
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Adelia sebagai adik dari Max tidak tinggal diam saat Max dijemput paksa oleh polisi. Ia segera menelepon pengacara keluarganya dan juga satu pengacara yang terkenal agar Sandi bebas tidak mendapatkan hukuman apapun.
Sandi juga tidak mau kalah, ia juga menyewa pengacara hebat agar memenangkan kasus ini. Demi keadilan untuk Tari.
Sejujurnya Sandi sangat terganggu dengan adanya kasus ini, karena hari pernikahannya jadi tertunda.
Pak Syabani sudah melewati masa kritisnya, sehingga Sandi tidak sabar untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Tari.
Dan hari ini rencananya ia akan membawa Tari ke rumahnya, ia akan mengenalkan Tari pada ayahnya. Karena hanya ayahnya saja yang belum mengenal Tari.
Tari di jemput oleh Sandi di rumah sakit sekitar jam 10 pagi. Dan sampai di rumah Sandi sudah lewat jam makan siang, sehingga mereka tidak ikut makan siang bersama dengan keluarga Sandi.
Hal ini adalah pengalaman ke dua Tari berkenalan dengan calon mertua. Namun, ibu dari calon suaminya kali ini sudah sangat ia kenal bahkan sudah tahu perangainya seperti apa. Ia hanya perlu mempertebal telinga setiap kali bertemu Bu Hanifa. Karena kata-kata Bu Hanifa sangat kasar dan sikapnya juga nampak sekali ketika tidak suka dengan seseorang.
Berbeda sekali dengan orang tua Fadly, mereka pandai bermain dengan kata-kata dan menutupi ketidak sukaan mereka. Wajah mereka akan tampak biasa saja, bahkan mereka bisa tersenyum dengan orang yang mereka tidak sukai. Namun mereka menusuk dari belakang.
Pikiran Tari sesaat menerawang ketika bertemu dengan Lea, ia tersenyum sangat manis. Kata-katanya juga manis, menyambut Tari dengan hangat. Tapi kenyataannya saat berada di rumah sakit, Lea sama saja seperti kedua orang tua Fadly.
Sandi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Tari, "Ngelamunin apa sih kamu?"
Tari tersadar, "Eh, gak ada, Mas. Hanya teringat bapak saja."
"Bapak kamu kan sudah membaik, tidak usah di khawatirkan lagi. Asal kamu tetap berada di samping Mas, Mas akan biayai semua kebutuhan keluarga kamu. Sudah, ayo kita turun."
Ternyata Tari belum benar-benar tersadar dari lamunannya, karena ia terkejut ketika Sandi mengajaknya turun.
"Hah! turun? sudah sampai, Mas?"
"Ya kamu lihat ini kita sudah dimana? Kamu ngelamunin apa sih?"
"Gak ada kok, Mas. Beneran," jawab Tari kemudian menampilkan senyumnya.
__ADS_1
Tari melihat keluar dan ternyata benar, mereka kini sudah sampai pekarangan rumah keluarga Sandi.
"Sudah sampai kalian," Bu Hanifa menyambut Sandi dan Tari dengan senyuman hangat.
Dan di belakang Bu Hanifa berjalan sosok pria paruh baya yang di perkirakan Tari itu adalah ayah Sandi. Lalu Bu Hanifa dan pria paruh baya tadi berdiri berdampingan.
Sandi memperkenalkan Pak Irsyad pada Tari, "Ini Yah, calon istriku, Tari."
Tari mengulurkan tangannya menyalami punggung tangan Pak Irsyad. Pak Irsyad tersenyum dan menatap Tari dengan hangat. Kemudian Tari melirik Bu Hanifa yang berdiri di samping Pak Irsyad. Rasanya tidak enak jika hanya bersalaman dengan ayahnya Sandi saja, ia pun sedikit membungkuk dan menyalami punggung tangan Bu Hanifa juga.
Mata Pak Irsyad tidak putus menatap Tari dengan penuh kehangatan. Tari pun merasakannya.
"Katanya, bapak kamu sedang sakit ya?" tanya Pak Irsyad membuka percakapan.
"Iya, Pak. Berkat bantuan Mas Sandi, tiga hari yang lalu bapak saya bisa menjalankan operasi," jawab Tari.
"Jangan bilang berkat bantuan Sandi, karena berkat bantuan Allah bapak kamu bisa menjalankan operasi," Pak Irsyad meluruskan.
"Memang berkat bantuan Allah, tapikan lewat Sandi Yah nolongnya. Sama saja kan, jika bukan karena Sandi, bapaknya Tari tidak bisa menjalankan operasi," Bu Hanifa mulai ikut berkomentar.
"Astaghfirullah, Buuu. Tidak baik bicara begitu, semua itu sudah ketentuan Allah," kata Pak Irsyad.
Sandi menatap Tari dan mengatakan dengan suara sedikit dikecilkan, "Maklum ya, kehidupan rumah tangga memang seperti itu. Kamu nanti contoh ibu Mas, ya. Jangan seperti ibu tiri kamu itu."
Pak Irsyad kembali memperhatikan Sandi dan Tari, senyum hangatnya tidak lepas dari bibirnya saat menatap Tari. Ia suka dengan Tari ia sangat setuju jika Sandi menikah dengan Tari. Ia melihat kebaikan dari mata Tari.
"Terus kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Pak Irsyad pada Sandi dan Tari.
"Secepatnya, Yah, semua sudah diatur kok sama ibu," jawab Sandi.
"Sudah berapa persen persiapannya, Bu?" tanya Pak Irsyad.
"Pokoknya gampang lah kalau ibu yang urus gak usah di khawatirkan," ucap Bu Hanifa.
"Oh bagus kalau begitu," Pak Irsyad menganguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban istrinya itu
"Nak Tari, nanti setelah menikah rencana akan tinggal dimana bersama Sandi?" tanya Pak Irsyad pada Tari.
"Kalau saya terserah Mas Sandi saja, Pak. Tapi, jika Mas Sandi mengizinkan. Saya bisa membawa bapak dan ibu saya tinggal bersama kami," jawab Tari.
"Sandi dan kamu akan tinggal disini setelah menikah. Bukannya saya pelit sama anak saya sendiri. Saya cuma gak mau anak saya tinggal jauh dari saya. Karena rumah ini juga sangat besar, untuk apa kalian cari-cari rumah lain," Bu Hanifa mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Yaaa, gak apa-apa Bu, kalau saya dan Mas Sandi harus tinggal disini. Tapi, Mas Sandi sudah mengatakan, jika nanti bapak dan ibu saya masih boleh menempati rumah kontrakan itu," jawab Tari dengan sopan.
"Ya, benar. Bapak dan ibunya Tari bisa menempati rumah kontrakan itu tanpa harus membayar biaya sewanya," kata Sandi menambahkan.
"Kamu setuju dengan keputusan Sandi seperti itu, nak?" tanya Pak Irsyad yang mengarahkan pandangannya pada Tari.
"Setuju, Pak," ucap Tari dengan senyum tipis di bibirnya.
"Ya setujulah, kalau dia gak setuju terus dia mau minta kedua orang tuanya tinggal dimana?" Bu Hanifa berkata dengan mengangkat dagunya.
"Panggil ayah saja ya, seperti Sandi memanggil saya ayah, kamu juga boleh panggil ayah saja," ucap Pak Irsyad.
Pak Irsyad berpikir, jika Tari seorang gadis matre seperti yang dikatakan istrinya waktu itu. Pasti Tari akan meminta rumah yang setidaknya lebih besar ketimbang rumah kontrakan petak gandeng tiga itu.
Seperti yang diminta Ranti, istri Dian, abang dari Sandi. Memang Ranti sebelum menikah dengan Dian sejak dulu tinggal di kota. Tapi keluarga Ranti juga tidak jauh berbeda dengan keluarga Tari yang hidupnya hanya mengontrak rumah.
Ketika akan menikah dulu, Ranti meminta rumah pada Dian untuk tempat tinggal kedua orang tuanya dan juga adiknya. Rumah yang diminta Ranti tidak tanggung-tanggung, ia meminta membeli rumah di perumahan elit yang berada di kota. Jika Dian tidak mau memenuhi permintaannya, Ranti tidak mau menerima lamaran Dian.
Dan untuk pesta pernikahan, mana mau Ranti terima jika Bu Hanifa yang mengurusnya. Ia mencari Wedding Organizer yang selalu di pakai para artis-artis ibu kota. Pernikahannya juga bertempat di gedung.
Sementara Tari, tadi dikatakan istrinya jika masalah persiapan acara pesta sudah diatur dan sudah beres, Tari diam saja tanpa menolaknya.
Namun seperti yang diketahui Pak Irsyad, istrinya tidak pernah mengatakan jika Ranti adalah gadis matre. Sementara Tari, hanya meminta orang tuanya tetap diizinkan tinggal di rumah kontrakan petak dan istrinya mengatakan jika Tari adalah gadis matre.
Apakah istrinya salah menilai? atau hanya sebuah tuduhan semata yang disematkan pada Tari?
Pak Irsyad sengaja menyuruh Sandi membawa Tari ke rumahnya, karena Pak Irsyad ingin menilai sendiri bagaimana gadis penjahit matre yang dikatakan istrinya itu.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤
__ADS_1