
Tari mengambil ponsel dari dalam paper bag pemberian Fadly yang diantarkan oleh Andi. Kini ia sudah berada di kamarnya.
Ponsel itu berwarna putih dan sudah dilengkapi dengan cassing beningnya. Tari tidak langsung menyalakan ponsel itu, cukup lama memegangnya dan membolak-balikkan ponsel itu. Dilihatnya, ponsel itu memiliki pen yang terletak di bawah ponsel, bila kita menekannya kedalam pen itu akan keluar dan bisa digunakan sebagai ganti jari untuk menyentuh.
Baru kali ini Tari melihat dan memegang langsung ponsel semewah itu. Selama ini ia hanya melihatnya dari artis-artis yang ada di tv. Bahkan para pelanggannya pun tidak ada yang memiliki ponsel semewah yang ia punya.
Lalu, diambilnya kotak ponsel itu, ia lihat satu persatu isi dalam kotak tersebut. Disana juga terdapat paket data, sehingga Tari tidak perlu repot dan mengeluarkan biaya untuk mengisi paket data.
Meskipun selama ini ia tidak pernah memegang ponsel layar sentuh, tetapi ia sering melihat bagaimana orang lain memainkannya. Yang paling sering ia lihat adalah Bu Rosita. Kemudian, para pelanggan yang menjahitkan baju padanya juga sudah rata-rata memakai ponsel layar sentuh sebagai alat komunikasi mereka.
Setelah puas melihat-lihat isi dalam kotak dan berulang kali membolak-balikkan ponselnya itu, Tari mencoba menyalakan ponselnya dengan menekan tombol yang ada di samping kanan dan kiri ponsel itu.
Setelah tidak berhasil menekan tombol atas bawah, akhirnya ia beralih ke sisi lainnya ia tekan dan kemudian ponsel itu bergetar, tidak lama setelah itu, ponsel pun menyala.
Mungkin Tari bisa menyalakan ponsel itu dengan mudah, tetapi ia bingung apa selanjutnya yang harus ia lakukan dengan ponsel itu.
Malam itu ia habiskan untuk belajar mengoperasikan ponsel dengan ibu tirinya. (Gaptek kali emang si Tari ini laa ππ)
Pagi harinya ia sudah bisa video call dengan Fadly dengan menggunakan aplikasi hijau yang sudah di download kan oleh Bu Rosita. Karena memang nomor Fadly sudah tersimpan di kontak ponsel tersebut.
Fadly banyak sekali memberikan semangat untuk Tari agar tetap tersenyum jangan banyak bersedih melalui sambungan video call tersebut.
Setelah beberapa menit Fadly menyudahi sambungan video call itu dan mereka melanjutkannya dengan berbalas pesan.
Selama beberapa hari ini Fadly masih lancar berkomunikasi dengan Tari. Bila Fadly tidak sempat mengangkat panggilan suara ataupun panggilan video, Fadly akan membalasnya dengan mengirimkan pesan saja. Dan itu tidak masalah bagi Tari, Tari cukup mengerti dengan kesibukan Fadly saat ini.
Sedangkan untuk perobatan Pak Syabani, Tari sudah memberikan uang yang tempo hari diberikan Fadly. Tetapi, uang tersebut hanya cukup untuk menjalankan kemoterapi saja. Untuk biaya operasi masih belum cukup, namun Tari tidak mengatakan pada Fadly dengan jujur.
Ia tidak enak hati bila harus meminta uang lagi pada Fadly. Meskipun Fadly mengatakan tidak keberatan dengan itu.
Namun Tari tetap bersyukur, dengan beberapa kali kemoterapi, bapaknya kini merasakan sakitnya sudah berkurang.
__ADS_1
Ini sudah hari ke lima dimana Tari memakai ponsel pemberian Fadly dan sudah hari ke dua Fadly tidak bisa dihubungi oleh Tari. Nomor Fadly selalu tidak bisa dihubungi dan tidak pernah aktif.
Tari berharap semoga janji Fadly untuk datang dan membawanya ke keluarga Fadly tidak mengecewakannya.
Ya, sekarang Tari sudah kembali berharap pada Fadly. Jika beberapa hari lalu ia pesimis bagai kan tentara yang mundur sebelum berperang. Tapi sekarang dirinya akan mencoba menjadi gadis yang optimis. Bu Rosita juga selalu mendukungnya.
"Jika cinta itu harus diperjuangkan, Tari. Bukan cuma laki-laki aja yang harus berjuang. Tapi kita kan gak tahu bagaimana perjuangan Fadly kan? Jadi, kamu gak boleh mundur begitu saja. Kamu juga harus lihat Fadly, meskipun kamu belum tahu perasaan Fadly sama kamu ya kamu harus cari tahu. Gak mungkin kan dia udah pergi selama sebulan ini, terus tiba-tiba datang dan mengatakan akan menjemput kamu dan akan mengenalkan kamu pada keluarganya, lalu itu semua dia lakukan tanpa perasaan apapun sama kamu. Gak mungkin kan?"
Begitulah penjelasan Bu Rosita padanya, ia cukup paham. Namun selama dua hari ini Fadly kemana? mengapa nomornya tidak aktif? bukankah orang sibuk pasti nomornya juga akan sibuk dan akan banyak dihubungi orang?
Banyak pertanyaan berkelebat di otaknya dan itu semua membuat Tari gusar. Baru saja ia memantapkan hatinya akan menjadi gadis yang optimis. Ia optimis bila Fadly mencintainya, ia optimis akan diterima di keluarga Dewantara, dan ia akan optimis jika ia mampu menyesuaikan dirinya di keluarga konglomerat itu. Tapi setelah dua hari Fadly menghilang lagi, ia menjadi gadis yang pesimis kembali.
Sampai sudah empat hari ini Tari tidak menerima kabar apapun dari Fadly. Puluhan pesannya tidak pernah terkirim pada laki-laki itu.
***
Waktu yang di janjikan Fadly selama satu minggu pun akhirnya sudah lewat selama satu bulan. Tari tidak tahu harus menemui Fadly dimana.
Seperti hari biasa, ia melewati gang sempit yang akan menuju kerumahnya. Lalu tiba-tiba ada yang menarik lengannya dengan kasar. Tari dengan cepat ingin melepaskan pegangan tangan besar itu dari lengannya.
"Lepaskan!" ucap Tari dengan suara lantang dan mata melotot.
Tari refleks memukul laki-laki itu dengan kuat. Kemudian Tari menatap orang yang memegang lengannya itu. Betapa terkejutnya ia melihat ternyata Fadly lah yang menarik lengannya itu dengan kasar.
Fadly terkekeh ringan, "Maaf ya, mengejutkan kamu."
Dengan wajah marah dan belum bisa mengontrol emosi Tari melepaskan tangan Fadly, "Apa-apaan sih mas, gak bisa lembut apa?"
Fadly sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Tari, "Ikut aku sebentar ya, mobilku di pinggir jalan sana. Trauma kalau masuk gang ini lagi, takutnya di klaksoni orang seperti waktu itu."
Tari tidak menjawab, wajahnya masih cemberut, bahkan ia menunjukkan wajah marah dengan tangan terlipat di dada. Alasan apa lagi yang akan dibuat oleh laki-laki ini, pikir Tari. Tari berdiri membelakangi Fadly.
__ADS_1
"Tari... " panggil Fadly.
Tari meraik napas panjang, "Mau kemana mas?"
"Aku naik mobil sendiri kok, gak sama Andi. Terserah kamu mau kemana aku akan bawa kamu. Kalau kamu mau sekarang bertemu dan berkenalan sama keluargaku, ayo! aku akan ajak kamu," jawab Fadly.
Membuat kening Tari mengerut, bukannya semakin senang wajah Tari justru memerah karena marah. Namun Fadly tidak menyadarinya. Fadly hanya tersenyum menampakkan deretan giginya melihat perubahan wajah Tari.
"Kamu itu masih berhutang penjelasan mas sama saya, kenapa selama sebulan lebih gak bisa dihubungi, gak ada kabar. Percuma kamu kasih saya ponsel canggih, mewah, mahal tapi kamunya gak bisa dihubungi, percuma!" tutur Tari.
Lagi-lagi Fadly tersenyum, membuat Tari sedikit senang dengan senyuman yang diberikan laki-laki itu. Sungguh tampan!
"Tari... Kan tadi aku bilang, ayo! ikut aku. Setelah kamu ikut nanti, ya aku akan jelasin ke kamu kemana aku selama ini," ucap Fadly dengan sangat lembut.
Fadly memegang jemari Tari dengan perlahan, dan mengajaknya ke mobilnya. Tari tidak menolak dan mengikuti Fadly. Dengan bergandengan tangan mereka menuju mobil.
Ini sudah pertemuan yang kedua kalinya dengan Fadly bagi pria yang menguntit Tari waktu itu. Namun lagi-lagi pria itu tidak bisa melihat wajah Fadly. Dan diyakini pria itu, Tari berjalan dengan laki-laki yang waktu itu, karena pria itu masih tanda dengan postur tubuh Fadly.
#####
Next >>>>>>>
Siapa ya pria penguntit itu?......
Ikuti terus ceritanya ya readersππ
Mohon dukungannya
dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..
Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa β€β€
__ADS_1