
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, di salah satu kota negara maju milik Amerika. Mereka, keluarga Dewantara kini sedang menurunkan brankar dibantu beberapa pegawai rumah sakit yang sudah stand by menunggu mereka dari jet pribadi yang mereka gunakan untuk sampai di negara itu.
Di brankar itu terbaringlah Fadly yang tidak sadarkan diri karena sudah di beri obat bius oleh dokter suruhan Tuan Haris.
Mereka kini berada di lantai paling atas atau atap gedung rumah sakit yang berada di Amerika, mereka harus cepat membawa Fadly ke ruangan yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit, sebelum pengaruh bius itu hilang dan Fadly membuka matanya.
Bukannya tidak ada alasan Tuan Haris membawa Fadly jauh dari tempat tinggal mereka ke negara itu, melainkan untuk melanjutkan pengobatan cidera kepala yang dialami Fadly. Dan juga alasan lainnya yaitu untuk menjauhkan Fadly dari Tari tentu saja.
Tidak lama kemudian, setelah Fadly sudah berada di ruangannya dan semuanya sudah rapi. Perlahan Fadly membuka matanya.
Nyonya Shofia segera mendekati Fadly dan mengelus kepala Fadly dengan sedikit mengeluarkan air matanya dan berbicara pada Fadly.
"Kamu sudah sadar, sayang? Kemarin kamu drop dan papa cepat-cepat bawa kamu ke Amerika untuk melanjutkan pengobatan cidera kepala kamu."
Padahal hal itu tidak terjadi. Saat Fadly tertidur, Tuan Haris menyuruh dokter menyuntikkan obat bius. Kemudian mereka dengan cepat menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk pergi ke Amerika.
Fadly mengernyit, ia memandangi ruangannya perlahan. Dan menatap jauh ke luar jendela. Lalu ia memegang kepalanya yang pusing.
Bagaimana tidak pusing, Fadly dibius beberapa kali. Karena perjalanan yang panjang dari Jakarta ke Amerika sehingga obat bius hanya tahan beberapa jam saja. Ketika pengaruh bius sudah akan habis, dokter akan menyuntikkan kembali bius itu ketubuh Fadly.
"Jadi, sekarang kita ada di Amerika, Ma?" tanya Fadly dengan suara serak.
Nyonya Shofia tersenyum, "Iya, sayang. Kamu semangat ya, cepat pulih, cepat sehat."
"Ma, kepalaku pusing banget, sshhh," ucap Fadly sembari memegangi kepalanya.
Nyonya Shofia menekan bel, memanggil tenaga kesehatan yang sedang berjaga. Tidak berapa lama masuklah perawat bersama seorang dokter. Mereka memeriksa keadaan Fadly.
Karena selama lebih dari dua puluh jam perjalanan menggunakan jet pribadi keluarga Dewantara, Fadly dalam keadaan tidak sadar. Oleh karena itu juga perutnya tidak terisi makanan apapun. Dokter menyarankan agar Fadly makan terlebih dahulu, baru kemudian meminum obat yang sudah di berikan dokter, setelah itu istirahat kembali.
Fadly pun menurutinya, ia makan meskipun sangat tidak berselera, meminum obat dan kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Saat Fadly tertidur Nyonya Shofia menelepon Tuan Haris yang memang sedang tidak ada di rumah sakit. Tuan Haris sedang melakukan meeting online melalui zoom di Apertement milik keluarga Dewantara yang ada di negara itu.
Karena mendapat kabar yang tidak baik, Tuan Haris pun langsung menyudahi meeting online nya, kemudian segera pergi ke rumah sakit tempat Fadly dirawat.
Tuan Haris meminta dokter terbaik yang ada di rumah sakit itu untuk merawat Fadly hingga sembuh, tanpa ada efek samping apapun.
***
Setelah satu bulan Fadly dirawat di rumah sakit di Amerika, cidera kepalanya sudah membaik. Sebenarnya sejak satu minggu yang lalu juga sudah dikatakan baik oeh dokter. Tapi, dokter belum mengizinkan Fadly untuk pulang.
Dokter harus melihat perkembangan penyembuhan cidera kepala Fadly. Barulah setelah benar-benar membaik dan 100% pulih, Fadly diizinkan pulang.
Selama satu bulan bahkan lebih itu pula, Fadly dan Tari tidak saling berkomunikasi. Tidak tahu kabar satu sama lain. Namun, hati mereka masih saling terikat.
Jauh beribu-ribu kilometer dari tempat Fadly kini berada. Tari dan Sandi sedang disibukkan dengan di gelarnya persidangan terakhir kasus penganiayaan yang dialami Tari.
Sandi merasa sudah sangat dekat dengan Tari, sedangkan Tari meskipun raganya dekat dengan Sandi tetapi hatinya tetap bersama Fadly.
Di persidangan itu sendiri juga hadir Adelia, adik dari tersangka, Max. Adelia menatap jijik kearah Tari. Tari yang ditatap hanya cuek saja tidak ada memberikan respon apapun pada Adelia.
Persidangan itu berjalan alot, namun kasus dimenangkan oleh Tari. Sedangkan Max dan Evan akan dikenakan hukuman masing-masing delapan tahun penjara. Karena mereka sudah melakukan tindak penganiayaan dengan berencana.
Tari pun akhirnya bernapas lega, karena orang yang sudah menganiaya dirinya telah mendapatkan hukumannya. Tadinya Tari tidak menyangka jika Max adalah dalang dari semua ini. Karena Max sudah berbaik hati membawanya ke rumah sakit pada hari itu dan Max juga membayarkan biaya rumah sakit untuk pengobatan lukanya hingga ia sembuh. Ternyata dibalik kebaikan Max itu, Max menutupi kejahatan yang sesungguhnya.
Di beberapa kali persidangan juga Tari selalu berjumpa dengan Adelia dan Adelia juga pernah berkata jika dia adalah adik Max. Jika Max mendapatkan hukuman yang berat Adelia akan balas dendam pada Tari.
Sandi yang mendengarnya hanya tertawa sinis. Dan sempat berkata dia akan melindungi Tari dari siapa saja yang akan berbuat jahat pada Tari, karena Tari adalah calon istrinya.
Adelia membelalakkan matanya setelah mendengar itu. Ternyata perkiraan Adelia dan keluarga Dewantara selama ini benar, jika Tari adalah gadis kampung yang matre yang hanya menggaet laki-laki kaya saja.
Hal ini adalah kabar gembira untuk Adelia. Tidak sia-sia Tuan dan Nyonya Haris Dewantara membawa Fadly jauh dari Tari. Ternyata kini Tari sudah menemukan pengganti Fadly. Adelia mencibir Tari yang hanya bisa mendapatkan Sandi.
'Gadis kampung memang cocoknya dengan pria kampung. Haha, kalian pasangan yang sangat serasi' ucap Adelia dalam hatinya.
Bukan hanya Tari saja yang sudah bernapas lega, Sandi pun kini sudah bisa bernapas lega. Kini dirinya dan Tari sudah tidak perlu datang-datang ke persidangan lagi. Dan calon mertuanya juga sudah dibawa pulang.
Berarti dirinya dan Tari sudah bisa melangsungkan pernikahan. Memikirkan itu, Sandi senang sekali. Semua sudah dipersiapkan sejak sebulan yang lalu oleh ibunya. Bahkan surat-surat yang diminta Tari pun sudah selesai. Karena Tari hanya mau menikah sah secara agama dan negara. Sandi berusaha menuruti semua kemauan Tari.
Sore harinya mereka, Tari dan Sandi sudah sampai di rumah kontrakan milik ibu Sandi yang masih di tempati Tari. Setelah mengantar Tari, Sandi tidak langsung pulang ke rumahnya. Melainkan ia malah masuk ke dalam rumah Tari tanpa di persilahkan oleh Tari.
Bahkan yang masuk duluan adalah Sandi. Karena pintu rumah tidak ditutup, mungkin Pak Syabani baru saja duduk diteras rumah. Karena memang sudah kebiasaan Pak Syabani jika sore-sore begini, ia akan duduk di teras menikmati suasana sore dan melihat orang yang sedang lalu lalang di jalan depan rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan Tari masih diluar menatap jengah kearah Sandi yang sudah masuk bahkan duduk dikursi ruang tamu Tari.
Pria itu memang seperti itu, suka seenak jidatnya saja. Tanpa sopan memasuki rumah orang sembarangan. Tari hanya bisa cemberut dan bersungut-sungut dalam hati saja, tidak berani secara langsung mengungkapkan isi hatinya.
Dengan rasa malas, Taripun melangkah kan kakinya memasuki rumahnya. Ia menoleh kearah Sandi yang sudah menunggu Tari masuk.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam," terdengar suara Bu Rosita yang menjawab salam Tari.
Bu Rosita yang sedang berada di dapur pun melihat ke ruang tamu.
Bu Rosita tersenyum, "Sudah pulang kalian?"
"Sudah, Bu," jawab Tari.
"Bapak dimana, Bu?" Tari melanjutkan dengan bertanya.
"Bapak di belakang rumah, tadi baru aja dia duduk di teras. Trus bosen, jadi pindah ke belakang."
"Nak Sandi mau minum apa?" tanya Bu Rosita dengan ramah.
"Apa saja boleh, Bu," jawab Sandi.
Bu Rosita kembali ke dapur hendak membuatkan minum untuk calon menantunya itu. Jika dulu dirinya sangat mendukung Tari untuk menikah dengan Sandi. Berbeda dengan sekarang, Bu Rosita sudah mengetahui jika Tari terpaksa mau menikah dengan Sandi agar bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi bapaknya.
Tari sudah menceritakan kejadian dimana Sandi melecehkannya waktu itu. Dan Bu Hanifa seolah malah mendukung anaknya berbuat yang tidak seharusnya dilakukan pada Tari.
Bu Rosita sudah benar-benar sadar, ia sangat membenci orang yang melakukan pelecehan. Dan ia sangat kasihan pada Tari. Tapi apa yang bisa ia lakukan untuk Tari, ia tidak punya uang banyak untuk membantu biaya operasi suaminya.
Jadi, ketika Tari memasrahkan dirinya untuk menikah sengan Sandi agar bisa membiaya operasi bapaknya, Bu Rosita hanya bisa mendoakan Tari agar hidupnya bahagia bersama Sandi. Dan Sandi bisa menjadi suami yang baik untuk Tari nantinya.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤