
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Fadly menggeret kopernya menuju taksi yang ada di Bandara Soekarno Hatta.
"Mau kemana, Mas?" tanya supir taksi ketika Fadly sudah duduk di dalam taksi itu.
"Desa Pandanan, Pak."
Supir taksi yang berada di depan menoleh kebelakang melihat Fadly. Seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Fadly padanya. Karena perjalanan dari Bandara ke desa Pandanan akan memakan waktu setengah hari lamanya.
Kening Fadly mengerut, "Kenapa, Pak?"
"Jauh sekali, Mas. Gak salah alamat kan?"
"Oh, gak salah kok, Pak. Saya memang mau kesana," ucap Fadly dengan pasti.
Akhirnya supir taksi tadipun melajukan mobilnya melesat meninggalkan Bandara menuju desa Pandanan.
Selama di perjalanan menuju desa tempat tinggal Tari, ia berbalas pesan dengan Clara. Clara lah yang meminjamkannya uang sehingga ia sampai di Indonesia dengan selamat dan langsung akan menemui Tari di rumahnya.
Fadly sangat berterima kasih pada Clara karena sudah berbaik hati meminjamkannya uang. Padahal Fadly sangat dingin pada gadis itu. Awalnya Fadly sangat risih bila Clara dekat-dekat dengannya. Tapi setelah mengetahui bahwa gadis itu benar-benar ingin berteman dengannya Fadly pun mulai mau berteman dengan Clara.
Setelah pertemanan mereka berjalan satu bulan, Fadly memberanikan diri untuk meminjam uang Clara. Fadly pun menceritakan kisah cintanya dengan Tari. Ia terpisah jarak dan waktu dengan gadis penjahit cantik yang ia cintai itu.
Setelah beberapa hari sejak Fadly mengatakan akan meminjam uang Clara, akhirnya Clara dengan baik hati mengabulkan keinginan Fadly. Clara meminjamkan Fadly uang yang tidak sedikit jumlahnya.
Tentu tidak mudah bagi Clara mempercayai Fadly begitu saja dengan meminjamkan uang itu. Karena Fadly baru dikenalnya satu bulan sudah langsung meminjam uang padanya. Tapi karena kebaikan hatinya, Clara dengan tidak menaruh curiga sedikitpun mau meminjamkan uang pada Fadly.
Tuan Haris dan Nyonya Shofia sengaja tidak pernah mengirimkan Fadly uang dalam jumlah besar. Sehingga Fadly tidak bisa sesuka hatinya mempergunakan uang untuk pulang ke Indonesia. Tapi Fadly terus mencari cara bagaimana agar ia bisa pulang ke negara nya untuk menemui Tari.
__ADS_1
Ia sudah tidak bisa menahan lagi rasa rindunya. Sudah enam bulan lamanya ia tidak berjumpa dengan Tari. Ia ingin menemui gadis yang dicintainya itu.
Enam jam perjalanan dari Bandara ke desa Pandanan. Rasanya Fadly sudah sangat tidak sabar ingin segera sampai kedesa itu dan melihat wajah gadis yang selama ini ia rindukan.
Perjalanan sudah memakan waktu lima jam. Tinggal satu jam lagi akan sampai di desa Pandanan. Fadly mengaktifkan ponselnya yang sejak tadi ia non aktifkan sesaat setelah berkirim pesan dengan Clara tadi.
Satu pesan masuk dari Clara, Fadly langsung menelepon Clara.
"Bagaimana? apakah sudah bertemu dengan kekasihmu itu?" tanya Clara saat sambungan telepon sudah terhubung.
"Belum, tinggal satu jam perjalanan lagi," jawab Fadly.
"Apakah rumah kekasihmu itu sangat jauh, Fadly?"
"Ya, membutuhkan waktu enam jam dari Bandara."
"Oh, sangat jauh ternyata. Aku doakan semoga kau selamat sampai tujuan dan bertemu dengan kekasihmu."
"Terima kasih Clara, terima kasih untuk kebaikanmu."
"Ya, aku kenalkan kekasihku padamu, Clara."
"Ok, baiklah. Aku tutup teleponnya."
Sedetik kemudian ponsel Fadly kembali berdering. Telepon masuk dari Nyonya Shofia. Panggilan pertama tidak diterima oleh Fadly hingga panggilan kelima. Namun, bukan Nyonya Shofia namanya jika begitu saja sudah menyerah. Akhirnya Fadly menerima panggilan telepon dari Nyonya Shofia.
"Kamu kemana aja sayang? mama telepon kok tidak aktif terus nomornya?"
"Aku tidur, Ma. Aku lagi gak enak badan nih," Fadly menjawabnya sambil menutup mata. Cukup lelah ternyata melakukan perjalanan selama enam jam di dalam taksi. Ditambah lagi perjalanan di pesawat yang memakan waktu dua puluh jam lebih.
Pada saat itu taksi akan melewati persimpangan, lalu supir taksi bertanya pada Fadly, "Belok kanan atau kiri, Mas?"
Fadly terdiam, dari sambungan telepon dengan Nyonya Shofia pun tidak ada reaksi apa-apa. Namun sedetik kemudian, seketika Fadly membuka matanya dan langsung tersadar dengan pertanyaan supir taksi. Fadly dengan cepat memberi kode pada supir taksi untuk belok ke kanan.
"Kamu dimana sayang?" tanya Nyonya Shofia curiga.
"Di taksi, Ma," jawab Fadly dengan jujur. Nyatanya dirinya memang benar sedang berada di taksi saat ini.
__ADS_1
"Mengapa supir taksinya bisa berbahasa Indonesia?" tanya Nyonya Shofia semakin curiga.
Fadly menghela napasnya dengan kasar namun tidak menjawab pertanyaan Nyonya Shofia.
"Jangan bilang sekarang kamu berada di Indonesia, Fadly."
Tut...
Nyonya Shofia mematikan sambungan telepon dan detik berikutnya ia menelpon Fadly kembali tetapi panggilan video. Fadly membiarkan saja panggilan video itu.
Lalu Nyonya Shofia mengirim pesan, [Kamu dimana?].
Fadly tahu, jika mamanya sudah berbicara ataupun mengirim pesan dengan tidak memanggil namanya, itu artinya mamanya sedang marah. Namun Fadly tidak menggubrisnya, ia tetap membiarkan panggilan ataupun pesan yang sudah berpuluh-puluh kali dari sang mama.
Akhirnya Fadly sudah sampai didepan rumah kontrakan Tari, ia membayar tarif taksi kemudian turun.
Fadly berdiri di depan rumah itu, ia memandangi rumah kontrakan itu. Terlihat berbeda, begitulah kesan pertama yang di tangkap mata Fadly. Karena rumah itu kini sudah di cat dengan rapi. Tidak seperti dulu, rumah kontrakan yang di tempati Tari dan keluarganya terlihat kusam.
Dengan jantung berdegup kencang Fadly berjalan mendekati rumah itu dan mengetuk pintu ketika sudah sampai di depan pintu.
Tok Tok Tok
Sudah yang kedua kalinya Fadly mengetuk pintu itu, tapi sepertinya tidak ada orang. Fadly duduk di pagar pembatas rumah. Ia berniat menunggu Tari ataupun bapak dan ibunya. Sembari menunggu Tari pulang, ia membuka ponselnya. Ada pesan masuk lagi dati Nyonya Shofia, [Jangan bilang kamu sudah di Indonesia sekarang.. ]
Fadly menghubungi Nyonya Shofia, ia sengaja video call dengan Nyonya Shofia. Fadly ingin mengejek Nyonya Shofia. (Dasar anak durhaka ya, emak sendiri diejekin 😂)
"Hallo Mama!" ucap Fadly sembari tersenyum dan melambaikan tangannya pada Nyonya Shofia.
Nyonya Shofia yang melihat itu mengerutkan keningnya. Ia mencoba menerka dimana Fadly sedang berada. Fadly mengetahui hal itu, karena Nyonya Shofia sama sekali tidak melihat kearahnya melainkan ke belakangnya. Dengan sengaja Fadly memutar tubuhnya memperlihatkan ke sekelilingnya, memberitahukan dimana dirinya kini berada.
"Kamu di Indonesia sekarang?" tanya Nyonya Shofia dengan mimik wajah marah.
"Iya, Ma. Lebih tepatnya di Desa Pandanan," jawab Fadly, kembali ia tersenyum penuh kemenangan.
"FADLY kamu yaaa!!!" Nyonya Shofia berang.
Bukannya takut karena Nyonya Shofia marah, Fadly malah terkikik geli. Ia sudah berhasil mengerjai Nyonya Shofia.
__ADS_1