Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Lamaran Diterima


__ADS_3

Nyonya Shofia berdiri dan hendak duduk disebelah Tari. "Kami ingin melamarkan kamu untuk Fadly, apa kamu menerima lamaran ini?" tanya Nyonya Shofia lembut pada Tari, ia sedang memegang cincin berlian yang siap dimasukkan di jari manis Tari jika Tari menerima lamaran Fadly.


Saat ini Fadly sudah sampai di halaman depan rumah Tari. Ia melihat dihalaman depan rumah Tari itu juga telah terparkir rapi empat mobil milik keluarganya.


Tanpa menunggu Yunus, Fadly turun dari mobil dan langsung berlari kerumah Tari. Fadly melihat mamanya sedang berdiri disamping Tari yang sedang duduk, "Mama!"


Semua orang menoleh kearah datangnya suara. Kemudian Fadly dengan langkah lebar masuk kedalam rumah Tari, lalu menarik lengan Nyonya Shofia agar menjauh dari Tari. Semua orang yang melihat Fadly heran dengan tingkah yang dilakukannya.


"Fadly! kamu apa-apaan sih? Kenapa mama ditarik begini?" tanya Nyonya Shofia keheranan.


"Mama mau apakan Tari, Ma?" bukannya menjawab Fadly malah balik bertanya.


"Ha? Mau mama apakan? Memangnya kamu lihat mama sedang apa?" Nyonya Shofia menjawab pertanyaan Fadly juga dengan pertanyaan kembali.


Fadly kini melihat ditangan Nyonya Shofia ada cincin berlian. Ia baru tersadar, keluarganya datang ke rumah Tari memang untuk melamar tari, mewakili dirinya. Tadinya ia tidak percaya akan hal itu.


"Mama mau apakan Tari? mama gak mau ngelabrak Tari 'kan?" ucap Fadly mengulang kata-katanya tadi.


Jelas saja Tari terkejut, wajahnya pucat pasi mendengar ucapan Fadly barusan. Bu Rosita pun sama terkejutnya.


"Ngelabrak Tari? Buat apa?" tanya Nyonya Shofia enteng.


"Jadi, mama beneran mau melamar Tari buat aku?" tanya Fadly, Ia sedikit malu dengan tingkahnya tadi.


"Iya, sayang. Beneranlah," ucap Nyonya Shofia sembari tersenyum senang.


Tuan Haris dan Lea juga ikut tersenyum. Bahkan Fadly bukan hanya tersenyum, ia sampai tertawa lebar karena terlalu senang.

__ADS_1


"Eh! Tapi Tari belum jawab loh! Dia terima kamu atau tidak," tukas Nyonya Shofia. Kemudian ia melirik Tari.


Yang dilirik tersenyum kaku. Tari benar-benar terkejut dengan situasi ini. Tiba-tiba saja ia dilamar sang pujaan hati. Namun Fadly sang pujaan hati tadi tidak ikut serta sehingga membuatnya takut. Takut akan dipermainkan. Ia trauma berurusan dengan orang-orang kaya yang selalu mempermainkan hati dan perasaan orang tak berpunya sepertinya.


Ditambah Fadly tadi mengucapkan Nyonya Shofia akan melabraknya. Apakah sebelum pergi kerumahnya, Nyonya Shofia mengatakan akan melabrak dirinya. Ia jadi takut menerima lamaran Fadly. Bukan takut apa-apa, ia hanya takut pada keluarga Fadly.


"Tari... Kenapa melamun?" tanya Bu Rosita dengan berbisik ke telinga Tari.


Tari menoleh, "Ada apa, Bu?" tanyanya.


"Tuh mamanya Fadly nanya lagi, apa kamu mau terima Fadly atau tidak?" jelas Bu Rosita.


Fadly mengambil cincin yang sejak tadi dipegang oleh Nyonya Shofia, kemudian ia mendatangi Tari, "Sayang! Kenapa?" tanya Fadly.


Fadly tahu saat ini Tari sedang dilanda kebimbangan. Terlihat dari wajah Tari yang gelisah.


"Kamu... Ragu sama aku?" tanya Fadly lagi.


Tari harus segera menjawab iya atau tidak. Tapi tidak mungkin kan ia menjawab tidak. Sementara ia sudah menunggu lama moment ini, moment dimana Fadly melamarnya. Semakin lama ia menjawab maka keluarga Dewantara pasti akan muak menantikan jawabannya, siapalah dirinya yang harus dinantikan oleh keluarga kaya itu.


Sedetik kemudian Fadly berlutut dihadapannya membuat Tari sangat terkejut. Tari bukannya melihat ke wajah Fadly, namun ia lebih memperhatikan raut wajah Nyonya Shofia, Tuan Haris dan juga Lea. Sungguh ia tidak enak hati pada mereka.


"Mas, jangan gini dong," ucap Tari tidak enak hati.


Namun Fadly tidak perduli, ia masih berlutut, "Kamu tahu? Kamu itu gadis sempurna dimataku, satu-satunya gadis yang menggetarkan hatiku, kamu adalah sumber kekuatanku, Tari. Aku ingin kamu selamanya menjadi gadis satu-satunya yang sempurna yang selalu menggetarkan hatiku dan selalu menjadi kekuatanku. Maukah kamu menghabiskan waktu bersamaku? Maukah kamu menjadi istriku, Lestari Syafira?"


Ucapan Fadly kontan membuat Tari melelehkan air matanya. Laki-laki yang begitu sempurna seperti Fadly mengatakan jika dirinya sempurna. Sungguh ia merasa sangat disayangi, ia merasa sangat diharapkan. Namun, kembali hati kecilnya terusik dengan kegundahannya tadi. Apakah dia pantas untuk Fadly?

__ADS_1


Tapi, sungguh ia tidak kuasa untuk menolaknya, kebimbangan akan keluarga Fadly yang tidak menyukainya, ia akan hadapi nanti. Sekarang ia ingin menghadiahkan hatinya dengan kegembiraan karena Fadly telah melamarnya. Tari hanya mampu menganggukkan kepalanya, menandakan ia telah menerima lamaran Fadly.


Dengan tangan gemetar, Fadly memasangkan cincin berlian di jari manis Tari. Keduanya hanyut dalam kebahagiaan, Fadly berdiri dan memeluk Tari dengan erat. Mereka seolah tidak melihat disana sedang banyak mata memandang kearah mereka.


***


Tengah malam, keluarga Dewantara beserta para pelayannya baru sampai ke Mansion Dewantara, Fadly juga ikut serta. Setelah perdebatan alot, akhirnya mereka memutuskan pernikahan Fadly dan Tari akan digelar mewah dua bulan lagi.


Bagi Tari ini adalah pernikahan keduanya, ia sebenarnya tidak mau terlalu cepat. Tapi Nyonya Shofia memaksa. Saat sedang berdua, Fadly bertanya mengapa Tari menunda pernikahan mereka sampai tiga bulan hingga empat bulan lagi. Padahal Tari tidak perlu memikirkan pesta tersebut, karena Nyonya Shofia dengan senang hati yang akan mengurus semuanya. Ia hanya tinggal duduk diam, bahkan tidak usah bekerja lagi juga tidak masalah bagi Fadly.


Jawaban Tari sedikit membuat Fadly terkejut, tetapi itu bukan masalah besar bagi Fadly. Ia yang akan mengurus surat-surat perceraian Tari dan Sandi. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa Tari ingin pernikahannya dengan Fadly ditunda, karena surat-surat perceraiannya dengan Sandi yang belum diurus di pengadilan agama.


Malam itu, Fadly menerima Telepon dari orang yang tidak dikenal. Orang itu mengaku bernama Bryan Kohler. Ingatan Fadly langsung tertuju pada Christopher Kohler, si Bule Gendut asal Swiss yang pernah ia pandu. 'Apakah mereka bersaudara?' tanya Fadly dalam hati.


"Ya, Bryan ada yang bisa saya bantu?" tanya Fadly tentu dengan bahasa Inggris yang sangat bagus.


"Bisa besok saya bertemu dengan anda Mr. Fadly?" tukas Bryan.


"Kalau boleh tahu, anda ada perlu apa? Karena saya sedang tidak berada di Bali saat ini," jawab Fadly.


"Baik kalau begitu saya akan menunggu anda. Akan saya katakan keperluan saya jika kita sudah bertemu. Bisakah anda menghubungi saya jika anda sudah berada di Bali?" jelas Bryan.


Fadly sebenarnya tidak bisa menyimpan rasa penasarannya, ingin sekali ia langsung bertolak ke Bali malam ini juga. Tetapi ia besok masih harus mengurus surat-surat perceraian Tari dan sandi.


Fadly menyetujuinya, ia akan menghubungi Bryan setelah ia sampai di Bali nanti.


.

__ADS_1


.


To Be Continued..


__ADS_2