
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Sandi pun uring-uringan malam itu, seharusnya malam itu ia sudah bisa memadu kasih dengan Tari, tetapi malah ia harus menunggu seminggu kemudian setelah Tari bersih dari tamunya yang sangat mengganggu dan menyebalkan itu bagi Sandi.
Sebenarnya Sandi hanya sedikit kecewa. Ya, hanya sedikit. Karena menurutnya meskipun Tari sedang datang bulan, tapi ia masih bisa menikmati tubuh indah Tari yang lain selain yang dibawah sana. Dan ia juga masih bisa menyuruh Tari berkaraoke dengan microphone yang dimilikinya, yang bila dipegang dan diurut akan semakin membesar bentuknya.
Tapi tentu saja Tari menolak.
"Mas tadi dengar sendiri kan pak ustadz bilang apa? suami tidak boleh berhubungan intim pada istrinya apabila istrinya sedang haid," ucap Tari seraya memperagakan Pak Ustadz berbicara.
Sandi keluar kamar membanting pintu dengan kasar tanpa berkata apa-apa lagi. Didalam kamar Tari selebrasi ala-ala pesepak bola yang berhasil menggolkan gawang lawan.
"Yes!! Yes!! Yes!!"
Sandi berjalan ke dapur, kerongkonganya terasa kering saat tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Kepalanya pun terasa berdenyut sama seperti microphone bawah miliknya yang juga ikut berdenyut.
Pada saat itu juga Bu Hanifa keluar dari kamarnya ingin mengambil air minum untuk Pak Irsyad. Ia heran dengan keadaan Sandi yang duduk di salah satu bangku meja makan. Dengan keadaan lampu dapur yang temaram.
Bu Hanifa pun menyalakan lampu dapur menjadi terang. Dilihatnya lah wajah anak bungsunya yang sedang melamun.
"Kamu kenapa?" sapa Bu Hanifa seraya menyentuh bahu Sandi.
"Aku gak bisa malam pertamaan sama Tari," ucap Sandi tanpa rasa malu.
"Apa-apaan sih perempuan itu?" Bu Hanifa melangkah menuju kamar Sandi dengan wajah yang tampak marah.
Tanpa mengetuk pintu sebelumnya, Bu Hanifa langsung membuka pintu kamar pengantin baru itu dengan kasar.
"Tari!!!" panggil Bu Hanifa dengan nada tinggi.
Tari yang sedang membaringkan tubuhnya dengan nyaman diatas kasur empuk king size itu terlonjak kaget. Ia pun bangun dan menatap kearah pintu yang sekarang sudah berdiri sang ibu mertua dengan tatapan menghunus kearahnya.
"I-iya, Bu," ucap Tari terbata.
__ADS_1
"Kamu ini bo..doh ya? membiarkan suami sendiri uring-uringan seperti itu."
"Seperti apa, Bu?" jawab Tari tanpa rasa bersalah.
"Ikut saya!!" jawab Bu Hanifa dengan mata melotot.
Bu Hanifa sudah melangkah meninggalkan Tari yang masih berada diatas kasur empuk itu. Dengan malas ia pun mengikuti Bu Hanifa.
'Ada apa lagi sih ini?' gumam Tari seraya berjalan mengikuti Bu Hanifa.
Ketika mereka bertiga sudah berkumpul di dapur, Bu Hanifa yang pertama membuka suara.
"Kamu kenapa? kok gak mau diajak malam pertamaan sama suami kamu?"
Tari tercengang, mulutnya terbuka secara refleks. Ia tidak menyangka Sandi akan mengadukan hal sensitif seperti ini pada ibunya. Netranya menatap Sandi yang masih duduk di bangku meja makan. Namun yang di tatap tidak ada respon apa pun.
"Sa-saya sedang haid, Bu," ucap Tari dengan terbata. Ia takut jika sandiwaranya ini akan terbongkar di depan mertuanya.
Bu Hanifa terlihat tampak menghela napasnya dan menarik bangku disebelah Sandi. Sandi menoleh menatap ibunya, ia heran mengapa ibunya diam saja tidak seperti biasa, yang selalu cerewet terhadap Tari.
Bu Hanifa yang di tatap Sandi pun tersenyum, "Istri kamu haid, kenapa kamu tidak bilang?"
Sandi dan Tari memperlihatkan wajah yang hampir sama, netra mereka pun bertemu. Mereka berdua mengernyitkan kening keheranan dengan sikap yang tak biasa ditunjukkan Bu Hanifa.
"Tapi kan Tari masih tetap bisa melayani aku, Bu. Meskipun tidak dengan organ intimnya. Masih bisa kan dengan tangannya atau dengan mulutnya."
Tari menutup wajahnya, ia merasa malu membicarakan hal seperti ini dengan orang tua.
"Wanita haid juga suasana hatinya sangat tidak menentu, sangat mudah tersinggung dan mudah marah, karena pengaruh hormon. Kamu harus mengerti akan hal itu."
Bu Hanifa memberikan pengertian pada anaknya. Pasalnya ia sebagai wanita, juga seperti itu. Sangat tidak nyaman berhubungan suami istri saat datang bulan meskipun hanya dengan tangan ataupun mulut. Dan suaminya, Pak Irsyad sendiri sudah paham akan hal itu.
Tari dan Bu Hanifa bersitatap, Tari tersenyum tipis. Seolah ia mengucapkan terimakasih pada mertuanya itu.
"Kamu Tari, kalau kamu sudah bersih, segera beritahu Sandi. Jangan buat anak saya mengemis sama kamu, paham?!" ucap Bu Hanifa dengan tegas.
"Iya, Bu," jawab Tari.
Sedangkan Sandi yang egois hanya memikirkan dirinya sendiri. Mengapa hanya Tari, pikirnya. Ia sudah pernah menikah siri sebelum dengan Tari, sudah dua kali malah. Tapi istri yang ia nikahi tidak seperti Tari jika sedang datang bulan. Selalu bisa melayaninya sampai dirinya puas.
Dan ditambah lagi sekarang ibunya seolah membela Tari. Tentu ia tidak bisa memaksa, jika tidak mau mendapat amarah dari ayahnya tentu saja. Baiklah, mungkin memang dirinya harus berpuasa beberapa hari ini. Setelah itu, ia tidak akan memberikan ampun pada Tari.
__ADS_1
Tepat jam dua belas malam mereka masuk kamar, begitu juga dengan Bu Hanifa.
Jika Tari dan Sandi kini sudah tidur malam, namun berbeda dengan Fadly yang saat ini sedang makan siang di Amerika bersama kedua orang tuanya. Karena Indonesia dan Amerika mempunyai perbedaan waktu yang cukup jauh.
Sembari menikmati hidangan makan siang di apartenent mewah milik keluarga Dewantara yang berada di Amerika, Tuan Haris Dewantara ingin mengatakan pada Fadly tujuan yang kedua Fadly dibawa ke Amerika.
Karena tujuan pertamanya adalah untuk pengobatan Fadly dan itu sudah terlaksana. Fadly sudah sehat dan pulih seperti sedia kala.
"Fadly," panggil Tuan Haris santai pada anak laki-laki satu-satunya itu.
Fadly mengalihkan pandangannya dari piring ke wajah papanya dan bergantian ke wajah mamanya.
"Ya, Pa. Ada apa?" jawab Fadly.
"Kamu kan sudah pulih, sudah bisa beraktivitas lagi seperti biasa. Papa berencana akan mendaftarkan kamu sekolah bisnis seperti kakak kamu."
Seketika Fadly meletakkan sendok yang diegangganya diatas piring. Yang mana hal itu membuat suara sendok yang jatuh ke piring mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring terdengar.
"Aku gak mau!" ucap Fadly dengan wajah datar, tanpa menatap mama dan papanya.
Nyonya Shofia sempat terkejut dengan reaksi dari Fadly, namun tidak berkata apa-apa.
"Tidak ada kata TIDAK kalau papa sudah berbicara Fadly."
Kali ini Tuan Haris tegas berbicara, tidak santai seperti saat pertama berbicara tadi.
Fadly tidak bisa menolak lagi. Ia berada jauh dari Indonesia, yang dipegangnya saat ini hanya sebuah handphone. Karena baru pulih dari sakitnya, ia tidak ada niat untuk pergi kemanapun semenjak di apartement ini. Sehingga uang tunai maupun atm ia tak punya. Lebih tepatnya, ia belum sempat meminta pada kedua orang tuanya.
Fadly hanya bisa pasrah, ingin kabur. Tapi tidak mempunyai apa-apa untuk pergi. Nasibnya kini ada ditangan kedua orang tuanya.
Keinginan untuk bertemu Tari lebih cepat pun sirna seketika, mereka kini terpisah jarak dan waktu, ia hanya bisa menahan rindu. Dan entah sampai kapan rindu itu akan berlabuh.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤