
Fadly mengambil ponselnya yang sedang berdering dari saku celananya. Ia menatap layar ponselnya sekilas, ternyata mamanya yang menelepon. Dengan cepat ia keluar dari mobil dan mengangkat telepon itu.
"Ya, Ma," sapa Fadly ketika telepon sudah tersambung.
"Kamu lagi dimana, sayang?" tanya sang mama.
Sekilas Fadly menatap Andi, dengan nada malas ia menjawab, "Lagi di kampus, Ma," Lalu ia memijit sedikit keningnya yang terasa pusing tiba-tiba.
"Kok males gitu sih jawabnya?" tanya sang mama heran.
"Ini baru jam sembilan, tapi mama menelepon itu udah berapa kali sih? Tadi aku bilang kan mau ke kampus, karena aku harus konsul ke dosen pembimbing tentang skripsi aku. Kenapa ini di tanya lagi sih ma?"
"Salah mama bertanya? mama itu rindu sama kamu, sayang. Berbulan-bulan kamu gak pulang ke rumah, terus kamu udah pulang malah mama yang pergi. Mama belum sempat bicara banyak sama kamu."
"Yaudah, Ma. Gak usah khawatirin aku. Aku baik-baik aja, aku bisa jaga diri aku, bahkan aku juga bisa jaga kak Lea. Sekarang mama harus fokus jaga papa di sana ya!"
Terdengar oleh Fadly bahwa di seberang sana mamanya sedang menghela napas panjang.
Nyonya Shofia adalah type ibu yang tidak suka berdebat. Berdebat dengan anak, maupun dengan suami. Tetapi dia lebih suka bertindak.
Karena tidak ada jawaban dari sang mama, kembali Fadly mengeluarkan suara, "Sekarang gimana keadaan papa, ma?"
"Papa sudah membaik, rencananya dalam minggu ini papa akan pulang ke Indonesia," jawab Nyonya Shofia.
Raut wajah Fadly berubah seketika. Tadinya wajahnya tampak murung, keningnya mengerut, ketika ia mendengar kabar baik itu, ia tampak sumringah. Karena ia akan mengenalkan Tari pada mama dan papanya.
"Yang bener, Ma?" tanya Fadly dengan penuh semangat.
"Iya sayang, jadi nanti dokter dari rumah sakit Singapura berkolaborasi dengan dokter yang ada di Indonesia tentang kesehatan papa. Rencana papa akan rawat jalan di rumah sakit yang ada di Indonesia aja. Biar lebih mudah," jawab Nyonya Shofia menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Syukur deh ma, aku seneng banget dengernya. Semoga dalam waktu dekat mama dan papa bisa pulang ya."
"Ada apa, sepertinya kok kamu semangat sekali sih?" tanya Nyonya Shofia penasaran.
"Gak ada apa-apa, Ma. Kan bukan cuma mama yang rindu, aku juga rindu sama mama sama papa," jawab Fadly meringis, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bohong kamu, kalau kamu rindu trus kenapa pulangnya tunggu di jemput? tunggu papa sakit baru kamu pulang?" ucap Nyonya Shofia dari seberang telepon.
Fadly kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan hanya tertawa terkekeh. Lalu ia melirik ke dalam mobil dimana Tari sedang duduk di sana.
Fadly menyudahi panggilan dari mamanya dan mengatakan jika dosen pembimbingnya sudah datang. Ia takut jika Tari menunggu terlalu lama di dalam.
Sesaat setelah sambungan telepon terputus, Fadly kembali masuk ke dalam mobil menemui Tari.
"Maaf ya lama," ucap Fadly ketika sudah berhadapan dengan Tari.
Tari menilai raut wajah Fadly. Tadi ketika keluar hendak mengangkat telepon wajahnya terlihat sangat kusut. Tapi kini, wajahnya sumringah, bibirnya pun tampak mengembang dan melengkung keatas. Sungguh lelaki ini sangat hebat bisa merubah raut wajahnya dalam sekejab, seperti bintang sinetron. Bahkan ia juga bisa merubah suasana hati orang lain dalam sekejab. Bagitulah yang ada dipikiran Tari.
Kening Tari mengerut, tidak tampak raut bahagia diwajah itu, "Mau ngenalin?, untuk apa mas?"
"Mmmmm... " Fadly tampak berpikir, pandangan matanya keatas dan ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
"Pertanyaan kamu salah, bukan untuk apa, tapi sebagai siapa," Fadly kembali tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Sedetik kemudian ia melanjutkan, "Aku bakal ngenalin kamu ke keluargaku sebagai calon istriku."
Tari mengerjap, Tari tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang ini. Dan ia juga tidak tahu harus senang atau malah sebaliknya. Ketika ia sudah mempersiapkan hatinya untuk melupakan Fadly, justru Fadly datang dan mengatakan akan mengenalkannya pada keluarganya.
Bahkan Tari tidak tahu perasaan Fadly terhadapnya seperti apa. Jelas saja, karena Fadly tidak pernah mengatakannya. Fadly tidak mengatakan jika ia mencintai Tari, atau menyayangi Tari atau menyukai Tari. Tidak pernah.
__ADS_1
Lelaki itu hanya mengatakan jika ia rindu padanya. Dulu memang Fadly pernah mencium Tari, tadi juga ia memeluk Tari. Tapi Tari tidak ada mendengar jika dirinya disukai atau apapun sejenisnya oleh lelaki itu. Ciuman atau pelukan apa bisa diartikan bahwa orang itu mencintai kita? Bisa saja karena orang itu nafsu pada kita.
Lalu, apakah sekarang Tari harus bahagia dengan pernyataan Fadly tadi bahwa ia akan dikenalkan sebagai calon istri Fadly? Entahlah, Tari tidak bisa menjawabnya.
Fadly terus menatap Tari dengan lekat, senyum tipisnya selalu tercetak diwajahnya. Ia memegang tangan gadis cantik itu, "Tunggu aku ya, sebentaaar aja, palingan satu minggu. Aku bakal menyelesaikan semua urusan aku dan kemudian jemput kamu untuk bertemu keluargaku, kamu mau kan?"
Fadly berniat akan menyudahi hubungannya dengan Adelia, tentu tidak mudah yang harus ia hadapi, Adelia, orang tua Adelia juga tentunya mama dan papanya. Kemudian ia juga harus segera menyelesaikan skripsinya agar bisa ikut wisuda ditahun ini juga. Itulah urusan yang dimaksud Fadly.
"Saya gak tahu harus jawab apa mas, sekarang ini bapak saya sakit, sakitnya semakin parah. Saya sedang berusaha semampu saya, sekuat tenaga saya mencari uang untuk membiayai perobatan bapak saya," Tari menunduk pilu.
Tanpa sadar Tari sudah terisak. Sedangkan Fadly kembali merogoh saku celananya karena ponselnya bergetar. Tadi ia sengaja memasang mode getar pada ponselnya agar tidak ada yang mengganggu waktunya dengan Tari.
Nyatanya sudah berulang kali ponselnya terus saja bergetar, terpaksa ia harus melihat siapa yang sedang meneleponnya. Sebenarnya ia sangat tidak enak pada Tari, karena Tari sedang bercerita. Apalagi sekarang Tari sedang cerita sedih tentang bapaknya.
Tetapi ponselnya juga sangat mengganggu dan terus saja bergetar. Dengan sangat tidak enak hati Fadly kembali mengangkat teleponnya.
"Maaf Tari, tunggu sebentar ya," Fadly menunjukkan ponselnya, memberi isyarat pada Tari bahwa ada yang meneleponnya.
Fadly pun kembali keluar dari mobilnya dan mengangkat telepon itu. Kali ini yang menelepon adalah kakaknya, Lea.
"Hallo, Fadly, kamu dimana sih? kakak repot nih ngurus meeting. Hari ini ada pertemuan para pemegang saham, kakak yang akan handle. Dan kamu kakak tugaskan untuk meeting dengan orang yang mengajak kita kerja sama. Tugas kamu hanya mendengarkan mereka presentasi kemudian kamu catat point-point yang menjadi keuntungan bagi Dewantara Corp. Kamu pilih perusahaan mana yang cocok dan tidak cocok untuk diajak dalam kerja sama bisnis ini," tutur Lea panjang lebar.
Fadly sangat paham bagaimana kesibukan kakaknya di perusahaan, ia tidak bisa menolak dan membiarkan saja kakaknya sendirian di kantor. Lantas, bagaimana dengan Tari? Tentu gadis itu pasti akan sangat kecewa bila di tinggal pergi ke kantor begitu saja.
#####
Next >>>>>>>>>
Mohon dukungannya
__ADS_1
dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..
Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤