Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Menemui Tari


__ADS_3

"Halo, ini siapa?" ucap Tari lagi dari sambungan telepon.


"Ha-Halo!" Fadly mengatur napasnya berulang kali hanya untuk mengucapkan kata Halo.


Tari diseberang sana sejak tadi terfokus ke buku dan pena yang ada ditangannya. Ia sedang pusing memikirkan rancangan topi apalagi yang akan dibuatnya. Ketika mendengar suara Halo dari yang meneleponnya, tangannya yang akan menorehkan tinta ke buku menjadi terhenti. Otaknya langsung menginterupsikan untuk berhenti seketika. Ia mengenali suara itu. Benarkah? Apa ia tidak salah mendengar? Setelah dua tahun berlalu akhirnya ia mendengar suara orang yang dirindukannya.


"Halo! Tari ini kamu?" tanya Fadly.


Setelah mendengar suara Fadly lagi, barulah ia yakin bahwa benar ternyata itu memang suara Fadly.


"I-iya, ini Mas Fadly ya?" tanya Tari, ia gugup tangannya yang memegang ponsel sampai gemetaran.


Fadly pun begitu, berulang kali ia menelan ludahnya untuk melancarkan tenggorokannya yang tiba-tiba mengering. Jantungnya berdetak dua kali bahkan tiga kali lebih cepat dari biasanya.


"Iya Tari, ini aku, Fadly. Tari, kamu apa kabar?" ucap Fadly.


Tari menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ia menahan tangis, ia terharu. Betapa ia merindukan Fadly selama ini. Namun rasanya ia tidak kuasa untuk menemui Fadly ke rumahnya. Jadi yang bisa ia lakukan adalah menahan rindu itu.


"Halo! Tari," panggil Fadly lagi, karena Tari tidak menjawab pertanyaan Fadly.


Tidak ada jawaban dari Tari, Fadly hanya mendengar suara isak tangis Tari. Ia tidak bisa menahan rasa bahagianya. Banyak sudah lika-liku kehidupan yang ia lewati tanpa Fadly. Tapi tunggu dulu, mengapa ia harus terharu? Karena bahagia? Mengapa ia harus bahagia? Sebenarnya untuk apa Fadly meneleponnya? Bukankah ia pernah melihat Fadly dengan wanita blasteran cantik dan Fadly terlihat sangat bahagia? Apakah selama ini Fadly pernah mencarinya?


Ah, hati Tari terlalu cepat berdesir hanya dengan mendengar suara Fadly, siapa tahu Fadly meneleponnya untuk sesuatu yang lain bukan untuk melanjutkan hubungan mereka. Tari dengan cepat menghapus air matanya. Sebenarnya ia menangis karena bahagia, bahagiaaa sekali. Tapi ia tidak mau salah mengartikan. Baiklah, ia harus mendengar Fadly terlebih dahulu. Apa yang akan diucapkan Fadly.


"Halo! Mas Fadly. Aku baik Mas. Mas Fadly gimana kabarnya?" ucap Tari, suaranya menunjukkan ketegaran.

__ADS_1


Fadly lega, sekarang suara Tari sudah biasa tidak terdengar suara tangis lagi. "Kabar aku baik Tari. Kamu bagaimana? Kamu sekarang tinggal dimana Tari? Aku cari-cari kamu selama ini," ucap Fadly.


Tari tersenyum sebelum menjawab, meskipun senyumnya tidak dilihat oleh Fadly, tapi dalam hatinya tentulah sangat bahagia karena Fadly ternyata selama ini mencarinya. "Banyak banget pertanyaannya, satu-satu dong, Mas. Alhamdulillah Mas, aku baik kok, sehat. Tapi untuk apa kamu mencariku, Mas?"


"Untuk apa kamu bilang? Tari aku rindu sama kamu, apa kamu gak rindu sama aku?" ucap Fadly sedikit berteriak dan menekankan setiap kata-kata yang diucapkannya. Fadly hanya sedikit tidak menyangka mengapa Tari berkata seperti itu. Untuk apa mencarinya katanya? Hah! Fadly tidak habis pikir dengan Tari ini.


"Maaf, Mas. Aku tinggal di desa Kemangi, Mas. Didekat pantai Green," jawab Tari.


"Didekat pantai Green? Aku berulang kali mencari kamu disana, Tari. Orang-orang suruhan mama dan papaku juga mencari kamu disana. Tapi kamu gak ada," jelas Fadly, ia sungguh heran. Selama ini ia sudah mencari berkeliling dan bertanya pada penjaja topi dan yang lainnya tentang Tari. Tapi tidak ada satupun yang tahu, padahal Tari memang tinggal didarah itu. Mungkin memang Tuhan belum menakdirkan mereka untuk bertemu.


"Untuk apa orang-orang suruhan mama dan papa Mas Fadly mencariku juga Mas?" tanya Tari, sedikit rasa takut menggelayuti hatinya.


"Mama dan papaku sudah mengizinkan aku menjalin hubungan dengan kamu. Apakah kamu masih mau menerima aku menjadi pacar kamu?" Fadly langsung memberitahu Tari tentang restu dari orang tuanya.


"Ta-tapi, Mas. Ak-aku..." ucapan Tari terbata-bata, Ia sangat bahagia dengan kabar yang diucapkan Fadly barusan, tapi ia bingung harus memulai dari mana mengatakan jika ia sudah pernah menikah dengan Sandi.


"Aku..." Tari ragu mengatakannya. Bagaimana nanti reaksi Fadly? Apakah Fadly masih mau menjalin hubungan dengannya jika ia mengatakan jika ia sudah pernah menikah?


"Aku apa? Tari, bilang dong kamu kenapa? Kamu sudah punya pacar?" Fadly sudah sangat tidak sabar mendengar apa yang akan diucapkan oleh Tari.


Aku sudah pernah menikah, Mas. Ucapan itu hanya berani Tari ucapkan dalam hati saja. Ia masih sangat mencintai Fadly. Ia tidak ingin Fadly berubah pikiran jika mengetahui kalau dirinya adalah seorang janda.


Tari menarik napas sebelum berbicara, "Mas Fadly sekarang ada dimana? Bagaimana kondisi Mas Fadly setelah kecelakaan waktu itu?"


"Kamu mau bilang apa tadi Tari? Aku apa? Bukan itu yang mau kamu ucapkan tadi kan? aku tahu," Fadly sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang akan diucapkan Tari tadi.

__ADS_1


Fadly mendengus, ia sedikit kesal dengan Tari. "Dimana alamat rumah kamu? Kirimkan alamat rumah kamu melalui pesan, aku akan pergi kesana sekarang juga." tut, panggilan diakhiri oleh Fadly.


"Halo! Halo! Mas Fadly!" Tari panik.


Sementara Fadly yang telah mengakhiri panggilan itu secara sepihak langsung bersiap-siap karena ia akan bertolak ke rumah Tari, Ia akan pergi ke pantai Green. Sebelumnya, tentu saja ia harus banyak memberikan pengarahan pada Arya, sahabatnya sekaligus orang kepercayaannya, apa saja yang harus dilakukan jika ia tidak ada.


Tari berulang kali mencoba menghubungi Fadly kembali, namun Fadly tidak menjawab panggilan Tari, karena di rumahnya Fadly sedang sibuk memberitahukan Arya apa saja yang harus dilakukannya. Sebenarnya Fadly merintis usaha bersama dengan Arya, namun Arya memberi kepercayaan pada Fadly sebagai pemimpin sedangkan dirinya hanya sebagai bawahan saja. Oleh sebab itu, Fadly menjadikan Arya orang kepercayaannya di usaha travelnya itu. Dengan begitu, Fadly bisa pergi kemanapun dengan tenang karena ada Arya yang ia percaya.


Setelah selesai memberitahukan Arya, Fadly melangkah keluar. Ia sudah memesan taxi untuk mengantarnya ke Bandara. Saat sedang menunggu taxi nya yang sebentar lagi datang, ternyata Divya datang berkunjung ke rumahnya yang sekaligus tempat usaha Fadly tersebut.


Divya yang baru saja datang melihat Fadly membawa koper, "Bli? Bli mau kemana?"


"Ah, Divya. Aku mau menemui Tari. Tadi ada seseorang, dia kenalan Tari. Dia yang memberitahuku tentang Tari dan memberitahu nomor ponsel Tari," ucap Fadly dengan mata berbinar, hal itu tampak jelas oleh Divya.


Divya yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan mengatakan, "Hati-hati dijalan, Bli. Dan semoga sampai ketempat tujuan dengan selamat."


Fadly memang sudah pernah menceritakan tentang Tari pada Divya. Divya pernah bertanya padanya mengapa anak konglomerat sepertinya malah memilih merintis usaha kecil. Alih-alih menjadi penerus perusahaan orang tuanya, Fadly malah menjalankan usaha dari nol yang tidak ada apa-apanya di banding perusahaan orang tuanya.


Fadly menjawab pertanyaan Divya dengan jujur, karena ia ingin membuktikan pada kedua orang tuanya, bahwa ia bisa maju tanpa bantuan orang tuanya. Dan Fadly juga menjawab sekaligus memberitahu Divya, ia seperti itu karena Tari. Tari adalah kekasihnya yang ia cari-cari karena ia tidak tahu keberadaan Tari yang sudah pindah dari desa tempat tinggalnya.


Tarilah motivasi terbesarnya untuk terus maju, ia ingin membuktikan pada orang tuanya bahwa Tari itu gadis yang baik, tidak matre dan gila harta. Dengan menceritakan sedikit tentang Tari pada Divya, Fadly berharap semoga Divya paham bahwa Fadly tidak memiliki perasaan apapun pada Divya. Selama ini Divya dengan terang-terangan menunjukkan gelagat bahwa ia menyukai Fadly.


.


.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2