
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Seminggu kemudian...
Perawat melakukan tindakan untuk membuka perban diluka Tari sebelah kiri. Karena luka di sebelah kiri tidak terlalu dalam sehingga penyembuhannya lebih cepat di bandingkan luka yang sebelah kanan yang sedikit dalam.
Setelah dibuka ternyata luka itu tidak dijahit tetapi hanya menggunakan plester luka untuk merekatkan bagian yang robek tersebut.
Tari mengucapkan syukur dalam hatinya, karena wajahnya tidak semenyeramkan yang ia bayangkan selama ini. Bekas luka itu hanya tampak garis dari bawah telinga hingga ke dekat bibir. Meskipun garis itu nantinya akan tampak menghitam.
"Suster, yang disebelah kanan ini lukanya dalamkah," tanya Tari pada perawat yang sedang memberikan salep pada bagian yang luka setelah perban di buka.
"Dalam mbak Lestari, sekitar 1,2 centimeter. Tapi pria yang mengantar mbak Lestari waktu itu mengatakan untuk jangan menjahit luka ini, dia sudah bermohon pada dokter. Dan dokterpun mengusahakannya," jawab perawat itu seraya menunjuk luka di pipi Tari dengan jari telunjuknya.
Tari mengernyit, "Kenapa pria itu meminta untuk jangan menjahit luka ini? Tapi sebenarnya memang bisa luka robek yang dalam ini tidak dijahit sus? apakah tidak bahaya?"
"Pria itu mengatakan agar wajah mbak Lestari tidak cacat, karena kalau dijahit akan meninggalkan bekas luka yang membuat wajah menjadi tidak sempurna seperti semula. Dan masalah luka robek, kalau dalam hal ini luka mbak Lestari masih bisa untuk tidak dijahit tapi penyembuhannya akan lama. Dan kami sebagai perawat ditugaskan untuk sering mengganti perban pada luka mbak Lestari agar lukanya tidak infeksi. Namun sejauh ini lukanya baik-baik saja, tidak ada infeksi hanya saja itu tadi, yang di sebelah kanan ini penyembuhannya akan lama," tutur perawat tersebut.
"Oh begitu ya sus, berarti pria itu yang meminta agar tidak dijahit."
"Iya mbak Lestari, perhatian sekali pria itu. Apakah dia pacar mbak Lestari?" tanya perawat itu seraya tersenyum ramah.
"Bukan, suster, hahaha!! hanya kenal saja. Dekat juga gak," jawab Tari dengan jujur.
Setelah selesai, perawat itu keluar dari kamar rawat inap Tari.
Lalu lagi-lagi Tari berpikir bahwa Max adalah orang yang baik dan perhatian. Karena sampai masalah luka di wajahnya saja Max sudah berpikir sejauh itu dan meminta agar lukanya tidak usah dijahit.
Tari sempat menyesal karena telah bersikap dingin pada pria blasteran itu. Nyatanya pria itulah yang telah membantunya. Tapi, mengapa sudah satu minggu ini Max tidak menjenguknya? Kemana perginya Max? batin Tari.
Keadaan berbalik, disaat Tari sudah mulai membaik. Tapi kini, bapaknya lah yang sedang kritis. Namun Tari belum mengetahui itu. Karena ia belum di perbolehkan untuk berjalan keluar kamar selama ini.
Bapak Tari sudah dipindah ke ruang ICU karena kondisinya tidak memungkinkan dirawat diruang biasa.
Setelah dua hari dibuka perban, barulah Tari diperbolehkan untuk keluar dari kamar rawat inapnya meskipun hanya keliling rumah sakit dan dengan selang infus yang masih menancap di punggung tangannya.
__ADS_1
Selama seminggu kemarin, Bu Rosita rajin sekali datang menemui Tari. Tapi mengapa dua hari belakangan ibu tirinya itu tidak pernah datang ke kamarnya lagi? kemana sebenarnya Bu Rosita.
Tari pun turun ke lantai satu tempat bapaknya dirawat dengan menggunakan lift rumah sakit.
Setelah sampai dibangsal ruang rawat inap bapaknya, ranjang yang biasa di tempati bapaknya sudah berganti dengan orang lain.
Tari tampak heran. Ia pun berjalan ke ruang perawat dan bertanya pada perawat lantai satu.
"Pak Syabani mengalami drop, mbak. Sekarang beliau sudah dipindahkan ke ruang ICU," jawab perawat itu ketuka Tari bertanya kemana bapaknya dipindahkan.
Bagai disambar petir disiang bolong, Tari sangat terkejut dan diam mematung di tempatnya berdiri. Hati Tari seperti diremas, Buliran bening dipipinya keluar tanpa aba-aba. Ia tidak sanggup berjalan lagi, lututnya lemas seketika. Lalu pandangannya mulai gelap dan ia pun tak sadarkan diri jatuh dilantai rumah sakit.
Jam menunjukkan pukul 15.45 saat Tari tersadar, dan ternyata ia sudah berada di kamar rawat inapnya lagi.
Tari kembali turun dari pembaringannya dan membawa cairan infus yang masih tergantung. Ia kembali hendak manaiki lift, namun segera dicegah oleh perawat yang berjaga. Perawat mengantarkan Tari ke ruang ICU dengan kursi roda.
Setelah sampai, kebetulan waktunya jam besuk. langsung saja perawat membawa Tari masuk dan ternyata di dalam sudah ada Bu Rosita yang sedang menatap Pak Syabani yang terbaring lemah dan dengan mata tertutup seperti orang tidur.
Perawat yang mendorong kursi roda Tari meninggalkan Tari dengan Bu Rosita yang sedang membesuk Pak Syabani. Mereka berdua menangis haru melihat keadaan Pak Syabani.
Waktu setengah jam berlalu, dan jam besuk pun habis. Saatnya para pasien ICU beristirahat kembali dan para tenaga medis melanjutkan perkerjaan mereka.
Bu Rosita keluar dengan mendorong kursi roda Tari, namun Tari tidak langsung ke lantai tiga ke ruang rawat inapnya. Ia bersama Bu Rosita duduk di depan ruang ICU yang digunakan sebagai tempat tunggu untuk keluarga pasien.
"Ibu takut kalau kamu kepikiran bapak, jadi ibu rahasiakan."
Tiba-tiba perawat memanggil Tari dan Bu Rosita, "Bu, keluarga Bapak Syabani kah?"
"Ya, betul sus," jawab Bu Rosita.
"Mari ikut saya, ada yang harus disampaikan oleh dokter tentang Pak Syabani."
"Apakah saya boleh ikut sus? saya anaknya," ucap Tari.
"Ya, silahkan."
Dokter tersenyum hangat saat Tari dan Bu Rosita memasuki ruangannya. Dokter itu mengatakan, jika Pak Syabani harus segera dioperasi sekarang juga, paling lambat besok siang atau malamnya. Jika terlambat, nyawa Pak Syabani tidak akan tertolong. Karena Kankernya sudah memasuki stadium akhir.
Namun, Dokter itu tidak bisa melakukan tindakan operasi jika biaya administrasinya belum dibayar. Maka operasi akan berjalan jika biaya sudah masuk. Karena begitulah prosedur rumah sakit.
Mendapat penjelasan dari dokter, Tari sudah memutuskan apa yang sudah dipikirkannya sejak satu minggu ini.
***
__ADS_1
Sore itu, dokter mengecek Tari. Perban yang masih terpasang di pipi kanan Tari masih belum bisa dibuka, karena luka Tari masih dalam masa penyembuhan. Namun Tari bermohon, malam ini juga ia harus pulang.
Ia meminta izin pada dokter agar ia berobat jalan saja. Karena ada hal yang sangat-sangat penting yang harus ia kerjakan dan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun juga.
Dokter tidak bisa mengatakan apapun, karena Tari terus memaksa. Akhirnya dokter memberikan izin Tari untuk pulang.
Tari sudah melangkah keluar dari rumah sakit dengan perban disebelah kanan yang masih menempel di pipinya. Dan Tari akan menaiki ojek online dengan menggunakan aplikasi yang ada di ponselnya yang selama ini hanya ia biarkan tergeletak di atas nakas rumah sakit.
Setelah mendapatkan driver, Tari langsung menaiki kendaraan roda dua yang dipesannya. Driver segera melajukan motornya, saat motor membelah jalanan hari mulai gelap.
Diatas motor itu Tari mencoba menghubungi Kemal kembali. Siapa tahu Kemal sudah bisa dihubungi. Ternyata tidak juga, Tari mulai mengutuki Kemal dalam hatinya.
Driver menghentikan motornya setelah sampai di alamat yang di tuju. Setengah jam sudah ia berdiri di depan rumah besar keluarga Sandi.
Ya, Tari pasrah. Dirinya tidak ada pilihan lain selain meminta tolong pada Sandi dan keluarganya. Namun ia masih berdiri di depan gerbang pintu masuk, ia masih ragu. Berharap ada keajaiban datang dan mengubah nasibnya atau ia menunggu turunnya uang dari langit.
Ia tertawa sendiri dalam hatinya ketika berpikiran seperti itu.
Malam itu, awan gelap menyelimuti kampung yang ditinggali Tari, tidak berapa lama kemudian hujan turun membasahi bumi. Dengan lari-lari kecil akhirnya Tari memasuki halaman rumah besar keluarga Sandi.
Mungkin jika hujan tidak turun, Tari akan tetap berada di luar hingga keajaiban datang. Karena ia benar-benar ragu. Tapi ia mengingat kembali wajah bapaknya yang sudah pucat di ruang ICU tadi. Akhirnya Taripun membulatkan tekadnya.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Tok Tok Tok
Tari mengetuk pintu, tidak ada yang membuka. Mungkin karena hujan, jadi tidak terdengar hingga kedalam suara ketukan pintu. Untuk yang kesekian kalinya Tari mencoba mengetuk pintu dan sedikit menggedor pintu itu.
Disaat Tari menggedor pintu dengan kuat, disaat itu sorot lampu mobil memasuki pekarangan rumah keluarga Sandi.
Dari mobil itu muncullah Sandi, ia berlari seraya menutupi kepalanya agar tidak basah terkena hujan. Dan melihat heran kearah Tari yang sedikit basah karena kehujanan tadi.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤