
Pernikahan Fadly dan Tari diadakan di Hall Lea Dewantara Hotel. Tempat itu telah diubah menjadi tempat yang amat sangat indah, penuh bunga-bunga putih dan pink yang bergantungan dilangit-langit.
Pernikahan sakral tengah berlangsung, Fadly mengucapkan ijab qabul dengan lantang. Akhirnya Fadly dan Tari kini sah menjadi pasangan suami istri. Tari menyalami dan mencium tangan Fadly. Fadly dengan hati yang penuh kebahagiaan mencium kening Tari.
Tari juga sangat bahagia, hal yang diimpikannya untuk menjadi istri Fadly kini sudah menjadi kenyataan. Tapi disisi lain ia sedih karena yang menjadi wali nikahnya bukanlah bapaknya.
Tari sangat cantik dengan gaun rancangannya sendiri. Nyonya Shofia membeli batu permata dengan kualitas yang sangat bagus yang akan digunakan sebagai hiasan di gaun pengantin Tari diacara akad nikah. Fadly juga memakai baju yang sepasang dengan Tari. Tari jugalah yang merancang baju untuk Fadly. Tapi karena Nyonya Shofia tidak ingin Tari terlalu lelah, maka yang menjahit gaun Tari dan baju Fadly bukan Tari, Tari hanya merancang saja.
Diacara akad nikah, mereka hanya mengundang sedikit orang, hanya para saudara-saudara terdekat saja. Mereka ingin akad nikah Fadly dan Tari menjadi suatu pernikahan yang sakral. Yang tidak banyak media yang meliput.
Bu Rosita menyaksikan pernikahan Tari, sang anak tiri yang telah hidup dengannya selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Sejak Tari berusia lima belas tahun Bu Rosita mengenal Tari, mereka terikat hubungan anak dan ibu tiri. Melihat pertumbuhan Tari, mulai dari remaja hingga kini ia telah dewasa.
Bu Rosita menjadi saksi betapa Tari adalah anak yang baik, meskipun dulu Bu Rosita pernah bersikap kasar padanya, Tari tak pernah membalas perlakuan kasar tersebut. Malah pernah ketika Pak Syabani belum meninggal, Bu Rosita mendengar Tari mendoakannya di sepertiga malam. Membuat Bu Rosita meneteskan air matanya.
Kini Bu Rosita melihat, kebahagiaan Tari sangat jelas terpancar. Ia juga tidak ingin menjadi ibu tiri yang jahat seperti dulu. Diam-diam ia juga sering mendoakan Tari, agar Tari hidup bahagia bersama orang yang dicintai dan mencintainya. Ia juga mendoakan semoga tidak ada lagi manusia-manusia berhati iblis yang mengganggu Tari.
Kini Tari dan Fadly menuju kearahnya, setelah mereka selesai bersalaman dan melakukan prosesi sungkeman pada Tuan Haris dan Nyonya Shofia. Fadly yang pertama menyalami Bu Rosita, kemudian giliran Tari. Belum apa-apa air mata Tari sudah menganak sungai.
Tari menyalami Bu Rosita dan bersimpuh di pangkuan ibu tirinya itu dan berbisik lirih, "Terimakasih, Bu! Sudah menemani Tari sejauh ini. Menemani Tari disaat Tari terpuruk kehilangan bapak. Tari gak tahu bagaimana masa remaja Tari akan terlewati kalau ibu gak ada. Terimakasih karena ibu sudah menemani saat-saat terakhir bapak. Meskipun bapak sangat mencintai ibu Tari, tapi Tari tahu bahwa bapak juga mencintai ibu. Terimakasih sudah mengajarkan kebaikan sama Tari. Maafin Tari jika selama ini banyak kesalahan sama ibu. Maafin Tari..."
"Sudah Tari, sudah..." ucap Bu Rosita memotong kalimat panjang yang diucapkan Tari. Bu Rosita juga tidak kalah terharu, sejak melihat Tari keluar dan duduk disebelah Fadly. Bu Rosita sudah menangis. Meskipun Tari adalah anak tiri, tapi Tari lah yang membuatnya menjadi seorang ibu yang memiliki anak, karena ia tidak memiliki anak kandung.
__ADS_1
Bu Rosita dicerai suami pertamanya karena ia di vonis mandul. Pak Syabani, bapak Tari yang mau menerima Bu Rosita apa adanya. Mengingat itu, air mata Bu Rosita semakin deras jatuh ke pipinya. Entah jadi apa dirinya jika tidak ada keluarga Tari.
Sejak bertemu dengan Tari, ia sudah menyayangi Tari. Anak yang cerdas, sederhana dan memiliki hati seluas samudera itu. Hingga sekarang sayang itu tidak pernah luntur, malah semakin bertambah.
Bu Rosita mengusap punggung Tari, "Seharusnya ibu yang minta maaf sama kamu, ibu yang harusnya berterimakasih sama kamu. Betapa egoisnya ibu, hanya karena harta ibu pernah berlaku dan berkata kasar sama kamu selama bertahun-tahun. Ibu minta maaf nak! Ibu..."
"Enggak bu, enggak!"
Tari menggeleng, ia berdiri memeluk sang ibu, "Jangan minta maaf, ibu gak salah, jangan minta maaf bu!" ucap Tari berderai air mata.
Keduanya tidak dapat berkata-kata beberapa saat karena suasana semakin mengharu biru. Mereka saling berpelukan, saling mengungkapkan rasa sayang.
"Seberapapun salah ibu, Ibu tidak perlu minta maaf. Tari tahu yang ibu lakukan adalah bentuk kasih sayang ibu sama anak," ucap Tari saat sudah bisa mengontrol dirinya untuk tidak mengeluarkan air mata lagi.
"Ibu sayang sekali sama kamu Tari."
"Tari juga bu. Tari sangat menyayangi ibu."
Keduanya melepaskan diri, menghapus air mata masing-masing. Tari dibantu Fadly yang kini sudah menjadi suaminya untuk menghapus air matanya. Kini mereka berjalan perlahan kearah Lea. Sang kakak yang mereka langkahi.
Lea sudah mengetahui jika Tari ternyata adalah janda. Andi telah menceritakan semuanya pada Lea. Lea sangat terkejut, ia benar-benar tidak percaya. Lea sangat berharap yang diucapkan Andi ketika di mobil adalah candaan saja. Karena memang Andi orang yang humoris, suka bercanda. Itu juga salah satu point yang membuat Lea semakin mencintai Andi.
__ADS_1
Namun malam itu wajah Andi sangat serius. Jadi, yang dulu ia hadiri pernikahannya itu adalah pernikahan Sandi dan Tari. Pantas saja Tari tidak ingin keluar menemui rombongannya. Waktu itu, Lea mengira bahwa Tari sangat kelelahan sampai berani sekali tidak menyalami atasan dari suaminya. Tapi ternyata Tari sedang menghindari dirinya.
Lea juga sudah mendengar penjelasan dari Fadly dan Tari. Fadly sudah mengetahui kalau Tari itu seorang janda, dan Fadly dengan lapang dada menerima Tari apa adanya. Tari sendiri juga telah menceritakan alasannya mau menikah dengan Sandi. Setelah mendengar penjelasan Fadly dan Tari, Lea bisa diajak berkompromi. Mereka semua setuju untuk menutupi hal ini dari Tuan Haris dan Nyonya Shofia.
Setelah pengantin berkeliling menyalami para keluarga yang hadir, sekarang waktunya untuk melanjutkan ke acara pesta resepsi pernikahan. Ada jeda selama beberapa jam untuk melanjutkan keacara pesta resepsi. Karena resepsi akan diadakan malam hari.
Mereka gunakan untuk berganti kostum. Kostum untuk acara resepsi juga adalah rancangan Tari. Gaun itu sangat menakjubkan, dipenuhi dengan mutiara eksklusif dengan harga fantastis yang dipesan langsung oleh Nyonya Shofia dari China. Gaun itu juga di lengkapi dengan batu permata yang indah nan elegan, siapapun yang melihatnya pasti berdecak kagum akan kemewahannya.
Tari sedang berada di sebuah kamar yang khusus untuk dirinya dan Fadly. Dimana disana ia dirias dan mengganti kostum pesta. Saat sedang dirias, Tari mendengar suara berisik diluar ruangannya. Ia mendengar, suara Fadly dan Nyonya Shofia saling beradu argumen.
"Sekarang buka pintunya Fadly!" suara Nyonya Shofia semakin kuat, sehingga terdengar sampai kedalam kamar pengantin.
Terdengar suara handle pintu dibuka. Tari tidak bisa menoleh karena wajahnya sedang dirias oleh Handoko, orang yang dipercaya dapat merubah wajah Tari agar semakin cantik dihari bahagianya. Meskipun tidak dapat menoleh, akan tetapi ia bisa melihat dari pantulan kaca siapa yang datang. Nyonya Shofiadan diikuti Fadly dibelakangnya.
Nyonya Shofia menyuruh Handoko dan tim perias lainnya untuk keluar sebentar. Tanpa banyak tanya mereka keluar dari kamar itu.
"Kenapa kamu tidak mengatakan pada mama sebelumnya jika kamu janda?"
.
.
__ADS_1
To Be Continued...