
"Loh! Tari?... " panggil Bu Rosita.
Diikutinya Tari masuk ke kamar. Tari menghempaskan tubuhnya ke kasur tilam yang berisi kapuk dengan kasar. Ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
Bu Rosita yang memperhatikan Tari merasa heran.
"Kamu gak jadi ke kios?" tanya Bu Rosita.
Tari tidak menjawab.
Bu Rosita hanya geleng-geleng menatap Tari yang berbaring telungkup dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
Ketika akan keluar dari kamar Tari, Bu Rosita mendengar suara ponsel Tari berdering. Tari membiarkan saja ponsel itu hingga ponsel itu berhenti berbunyi.
Bu Rosita hendak melangkah lagi, kembali ponsel Tari berbunyi. Hingga beberapa kali seperti itu. Akhirnya Bu Rosita mengambil ponsel Tari di dalam tas yang tergeletak di atas kasur.
Bu Rosita mengangkat telepon itu. Setelah mendengarkan apa yang diucapkan orang di seberang telepon dan sambungan telepon pun terputus.
"Tari, ada pelanggan kamu nih, dia mau ngambil bajunya. Namanya Mia katanya," ucap Bu Rosita.
Setelah menghapus air matanya, Tari beranjak duduk di kasurnya.
"Tari minta tolong ya, Bu. Baju-bajunya Mbak Mia udah selesai semua Tari jahit, Tari letakkan bajunya di meja kios. Ibu tinggal masukkan baju itu ke dalam plastik aja. Plastiknya ada di lemari. Tari lagi kurang sehat bu. Bisakan nolongin Tari."
"Kamu kenapa sih? tadi waktu sarapan juga sehat-sehat aja, kenapa jadi tiba-tiba sakit?"
"Jadi gak bisa nolongin Tari? nanti upah jahit yang dari Mbak Mia buat ibu," ucap Tari, bernegosiasi dengan ibu tirinya.
"Bener?"
"Iya, bener bu."
Mendengar hal itu, Bu Rosita yang matre langsung menyanggupi permintaan Tari. Ia cepat bergegas pergi ke kios jahit dengan berjalan kaki.
Setelah selesai memberikan baju pada pelanggan Tari yang bernama Mia itu, Bu Rosita keluar dari kios, kemudian menutup dan menguncinya kembali. Ia pun sudah menerima uang yang diberikan Mia untuk upah jahitnya dengan Tari.
Ketika akan hendak pergi, Bu Rosita dipanggil oleh Dodi.
"Ada apa Dodi?" jawab Bu Rosita.
__ADS_1
Bu Rosita cukup mengenal Dodi. Karena memang sudah lama juga Dodi berjualan koran dan majalah di seberang depan kios jahit Tari.
"Oh ini bu, saya mau kasih pesanan Tari tempo hari," jawab Dodi, sambil menyodorkan majalah bekas itu.
Bu Rosita menatap sebentar kearah majalah lama itu. Kemudian diambilnya dari tangan Dodi.
"Buat apa sama Tari majalah bekas kaya begini?"
"Buat lihat-lihat tren fashion lah bu, buat apalagi. Kan gak mungkin buat bungkus gorengan, Tari kan bukan kang gorengan," celetuk Dodi sambil nyengir.
"Yaudah kalo gitu saya bawa pulang ya, Tarinya hari ini gak ke kios. Dia sakit katanya."
"Sakit apa bu?"
"Gak tau saya, tadi pagi pas sarapan juga baek-baek aja kok. Trus udah mau ke kios, balik lagi karena sakit katanya. Yaudah ya Dodi."
Bu Rosita melangkah menjauh dari Dodi karena mau kembali ke rumah.
"Eh.. eh.. bu, itu belum dibayar," ucap Dodi
Bu Rosita memutar bola matanya, dengan terpaksa ia mengeluarkan uang yang diberikan pelanggan Tari yang bernama Mia tadi. Dan membayarkan sejumlah uang yang disebutkan Dodi.
"Ckk.. Dasar tuh si Dodi, kenapa gak besok aja sih ngasih majalahnya ke Tari," Bu Rosita bersungut-sungut kesal.
Bu Rosita duduk kembali dibangku depan kios yang sudah disediakan Tari untuk para pelanggannya jika menunggu Tari menjahit.
Dengan kesal Bu Rosita membolak-balik kan dengan kasar majalah bekas itu. Ada beberapa majalah yang diberikan Dodi. Bu Rosita mengambil majalah yang paling depan. Dia melihat tahun terbit majalah itu Januari 2017, berarti majalah itu sudah terbit kurang lebih lima tahun yang lalu. Ada juga majalah dengan tahun terbit yang sama dengan yang tadi yaitu Januari 2017 tapi dari nama majalah fashion berbeda.
Diambilnya majalah lain, dilihatnya lagi tahun terbitnya Agustus 2020. Ada juga Mei 2018, Desember 2018 dan yang terakhir Juli 2019.
Sepertinya Bu Rosita tertarik melihat yang paling terbaru dengan nama majalah Good Fashion Indonesia yang terbit Agustus 2020. Cover majalah itu adalah wajah dari Dinda Hauw yang pada bulan Juli 2020 dia baru saja melangsungkan pernikahannya tanpa pacaran.
Bu Rosita terus membolak-balik lembar demi lembar majalah itu. Sampailah dia disebuah halaman yang bertema WISUDA PUTRI SULUNG KELUARGA DEWANTARA. Terlihat di majalah itu foto apik keluarga Dewantara yang sedang berbahagia karena putri sulungnya telah menyelesaikan study bisnisnya dari Amerika.
Bu Rosita sungguh terkejut melihat berita itu sampai mulutnya ternganga, matanya melotot memandangi potret Fadly yang tampan dalam balutan jas berwarna silver kompak dengan laki-laki disebelahnya yang berada paling pinggir sebelah kanan Fadly.
Wanita muda yang cantik jelita dialah sang putri sulung yang wisuda berdiri disebelah kiri Fadly berada ditengah, diapit oleh Fadly dan wanita paruh baya. Mereka semua tampak tersenyum bahagia, sedang memandang kearah wanita muda nan cantik yang memakai toga.
Setelah membaca keterangan foto, barulah Bu Rosita paham bahwa wanita paruh baya itu dan laki-laki yang ada dipaling pinggir berdiri tepat sebelah Fadly ternyata adalah orang tua Fadly. Dan yang sedang wisuda adalah kakaknya yang bernama Lea Feriskha Dewantara.
__ADS_1
Mereka semua kompak memakai baju berwarna silver. Sang mama dan kakak Fadly memakai kebaya brokat yang berbahan sama hanya berbeda di modelnya saja.
Sebelumnya, Bu Rosita sudah mengetahui tentang Dewantara Corp. yang sangat terkenal di Indonesia dan di luar negeri, bahkan dia juga mengetahui pendiri dan penerus yang sekarang ini memimpin. Tapi dia tidak mengetahui ternyata Fadly adalah anak dari Haris Dewantara, bos dari Dewantara Corp.
Memang berita tentang keluarga Dewantara jarang terpublish di tv, karena mereka bukan artis ibu kota. Berita tentang mereka banyak bermunculan dimajalah bisnis. Dan yang dilihat Bu Rosita sekarang ini adalah majalah fashion karena memang membahas tentang fashion keluarga mereka pada saat wisuda Lea. Dan foto itupun diambil di Amerika, latar dari foto itu juga gedung megah tempat dimana Lea menempuh study bisnisnya.
Bu Rosita melipat untuk menandai lembar dimana ada foto wajah Fadly yang ada dimajalah itu. Kemudian dia menutup kembali majalah itu. Dan merapikan majalah-majalah bekas itu untuk dibawanya pulang.
Tapi dia berfikir kembali, untuk apa membawa semua majalah itu.
'Bawa satu aja lah, berat' gumamnya sendirian.
Dia melangkah membuka pintu kios dan memasukkan kelima majalah bekas itu dan yang satu dibawanya pulang, dia akan memberitahukannya pada Tari.
Dengan langkah lebar penuh semangat dia kembali kerumah. Bibirnya pun selalu tersenyum.
Waktu itu dia pernah melarang Tari untuk jangan dekat-dekat dengan Fadly, lebih baik dekat dengan temannya saja yang bernama Andi karena Andi adalah orang kaya yang mempunyai mobil mewah dan mahal.
Tapi Fadly mengatakan jika Andi adalah lelaki beristri. Namun, menurut Bu Rosita itu hanya akal-akalan Fadly saja untuk menjauhi Tari dengan Andi. Bu Rosita tetap berniat untuk menjodohkan Tari dengan Andi. Dia akan meminta nomor ponsel Andi nanti ketika bertemu, namun sudah lama sekali dia tidak pernah bertemu dengan Andi lagi.
Sekarang Bu Rosita masa bodo dengan Andi, dia sudah tidak mengharapkan Andi lagi untuk menjadi menantunya. Yang harus dia lakukan sekarang adalah mendukung sepenuhnya hubungan Tari dan Fadly.
Bu Rosita yakin mereka berdua memiliki hubungan. Karena dia melihat Tari beberapa kali pergi dengan Fadly, dan Fadly juga sering antar dan jemput Tari ketika akan pergi ataupun pulang dari kios jahit.
Meskipun ketika dia melihat Tari diantar pulang oleh Fadly dia selalu memarahi Tari. Dia sangat tidak suka jika Tari menjalin hubungan apalagi sampai menikah dengan Fadly, karena dia melihat Fadly juga mengontrak di rumah yang kecil dan murah yang sama dengan mereka. Karena itu menurutnya Fadly orang miskin yang juga sama dengan mereka.
Tapi sekarang, dia harus mendukung Tari. Bila perlu Tari dan Fadly cepat melangsungkan pernikahan.
Karena asyik dengan lamunannya, ketika telah keluar dari gang dan sudah di persimpangan hendak menyebrang jalan, Bu Rosita tidak memperhatikan kendaraan yang lewat.
Pagi itu jalanan cukup Ramai karena orang-orang sedang akan pergi bekerja dan beraktivitas, Bu Rosita tidak memperhatikan jalan, kemudian ada motor dari arah kanan menyenggol dirinya hingga terjatuh.
#####
Bersambung...
Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊
Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih
__ADS_1