
Fadly datang lebih awal ke Coffe Shop tempat ia dan Bryan Kohler janjian bertemu. Tengah malam tadi, Bryan kembali menghubungi Fadly untuk bertemu lebih cepat. Fadly tidak punya pilihan lain, ia pun meminta Bryan untuk datang ke Ibu Kota agar mereka bisa bertemu.
Tadinya, Fadly dan Andi hari ini mereka akan mengurus surat-surat perceraian Tari dan Sandi bersama dengan pengacara keluarga Dewantara. Namun Fadly membatalkannya demi bertemu dengan Bryan. Fadly sama sekali tidak tahu apa maksud Bryan ingin bertemu dengannya.
Tidak lama Fadly menunggu hanya lima menit saja setelah itu datang dua orang pria tegap, yang satu berwajah blasteran yang terlihat tampan, berambut pirang, memakai kacamata, sangat terlihat elegan dan penuh dengan kemewahan. Terlihat dari setelan jasnya, juga sepatunya. Sedangkan pria yang satu lagi juga terlihat tampan, Fadly memperkirakan dia adalah asisten dari pria berambut pirang tadi. Kedua pria itu menghampirinya.
"Selamat pagi," ucap pria berambut pirang tersenyum menyapa Fadly sembari mengulurkan tangan hendak berjabat tangan.
Fadly menyambut uluran tangan pria itu, merekapun berjabat tangan.
"Selamat pagi," jawab Fadly singkat.
Tangan mereka masih berjabat, "Perkenalkan, saya Bryan," ucap Bryan memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Saya Fadly," jawab Fadly yang juga memperkenalkan dirinya sembari tersenyum.
Setelah melepaskan jabatan tangan mereka masing-masing, Fadly mempersilahkan Bryan dan asistennya untuk duduk di kursi di depannya. Sebelum percakapan dimulai, mereka sepakat untuk memesan makanan terlebih dahulu.
"Baiklah Tuan Fadly, saya..."
"Maaf, Tuan Bryan. Panggil saya Fadly saja," ucap Fadly memotong ucapan Bryan.
"Oh, baik. Kalau begitu anda juga harus panggil saya Bryan saja!" seru Bryan.
Keduanya tertawa bersama. Akhirnya percakapanpun bergulir, ternyata Bryan adalah anak dari pasangan bule Mr. Christopher Kohler dan Mrs. Irene Kohler. Bryan ingin mengucapkan terimakasih secara langsung pada Fadly karena telah banyak membantu kedua orang tuanya saat berwisata di Bali beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Awalnya Fadly mengira akan bertemu Bryan hanya sebentar saja tapi ternyata hingga sore Bryan menahannya di Coffe Shop itu. Bryan menceritakan mengapa kedua orang tuanya menjadi travel backpacker padahal anaknya adalah pebisnis sukses. Hal itu tidak luput dari kesederhanaan orang tuanya.
Bryan juga menceritakan sebenarnya ia sangat menyesal, karena dirinya terlalu sibuk bekerja sampai ia lupa waktu dan kurang memperhatikan kedua orang tuanya. Sehingga kedua orang tuanya meminta bantuan pada orang lain. Sepulang travelling dari Indonesia, kedua orang tuanya menceritakan kebaikan Fadly padanya. Sehingga Bryan tergerak untuk mengucapkan terimakasih secara langsung pada Fadly dan tentu saja ingin membayar apa yang sudah Fadly beri pada kedua orang tuanya.
Sepasang suami istri Kohler itu mengatakan pada anaknya tentang kebaikan Fadly, jika nanti Bryan memberikan sesuatu pada Fadly pasti Fadly akan menolaknya. Benar saja, banyak yang Bryan tawarkan pada Fadly untuk mengganti uangnya yang telah terpakai untuk membantu kedua orang tuanya, namun Fadly menolaknya.
Tapi Bryan adalah pria yang jenius. Jika Fadly benar-benar tulus membantu kedua orang tuanya, maka ia sudah menyiapkan banyak hadiah untuk Fadly yang tidak bisa ditolak oleh Fadly. Bryan sangat menyayangi kedua orang tuanya, bagi siapa yang pernah membantu kedua orang tuanya maka ia akan senang hati memberikan dua kali bahkan sepuluh kali lipatnya dari yang diterima kedua orang tuanya.
Jurus terakhir yang ditawarkan Bryan adalah kerjasama bisnis. Tentu kerjasama ini dibuat lebih banyak menguntungkan pihak Fadly. Sebenarnya Fadly lagi-lagi ingin menolak, tapi ia sungguh tidak enak jika terus-menerus menolak penawaran baik dari Bryan. Apalagi Bryan mengatakan, ia ingin memperluas bisnisnya di Indonesia. Akhirnya, kerjasama bisnis itupun disetujui Fadly. Toh jika bisnis itu tidak berjalan lancar Fadly sama sekali tidak rugi apa-apa. Tanda tangan bisnis segera dilakukan hari itu juga. Berkas-berkasnya sudah disiapkan oleh asisten Bryan.
Saat jam sudah menunjukkan pukul empat sore, ada yang datang menghampiri meja mereka. Fadly memperhatikan, ternyata orang yang menghampiri itu menyerahkan sebuah berkas pada Bryan. Tidak lama, orang itu pergi. Setelah itu, Bryan memberikan berkas tersebut pada Fadly.
"Ini apa?" tanya Fadly saat berkas itu sudah ada ditangannya.
"Silahkan dibuka, nanti anda akan tahu sendiri setelah membacanya," jawab Bryan.
"Terimakasih, Bryan. Terimakasih banyak. Saya tidak perlu repot-repot pergi ke pengadilan agama untuk mengurus surat perceraian calon istri saya. Dan saya juga tidak perlu meminta langsung tanda tangan mantan dari calon istri saya. Karena saya sebenarnya tidak sudi melihat wajahnya lagi," ucap Fadly panjang lebar.
"Iya, sama-sama Brother!" seru Bryan.
Hanya dalam waktu satu malam saja Bryan sudah mengumpulkan informasi tentang Fadly. Waktu satu malam itu juga Bryan mengetahui jika Fadly akan pergi ke pengadilan agama esok harinya, untuk mengurus surat-surat perceraian dari calon istrinya. Bryan adalah pengusaha sukses yang telah mendunia asal Swiss, maka untuk mengumpulkan informasi dan untuk mengetahui kehidupan Fadly sangatlah mudah, semua itu tinggal uang saja yang berbicara, maka semuanya akan beres. Apalagi Fadly adalah anak orang terkaya nomor satu di Indonesia. (Halu bangeeeeet ðŸ¤)
"Bagaimana anda tahu kehidupan pribadi saya?" tanya Fadly penasaran.
Bryan tersenyum penuh makna, "Itu rahasia saya."
__ADS_1
Fadly tertawa geli mendengarnya, "Baiklah, jika memang anda tidak mau memberitahukan saya. Tapi terimakasih banyak untuk ini." ucap Fadly seraya menunjukkan surat akta perceraian Tari dan Sandi.
Setelah pertemuan itu, Fadly menelepon Tari, memberitahukan gadis itu bahwa surat akta perceraiannya sudah selesai.
Tari sangat bersyukur, "Alhamdulillah, Mas. Terimakasih banyak ya, Mas."
"Sama-sama, Sayang. Oh, ya! Kamu tahu gak? Sandi gak mau loh menandatangani surat perceraian kalian, susah banget ngebujuknya," ungkap Fadly. Begitulah informasi yang didapatkan Fadly dari pengacara Bryan yang menangani perceraian antara Tari dan Sandi. Pengacara yang disewa Bryan sampai memaksa Sandi untuk menandatangani surat itu.
Tapi karena keputusan pengadilan dan pengacara tidak bisa di ganggu gugat, Sandi tidak punya pilihan lain selain menandatangani surat perceraiannya.
"Kira-kira kenapa ya dia gak mau menandatangani surat perceraian itu, Mas?" tanya Tari.
"Mungkin dia masih mencintai kamu," ucap Fadly mencoba menebak.
"Dia itu gak cinta sama aku, Mas. Dia cuma dendam karena dulu aku pernah menolak lamarannya," jelas Tari.
"Dulu dia melamar kamu kan karena dia cinta sama kamu, Sayang," ucap Fadly.
"Ckk! Udah deh, Mas. kok malah bahas dia sih!" ucap Tari mulai kesal.
Fadly hanya menanggapi dengan tertawa. Kemudian keduanya mengalihkan pembahasan dengan membahas tentang pernikahan mereka. Fadly juga pamit untuk kembali ke Bali. Karena banyak yang harus ia kerjakan.
.
.
__ADS_1
To Be Continued...