Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Meneleponnya


__ADS_3

"Selamat siang, Mas dan Mba. Selamat datang di Lestari tour and travel. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Fadly ramah pada sepasang pengantin baru itu.


Handoko juga tersenyum tak kalah ramahnya, "Iya, Mas. Saya mau memakai jasa tour and travel. Saya dan istri saya sedang berbulan madu di Bali. Kami datang dari Jakarta," ucap Handoko.


Fadly paham, ia langsung menjelaskan panjang lebar paket apa saja yang tersedia di tempatnya dan juga list harganya. Akhirnya pengantin baru itu menentukan paket yang mereka pilih. Kemudian Fadly mendata mereka untuk pendaftaran, dari situlah Fadly nengetahui nama keduanya.


Pendaftaranpun selesai, Handoko juga sudah membayar biaya travel tersebut. Dan Fadlypun langsung menyuruh anggotanya untuk mengantar mereka ke hotel.


"Oh ya Mas, apa nama Lestari yang anda berikan untuk usaha anda ini adalah nama istri anda?" tanya Handoko pada Fadly sebelum berangkat ke hotel.


Sesungguhnya Handoko sangat sungkan menanyakan ini, takut menyinggung perasaan Fadly, karena ini sudah termasuk ranah pribadi kan... Tapi tak apalah untuk mengobati rasa penasarannya, Handoko nekat bertanya. Entah kenapa tempo hari ia lupa menanyakan perihal Fadly pada Tari. Padahal waktu itu ia sering sekali bertemu dengan Tari.


Fadly tersenyum ramah, "Itu nama kekasih saya, Mas. Belum dijadikan istri."


"Apakah kekasih anda yang waktu itu anda bawa kesalon Life Beauty?"


Fadly menatap Handoko dengan intens. Fadly sedikit mengingat Salon Life Beauty adalah salon dimana ia membawa Tari untuk dirias ketika akan bertemu keluarganya waktu itu. Fadly tampak berpikir, keningnya mengkerut. Dari mana dia tahu Life Beauty Salon? Pikir Fadly. Lebih dalam Fadly menelisik wajah Handoko sembari mengingat puing-puing kenangan yang tersisa untuk orang lain. Karena ingatan Fadly hanya tertuju pada Tari seorang.


"Apakah Mas Handoko ini... "


"Anda mengingat saya?" Handoko langsung memotong ucapan Fadly.


Fadly tidak yakin apakah dugaannya benar karena sekarang ini Handoko telah menumbuhkan jambang dan rambut-rambut yang ada dibawah dagunya. Meskipun nampak tipis tapi sangat kentara.


"Saya yang merias pacar anda dulu. Saya sempat bertanya dia akan pergi kemana agar saya menyesuaikan riasan wajahnya, dan dia menjawab akan pergi ke rumah orang tua pacarnya. Apakah Lestari yang itu yang anda buat sebagai nama travel anda ini?"


"Ah, iya. Ternyata benar dugaan saya. Ternyata itu anda, tapi sekarang terlihat lebih macho ya!" ucap Fadly, ada rasa geli dihatinya, ingin tertawa tapi takut menyinggung hati kawan bicaranya.


Ternyata Handoko juga merasakan apa yang dirasa Fadly, karena saat ini ia sedang tertawa terkekeh. Bila tidak ditepuk bahunya oleh istrinya, mungkin Handoko masih tertawa. Handoko memang orang yang mudah tertawa ya sepertinya.


"Iya Mas. Anda tahu sendirikan dulu saya seperti apa. Tapi sekarang saya sudah menikah."

__ADS_1


"Oh iya, Mas. Tadi anda bilang, anda sedang berbulan madu. Berarti anda pengantin baru?"


"Haha iya Mas."


"Wah! Selamat kalau begitu Mas," Fadly mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan, uluran tangan Fadly disambut oleh Handoko.


"Selamat menempuh hidup baru, semoga segera dikaruniai anak. Tidak ikut program child free kan?" lanjut Fadly saat tangan mereka sudah berjabatan.


Lagi-lagi Handoko tertawa hingga terdengar sangat menggelegar suara tawanya. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tetap tertawa, "Tidak Mas, justru saya ke Bali ingin mencari suasana berbeda dalam membuat anak."


Fadly mengacungkan jempolnya, "Bagus Mas."


"Iya Mas. Jadi Travel ini Mas beri nama Lestari tour and travel sesuai nama kekasih Mas yang dulu itu?" tanya Handoko


"Iya, Mas. Tepat sekali," jawab Fadly singkat.


"Maaf jika saya lancang bertanya ini pada anda. Tapi, mengapa anda tidak melamarnya saja? Kan kalian berdua menjalin hubungan sudah lama?" Handoko bertanya seperti wartawan.


Fadly tertawa ringan, "Saya terpisah sama Lestari Mas sudah dua tahun lamanya, sekarang saya gak tahu kabarnya gimana. Dulu sepulang dari bertemu keluarga saya, kami kecelakaan. Setelah kecelakaan itu saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Tempat tinggalnya sudah pindah, saya sudah mencari kemana-mana tapi tidak juga saya temukan."


"Mas, Anda yakin tidak tahu Tari berada dimana?" tanya Handoko.


Fadly hanya diam, ia tidak menjawab. Ia masih mencerna ucapan dari Handoko dan mimik wajah Handoko saat ini.


"Yang merancang gaun pengantin istri saya itu adalah Tari," ucap Handoko dengan wajah serius.


"A-apa!" Fadly tergagap.


"Ya, saya tahu keberadaan Tari. Saya juga tahu tempat tinggal Tari. Kalau anda ingin meneleponnya sekarang juga, saya akan berikan nomor ponsel Tari pada anda," ucap Handoko serius.


Fadly membisu, mulutnya membuka seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan dan ia sendiri juga tidak tahu sesuatu apa yang ingin diucapkannya. Mungkinkah benar apa yang baru saja didengarnya? Semudah itukah Allah mengirim orang ini untuk memberitahukan keberadaan Tari? Mengapa tidak sejak dulu?

__ADS_1


Handoko bergerak, ia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Fadly. "Anda melamun?"


"Oh, tidak, Mas. Boleh saya meminta nomor ponsel Tari?" ucap Fadly, ia dengan cepat menyiapkan ponselnya. Handokopun segera menyebutkan digit angka nomor ponsel Tari. Fadly langsung menyimpan nomor ponsel Tari tersebut.


"Terimakasih, Mas Handoko."


Handoko tersenyum, "Ya, sama-sama. Kalau begitu kami pamit ke hotel."


Fadly mengangguk dan tersenyum dengan ramah. "Ya, Mas. Selamat menikmati bulan madunya dan selamat menikmati pelayanan travel dari kami."


Anggota Fadly yang ditugaskan tadi sudah siap untuk mengantar mereka ke hotel. Sesaat setelah mereka pergi, Fadly segera melangkah pergi kehalaman belakang rumahnya, sementara anggota yang lain berjaga didepan. Dengan gemetar Fadly memegang ponselnya dan langsung memanggil nomor ponsel Tari yang diberikan Handoko tadi.


Panggilan sudah tersambung, jantung Fadly berdetak lebih cepat. Rasanya didunia ini hanya terdengar suara detak jantungnya dan suara tut dari sambungan ponsel Tari.


Tuuut!


Tuuut!


Satu detik..


Dua detik..


Tiga detik..


Empat detik..


"Halo!" ucap seseorang diseberang sana.


Fadly memejamkan matanya mendengar suara gadis yang sangat dirindukannya. Ia hapal betul dengan suara itu. Tiga tahun lamanya ia tidak mendengar suara itu, suara merdu dari gadis penjahit cantik pujaan hatinya.


.

__ADS_1


.


To Be Continued...


__ADS_2