Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Pasca Tragedi


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


.


.


Karena Tari sudah sadar, perawat membawa makan siang untuk Tari.


"Permisi, selamat siang" sapa perawat setelah masuk kamar rawat inap Tari.


"Siang suster. Ya, silahkan," jawab Bu Rosita yang masih ada di dalam.


"Ini makan siangnya mbak Lestari, dimakan ya mbak. Dan ibu bisa bantu menyuapi mbak Lestari ya," jelas perawat itu.


"Iya suster, terimakasih," ucap Bu Rosita.


Dengan susah payah karena di kanan dan kiri mulutnya di perban, Tari berusaha bertanya pada perawat, "Suster, yang bawa saya kesini siapa ya?"


"Seorang pria mbak, berwajah blasteran. Dia juga sudah membayar biaya administrasi rumah sakit mbak Lestari sampai mbak Lestari sembuh," jawab perawat itu.


Pasti itu Max, baik sekali Max padanya. Syukurlah jika biaya rumah sakitnya sudah di bayar Max. Ia tidak perlu memikirkannya lagi, batin Tari.


Tari tidak tahu kejadian yang sebenarnya, justru karena Max lah ia terluka seperti ini sekarang.


Setelah selesai dari tugasnya, perawat tadipun keluar dari kamar rawat inap Tari.


Bu Rosita mengambil wadah yang berisi makan siang Tari, "Kamu makan ya, biar ibu suapi."


Sembari menyuapi Tari, Bu Rosita bertanya, "Apa yang terjadi Tari? sampai kamu jadi seperti ini?"


"Tadi Tari jenguk Mas Fadly dulu, Bu. Ingin mengetahui keadaannya bagaimana, apakah sudah sadar atau belum. Tapi ternyata Mas Fadly sudah di rujuk ke rumah sakit besar di Jakarta," jawab Tari dengan sedikit susah berbicara.


"Terus karena Mas Fadly sudah pindah rumah sakit, Tari memutuskan untuk ke sini, jenguk bapak. Tapi saat di jalan..." Tari menghentikan kata-katanya karena ia sudah menangis.


Mengingat kejadian yang pagi tadi dialaminya. Sungguh miris sekali jalan hidup Tari. Baru saja kemarin Tari mengalami kecelakaan bersama Fadly dan hari ini dirinya juga mengalami tragedi yang sangat menyakitkan dan menakutkan. Yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.


Kejadian demi kejadian itu bertibi-tubi menimpa dirinya. Sesungguhnya apa salahnya, sehingga garis hidupnya seperti ini.


Bu Rosita menenangkan Tari, ia berdiri di samping pembaringan anak tirinya itu dan memeluk Tari yang sedang duduk sekarang ini.


"Sabar Tari, semua akan indah pada waktunya. Kamu gadis yang taat agama, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kamu. Justru karena kamu kuat makanya kamu di kasih cobaan seperti ini," ucap Bu Rosita.


"Yasudah kalau mengingat kejadian tadi sangat menyakitkan ibu gak akan tanya-tanya lagi. Sekarang lanjutkan makan saja ya. Terus nanti ibu mau turun ke bawah, mau jaga bapak kamu," ujar Bu Rosita melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


Bu Rosita memaksa Tari untuk menghabiskan makanannya agar Tari segera pulih dari sakitnya.


Yang sesungguhnya terjadi bukan Tari tidak mau menghabiskan makanan itu. Tetapi bila mulutnya bergerak untuk mengunyah, lukanya akan berdenyut dan sakit sekali. Tari mengatakannya pada Bu Rosita dan Bu Rosita pun paham.


"Oh ya Bu, rumah kontrakan ternyata sudah nunggak sampai lima bulan. Tari lupa bayar, karena selama lima bulan kemarin Tari terfokus mengumpulkan uang untuk biaya perobatan bapak. Kemarin Bu Hanifa dan Sandi datang menagih uangnya, sementara Tari gak punya uang," adu Tari pada ibu tirinya itu.


Bu Rosita menghela napasnya dan memegang tangan Tari, "Maafkan ibu ya Tari, ibu gak bisa bantu apa-apa. Dan selama ini ibu cuma menyusahkan kamu."


"Gak Bu, justru Tari akan kebingungan kalau gak ada ibu. Nanti pasti gak akan ada yang menjaga dan merawat bapak Tari. Tari kerja menjahit, sementara ibu di rumah menjaga dan merawat bapak yang sakit-sakitan, itu sudah cukup bagi Tari, Bu," jawab Tari jujur.


"Ibu juga minta maaf, ibu sudah hutang di kedai depan rumah kita. Karena kemarin uang yang kamu kasih untuk belanja sudah habis, jadi terpaksa ibu hutang. Dan ibu menyesal kenapa ibu hidup terlalu boros selama ini. Maafkan ibu, Tari," Bu Rosita terisak dan menundukkan kepalanya.


Ia merasa malu pada anak tirinya itu, karena sudah memberikan contoh yang tidak baik selama beberapa tahun belakangan ini.


Tari dan Bu Rosita saling berpelukan, mereka sudah berdamai dengan masalalu yang saling dendam dan saling benci antara ibu dan anak tiri.


Mereka berdua merasa lega karena sudah jujur satu sama lain dan saling memaafkan. Meskipun masalah hutang belum terpecahkan, tapi setidaknya hati mereka sudah berdamai.


"Terus bagaimana hasilnya kemarin saat kamu menghubungi Kemal?" tanya Bu Rosita saat pelukan sudah terurai.


"Gak ada hasilnya Bu, Semua yang Tari hubungi gak ada yang bisa bantu," jawab Tari dengan wajah sedih.


"Sandi memberikan penawaran, jika Tari tidak bisa membayar hutang kontrakan itu, kita akan diusir atau jika tidak mau diusir maka Tari harus menikah dengan Sandi dan hutang akan dianggap lunas," ucap Tari.


Lalu mereka berdua terdiam beberapa saat, karena mencari solusi masing-masing.


"Ibu serahkan semua sama kamu Tari. Kalau kamu memang tidak mau menikah dengan Sandi tidak apa-apa. Nanti ibu akan bantu, ibu akan bekerja menjajakan tenaga ibu sebagai tukang cuci atau pembantu rumah tangga," jawab Bu Rosita.


Tari juga merasa bingung, sebenarnya jika ibu tirinya itu bekerja dan ikut membayar rumah kontrakan pasti akan membantu. Tapi bagaimana nanti dengan bapaknya yang sakit-sakitan tentunya tidak ada yang mengurus di rumah.


"Yasudahlah Bu, nanti akan Tari pikirkan lagi."


Kemudian, setelah itu Bu Rosita keluar dan turun ke bawah untuk menjaga bapak Tari. Perawat memberi tahukan Tari, jika ada sesuatu yang dibutuhkan Tari bisa memanggil perawat dengan menekan bel yang ada di belakang Tari.


***


Sementara itu, jauh dari rumah sakit tempat Tari dirawat. Max dan Evan kini sudah sampai di kediaman keluarga William. Max dengan cepat mengganti bajunya yang terkena darah Tari saat ia mengangkat Tari ke rumah sakit Tadi.


Lalu setelah itu mereka kembali meluncur ke rumah sakit tempat Fadly dirawat.


"Kemana saja sih? lama sekali?" tanya Adelia sesaat setelah Max sampai di rumah sakit itu.


Karena mendengar suara Adelia yang berbicara pada seseorang, Nyonya Shofia dan Tuan Haris pun menoleh, melihat dengan siapa Adelia berbicara.


"Tadi kami mengalami kecelakaan kecil saat menuju kesini," jawab Max, berbohong.


"Apa? kecelakaan? Tuh kan, itu karena kamu tadi menyapa gadis kampung itu. Sudah aku bilang kan sama kamu kalau gadis itu pembawa sial. Pokoknya kamu jangan pernah lagi mendekati gadis kampung itu, ya!! Aku tidak mau kakakku juga bakal kena sial seperti pacarku."

__ADS_1


"Apa yang kamu maksud itu Tari, Del?" tanya Nyonya Shofia penasaran.


Tuan Haris juga ikut mendengarkan percakapan mereka tadi.


"Iya tante, gadis yang bersama Fadly saat kecelakaan. Adel tidak tahu siapa namanya. Dan tidak mau tahu."


Nyonya Shofia beralih menatap Max, "Lalu, bagaimana ceritanya Max juga mengenal Tari?"


"Ah, itu, kemarin saat Tari di rumah sakit Setia Sehat terus bertemu dengan saya. Lalu Tari meminta saya untuk mengantarkannya ke rumah sakit Kasih Medica karena katanya dia akan menjenguk bapaknya yang sedang sakit juga," jawab Max.


Sangat jauh dari kenyataannya. Padahal dialah yang membuat drama agar bisa dekat dan mengenal Tari.


"Ya ampun itu gadis kampung, memang suka sekali ya membuat orang lain repot," ucap Nyonya Shofia.


"Tapi kamu tidak apa-apa kan karena kecelakaan tadi?" sambung Tuan Haris.


"Tidak apa-apa om! hanya mobil saja yang lecet sedikit," jawab Max.


"Syukurlah," jawab Tuan Haris dan Nyonya Shofia bersamaan.


Fadly kini berada di ruang ICU, dan masih belum sadarkan diri. Mama dan Papa Fadly masih setia menunggu di ruang tunggu di depan ruang ICU. Sementara Lea ditugaskan oleh Tuan Haris mengurus perusahaan mereka. Meskipun hanya sebentar, Lea harus tetap hadir di perusahaan itu untuk memantau.


Max membisikkan sesuatu ditelinga Adelia. Kemudian mereka pamit sebentar pada kedua orang tua Fadly. Karena mereka ingin membicarakan hal yang penting.


"Kenapa tidak berbicara disana saja?" tanya Adelia saat mereka sudah berdua di tempat sepi.


"Kamu tahu, aku sama Evan tadi sebenarnya memberi Tari pelajaran sedikit untuk balas dendam, tapi Evan malah keterusan. Dia hampir saja merobek mulut Tari hingga ke telinga," ucap Max dengan wajah pucat pasi.


Adelia melipat kedua tangannya di depan dada, "Kenapa? menurutku itu malah bagus. Kamu tahu? kemarin aku jambak rambut tuh gadis kampung dan dia balas dorong aku sampai aku terjatuh di lantai. Itu membuat aku malu di depan kedua orang tua Fadly dan kak Lea. Jadi kalau Evan melakukan itu, aku senang. Kamu gak perlu takut."


"Yang aku takutkan itu kalau ada yang melihat dan mengetahui aksi kami saat melakukan kejahatan sama Tari," jawab Max.


"Sudahlah tidak usah takut, berdoa saja semoga tidak ada yang melihatnya," ucap Adelia enteng.


.


.


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤

__ADS_1


__ADS_2