Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Mobil Membawa Petaka


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


Disaat tubuhnya sedang kurang fit, hati dipenuhi dengan emosi dan kemarahan, Fadly benar-benar tidak bisa berpikir. Sebelumnya, seumur hidupnya ia tidak pernah membentak ataupun berbicara dengan nada tinggi pada kedua orang tuanya.


Tapi tadi, ia dengan lantangnya membentak mamanya sehingga membuat wanita paruh baya itu sangat terkejut. Fadly menjatuhkan dirinya, ia menangis bersimpuh di kaki sang mama.


"Maafin Fadly Ma," ia mengucapkannya sembari terisak.


Nyonya Shofia diam mematung, masih terkejut dengan bentakan dari Fadly tadi.


Fadly kembali berdiri, ia sudah membulatkan tekadnya untuk mengadu nasib tanpa meminta bantuan dari orang tuanya.


"Maafin Fadly, Ma," ucapnya lagi.


"Tekad Fadly udah bulat. Mama sama papa saja menyepelekan Fadly, bagaimana dengan orang lain. Tentunya juga akan memandang Fadly sebelah mata karena hanya mengharapkan bantuan orang tua saja."


Nyonya Shofia juga terisak, Ia berhambur memeluk sang anak. Ia menumpahkan tangisnya di pelukan anaknya yang akan pergi tidak tinggal bersamanya.


"Mama tidak bermaksud menyepelekan kamu. Mama tahu kamu anak yang hebat, tapi tidak seperti ini cara meraih sukses," Nyonya Shofia menghentikan kata-katanya sejenak.


Lalu melanjutkannya kembali, "Kalau kamu memang tidak ingin dibantu sama mama dan papa, setidaknya kamu tidak pergi dari rumah. Kak Lea bisa mengajari kamu cara berbisnis."


Nyonya Shofia mencoba membujuk Fadly kembali dengan kata-katanya. Namun Fadly menggeleng dan tetap pada niat awalnya. Air mata pun tak bisa terbendung diantara keduanya.


Akhirnya Nyonya Shofia mengalah, ia memberikan kunci mobil yang biasa dipakai Fadly, "Ini, bawa mobil kamu agar memudahkan kamu pergi kemanapun kamu mau."


Fadly menggeleng, "Gak, Ma. Aku masih punya kaki untuk melangkah. Kaki ini yang akan memudahkan aku pergi kemanapun aku mau."


"Jangan begitu sayang, bawa ya, please!" ucap Nyonya Shofia memelas dan masih mengeluarkan air matanya.


Fadly tetap pada pendiriannya, ia mendorong tangan mamanya dengan lembut yang tadi menyerahkan kunci mobil padanya.


"Aku gak mau pakai fasilitas apapun dari mama dan papa."

__ADS_1


Nyonya Shofia menjatuhkan dirinya, ia terduduk lemas diatas paving block di halaman mansion. Ia tidak menyangka kata-katanya bisa menyakiti hati anaknya begitu dalam, ia terus menangis.


Fadly sangat tidak tega melihat mamanya menangis sejak tadi, ia mengangkat mamanya untuk berdiri.


"Mama jangan menangis, sejak kecil mama bilang sama aku. Kalau aku anak yang hebat, aku anak yang kuat. Sekarang aku mau buktikan kalau aku benar-benar hebat dan kuat, Ma. Tanpa sedikitpun bantuan mama dan papa, aku cuma butuh doa dari mama dan papa, aku pasti bisa."


Nyonya Shofia menyeka air matanya, "Iya, sayang. Mama yakin kamu bisa. Yasudah kalau memang kamu mau pergi, mama pasti mendoakan yang terbaik buat kamu, dimanapun kamu berada."


Ditengah kegetiran hatinya, Fadly masih memaksakan tersenyum untuk mamanya, agar mamanya yakin jika dirinya tidak rapuh dan kuat.


"Tapi mama mohon, sayang. Kamu bawa mobil kamu ya. Sama satu lagi, nomor handphone kamu jangan kamu ganti ya, biar mama bisa selalu telepon kamu. Mama mohon, nak!" tutur Nyonya Shofia melanjutkan.


Sungguh terenyuh hati Fadly melihat mamanya sampai bermohon pada dirinya untuk membawa mobil, sejak awal ia sudah tidak tega melihat mamanya menangis. Kini mamanya harus memohon padanya. Ingin menolak lagi, tapi Fadly sudah tidak sanggup melihat mamanya kembali bermohon.


Akhirnya ia menerima kunci mobil yang sejak tadi diserahkan mamanya. "Baik, Ma. Fadly akan bawa mobil ini."


Nyonya Shofia tersenyum dan menyentuh pipi Fadly lalu memeluknya. Anak dan ibu itu saling menangis sambil berpelukan. Nyonya Shofia tidak tahu, entah kapan lagi akan bertemu anak. laki-lakinya itu.


Fadly mengurai pelukan mereka dan berpamitan pada mamanya, menyalami tangan mamanya dengan takzim, lalu mencium kedua pipi mamanya dengan rasa sayang.


Fadly tidak melihat ketika Tari hendak berpamitan, Fadly langsung membuka pintu mobil untuk Tari, kemudian ia memutar dan masuk ke mobil dan duduk di belakang setir.


Sedangkan Tari yang akan berpamitan, hanya mendapat tatapan sinis dan menusuk dari Nyonya Shofia. Setelah Tari mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Nyonya Shofia tidak memperdulikan Tari. Ia menganggap Tari tidak ada di depannya.


Setelah menunggu beberapa saat, Fadly yang sudah ada di dalam mobil memanggil Tari. Tari menoleh ke belakang kearah Fadly yang sudah berada dalam mobil, Fadly menyuruhnya agar segera masuk mobil.


Tari kembali menatap Nyonya Shofia yang berada di depannya, masih sama seperti tadi. Ia tidak menganggap Tari ada. Tari menarik kembali tangannya lalu mundur dan segera masuk mobil.


Perlahan mobil meninggalkan halaman mansion keluarga Dewantara.


Setelah sudah beberapa jam berkendara, dan memasuki kawasan yang akan menuju rumah Tari. Hanya butuh waktu satu setengah jam saja akan sampai ke rumah Tari.


Di kawasan itu memang kanan dan kirinya terdapat jurang yang curam.


Kemudian, Fadly melajukan mobilnya dengan lambat. Tangan kanannya memegang setir mobil, dan tangan kirinya memijit kepalanya yang terasa pusing. Tari menoleh kearah Fadly, ia pun mengulurkan tangannya memegang kepala Fadly.


"Kenapa, Mas?" tanya Tari panik.

__ADS_1


"Kepalaku sedikit pusing Tari," ucap Fadly yang tampak kesakitan.


Sejak Nyonya Shofia mengatakan kalau Fadly tadi malam demam, Tari terus memperhatikan Fadly. Fadly memang tampak terlihat sesekali memijit dahinya sembari memejamkan mata. Namun ketika ditanya oleh Tari, Fadly selalu menjawab tidak apa-apa.


"Kita berhenti saja dulu sebentar, Mas," ucap Tari yang semakin panik.


"Tidak apa-apa nanti kalau ada apotek, kita berhenti untuk beli obat sebentar," jawab Fadly seraya tersenyum pada Tari, seolah memberitahukan jika dirinya benar-benar tidak apa-apa.


Lalu Fadly kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah punya rencana bagaimana memulai bisnisnya. Ia tidak sabar ingin segera sampai ke rumah Tari dan menyampaikannya pada Tari.


Jika nanti ia sudah berhasil membuktikan jika dirinya bisa hidup tanpa harta dari kedua orang tuanya, ia akan mengatakan, kedua orang tuanya harus menerima Tari sebagai menantu mereka, tidak ada alasan mereka untuk menolak Tari lagi. Karena Fadly benar-benar mencintai Tari dan tidak ingin kehilangan gadis itu.


Namun nasib berkata lain, saat melewati jalan yang sepi. Disebuah tikungan ada mobil truk gandeng besar melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan. Sementara Fadly dengan kepala terhuyung karena kepalanya yang pusing, dan ia juga melaju dengan kecepatan tinggi tidak bisa mengendalikan setirnya.


Karena ia sangat panik ditambah kondisi tubuh yang memang kurang fit ia tidak bisa berpikir cepat. Lalu Fadly salah membanting setir, ia mengarahkan setirnya kearah kanan. Dan terjadilah musibah yang tidak mereka inginkan.


Mobil yang dikendarai Fadly menabrak badan truk gandeng tersebut. Dalam keadaan sempit seperti itu, Fadly masih sempat melindugi Tari. Ia memegang bahu Tari dengan tangan kirinya agar Tari tidak menabrak dashboard mobil. Sedangkan ia mengabaikan keselamatan dirinya sendiri, kepalanya terbentur setir dengan cukup keras.


Kecelakaan itu rasanya sangat cepat sekali terjadi. Kini truk dan mobil Fadly sudah berhenti.


Tari sangat shock melihat banyak sekali darah yang keluar dari kepala Fadly. Ia berteriak histeris. Disisi lain, Fadly memegang tangan Tari, "Kamu gak apa-apa kan, sayang?"


Setelah berkata seperti itu Fadly menutup matanya dan kemudian tidak sadarkan diri.


Tari mengguncang tubuh Fadly, "Mas Fadly, Mas Fadly banguuuunnn!"


Seseorang dari luar mengetuk pintu mobil. Dengan cepat Tari membukanya, "Tolong pacar saya, pak! Dia sudah tidak sadarkan diri."


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤

__ADS_1


__ADS_2