Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Janji Fadly


__ADS_3

Fadly masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia memegang wajah Tari dengan kedua tangannya.


"Tari, aku janji bakal kembali lagi. Kasih waktu aku satu minggu Tari, satu minggu. Setelah satu minggu aku bakal jemput kamu. Untuk sekarang, aku bakal selesaikan semua urusanku dulu, baru bisa bawa kamu ke orang tuaku. Aku harap kamu paham ya!" ucap Fadly penuh harap.


Tari hanya menatap sendu, sisa-sisa air mata di pipi dan pelupuk matanya juga masih ada. Sungguh, otaknya tidak bisa berpikir untuk sekarang ini.


Fadly merogoh saku celananya, ia mengambil dompet dan mengeluarkan uang, ia berikan pada Tari uang itu.


"Aku gak tahu berapa biaya untuk perobatan bapak kamu, nanti kalau kurang kamu bisa telepon aku. Andi bakal anter uang itu ke kamu. Untuk sekarang aku kasih uang segini dulu ya!"


Fadly mengusap pipi Tari dari sisa-sisa air matanya tadi, "Aku gak mau kamu sedih terus, nangis terus seperti ini. Aku juga gak mau lihat kamu susah terus sampai kurus begini. Bilang sama aku kalau kamu butuh sesuatu, aku akan bantu meskipun aku gak ada di dekat kamu."


"Tapi, mas. Saya gak mau nyusahin kamu terus seperti ini. Saya-"


"Ssssstt.. "


Fadly menyentuh bibir Tari dengan jari telunjuknya. Memberi isyarat pada Tari agar Tari tidak menolak bantuan darinya. Tari pun terdiam, selama ini dirinya membutuhkan bantuan dari orang lain. Tapi ketika ada yang membantu Tari merasa tidak enak hati menerima bantuan itu.


Uang yang diberikan Fadly kini sudah berada di genggaman Tari, Tari menunduk menatap uang itu. Ia hanya bisa berucap syukur sekarang ini karena mengenal orang baik seperti Fadly. Ia tidak mengharap lebih pada Fadly, setelah tahu Fadly adalah anak dari pemilik perusahaan Dewantara Corp.


Tadinya ia sempat berkhayal ingin menjadi istri Fadly, namun kini berkhayal saja ia tidak berani. Ia bisa dikatakan tentara yang kalah sebelum berperang. Karena Tari sadar diri, ia dan Fadly memiliki perbedaan kasta yang sangat jauh.


Meskipun Fadly tadi mengatakan akan mengenalkan dirinya pada keluarganya sebagai calon istrinya, tetapi Tari tidak mau terlalu senang terlebih dahulu. Ia takut harapannya tidak sesuai dengan realita yang ada.


Kini mereka akan ke kios jahit Tari. Setelah Fadly membujuk Tari untuk menerima uang darinya.


Fadly juga mengatakan pada kakaknya akan sampai di kantor dua jam lagi, oleh sebab itu ia tidak punya waktu banyak sekarang ini.


Setelah sampai di kios jahit Tari.


"Kamu sabar ya, jangan banyak nangis. Ingat! kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Fadly.


Ia mengusap rambut Tari dengan perasaan sayang yang amat dalam. Namun bagi Tari, entah mengapa sentuhan itu terasa hambar. Karena sejak tadi Fadly tidak ada mengatakan sedikitpun tentang perasaannya pada Tari.

__ADS_1


"Terimakasih ya, mas Fadly. Semoga mas Fadly dan keluarga sehat selalu."


Hanya kata itu yang dapat Tari ucapkan sebagai ucapan terimakasihnya.


Kemudian Tari turun dari mobil Fadly dan Fadly melanjutkan perjalananya yang akan ke kantornya.


Tari belum masuk ke kiosnya, ia masih memandangi mobil itu hingga mobil itu berbelok dan tidak tampak lagi.


Tari melangkah masuk ke dalam kios jahitnya. Perasaannya campur aduk sekarang ini. Ia masih merasakan cinta pada laki-laki tampan itu. Bohong jika ia tidak bahagia dengan apa yang dikatakan Fadly tadi, bahwa ia akan di kenalkan pada keluarga Dewantara sebagai calon istri Fadly.


Tari memikirkannya berulang kali. Ah.. sudahlah, akhirnya ia pusing sendiri. Ia melanjutkan langkahnya masuk ke kios jahitnya dan membuka kios nya. Ini sudah sangat terlambat, sudah jam sepuluh pagi tapi tak apalah ia terlambat dua jam dari waktu biasa ia buka kios.


Dari atas motornya ada seorang pria yang memandang Tari dari kejauhan. Pria itu yang ada di belakang mobil Fadly tadi, yang terus mengklakson padahal mobil sudah jalan. Bahkan saat Fadly dan Tari berada di dalam mobil pun pria itu mengikutinya, hingga sekarang Tari sudah berada di kios, pria itu terus mengintai Tari. Tatapannya menyalang, ada rasa tidak suka pada Fadly.


Namun pria itu tidak bisa dengan jelas mengenali wajah Fadly. Karena pria itu terus menatap Fadly dari belakang, sehingga hanya punggung Fadly saja yang tampak olehnya.


Jam demi jam Tari lewati dengan terus menjahit, Seolah ia tidak kenal lelah. Ia terus terbayang akan wajah bapaknya. Ia ingin terus melihat bapaknya sehat. Karena saat ini tidak ada sanak saudara lain yang Tari kenal. Selain bapak kandungnya sendiri.


Ibu kandung Tari, ia tidak mengetahui dengan jelas silsilah keluarga ibunya yang telah tiada itu, ia tidak pernah melihat bahkan dulu ia tidak pernah bertanya tentang nenek dan kakek dari pihak ibunya.


Tari tidak pernah bertanya dimana neneknya, sehingga kakeknya hidup seorang diri. Kabar terakhir yang mereka ketahui, kakeknya sudah meninggal dunia dan bapaknya saat itu pergi sendiri melihat pemakaman kakeknya tanpa mengajak Tari dan ibunya.


Jadilah sekarang Tari hidup hanya mempunyai bapak kandung dan ibu tiri yang mudah berubah mood nya.


Matahari kini sudah beranjak pergi kearah barat, yang menandakan aktivitas manusia untuk bekerja mencari pundi-pundi uang sudah mulai berkurang. Mereka mulai kembali pulang kerumah masing-masing setelah lelah seharian bekerja. Ingin menemui istri, suami, orang tua dan anak mereka di rumah dan melepaskan penat mereka.


Begitu juga dengan Tari, yang sebulan belakangan ini sangat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan bukan hanya pekerjaan tetapi juga pikirannya.


Seperti biasa ia menyusuri jalanan sempit yang akan menuju ke rumahnya itu dengan berjalan kaki. Setiap hari, pagi dan sore ia melewati jalanan itu. Sebenarnya gang sempit itu adalah jalan alternatif, jalan yang paling dekat dengan rumahnya. Dari dulu bapaknya lebih senang berjalan di gang sempit itu, sehingga Tari pun mengikuti bapaknya jalan dari gang sempit itu.


Jalan besar yang menuju ke rumahnya ada, tetapi agak jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Tapi, buat apa menggunakan jalan besar, toh mereka juga akan berjalan kaki bukan mengendarai motor ataupun mobil, Begitulah pikir Tari selama ini.


Ketika tinggal beberapa meter lagi akan sampai ke rumahnya, hujan turun sangat lebat. Terpaksa Tari berlari kencang untuk menghindari agar bajunya tidak basah, karena ia tidak mau terkena air hujan sehingga nanti ia akan sakit ataupun masuk angin. Tari harus tetap menjaga kesehatannya, agar bisa bekerja setiap hari.

__ADS_1


Setelah berlari, sampailah ia di rumahnya. Meskipun ia lari kencang, bajunya tetap saja akan basah terkena hujan yang sangat lebat. Ia pun masuk dan mengucapkan salam. Karena bajunya sudah basah, ia langsung mengambil handuk dari dalam kamarnya dan langsung mandi membersihkan tubuhnya.


Di luar hujan masih turun lebat, Tari sudah menyelesaikan mandinya. Sejak pulang tadi ia tidak melihat bapak dan ibunya.


Kemudian ia cepat-cepat memakai pakaiannya dan langsung keluar kembali. Ia menyibak kain pintu yang menutup pintu kamar bapaknya, ternyata bapaknya sedang tertidur. Memang akhir-akhir ini bapaknya sering tertidur pulas karena efek samping obat yang di minum bapaknya.


Kemudian Tari menutup kembali kain pintu kamar bapaknya. Maksud hati ingin mencari keberadaan sang ibu sambung, tapi dari arah luar terdengar suara mobil. Lalu Tari melangkah pergi ke teras rumahnya. Dilihatnya ibunya itu duduk sendirian di bangku teras.


"Ibu, tadi ada mobil. Emang siapa yang baru dari sini?" tanya Tari.


Bu Rosita memberikan sebuah paper bag pada Tari, "Nih, dari Fadly."


Tari menerima paper bag itu, "Apa ini bu?"


"Handphone, keren banget," Bu Rosita menjawab.


"Hah! Handphone?" ucap Tari lirih.


Lalu Bu Rosita mengambil ponsel miliknya dan menunjukkan pada Tari, "Punya ibu kalah jauh."


Bu Rosita tersenyum menatap Tari yang masih berdiri di depan pintu. Tari melihat kedalam isi paper bag itu, ponsel itu sudah berada di luar kotaknya, keningnya mengerut.


"Trus mas Fadly kenapa gak nunggu Tari? padahal Tari mandinya gak lama kok," tanya Tari.


"Tadi yang nganter itu si Andi, ternyata Andi itu supirnya Fadly," kembali Bu Rosita berucap sambil terus tersenyum.


Bu Rosita berdiri akan melangkah masuk ke dalam rumah dan mengatakan pada Tari, "Di ponsel itu sudah ada tersimpan nomor Fadly, kata Andi tadi, kalau ada apa-apa segera hubungi Fadly."


#####


Next >>>>>>>>>


Mohon dukungannya

__ADS_1


dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..


Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤


__ADS_2