Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Kuliner Alam Cafe


__ADS_3

Mereka, Tari dan Fadly kini berdiri berhadapan. Saling memandang satu sama lain.


"Bukan karena gak jadi ke cafe yang pertama tadi, dan bukan karena mas Fadly gak punya mobil saya jadi diam saja dari tadi," ucap Tari memecah keheningan.


"Trus? karena apa?" tanya Fadly.


"Eummm? karena..." Tari diam sejenak, memikirkan apakah harus diucapkannya apa yang menjadi penyebabnya diam saja sejak tadi.


"Saya malu mas, saya pakai baju seperti ini. Pas kena hujan tadi jadi nerawang," setelah berpikir, jawaban itulah yang akhirnya Tari keluarkan. Ia tidak mau memberitahukan Fadly bahwa ia salah mengartikan panggilan 'kamu' yang diucapkan Tari.


Sungguh hanya karena Fadly mengucapkan 'kamu' Tari jadi baper. Dan itu semua sebenarnya bukan salah Fadly, dirinyalah yang salah karena berharap terlalu besar dengan tetangga tampannya itu.


Sekarang lelaki tampan dihadapannya ini memanggil 'kamu' lagi. Sehingga mengobati rasa hatinya yang tadi tidak karuan karena ulah lelaki itu.


Sebenarnya Tari sudah baper lagi, tapi ia menahannya untuk tidak terlalu senang. Ia merasa Fadly hanya membujuknya agar dirinya mau berbicara pada Fadly.


Fadly memegang tangan Tari, kali ini Tari tidak menepisnya. Dibiarkan tangan besar itu menggenggam tangan kecilnya.


"Besok kita keluar lagi ya! kita ke cafe alam tadi. Mau gak? biar kamu gak penasaran," ucap Fadly.


"Gak usah, Mas. Saya gak penasaran kok," jawab Tari.


"Yakin?"


"Iya, yakin."


"Tapi kali ini aku maksa loh, kamu harus mau..."


"Loh! kok gitu sih? lagian mas, saya banyak hutang sama mas Fadly. Ini malah mas Fadly mau traktir makan lagi, saya jadi gak enak."


"Karena aku udah janji sama kamu mau bawa kamu ke cafe itu. Kalau belum kesampaian aku 'ntar gak bisa tidur, hehehe. Masalah hutang gak usah kamu pikirin, itu gampang"


"Terserah mas Fadly aja deh..." Tari menjawab dan tersenyum.


Fadly mengurai tangan mereka. Dilihatnya hujan mulai reda, kemudian ia mengambil ponsel di kantong celananya.


"Sekarang, aku minta nomor hp kamu."


Tari mengucapkan digit nomor hp nya.


Setelah itu, mereka kembali kejalanan basah menaiki motor sport Fadly dan menuju rumah mereka.


Sesampainya di rumah, Tari disambut oleh ibu tirinya. Bu Rosita tersenyum.


"Assalamu'alaikum, bapak dimana bu?" ucap Tari, lalu menyalami Bu Rosita.


"Wa'alaikumsalam, itu lagi makan malam. Bagaimana kencan pertama kamu?" tanya Bu Rosita kepo.


"Ih, kencan apaan sih bu, orang Tari dan mas Fadly cuma makan di cafe aja kok."


"Eh! Tari, si Fadly itu kerjanya apa sih? kok uangnya banyak, lihat tuh motor sport nya, itu harganya mahal loh."


Tari memutar bola matanya malas. Lagi-lagi yang di bahas ibu tirinya itu harta dan harta.


"Tari gak tahu bu."


Lalu Tari masuk ke kamarnya, kemudian keluar lagi membawa handuk dan menuju ke kamar mandi. Dilihatnya bapaknya makan sendirian.

__ADS_1


"Bapak, kok makan sendirian?" tanya Tari.


"Ibu udah makan katanya," jawab bapaknya.


"Oh, yaudah, Tari mandi ya pak."


Setelah lima belas menit Tari selesai mandi Tari masuk kamar, memakai baju.


Hari ini ia lelah sekali, bukan tubuhnya yang terasa lelah tetapi hatinya. Karena ulah satu lelaki yang membuat suasana hatinya cepat berubah, hebat sekali lelaki itu, batin Tari.


Tapi ketika pulang tadi Fadly sudah menormalkan rasa hati Tari kembali. Tari geleng-geleng kepala dan tersenyum mengingat dimana Fadly memegang tangannya.


Ia membaringkan tubuhnya di kasur yang tidak empuk tetapi bagi Tari sangat nyaman untuk beristirahat di atasnya.


Tari melihat ponsel bututnya, hendak melihat apakah ada pesan atau panggilan dari langganannya atau tidak.


Ternyata ada satu pesan masuk dari nomor baru. Dibukanya pesan itu, [ini aku Fadly] begitulah isi pesan itu.


Ia tersenyum senang, tapi tidak berniat membalasnya, toh besok juga akan jumpa, batinnya.


Kemudian ia memejamkan mata, tidur adalah pilihannya setelah hatinya lelah seharian ini.


***


Sebelum fajar menyingsing, Tari sudah bangun. Ia mandi, dan setelah itu menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Setelah kegiatan paginya selesai, ia pergi ke kios jahitnya. Tidak lupa pamit dan bersalaman pada bapaknya dan ibu tirinya.


Setelah jalan menuju persimpangan dan akan masuk ke gang sempit terdengar suara motor sport Fadly.


"Ayo aku antar, sekalian aku juga mau ke depan," ucap Fadly menawarkan.


"Mas Fadly mau kemana?" tanya Tari.


"Mau beli sarapan, yuk! naik," ucap Fadly.


Tari naik dan duduk diboncengan belakang.


"Tadi malam kenapa gak dibalas pesannya? sudah kamu baca kan?" Fadly membuka pecakapan.


"Sudah mas, tapi saya ngantuk jadi langsung tidur."


"Oh," ucap Fadly membulatkan bibirnya.


Tidak butuh waktu lama, kini mereka telah sampai di depan kios jahit milik Tari. Tari pun turun dari motor itu.


"Nanti sore aku jemput ya," ucap Fadly.


"Iya," jawab Tari singkat dan menampilkan senyum diwajahnya.


"Jam lima sore, seperti kemarin."


Kemudian Fadly pamit pergi.


Sore harinya, Fadly tidak terlambat menjemput Tari, ia tidak mau gadis itu kecewa lagi karenanya.


Tari yang dijemput sudah siap-siap sejak tadi. Kali ini ia menghindari baju berbahan tipis dan berwarna putih, agar jika hujan tidak kejadian seperti hari kemarin.

__ADS_1


Tari memakai baju berbahan kaos katun simpel berwarna biru, rambutnya digulung keatas nampak asal tetapi cantik dilihat.


Untuk riasan wajah, masih seperti biasa dia hanya memakai bedak bayi dan liptint dibibirnya.


Sedangkan Fadly memakai kaos berwarna putih didalamnya, tetapi dia tidak memakai jaket hoodie seperti biasa. Ia mengenakan jaket dari bahan jeans berwarna denim


Untuk kedua kalinya mereka datang ke cafe itu. Hari itu di parkiran tidak terlalu banyak kendaraan. Yang diprediksi Fadly cafe itu sepi hari ini.


Cafe itu bernama 'Kuliner Alam Cafe'.


Ketika mereka memasuki cafe itu tampaklah suasana cafe yang bernuansa alam, sang pemilik menata cafe itu sedemikian rupa sehingga tampak indah dipandang mata. Dan banyak pasangan muda mudi menghabiskan waktu di cafe itu. Mereka juga banyak yang berswa foto, mengambil potret mereka di cafe yang memang sangat indah itu.


Ternyata yang diprediksi Fadly bahwa cafe itu hari ini sepi, salah. Banyak tamu yang berkunjung disana. Oleh karena itu Fadly dan Tari di bawa oleh pelayan ke tempat yang masih kosong.


Tempat itu agak jauh dari pintu masuk, melewati kolam-kolam yang berisikan ikan didalamnya. Mereka berjalan diatas titi yang melengkung keatas, disisi kiri dan kanan titi itu ada penyangganya. Titi itu juga dilengkapi dengan kain kelambu tipis berwarna putih.


Cantik sekali. Tari takjub melihatnya, ia tidak pernah pergi ke cafe, apalagi cafe seperti ini.


Setelah berjalan melewati titi melengkung tadi, sampailah mereka disebuah gazebo yang sangat nyaman, jauh dari keramaian. Gazebo itu berada diatas kolam ikan, jarak dua meter dari gazebo mereka ada gazebo lain. Tapi gazebo itu masih kosong.


Gazebo itu cukup besar, bisa menampung hingga lima sampai enam orang.


Bagian depan gazebo itu terbuka, hanya ada beberapa kayu estetik sebagai penyangganya. Kemudian dibelakang gazebo itu tertutup dinding yang terbuat dari bambu anyaman. dan dibagian sampingnya di beri kayu menyilang.


Ditengah-tengah gazebo itu terdapat meja bulat. Lalu sebagai alasnya, mereka memakaikan karpet tebal yang sangat nyaman dan untuk duduknya ada sebuah kursi busa datar yang tidak berkaki.


Setelah mereka duduk, pelayan langsung memberikan daftar menu.


Setelah menu terpilih, pelayan yang sejak tadi mengantar mereka pergi dan menyiapkan pesanan mereka.


"Bagus gak tempatnya?" tanya Fadly.


"Bagus banget mas, ya ampun aku baru kali ini loh pergi ke cafe sebagus ini, Mas," tutur Tari menjelaskan.


Ia berulang kali berdecak kagum dengan nuansa cafe, dimana penataannya sangat indah.


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang. Mereka pun memulai menyantap makanan yang telah tersedia.


Ketika mereka selesai makan, hari mulai gelap. Di sepanjang titi melengkung yang mereka lewati tadi telah bersinar lampu-lampu berwarna-warni, sesekali lampu-lampu itu tampak berkelip menambah suasana indah Kuliner Alam Cafe di malam itu.


Hati Tari, tidak usah ditanya. Tentu juga seindah lampu-lampu berkelap-kelip itu bercahaya dan juga berwarna.


Sementara Fadly, dia memandangi gadis cantik yang senyumnya tidak pernah luntur sedari mereka sampai hingga sekarang.


Sesekali Fadly mendapati Tari sedang memandangi dirinya. Ketika Fadly balik memandangnya, gadis itu tertunduk malu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Beberapa kali terulang seperti itu.


Membuat Fadly memberanikan diri bertanya pada Tari.


"Kamu suka ya sama aku?"


#####


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2