Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Salah Paham


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Sekilas Tari melirik rumah Fadly. Pintu rumah Fadly tertutup rapat sedangkan motornya masih berada di teras rumahnya.


Tari sempat berpikir, ada apa lagi dengan laki-laki itu sehari perhatian, sehari cuek. Seperti perempuan yang sedang didatangi tamu bulanan atau seperti anak yang baru mengalami masa puber.


Tapi Tari cepat menyingkirkan pikiran-pikiran seperti itu. Mungkin hanya perasaannya saja.


Tari berjalan ke depan pintu rumahnya dan mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada yang membukanya. Akhirnya Tari membuka sendiri pintu rumahnya dengan kunci cadangan yang ia bawa.


Tari tahu mungkin bapak dan ibu nya sekarang masih berada di rumah sakit untuk check up. Kemudian ia membersihkan diri di kamar mandi.


Lima belas menit kemudian ia telah selesai mandi, memakai baju, lalu duduk di pinggir ranjangnya. Kemudian ia teringat kalau ponselnya sejak tadi padam karena kehabisan daya.


Ia berdiri mencari charger ponselnya dan segera mencharge ponsel bututnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencharge, ponsel keluaran lama itu pun ia nyalakan dengan menekan tombol power. Sepersekian detik kemudian ponselnya menyala.


Drrrt! drrrt! drrrt! drrrt!


Ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Tari membukanya satu persatu. Ada beberapa pesan dari pelanggannya yang menanyakan kapan bajunya selesai. Ada juga yang membalas pesan yang Tari kirim tadi siang, mengatakan bahwa pelanggannya itu tidak bisa mengambil bajunya hari ini mungkin besok akan diambilnya di kios jahit Tari.


Ada juga pesan dari Kemal, ia menanyakan keadaan Tari hari ini. Setelah ia membuka dan membalasnya satu persatu, ia melihat ada nama Fadly tertera di layar ponselnya. Yang berarti Fadly mengiriminya pesan. Tari tersenyum senang.


Ada tiga pesan yang dikirim Fadly, pesan yang pertama dikirim pukul 12.10 WIB, sesaat sebelum ia makan siang.


Fadly mengatakan [Tari, tunggu aku ya, nnti sekitar jam lima aku jemput kamu di kios :)].


Pesan yang kedua dikirim pukul 12.31 WIB, berarti pada saat makan siang bersama dengan Dodi dan Winda.


Pesan itu berbunyi [Wah!, enak bgt ya yg lg makan berduaan. Bahagia bgt kelihatannya. Pdahal sama aku aja kamu gk prnh trtawa selepas itu, sebenarnya siapa sih yg kamu cintai, yg lg makan sama kamu skrg ini, Kemal atau aku?].


Tari menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Tari memang cengeng, membaca seperti itu saja air matanya ingin tumpah.


"Astaghfirullah, mas Fadly salah paham ini. Padahalkan saya gak berduaan," gumamnya sendirian dengan suara bergetar.

__ADS_1


Lalu dibuka kembali pesan Fadly yang ketiga yang dikirim Fadly pukul 17.28 WIB, berarti sesaat setelah Fadly sampai ke rumah.


Pesan itu berbunyi [Udh dianter pulang kn sama org yg kamu cintai. Sebenarnya dia kn org yg kamu cintai, bkn aku?].


Air mata Tari berderai membasahi pipinya. Ia menangis sendirian di kamarnya. Mengapa laki-laki itu begitu impulsif. Terlalu cepat sekali menyimpulkan tanpa bertanya terlebih dahulu.


Tari yang masih polos akan cinta sangat sensitif dengan hal seperti ini. Padahal Fadly juga tidak mengatakan kalau dirinya mencintai Tari, bahkan mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa selain pertemanan.


Tetapi sekali lagi, Tari adalah gadis yang sangat polos akan cinta. Baru kali ini ia merasakan jatuh cinta pada laki-laki tentu saja selain cinta pada bapaknya.


Dan lagi, Fadly juga tidak mengatakan ia mencintai Tari, tapi mengapa ia seolah sedang cemburu dengan kekasihnya saat kekasihnya sedang bahagia dengan orang lain.


Saat ini Tari sedang mengatur emosinya, ia akan mendatangi Fadly dan mengatakan yang sebenarnya pada Fadly karena ia salah paham dengan apa yang ia lihat.


Sementara Fadly yang kecewa dengan tingkah Tari saat ini sedang membaringkan tubuhnya di kasur miliknya. Berulang kali ia menatap layar ponselnya namun tidak ada balasan dari Tari.


Ia tidak mau mengakui kalau ia juga mencintai Tari sekarang ini. Tapi mengapa hatinya sakit saat Tari sedang tertawa dengan pria lain.


"Gue gak cinta sama tuh cewek, dihhh!," gumamnya sendiri dengan senyum kecutnya.


Lalu ia berdiri, ia menghadap ke kaca besar yang ada di kamarnya. Rambut yang tadi ia remas sendiri, sekarang ia rapikan kembali. Ia mengambil sisir dan menyisir rambutnya.


"Gue ganteng, gue tampan. Cewek mana sih yang pernah nolak gue. Gak ada, sedangkan cowok yang boncengin lo tadi Tari, jauh banget sama gue," Fadly berbicara sendiri di depan cerminnya.


Ia kembali duduk dikasurnya, sejenak ia melamun.


Dan ia di kagetkan dengan suara ketukan pintu rumahnya. Fadly berjalan dan membuka pintu rumahnya, kemudian nampaklah ia orang-orang suruhan keluarganya yang sangat ia kenali, dengan cepat ia langsung menutup pintu rumahnya kembali.


Namun ternyata tangan mereka lebih cepat dibanding Fadly.


"Maaf tuan Fadly, kami hanya menjalankan tugas dari nyonya Shofia untuk menjemput anda, silahkan masuk mobil," ucap salah satu dari mereka sambil menunduk dan mempersilahkan Fadly masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah kontrakan gandeng tiga itu.

__ADS_1


"Gue gak mau," jawab Fadly singkat.


Fadly berusaha menutup pintu rumahnya kembali dengan sekuat tenaga. Namun nihil, karena badan mereka lebih besar di banding Fadly, pintu rumah itu kembali terbuka dengan lebar.


"Tolong kerjasamanya tuan, jika anda tidak mau masuk mobil, nyonya Shofia mengizinkan kami untuk melakukan pemaksaan kepada anda," ucap pria itu lagi dengan tegas dan sedikit keras.


Fadly menolak dan berusaha lari masuk ke dalam rumah. Dengan cepat orang-orang suruhan mamanya menangkapnya dan memegangi lengannya.


Di luar suara berisik terdengar di telinga Tari, suara itu seperti suara orang sedang bertikai. Tari melangkah keluar kamar dan mengintip dari jendela rumahnya. Dilihatnya, tepat didepan rumahnya ada mobil berwarna hitam mengkilat dan ada juga orang-orang tegap berpakaian serba hitam seperti satpam berbaris di depan rumah Fadly.


Karena penasaran Tari membuka pintu rumahnya, dan keluar melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Orang-orang yang waktu itu? sebenarnya mereka siapa ya?" gumam Tari sendirian.


Saat Tari berada di teras, bapak dan ibunya pulang dengan menaiki becak motor. Tari melihat bapaknya tampak lesu, berjalan menunduk dan sesekali terbatuk.


Sedangkan ibu tirinya menggandeng lengan atas Pak Syabani yang lesu. Bu Rosita menatap berbinar kearah mobil yang terparkir di depan rumah mereka. Ia tahu persis mobil merk apa itu.


Tidak lama Fadly dan orang-orang berbadan tegap suruhan keluarga Dewantara keluar dari rumah yang ditempati Fadly.


Fadly kini menurut dengan mereka, tidak ada pemaksaan lagi. Karena mereka telah mengatakan yang sebenarnya pada Fadly mengapa Nyonya Shofia menyuruh mereka menjemput Fadly meskipun harus memaksa Fadly.


Dengan wajah sedih karena kabar yang dibawa oleh para bawahan mamanya, dan perasaan kecewa dengan Tari, Fadly memasuki mobil yang sudah dibawa bawahan mamanya itu.


#####


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, rate bintang lima, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2