
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Sandi mendekati Tari, "Ada apa malam-malam dan hujan begini kamu kesini?"
"Sa-saya..." Tari menghentikan kata-katanya.
Sandi melangkah ke pintu rumahnya dan membuka pintu itu dengan kunci.
"Mau masuk dulu?" tawar Sandi.
"Tidak Mas, terimakasih. Saya cuma mau bi-" Tari menghentikan kalimatnya.
Karena Sandi sudah masuk ke dalam tanpa mendengar Tari berbicara.
'Apa-apaan sih, orang mau bicara dia ngeloyor aja pergi, gak ada sopan santunnya sekali' Tari mengucapkannya dalam hati.
Tari tidak berani mengikuti Sandi masuk karena sepertinya tidak ada orang di rumah itu. Tari takut kejadian seperti di rumahnya kemarin terulang kembali. Tari hanya menunggu Sandi di luar.
Benar saja, ketika Tari tidak masuk ke dalam. Sandipun keluar lagi melihat Tari yang masih berdiri di teras. Sandi menghela napasnya kasar, Ia sedikit kesal.
"Ada apa sih, disini dingin, baju kamu juga basah tuh, biar Mas ambilkan handuk, ayo masuk!" ucap Sandi kesal.
"Gak usah Mas, disini saja. Saya mau pinjam uang untuk biaya operasi bapak saya. Saya benar-benar butuh Mas. Saya mohon kemurahan hati Mas Sandi untuk memberikan saya pinjaman uang," ucap Tari yang awalnya ragu-ragu.
Sandi memalingkan wajahnya kearah lain lalu ia tertawa terbahak-bahak, "Tari...Tari... kamu lucu ya, iiih gemes deh lihat kamu."
Sandi kembali tertawa, menertawakan Tari tentu saja. Namun Tari tidak tahu apa yang lucu dari dirinya. Ia merasa sedang kesusahan meminta tolong pada Sandi tapi malah ditertawakan.
Lalu Sandi duduk di kursi teras depan rumahnya dan menatap Tari yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa pipi kamu diperban seperti itu?" tanya Sandi.
"Kecelakaan Mas," jawab Tari singkat, tidak ingin panjang lebar membahas tentang luka di wajahnya.
"Uang kontrakan rumah yang nunggak saja belum kamu bayar, kamu mau pinjam uang sekarang?" Sandi berujar dengan tetap menatap Tari dengan intens.
Tari menelan ludahnya dengan susah payah, tidak bisa menjawab apa-apa. Toh dirinya juga memang tidak punya apa-apa.
"Bagaimana penawaran Mas Sandi yang baik hati ini? Kalau kamu bersedia menerimanya, Mas Sandi kasih berapa pun kamu mau, tidak usah pinjam, Mas kasih buat kamu sayang," ucap Sandi yang mulai narsis dan mencoba menggoda Tari.
Tari tertunduk lesu.
"Biaya operasi bapak kamu akan Mas kasih, uang kontrakan rumah yang nunggak lunas, bapak dan ibu kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kapanpun tidak perlu membayar lagi. Asal..."
Sandi menjeda ucapannya melihat reaksi wajah Tari, "Asal apa? kamu tahu kan?"
Tari mengangguk.
__ADS_1
"Apa?" jawab Sandi dengan senyum menggoda.
Dari sejak awal sebelum datang ke rumah Sandi pun Tari memang sudah memasrahkan dirinya untuk menikah dengan Sandi. Karena minimnya saudara dan orang yang Tari kenal, sehingga jalan satu-satunya adalah menerima tawaran Sandi. Karena jika kita masih tidak berpunya jangankan orang lain, setan saja pun pura-pura tidak mengenal kita. Sedangkan jika kita kaya, jangankan saudara, orang lain saja bahkan setan pun mengaku saudara kita, itulah kehidupan.
Bagi Tari pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral. Tari sendiri menginginkan suatu hari nanti menikah dengan seseorang yang dicintai dan mencintainya dengan sepenuh hati. Tapi untuk saat ini ia merelakan cintanya dengan seseorang yang sekarang ia sendiri tidak tahu keadaannya bagaimana demi bapaknya.
Bapaknya sedang sekarat melawan penyakitnya yang tak kunjung sembuh bila tidak segera dioperasi. Tari tidak akan membiarkan bapaknya terus-terusan merasakan kesakitannya sendirian.
Jika Sandi bersedia memberikan uang untuk biaya operasi bapaknya, maka Tari akan melihat bapaknya hidup lebih lama. Bukannya kita harus berusaha terlebih dahulu, soal hasilnya nanti Allah lah yang akan mengatur. Semoga saja ada jalan terbaik untuk bapaknya.
"Menikah dengan Mas Sandi," jawab Tari masih dengan kepala tertunduk.
"Yups, benar sekali. Menikah dengan Mas Sandi yang tampan, baik hati dan kaya raya, maka kamu bisa mendapatkan semuanya. No! salah, bukan semuanya tapi segalanya. Dan kamu bersedia?" Sandi berujar dengan memamerkan kesombongannya.
"Ya," jawab Tari singkat dan sangat pelan.
"Apa?"
"Ya," ucap Tari menaikkan suaranya.
"Ya apa?"
"Ya, saya bersedia Mas."
"Bersedia apa sayang?"
"Bersedia menikah dengan Mas Sandi."
Wajah Sandi sumringah mendengar ucapan Tari. Tari meminta uang itu malam ini juga segera dibayarkan ke pihak rumah sakit, agar bapaknya segera dioperasi.
"Apa? malam ini juga? Kalau begitu malam ini juga kita harus menikah."
"Mas Sandi yang punya uang sayang, Mas Sandi dong yang ngatur."
Tari menghela napasnya kasar, "Mas..."
"Ya sayang."
Mereka saling baradu pandang, tidak ada kata apapun yang diucapkan Tari setelah Sandi memberikan Tari kesempatan bicara.
"Kalau masalah surat-surat itu bisa kita urus belakangan, yang penting sekarang kita menikah dulu," Sandi menambahkan
"Ya tapi gak malam ini juga mas."
"Besok?"
"Besok sudah jadwal bapak saya operasi. Gak mungkin kan bapak saya operasi, sementara saya menikah. Kita menikah setelah bapak saya dioperasi dan sehat."
"Kok jadi kamu yang ngatur sih?"
"Terus bagaimana mas? Saya mohon, masih banyak waktu lain untuk menikah, tapi jangan besok," ucap Tari memohon dengan wajah sedihnya.
"Apa jaminannya nanti setelah Mas kasih uang untuk biaya operasi bapak kamu, dan kamu masih mau menikah dengan Mas? Bagaimana kalau setelah bapak kamu dioperasi, kamu kabur?"
"Astaghfirullah, itu gak mungkin Mas. Saya akan memenuhi janji saya. Lagian sembari menunggu bapak saya operasi dan tahap penyembuhan, kita bisa mengurus surat-surat untuk menikah kan?" Tari mencoba membujuk Sandi.
__ADS_1
Sandi tampak diam menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil.
Tari yang sedari tadi berdiri, kini ia bersimpuh didepan Sandi yang sedang duduk dikursi. Ia memegangi lutut Sandi dengan kedua tangannya, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak pernah ia menyangka sebelumnya akan melakukan hal ini.
"Saya mohon mas!! berikan uang itu sekarang dan saya akan membawanya ke rumah sakit dan langsung membayarkannya ke pihak rumah sakit. Saya janji tidak akan kabur kemanapun. Saya janji mas," kini buliran bening sudah jatuh membasahi pipi Tari.
Sandi memegang kedua tangan Tari yang ada dilututnya, entah angin apa yang membuat Sandi iba dengan gadis yang bersimpuh ini.
"Bapak kamu dirawat di rumah sakit mana?"
"Kasih Medica, Mas."
"Bukannya itu sangat jauh dari sini?"
Tari mengangguk lemah.
"Ok! Mas Sandi akan antar kamu ke rumah sakit itu. Mas Sandi sendiri yang akan membayarkannya."
Tari mendongak menatap Sandi, ia tersenyum dengan wajah yang sembab, "Terimakasih mas."
Sandi mengangguk. Ia masih menggenggam tangan Tari. Namun bukan Sandi namanya jika tidak mesum.
"Tapi, kasih Mas kiss dulu dong."
Tari mengernyit, lalu Sandi memberi kode dengan menunjuk pipinya. Tari berdiri, menarik tangannya yang digenggam Sandi.
"Gak mau?" tanya Sandi.
Tari menghela napasnya dengan lemah, kemudian ia menunduk, dan "Cup." Ia mencium pipi kanan Sandi.
Membuat pria mesum itu kembali tampak sumringah. Sandi pun berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah keluar, ia sudah memakai jaket ditubuhnya dan satu jaket lagi ada di tangannya. Ia memberikan jaket itu untuk Tari pakai.
"Nih, pakai," ujar Sandi sembari menyodorkan jaket itu pada Tari..
"Tidak usah Mas, terimakasih."
Sandi menunjukkan gestur tubuh yang seolah lemas karena jaket yang diberikannya pada Tari ditolak oleh Tari, tapi ia masih menyerahkan jaket itu dan tangannya masih terulur, "Ckkk."
Tari merasa tidak enak, dan akhirnya menerima jaket itu dan memakainya.
Mereka pergi ke rumah sakit dengan mengendarai mobil Sandi. Di perjalanan mereka tidak banyak bicara padahal jarak rumah mereka dengan rumah sakit itu sangat jauh.
Pengalaman baru bagi Tari, karena kali ini yang berada di belakang setir dan di sebelah kanannya bukanlah Fadly, sehingga ia cukup canggung. Ia berharap agar cepat sampai ke rumah sakit tempat bapaknya di rawat.
Lain halnya dengan Sandi, hatinya sangat bahagia malam ini. Seolah hatinya sedang bersiul saking bahagianya. Senyum dibibirnya tidak luntur sejak tadi, sesekali ia mengambil tangan Tari dan membawanya ke pahanya untuk di genggam. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam itupun dirasa kurang karena Sandi ingin lebih lama lagi bersama Tari dengan posisi seperti itu.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤