Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Dimana Tari?


__ADS_3

Motor bebek milik Dodi kini sudah sampai di depan gerbang rumah kediaman Bu Hanifa.


"Nah ini dia rumahnya Mas," ucap Dodi.


"Oh, jadi ini rumahnya. Saya sering sih lewat dari jalan ini dulu. Tapi gak tahu kalau ini ternyata rumah Pak Irsyad."


"Hah? memangnya Mas Fadly ngapain lewat dari jalan ini?" tanya Dodi merasa heran.


"Saya kan dulu tinggal di rumah kontrakan Pak Irsyad juga Bang. Saya tinggal di sebelah rumah yang ditempati Tari."


"Wah, saya gak tahu Mas."


"Gak tahu ya?"


"Yaudah kalau gitu, saya tinggal ya Mas."


"Kenapa gak ikut masuk aja Bang?"


"Gak deh, saya takut sama Bu Hanifa," ucap Dodi sambil tertawa.


Fadlypun ikut tertawa, "Kira-kira Tari ada gak ya di dalam?"


"Loh! Mas nya mau menemui Tari? kalau Tari sudah gak tinggal disini lagi Mas. Dia sudah diusir sama Bu Hanifa."


"Hah? Jadi Tari sekarang tinggal dimana Bang?"


Dodi jadi galau, dirinya sudah berjanji pada Tari untuk tidak memberitahukan tempat tinggal Tari pada siapapun. Dodipun menjawab tidak tahu dimana Tari tinggal, karena ia tidak mau mengecewakan Tari.


Akhirnya Dodi kembali ke kiosnya dan Fadly tetap akan masuk ke rumah Bu Hanifa.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Hanifa dari dalam.


Bu Hanifa keluar membuka kan pintu, ia sangat terkejut melihat orang yang datang ternyata adalah Fadly, anak dari majikan suaminya. Bu Hanifa pun keheranan, ia bertanya dalam hati ada apa gerangan Tuan muda Fadly datang ke rumahnya.


Fadly tersenyum melihat keterkejutan Bu Hanifa.


"Selamat malam. Masih kenal dengan saya?" tanya Fadly.

__ADS_1


"Eh, kenal Tuan, tentu saya sangat mengenal anda, Tuan muda Fadly. Silahkan masuk Tuan," ucap Bu Hanifa.


"Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Pak Irsyad, saya tidak tahu kalau Pak Irsyad akan pergi secepat ini. Dan maaf saya baru bisa datang hari ini, karena saya baru pulang dari Amerika," ucap Fadly.


"Iya Tuan, terimakasih karena sudah menyempatkan untuk datang jauh-jauh kesini."


"Dan tujuan saya yang lain datang kesini adalah untuk mencari Tari. Saya dengar Tari adalah istri Sandi. Apa itu benar?"


Bu Hanifa gugup dan bingung akan menjawab apa. Bu Hanifa heran mengapa Tuan Fadly yang tampan ini mencari Tari. Ada apa dengan Tari?


"Bu!" Fadly memanggil Bu Hanifa yang terlihat melamun dengan wajah gugup.


"Eh, i-iya Tuan, Sandi sudah menikah dengan Tari. Di hari pernikahan Sandi waktu itu juga Nona Lea turut hadir kesini bersama Kapten Galih dan istrinya." jawab Bu Hanifa jujur.


Fadly tercekat, ternyata kakaknya sudah mengetahui jika Tari sudah menikah dengan Sandi. Fadly mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi yang saya dengar dari warga desa ini, kalau Tari menjadi korban KDRT. Apakah itu benar?"


"A-apa? I-itu tidak benar tuan. Sandi tidak melakukan itu," jawab Bu Hanifa berbohong.


"Kalau begitu, saya mau tanya langsung dengan Sandi. Dimana Sandi?" ucap Fadly menggertak Bu Hanifa. Karena Fadly sudah mengetahui jika Sandi dipenjara.


"Sandi sedang tidak ada di rumah Tuan."


"Kalau itu sa-saya tidak tahu Tuan," Bu Hanifa gugup sekali menghadapi Fadly.


"Jawab jujur," tanya Fadly dengan tegas dan raut wajah yang sangat serius.


"Saya jujur Tuan, saya tidak tahu dimana Tari sekarang," kini jantung Bu Hanifa mau copot rasanya, tidak pernah ia menghadapi situasi semacam ini.


"Saya tidak peduli dimana Sandi sekarang ini, saya hanya bertanya pada anda, dimana Tari sekarang? Bukannya anda sebagai mertua telah mengusirnya dari sini?"


"Iya Tuan, saya sudah mengusir Tari. Tapi semua itu ada alasannya, Tuan. Saya mengusirnya setelah apa yang dia lakukan pada Sandi dan suami saya."


"Saya tidak peduli. Saya tahu Tari gadis yang baik. Apapun yang dilakukannya pasti semua itu karena ada alasannya. Apakah anda tahu arti Tari bagi saya?"


Bu Hanifa semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


"Tari adalah pacar saya, sebelum dia menikah dengan Sandi dia adalah kekasih saya."

__ADS_1


"A-apa?" Bu Hanifa sangat tidak menyangka akan hal ini.


Waktu itu Sandi memang sempat bercerita padanya, bila Tari telah memiliki kekasih. Kekasih Tari mengendarai mobil mewah. Namun Sandi tidak tahu siapa kekasih Tari itu, karena Sandi melihatnya hanya dari belakang saja. Sekarang, barulah ia tahu jika kekasih Tari adalah Fadly. Orang terkaya nomor satu di negara ini. Yang tak lain adalah majikan dari suami dan anaknya.


Dulu Bu Hanifa dan Sandi sempat mengejek Tari. Karena punya pacar namun tidak bisa membantu membayar kontrakan Tari yang menunggak. Ternyata bukan tidak bisa membantu, tetapi karena pada saat itu Fadly sedang di Rumah Sakit karena kecelakaan.


Bu Hanifa jadi ketakutan sendiri, badannya panas dingin. Bagaimana kalau Fadly mengetahui apa yang dilakukannya dan Sandi pada Tari selama ini. Tari selalu dihina dan dicaci. Belum lagi perlakuan kasar Bu Hanifa sebelum mengusir Tari. Bu Hanifa sangat tidak menyangka ternyata Tari bisa membuat anak konglomerat bisa jatuh cinta padanya.


"Jadi, Tari itu kekasih anda Tuan Fadly?"


"Ya, memangnya kenapa?"


"Tidak, tidak Tuan. Pantas jika Tari banyak yang menyayangi dan mencintainya. Tari adalah gadis yang baik. Anak saya saja sampai jatuh hati padanya. Selama ini kami sangat menyayangi Tari. Kami membantu biaya perobatan Pak Syabani sewaktu Pak Syabani dioperasi. Itu semua kami lakukan karena kami sangat menyayangi Tari."


"Oh ya? Tapi yang saya dengar berbeda, anda sudah menyiksa Tari, mengusir Tari. Dan anda juga yang sudah merobohkan kios jahit milik Tari. Sebelum anda merobohkan kios jahit itu, anda sempat menerornya dengan melemparkan lumpur ke dalam kiosnya kan?"


"Itu tidak benar Tuan, saya tidak melakukan itu. Siapa yang mengatakan pada anda jika saya melakukan hal keji seperti itu?"


Bu Hanifa bisa berkelit karena bukan tangannya sendiri yang bekerja. Dia menyuruh orang lain untuk melakukan itu, oleh sebab itulah ia berani berkelit.


"Anda tidak perlu tahu saya mengetahui itu dari mana. Tapi benarkan anda sudah melakukan itu pada Tari?"


"Tidak Tuan, saya tidak melakukan itu," Bu Hanifa ketakutan setengah mati.


Kini Bu Hanifa sendiri di rumah, Sandi di penjara, sedangkan Dian dan istrinya sedang pergi ke kota menjenguk mertuanya. Ia seperti terdakwa di rumahnya sendiri.


"Baiklah, untuk sekarang mungkin anda tidak mau jujur kalau anda sudah semena-mena terhadap Tari selama ini. Tapi nanti saya akan tanyakan kebenarannya pada Tari secara langsung."


Wajah Bu Hanifa seperti mayat hidup, pucat. Ia tidak tahu semua ini akan terjadi. Tari yang sedang tidak ada disini saja bisa mengancamnya. Apalagi nanti setelah Fadly menemukan keberadaan Tari. Tentu dirinya akan sangat tidak aman.


"Pertanyaan terakhir saya sebelum saya keluar dari rumah anda, mungkin saya akan memaafkan kesalahan yang telah anda perbuat pada Tari jika anda menjawab pertanyaan saya ini," Fadly menatap Bu Hanifa dengan sorot mata tajam, seperti akan membunuh Bu Hanifa dengan matanya.


"Ya Tuan, saya akan menjawabnya," ucap Bu Hanifa dengan bibir gemetar, karena ketakutan.


"Dimana Tari sekarang?"


Bu Hanifa mengusap wajahnya. Seandainya ia tahu kemana Tari pergi, tentu dirinya tidak akan takut dan pastinya Fadly akan memaafkan kesalahannya atas perbuatannya pada Tari, seperti yang Fadly katakan barusan. Tetapi dirinya benar-benar tidak mengetahui dimana Tari sekarang berada.


.

__ADS_1


.


To Be Continue..


__ADS_2