Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Penolakan


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


Setelah tadi bertemu dengan Lea, kakak Fadly saja jantungnya mau copot. Bagaimana ketika nanti bertemu dengan kedua orang tua Fadly, Tari tidak bisa membayangkannya.


Tadi salah satu pelayan sudah diperintahkan oleh Lea untuk memanggil kedua orang tuanya di kamar. Sekarang hanya tinggal menunggu mereka keluar dan turun menemui Tari.


Tidak lama, Nyonya Shofia, mama Fadly melangkah gontai sendirian menuruni anak tangga, Fadly mengernyit memandang mamanya yang tidak ada kesan ramahnya saat melihat Tari. Padahal ia sudah mengatakan, bagaimanapun penampilan Tari, suka tidak suka mamanya harus menerimanya. Karena sedari kecil ia menuruti kata-kata mamanya. Sekarang urusan memilih kekasih, Fadly tidak mau mamanya melarang siapapun pilihannya, termasuk Tari.


Sampailah Nyonya Shofia di bawah, Fadly dan Tari yang tadinya duduk di sofa, kini berdiri menyambut kedatangan Nyonya Shofia.


"Kenalin ma, ini Tari, Pacar Fadly. Tari, kenalin ini mamaku," ucap Fadly mengenalkan mereka berdua.


Tari sedikit membungkuk, tanda ia sopan. Dan mengulurkan tangannya yang dingin dan sedikit gemetar.


"S-saya Tari, bu," ucap Tari dengan terbata, saking gugupnya.


Nyonya Shofia hanya memandang tangan Tari yang terulur hendak menyalami, tanpa mau membalas uluran tangan Tari.


"Mama," panggil Fadly pada mamanya.


Nyonya Shofia melirik kearah Fadly, ia pun mengulurkan tangannya, "Saya mamanya Fadly."


Sebenarnya Fadly ingin sekali menegur mamanya pada saat itu juga, tetapi ia ingat masih ada Tari bersama mereka.


"Papa mana, ma? masih tidur ya?" Fadly mencoba mencairkan suasana.


"Iya masih tidur, nanti pas waktunya makan siang mama bangunin papa kamu, biar kenalan juga sama Tari," ucap Nyonya Shofia dengan sedikit tersenyum, entah apa arti senyum itu.


"Yuk, duduk lagi yuk Tari, kenapa pelayan belum buatkan minum Fadly?"


"Oh, iya ma, biar Fadly bilangin ke pelayan sebentar,"


"Sebentar ya sayang, kamu ngobrol sama mama ya," ucap Fadly pada Tari.


Sepeninggal Fadly, Nyonya Shofia memperhatikan Tari dari atas hingga ke bawah dengan seksama. Fadly belum mengatakan apapun tentang Tari pada Nyonya Shofia. Oleh karena itu, Nyonya Shofia ingin banyak mengetahui tentang Tari, yang akan menjadi calon menantu di keluarga Dewantara.


"Kamu tinggal dimana?" ucap Nyonya Shofia memulai percakapan.

__ADS_1


Bagi Tari, pertanyaan itu biasa. Yang tidak biasa adalah tatapan Nyonya Shofia yang sangat sinis. Juga tidak ada senyum ramah seperti yang ditunjukkan Lea tadi


Namun Tari mencoba untuk berpikir positif, ia belum tahu pasti, mungkin saja Nyonya Shofia memang type orang yang seperti itu. Berwajah sinis, namun berhati baik. Karena ia melihat Fadly sangat baik terhadap semua orang, tidak mungkin rasanya jika ibunya berhati buruk.


Tari ingat pesan yang diberikan Fadly tadi ketika di mobil, Fadly menyuruhnya untuk banyak tersenyum, karena mama Fadly suka dengan orang yang banyak senyum dan ramah.


Tari pun menjawab pertanyaan Nyonya Shofia seraya tersenyum, "Saya tinggal di daerah Pandanan, bu."


Nyonya Shofia terkejut, ia melotot menatap Tari, "Pandanan?, itu kan jauh sekali dari sini?"


"I-iya bu, jauh hehe," ucap Tari tanpa dosa. Dirinya juga tidak tahu harus menjawab apa.


"Jadi kamu menyuruh Fadly pagi-pagi tadi menjemput kamu? Kamu tahu, malam tadi dia demam tidak bisa tidur. Dan pagi-pagi sekali dia sudah bangun, padahal kepalanya masih pusing. Saya kira dia mau kemana, ternyata mau jemput kamu, gak punya hati kamu ya!" tutur Nyonya Shofia menuduh Tari tiba-tiba.


Senyum yang sejak tadi ia ciptakan, kini luntur karena ucapan Nyonya Shofia yang menuduhnya. Tari sangat merasa bersalah pada Fadly, dirinya kurang memperhatikan laki-laki itu. Tari benar-benar tidak mengetahui jika Fadly sedang sakit, karena dilihatnya Fadly datang ke rumahnya dengan wajah sangat segar. Dan tidak ada tanda-tanda bahwa Fadly sedang sakit.


Terdengar langkah seseorang mendekati sofa ruang tamu, yang ternyata itu adalah Fadly yang sudah kembali. Fadly duduk tepat di sebelah Tari, Fadly menatap Tari yang sedang menunduk dengan wajah muram.


Fadly mengernyitkan keningnya, Fadly heran kenapa Tari tiba-tiba berwajah muram, padahal sejak tadi Tari tersenyum meskipun senyumnya kaku khas orang gugup.


"Tari," panggil Fadly.


"Tari, Fadly bukan type orang yang suka jika kesakitannya diketahui orang, apalagi orang yang disayanginya. Sebisa mungkin Fadly akan menyembunyikan rasa sakit, sedih, susah yang dia rasakan. Fadly itu cuma mau kita tahu kalau dia sedang bahagia, ya kan sayang?" ucap Nyonya Shofia yang tidak ditanya.


Fadly sekilas melirik mamanya, kemudian beralih pada Tari lagi, "Cuma demam biasa tadi malam, pagi tadi sudah enakan kok, badan aku."


"Seharusnya kamu bilang sama aku, karena aku benar-benar gak tahu. Maafin aku ya, Mas," ucap Tari dengan wajah sedih.


"Iya sayang," Fadly menjawab.


Nyonya Shofia menatap jengah kearah mereka. Nyonya Shofia terlanjur tidak suka dengan Tari. Karena ia pernah melihat dari foto-foto hasil jepretan anak buahnya yang memata-matai Fadly, sewaktu Fadly dan Tari berciuman. Padahal itu semua bukan salah Tari, tapi Nyonya Shofia membenci Tari.


Nyonya Shofia masih menganggap Tari lah penyebab Fadly kabur dari rumah dan menentang dirinya. Nyonya Shofia juga menganggap Fadly tidak mencintai Adelia lagi karena Tari.


Tidak mau lebih lama lagi melihat kemesraan Fadly dan Tari, Nyonya Shofia pamit ingin ke kamar.


"Mama ke kamar dulu ya, Fadly, Tari. Nanti kalau sudah jam makan siang mama sama papa turun lagi. Kita makan siang bersama ya, Tari." Nyonya Shofia mengucapkannya dengan senyum palsunya.


***


Suasana makan siang di ruang makan terasa aneh bagi Fadly, pasalnya sejak bertemu dengan Tari Tuan Haris hanya menanyakan nama Tari saja, setelah itu semua orang diam, termasuk kakaknya.

__ADS_1


Beberapa kali Fadly memergoki papanya mencuri pandang ke arah Tari, pandangan itu Fadly mengartikannya sebagai pandangan tidak suka dengan gadis yang dicintainya.


Bagaimana dengan Tari? Gadis itu juga merasakan hal yang sama dengan Fadly, saat ini Tari ingin sekali pergi dari ruang makan ini. Bahkan ia ingin keluar saja dari mansion besar ini.


Fadly hanya mengambil nasi sedikit, seolah ia ingin segera menyudahi acara makan siang ini. Setelah selesai makan, ia menyuruh Tari juga untuk cepat menyelesaikan makannya. Padahal mereka semua baru duduk di meja makan itu selama kurang dari sepuluh menit.


"Tari, agak cepatan yuk makannya, aku pengen ajak kamu ke taman yang ada di halaman belakang," ucap Fadly, yang segera mendapat tatapan heran dari mama, papa dan Lea.


Tari yang seolah mendapat angin segar untuk segera menyelamatkannya dari suasana canggung itupun dengan lahap memakan makanan yang sudah ada di piringnya.


Tidak butuh waktu lama bagi Tari untuk menghabiskan makanan itu. Setelah Fadly melihat Tari menghabiskan makannya dan minumnya. Fadly berdiri dan mengambil tangan Tari, lalu mengajak Tari ke halaman belakang mansion itu. Sebelum pergi Tari sempat membungkukkan badannya untuk berpamitan pada setiap orang yang ada di meja makan itu.


Di halaman belakang yang juga terdapat kolam renang dan taman yang tertata dengan indah, Tari benar-benar terselamatkan dari suasana canggung di ruang makan tadi.


"Terimakasih sudah bawa aku kesini," ucap Tari kemudian duduk di bangku taman.


Tangan Fadly terangkat untuk mengusap rambut Tari, "Gak nyaman banget ya di dalam tadi?"


"Kamu kok tahu sih, Mas?"


"Aku juga gak nyaman," ucap Fadly, tapi membuat Tari heran.


"Kenapa Mas?" tanya Tari.


Tiba-tiba datang seorang pelayan menghampiri mereka.


"Tuan Fadly, di panggil Tuan besar. Tuan besar sedang ada di ruang kerjanya," ucap pelayan itu dan langsung pergi.


Fadly dan Tari saling pandang, "Tari, sebentar ya, kamu disini dulu, gak apa-apa kan aku tinggal sendirian?"


"Iya Mas, gak apa-apa."


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤

__ADS_1


__ADS_2