Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Ciuman Pertama


__ADS_3

Mendapat pertanyaan seperti itu dari Fadly, Tari lagi-lagi tertunduk, dia malu. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


Ya, dia menyukai Fadly, tetangga tampannya itu. Bukan hanya suka, mungkin dia sudah mulai mencintai lelaki itu. Entah sejak kapan perasaan itu hadir.


Selama ini perasaan itu dia pendam sendiri, tapi mengapa Fadly mengetahuinya? batinnya.


Apakah dia harus menjawabnya dengan jujur? Kalau dia harus menjawab jujur, apa yang akan terjadi? dia takut Fadly malah membencinya.


Kalau dia berbohong dan mengatakan tidak, dia takut tidak ada kesempatan lagi untuk mengatakannya pada Fadly nantinya.


Saat ini Tari tidak ingin berharap perasaan cintanya diterima, tidak ingin berharap bahwa perasaan cintanya akan berbalas, tidak ingin berharap apapun. Oleh sebab itu dia hanya membiarkan perasaan cinta ini dalam hatinya.


Cukup Allah saja yang menjadi tempat curahan hatinya selama ini. Tetapi Allah sepertinya tidak mengizinkan Tari memendam perasaannya.


Ini cinta pertamanya, dia tidak ingin cinta ini menjadi trauma baginya dikemudian hari, sehingga nantinya dia enggan untuk memualai cinta yang lain. Dia tidak ingin salah langkah.


Fadly diam menanti jawaban Tari. Dia hanya menanti, tidak berniat mengulang pertanyaannya lagi. Dengan wajah datar dia terus memandangi Tari yang tertunduk. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Tari sekarang ini.


Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


Setelah beberapa saat mengambil keputusan, akhirnya Tari memberanikan diri untuk berkata jujur. Karena jika berbohongpun akan ada banyak kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang dia ciptakan sendiri. Dia tidak ingin melakukannya.


Dia ingin jujur pada perasaannya, pada dirinya sendiri dan pada Fadly tentunya. Perlahan Tari mengangkat wajahnya.


Fadly yang sadar dengan gerakan Tari pun menoleh kearah Tari dengan wajah datar. Bibirnya tertutup rapat, tandanya dia tidak berniat ingin mengatakan sesuatu.


Tari berdeham sebelum memulai apa yang ingin dikatakannya. Dipandangnya wajah Fadly lekat-lekat.


"Bukan hanya suka, saya juga mencintai mas Fadly," ucap Tari tanpa rasa ragu.


Masih dengan wajah datarnya Fadly memandang wajah Tari. Disapunya seluruh wajah kecil gadis itu dengan pandangan matanya. Wajah Tari yang datar tapi jika memandang dirinya selalu tersenyum malu-malu yang membuat Fadly gemas.


Mata Tari yang kelam, yang menandakan jika dia sedang berjuang untuk orang tuanya, tetapi ada kalanya mata itu tampak berbinar. Terakhir di tatapnya bibir mungil merah jambu yang kini mengkilap karena telah dipoles liptint sebelumnya oleh sang empunya. Fadly menelan salivanya.


Belum beralih Fadly dari bibir mungil itu, ia menunduk terus menatapnya dengan mata berkilat. Yang lama kelamaan wajahnya semakin dekat dengan wajah Tari dan semakin menunduk. Terus mendekat hingga bibirnya tepat berada di depan bibir Tari.


Lalu entah apa yang ada dalam fikirannya dengan berani Fadly menyatukan bibirnya dengan bibir Tari. Ia mengecup dengan sangat lembut. Tidak menyangka akan menemukan aroma strawberry dan juga kelembutan bibir gadis itu, Fadly menciumnya dengan segenap rasa penasaran yang dimilikinya sebagai seorang pria dewasa.


Terhenyak dengan ciuman tidak terduga itu, Tari terdiam beberapa saat, otak dan seluruh persendiannya seolah menyuruhnya terdiam.


Ketika lidah Fadly mulai menari diatas bibir Tari dan lidah itu seolah memaksa mendesak masuk lebih dalam tapi Tari tidak membuka bibirnya. Tari hanya diam mematung, tidak membalas dan juga tidak menolak ciuman itu.

__ADS_1


Ketika rasa panas mulai menanjak, Fadly merasa tidak puas dengan ini semua, ia memegang pinggang Tari dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menekan leher belakang Tari.


Perlahan Fadly berhasil membuka bibir Tari dengan menggigit sedikit bibir bawah Tari. Tari yang merasa kesakitan karena bibirnya digigit oleh Fadly, dia pun entah dengan terpaksa atau suka rela akhirnya membuka pertahanannya. Hanya beberapa detik saja lidah Fadly membelai lidah Tari.


Tari mendengar seseorang berjalan di atas titi yang akan menuju gazebo sebelah mereka. Tari menyadarkan Fadly, ia menangkup pipi lelaki itu dengan kedua tangannya kemudian mendorong kuat wajah Fadly agar menjauh dari wajahnya.


Fadly terdorong mundur dan menatap wajah Tari, bibir Tari tampak lembab. Fadly menoleh melihat tiga orang pria berbadan besar dan satu orang pelayan cafe yang mengantarkan pria-pria tadi ke gazebo sebelah mereka.


Tanpa mereka berdua sadari, pria-pria berbadan besar tadi sudah merekam aksi mereka.


Fadly sudah bisa menguasai dirinya, yang tadinya hawa panas sempat menjalari tubuhnya kini sudah bisa ia kuasai.


Sedangkan Tari kembali menunduk menyembunyikan wajahnya.


Fadly memanggilnya dan memegang tangan Tari, dengan cepat Tari menepis tangan besar itu.


Fadly mendongak dan memejamkan matanya frustasi. Ia membuang napasnya kasar. Kemudian meneguk sisa minuman yang dipesannya tadi.


"Aku minta maaf Tari, aku khilaf," Fadly memohon.


Tari terus menunduk, kini ia sudah terisak.


Fadly panik, ia tidak pernah membuat seorang gadis menangis. Apalagi karena dicium olehnya, setahunya gadis yang ia cium akan sangat senang.


"Kita pulang, Mas," jawab Tari dengan suara gemetar


Dengan cepat Tari mengambil tasnya kemudian melangkah keluar gazebo.


Fadly dengan cepat mengejarnya. Setelah dikasir depan ia membayar, kemudian kembali berlari mengejar Tari. Ternyata Tari sudah berada di parkiran dan menunggu Fadly.


Sesaat kemudian mereka sudah berada di jalan raya menuju rumah mereka.


***


Keesokan harinya, dikediaman keluarga Dewantara.


Mama Fadly, Nyonya Shofia Dewantara terlihat sangat menawan. Meskipun hanya ibu rumah tangga yang mengatur segala keperluan suami dan anak-anaknya Nyonya Shofia tidak tampak seperti ibu rumah tangga biasa yang kucel. Karena ia memiliki banyak pelayan.


Kulitnya putih bersih, wajahnya tidak tampak tua dan kendur meskipun anaknya sudah menginjak dewasa. Itu semua ia dapatkan dengan harga yang tidak murah. Ia bisa mengeluarkan puluhan bahkan ratusan juta untuk merawat tubuhnya.


Dan kini ketika bertemu bawahannya yang telah memata-matai Fadly. Ia tampil rapi dan sangat berwibawa. Menunjukkan bahwa ia adalah seorang istri dari Haris Dewantara, pemilik perusahaan besar Dewantara Corp.

__ADS_1


"Apa yang kau dapat selama ini?" ucap Nyonya Shofia berwibawa, ia memperhatikan dengan seksama bawahannya itu.


"Waktu itu saya dan yang lain pernah datang ke rumah kontrakan tuan Fadly, nyonya. Tapi yang kami temui di rumah itu adalah seorang gadis, gadis itu berkata dia adalah tetangganya," tutur bawahannya.


"Lalu?" Nyonya Shofia menanyakan.


"Lalu... kata gadis itu, dia tidak mengenal tetangganya yang bernama Fadly," tutur bawahannya lagi.


Bawahannya itupun bingung menjelaskannya bagaimana, karena dia sendiri waktu itu dibuat bingung oleh Tari.


"Hahaha... laporan macam apa ini?" ucap Nyonya Shofia tertawa sinis.


Mendengar itu bawahannya gugup.


"Jadi selama dua minggu yang kamu dapatkan hanya ini?" bentak Nyonya Shofia pada bawahannya itu. Kini sikap wibawanya tadi hilang entah kemana dan berganti dengan wajah marah.


"Tidak nyonya, dua hari yang lalu saya bertemu tuan Fadly dan gadis itu sedang makan malam, dan malam tadi saya berhasil mengambil foto ini," jawab bawahannya.


Ada banyak foto yang diserahkan oleh bawahannya pada Nyonya Shofia. Mulai dari foto ketika Fadly menjemput Tari di kios jahit Tari. Foto-foto ketika mereka sedang diatas motor sport Fadly, foto itu memperlihatkan Fadly dan Tari sedang tersenyum dan yang terakhir foto-foto ketika Fadly dan Tari berada di Kuliner Alam Cafe, yang tentu saja ada beberapa foto Fadly ketika mencium Tari.


"Saya juga mempunyai rekaman video nya nyonya," ucap bawahannya menambahkan, ketika Nyonya Shofia sudah selesai melihat foto sampai akhir.


"Tidak perlu!" ucap Nyonya Shofia sambil mengangkat tangannya memberi aba-aba.


Dilemparkannya foto-foto Fadly yang sudah dia lihat tadi keatas meja. Rasanya enggan sekali beliau melihat foto itu.


"Kamu boleh keluar, nanti saya akan instruksikan tugas selanjutnya," ucap Nyonya Shofia pada bawahannya.


"Hahaha... " Nyonya Shofia tertawa sinis sendirian di ruangannya.


"Fadly,, Fadly,, mama dan papa selama ini sudah memberi yang terbaik buat kamu, bahkan gadis terbaik juga mama pilihkan, tapi ternyata ini yang kamu kejar?" Nyonya Shofia berbicara sendiri.


Nyonya Shofia menyandarkan punggungnya di sofa, beliau tampak memijit pelipisnya. Kepalanya pusing dengan perbuatan anak laki-laki satu-satunya itu.


Nyonya Shofia menyangka jika Fadly kabur karena mengejar Tari dan tidak ingin dijodohkan oleh Adelia.


#####


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih


__ADS_2