ketika Fadly menikmati makanannya Tari terus memperhatikan Fadly. Gadis itu sungguh terpikat dengan tetangganya yang saat ini sedang berada di depannya. Ia tidak bisa mengalihkan pandanganya dari Fadly.
Tidak banyak yang mereka bicarakan, karena Tari merasa sangat malu dan jantungnya juga terpompa tidak seperti biasa. Karena sudah sore Tari pun pamit pulang kerumahnya.
Sepeninggal Tari, Fadly merasa gelisah. Karena baru hampir sebulan lamanya tetapi keluarganya sudah berhasil menemukan dimana tempat persembunyiannya.
Sementara di rumah Tari, setelah sholat maghrib dan makan malam mereka berkumpul bersama. Setelah tiga tahun lamanya Bu Rosita memusuhi Tari, akhirnya kini mereka duduk bersama dan berbincang sedikit tentang pengobatan bapaknya di rumah sakit.
Tari memberitahu Bu Rosita bahwa Bu Rosita harus mengingatkan bapaknya untuk minum obat yang diberikan dokter setiap hari.
Bu Rosita mengiyakannya. Lalu ia mengutarakan maksud yang tersembunyi didalam hatinya.
"Tari, kamu lihat kan kemarin temannya tetangga kita itu," ucap Bu Rosita.
"Namanya Mas Fadly, Bu," jelas Tari.
"Oh iya, Fadly ya.. Kalau temannya ibu tahu, namanya Andi," jawab Bu Rosita.
Tari diam mendengarkan maksud ibu tirinya itu.
"Andi itu punya mobil bagus gitu Tari, itu harganya mahal loh. Bu Hanifa aja gak punya mobil pajero. Trus anaknya yang dulu ngelamar kamu itu, mobilnya juga gak semahal si Andi itu," Bu Rosita berujar meyakinkan Tari.
Tari memutar bola matanya malas. Ternyata karena hal ini ibu tirinya itu bersikap manis padanya. Sifat matre yang dimiliki Bu Rosita belum hilang. Dia terus ingin menjodohkan Tari dengan orang-orang yang dianggapnya kaya.
Tari menanggapinya dengan tersenyum tapi tidak menjawab apapun. Ia harus mencari cara untuk menolak maksud ibu tirinya tadi, agar ia dan ibu tirinya tetap berbaikan seperti sekarang ini.
#####
Bersambung..
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊
Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih