
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Karena Fadly sudah sadar dokter sudah mengizinkan Fadly untuk pindah ke ruangan rawat inap biasa, tidak lagi di ruangan intensive.
Tuan Haris akan tetap pada rencananya, membawa Fadly melanjutkan pengobatan diluar negeri. Tapi kali ini Fadly akan ia bawa ke Amerika untuk melanjutkan pengobatan cidera kepalanya, meskipun sekarang Fadly sudah sadar.
Dan mereka semua tidak ada yang memberitahukan Fadly perihal ini. Jika Fadly tahu, ia pasti tidak akan mau menuruti rencana Tuan Haris.
Semua anggota inti keluarga Dewantara sudah berkumpul di kamar rawat inap Fadly. Sejak pertama Fadly sadarkan diri dan bertemu mamanya, Fadly sudah bertanya dimana keberadaan Tari, kondisi Tari setelah kecelakaan dan kabar terakhir tentang Tari. Namun tidak ada jawaban apapun dari mamanya.
Kini saat kamar rawat inapnya sudah di pindah, ia juga ingin sekali bertanya dimana Tari. Dan Tari mengapa belum juga menjenguknya, padahal ia sudah sadar selama dua hari ini.
Sudah beberapa jam berlalu saat Fadly di pindahkan ke ruang VVIP itu. Kini Tuan Haris sudah pamit bersama Lea untuk kembali ke perusahaan Dewantara Corp.
Sekarang tinggallah Fadly bersama mamanya saja diruangan itu.
"Ma, keadaan Tari bagaimana setelah kecelakaan?" Fadly bertanya lagi.
Nyonya Shofia tidak bisa mengelak lagi, kali ini dia harus menjawab pertanyaan anak laki- lakinya itu. Karena sejak dua hari yang lalu, Nyonya Shofia berpura-pura keluar ruangan jika ditanya Fadly. Atau jika tidak, Nyonya Shofia berpura-pura menerima telepon dari seseorang.
"Mama sebenarnya menutupinya dari kamu, sayang. Mama tidak mau kamu jadi down gara-gara mikirin perempuan itu," jawab Nyonya Shofia.
Ia menghentikan pekerjaannya yang sedang memotong buah untuk Fadly.
Fadly mengernyitkan dahinya, "Ada apa, Ma? apa yang terjadi dengan Tari?"
Fadly sedikit panik, ia menduga sudah terjadi sesuatu pada Tari.
"Perempuan itu tidak mengalami luka apapun ditubuhnya. Dan dia kabur setelah mama, papa dan kak Lea sampai di rumah sakit," terang Nyonya Shofia.
Fadly tertawa getir, "Ma, Tari gak mungkin seperti itu. Mama ngarang cerita kan? Dan satu lagi, Ma. Perempuan itu yang mama ceritakan itu punya nama, Ma. Namanya Tari."
"Kenapa sih, kamu begitu memikirkan dia?"
"Karena aku cinta sama Tari, Ma."
__ADS_1
Nyonya Shofia menghela napasnya, dan kembali mengambil pisau lalu melanjutkan memotong buah untuk Fadly.
"Tapi mama tahu dari mana kalau Tari tidak mengalami luka apapun ditubuhya?" tanya Fadly di sela-sela memakan buah yang sudah dipotongkan Nyonya Shofia untuknya.
"Jadi, waktu mama, papa dan kak Lea sudah sampai ke rumah sakit tempat kamu di rawat waktu itu, dia itu sehat-sehat saja. Lecet-lecet juga tidak ada. Mama heran, kenapa bisa kamu terluka parah di kepala sedangkan dia sama sekali tidak ada luka."
Diam-diam Fadly mengucap syukur dalam hatinya jika Tari tidak terluka. Tidak apa-apa jika dirinya saja yang mengalami sakit seperti ini, karena jika Tari yang sakit tentu ia tidak akan tega. Fadly juga harus bertanggung jawab terhadap Tari, karena ia yang menyetir mobil, jadi biarlah ia saja yang terluka.
"Kamu tahu, setelah kami datang. Dia langsung pamit, katanya bapaknya juga sedang di rawat di rumah sakit. Dan dia meninggalkan kamu begitu saja," kata Nyonya Shofia menambahkan.
Fadly terkejut, jika memang benar begitu yang dikatakan mamanya. Fadly tidak keberatan. Malahan ia merasa bersalah pada Tari, karena tidak bisa mengantarkan Tari ke rumah sakit tempat bapak Tari di rawat. Ia pamit membawa Tari pada orang tua Tari, tapi tidak bisa memulangkan Tari seperti sedia kala saat menjemputnya.
Banyak sekali kejelekan Tari yang tidak pernah dilakukan gadis itu yang diceritakan oleh Nyonya Shofia pada Fadly. Tapi apapun yang dikatakan Nyonya Shofia tentang Tari, Fadly tidak terpengaruh sama sekali. Ia tetap mempercayai jika Tari adalah gadis baik, yang selama enam bulan ini ia kenal. Semakin ia memikirkan Tari, semakin ia merindukan gadis penjahit cantik itu.
Fadly dan Nyonya Shofia sudah tidak membahas tentang Tari. Mereka hanya duduk santai di ruang VVIP rumah sakit. Bahkan ruangan itu bisa dikatakan seperti kamar hotel bukan seperti ruangan rumah sakit.
Hanya karena cairan infus yang tergantung ditiangnya itulah penanda jika mereka sedang berada di rumah sakit.
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu diketuk dari luar oleh seseorang.
"Silahkan masuk," kata Nyonya Shofia mempersilahkan seseorang itu untuk masuk.
Muncullah gadis cantik blasteran yang tinggi semampai ketika pintu dibuka. Adelia datang sendirian, ia membawa parcel buah dan bouquet bunga untuk Fadly.
Adelia mencium pipi kanan dan kiri Nyonya Shofia. Lalu ia meletakkan parcel buah dan bouquet bunga yang ia bawa diatas meja. Ia beralih menatap Fadly yang hanya diam tanpa menyapanya.
Bahkan Fadly saat ini sedang menengadahkan kepalanya menonton acara di televisi yang letaknya memang berada diatas, tanpa melirik sedikitpun kearah Adelia yang datang menjenguknya.
"Sayang, ini ada Adelia datang jenguk kamu. Lihat dia datang bawa bunga, seketika ruangan ini jadi harum karena bunga yang Adel bawa," kata Nyonya Shofia memberitahu Fadly. Dan sedikit melebih-lebihkan.
"Ma, aku masih bisa melihat kok siapa yang datang, mata aku masih berfungsi dengan baik," ucap Fadly sedikit kesal.
Fadly menghela napasnya dengan kasar, dan beralih menatap Adelia dengan wajah datar, "Makasih ya Del atas buah dan bouquet bunganya."
"Iya sa-. Iya," Adelia tersenyum kecut.
Pasalnya ia biasa memanggil Fadly dengan sebutan sayang. Tapi kali ini mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi sehingga sangat canggung bagi Adelia jika masih memanggil sayang pada Fadly. Adelia sekilas melirik kearah Nyonya Shofia.
Nyonya Shofia tertawa singkat dan mulai berkata agar tidak terasa canggung diruangan itu, "Kamu sendirian, Del?"
"Iya, Tante."
__ADS_1
"Biasa diantar Max, Max kemana?"
Adelia mulai menangis, membuat Nyonya Shofia mengernyitkan dahinya. Fadly pun berhenti melihat acara televisi dan mulai menatap Adelia.
"Dia sekarang ada dipenjara, Tante. Karena menolong seorang gadis kampung, niat baik malah jadi tersangka," Adelia berkata dengan mengarang cerita.
Adelia sengaja tidak menyebutkan nama gadis itu. Fadly hanya diam mendengarkan Adelia bercerita sembari sesekali menyeka air matanya. Entah itu air mata palsu atau hanya bohongan (lah sama aja ya.. 😅).
"Loh, kok bisa Del?" tanya Nyonya Shofia.
"Gadis kampung itu mengira jika Max yang menghajarnya dan melukainya hingga dia pingsan. Padahal yang melukai gadis kampung itu ya si perampok, Tante."
Fadly mengernyit, "Terus polisi kenapa bisa langsung memenjarakan Max?"
Ada sedikit senang dihati Adelia ketika Fadly sudah mulai mau mendengar ceritanya.
"Saat gadis kampung itu lapor polisi, polisi langsung memeriksa cctv rumah sakit tempat gadis itu mendapat pertolongan luka-lukanya. Pada saat itu, Max lah yang membawa gadis itu ke rumah sakit. Max dimintai keterangan dan keesokan harinya Max dijemput paksa oleh polisi," jawab Adelia.
"Ya ampun, kasihan sekali Max. Apa kalian sudah menghubungi pengacara, Del?" ucap Nyonya Shofia.
"Sudah, Tante. Adel menyewa dua pengacara sekaligus untuk membela Max."
"Bagus deh, ini tidak adil sekali bagi Max," ucap Nyonya Shofia yang merasa iba.
***
Gadis yang dirindukan Fadly kini sedang sibuk menjaga bapaknya dirumah sakit. Pak Syabani belum diizinkan pulang oleh dokter, karena kondisi kesehatan Pak Syabani belum terlalu stabil untuk bisa dibawa pulang.
Oleh karena itu juga pernikahan Sandi dan Tari ditunda. Tari mengharapkan bapaknya sebagai wali nikahnya, sehingga bapaknya harus sehat saat hari dimana Tari menikah dengan Sandi nanti.
Sandi sangat mengharapkan pernikahan ini cepat berlangsung malah menjadi sangat lama, membuatnya menjadi uring-uringan.
Belum lagi ia harus mengurus penjahat yang melukai Tari. Jika tidak ada polisi, pasti ia sudah menghajar dua penjahat itu hingga babak belur. Ia juga ingin sekali memotong mulut keduanya hingga sampai ketelinga mereka. Seperti apa yang dilakukan mereka pada Tari.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤