
Sudah seminggu berlalu..
Tari sudah melanjutkan aktivitasnya kembali seperti biasa. Pergi ke kios jahit pagi-pagi dan pulang pada sore hari. Ia harus mengumpulkan uang agar bisa membayar hutangnya pada Fadly.
Sudah beberapa kali juga Tari dan Fadly bertemu dan berbincang di depan teras rumah mereka. Seperti biasa Tari terlihat malu-malu.
Dan hal itu ditangkap oleh Fadly. Ia tahu betul bagaimana gestur tubuh gadis yang sedang menyukainya.
Lalu Tari memberitahu Fadly bahwa ibu tirinya itu bermaksud ingin menjodohkannya dengan Andi, karena Andi orang kaya yang mempunyai mobil bagus dan mahal menurut ibu tirinya.
Fadly mendengar itu tertawa terbahak-bahak, namun ia tidak mengatakan yang sesungguhnya bahwa dialah pemilik mobil itu. Ia hanya mengatakan jika Andi sudah memiliki istri.
Kabar itupun tidak disia-siakan Tari, ia langsung memberitahu ibu tirinya bahwa Andi adalah pria beristri. Sehingga kini Bu Rosita berhenti untuk menjodohkannya dengan Andi.
Sudah seminggu juga keluarga Dewantara telah mengetahui tempat tinggal Fadly, Fadly tidak tahu yang waktu itu datang adalah suruhan mamanya atau papanya.
Namun yang membuat Fadly heran adalah, entah mengapa mereka membiarkan Fadly untuk tetap disini tidak lekas menjemput dan menyuruhnya pulang. Apa rencana orang tuanya selanjutnya ia tidak tahu.
***
Fadly mendapat kabar buruk dari Andi. Bahwa orang tua Andi saat ini sedang sakit dan ingin bertemu Andi. Andi meminta izin cuti untuk menjenguk orang tuanya di kampung.
Fadly pun mengizinkan Andi untuk menjenguk orang tuanya di kampung, di Kabupaten yang berbeda dengan kota yang di tinggali mereka saat ini. Andi juga diizinkan untuk membawa mobil yang biasa dibawanya untuk mengantar dan menjemput Fadly.
Karena sudah tidak ada yang mengantar dan menjemputnya jika akan pergi dengan teman-temannya. Fadly akhirnya membeli sebuah motor sport berwarna hitam. Dengan motor itulah kini ia bisa pergi.
***
Sudah beberapa hari ini Fadly tidak pernah berjumpa dengan Tari.
Hari ini adalah hari minggu, teman-teman yang biasa bersamanya kini telah mempunyai jadwal masing-masing.
Mengingat daerah yang ditempatinya kini berada jauh dari kota, jadi teman-temannya sudah pergi dari sabtu malam.
Teman-teman Fadly adalah para pekerja kontraktor dari kota, mereka kerja di daerah itu untuk mengerjakan proyek untuk pembangunan plaza.
Ya, di kampung itu belum ada mall ataupun plaza besar seperti di kota-kota. Padahal daerah tempat tinggal Tari itu tidak terlalu pelosok hanya saja jauh dari ibu kota. Bisa dikatakan kampung itu adalah pinggiran kota, karena akses jalan juga sudah bagus disana.
Karena bosan seharian berada di rumah, ia berniat akan pergi ke kios jahit milik Tari.
Kali ini di tinggalkannya motornya di rumah, ia pergi dengan berjalan kaki.
Setelah sampai di kios jahit Tari yang bertuliskan PENJAHIT TARI itu, ia memandang dari jarak dekat kios itu.
Kios itu memiliki pintu yang berada dipinggir, sedangkan ditengahnya terdapat jendela kaca. Dimana orang yang berada di dalam kios bisa terlihat dari luar.
Begitu juga dengan saat ini, Fadly melihat Tari di dalam kios bersama seorang pria. Fadly berjalan mendekat kearah pintu dan mengetuk pintu itu.
Mereka yang berada di dalam langsung menoleh ke arah pintu, melihat siapa yang datang.
Tari yang melihat Fadly sedang berada di depan kiosnya pun merasa heran. Ada apa gerangan sang tetangga tampannya itu ke kiosnya, mau menagih hutangnya kah? pikirnya.
__ADS_1
Fadly tersenyum, sedangkan pria yang bersama Tari di dalam kios sejak tadi yang tak lain adalah Kemal, pelanggan yang selalu menjahitkan baju dengan Tari itu memandang sinis akan kedatangan Fadly.
Kemal adalah kakak kelas Tari sewaktu sekolah dasar dulu. Dia bekerja di kota, pulang ke kampung halamannya ini seminggu sekali.
Bagi orang pinggiran, orang yang bekerja di kota itu mempunyai penghasilan yang besar dan tentu banyak uang. Jika pulang ke kampung halaman ada saja sesuatu yang baru yang dipamerkan mereka. Mereka yang bekerja di kota pun merasa sombong.
Begitu juga dengan Kemal, dia selalu membawa bahan kain yang bagus dan mahal untuk dijahitkan pada Tari. Bayaran Kemal juga tidak pernah sedikit, dia selalu memberi tarif lebih untuk jasa jahit Tari.
Dia juga sering membawakan oleh-oleh makanan dari kota untuk Tari. Pernah suatu ketika dia membawa kan Tari tas mahal, namun Tari menolaknya. Oleh sebab itu sekarang dia lebih suka membawakan oleh-oleh makanan dari kota saja untuk Tari.
Maksud Kemal seperti itu adalah untuk membuat Tari menyukainya dengan apa yang diberikan Kemal pada Tari. Dan hari ini dia bermaksud untuk mengajak Tari jalan keluar dengan mobil barunya.
Tapi, belum juga Kemal mengatakan maksudnya Fadly sudah datang itulah yang membuat Kemal menatap Fadly dengan sinis.
"Mas Fadly? ada apa kok tumben kesini?" tanya Tari pada Fadly memecah keheningan.
"Ingin membuat baju," jawab Fadly asal.
Fadly diam mematung, sungguh ia tidak memikirkan sebelumnya jika ada orang lain bersama Tari saat ini yang membuatnya menjadi canggung.
"Oh sebentar ya, Mas. Saya menyelesaikan mengukur baju teman saya dulu, duduk dulu, Mas," jawab Tari.
Ia mengambilkan kursi plastik yang tersedia di kios untuk Fadly.
Kemudian Tari mengambil pita pengukur baju, lalu mengarahkan pita tersebut ke badan Kemal. Kemal yang diukur badannya melirik Fadly.
Kemal menampilkan wajah menantang, dia menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring seolah-olah Fadly kalah cepat darinya.
Tapi ia tidak mau dianggap kalah. Baginya, kalah memperebutkan wanita dari seorang pria kampung adalah hal yang sangat memalukan. Dan itu tidak akan terjadi padanya.
"Tari, nanti sore setelah pulang kamu mau kemana?" tanya Fadly, sambil menatap Tari dan Kemal bergantian.
"Eee... gak kemana-mana, Mas. Ada apa?" jawab Tari ragu.
Keningnya mengkerut sehingga membuat alisnya menyatu, ia heran mengapa Fadly menyebutnya 'kamu' bukan 'lo' yang seperti biasa ia ucapkan.
"Aku mau ajak kamu jalan, didekat pasar besar sana katanya ada cafe baru tuh, nuansanya nuansa alam. Sore nanti kita kesana ya."
Fadly juga merasa sedikit canggung karena berkata 'aku-kamu' dengan orang lain yang bukan pacar baginya.
Tari yang diajak bicara juga tak kalah canggung mendengar kata 'aku-kamu' yang diucapkan Fadly. Tapi dilubuk hatinya ia senang. Ia mengetahui itu, jika seseorang yang tadinya menggunakan 'lo-gue' dan kini berganti 'aku-kamu' itu tandanya orang itu sedang suka dengan lawan bicaranya dan ingin merubah status hubungan mereka.
Tari yang memikirkan itu tersenyum.
Kemal melongo mendengar ajakan Fadly pada Tari. Karena dia juga akan mengajak Tari berkeliling dengan mobil barunya. Tapi dia kalah cepat dari Fadly.
Sebelum Tari menjawab, Kemal juga mengutarakan maksudnya pada Tari.
"Eh Tari, aku juga mau ajak kamu tadi. Kan aku duluan yang kesini, Tar."
"Kan gue duluan yang ngajak Tari, lo duluan yang kesini trus kenapa gak dari tadi ngajak Tari?"
__ADS_1
"Lagian anda mau ngajak Tari naik apa? punya mobil?" Kemal menyombongkan diri.
"Terserah gue dong mau ngajak Tari naik apa. Gak mesti naik mobil kan?"
"Hahahaha berarti anda gak punya mobilkan? yaudah Tari kamu pergi sama aku aja. Lagian dia ngajak kamu tapi katanya gak naik mobil, ya mending sama aku dong naik mobil. Kalau hujan gak kehujanan, kalau panas gak kepanasan karena di mobil aku ada AC nya."
"Eh, jangan sombong ya! gue males aja pamer sama lo, Tari pokoknya kamu pergi sama aku."
"Gak! pokoknya Tari harus pergi sama aku. Naik mobil."
"Enak aja lo main serobot-serobot, yang duluan ngajak kan gue."
"Tari kan belum jawab dia bisa apa gak pergi dengan anda."
Tari yang menjadi rebutan itu hanya terdiam menonton aksi mereka.
"Saya... " Tari tampak berfikir.
"Ayo jawab Tari, kamu mau pergi sama siapa? sama aku ajalah naik mobil ini," ucap Kemal.
Tari sangat tidak menyukai orang yang suka pamer harta. Sebenarnya ia juga sudah mempunyai pilihan ingin pergi dengan siapa. Tidak masalah baginya jika harus berjalan kaki pun ia akan senang.
Tapi Tari tidak enak menolak ajakan Kemal. Karena selama ini Kemal adalah pelanggan yang selalu menjahitkan baju padanya. Ia tidak ingin membuat Kemal kecewa dan nantinya tidak lagi menjadi langganannya.
Dengan berpikir sejenak akhirnya Tari mempunyai ide.
"Gini saja ya. Saya akan pergi dengan orang yang menjemput saya lebih dulu di kios ini. Jika Bang Kemal yang datang terlebih dahulu saya akan pergi dengan Bang Kemal. Dan jika Mas Fadly yang datang terlebih dahulu maka saya akan pergi dengan Mas Fadly," jawab Tari
Mereka semua terdiam.
"Bagaimana? setuju?" ucap Tari melanjutkan.
"Setuju," jawab Fadly.
Tari beralih menatap Kemal. Dengan maksud bertanya setuju atau tidak.
"Setuju deh!" jawab Kemal cepat.
"Yaudah kalau gitu, aku pamit ya, Tari. Mau menyiapkan kendaraan yang akan kita bawa pergi," ucap Fadly.
Dan matanya mengarah ke Kemal.
"Ia, Mas. Hati-hati ya," ucap Tari.
#####
Bersambung..
Siapa yang bakal datang duluan yahh nanti?..
Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih