
Setelah seharian menjahit baju di kios jahitnya, malam ini Tari sedang berada di kamar. Ia tidak membawa kain bahan untuk baju yang akan di potong. Karena hari ini lebih banyak pelanggannya yang akan mempermak baju, sehingga ia tidak bisa membawa pulang kerjaan ke rumah karena tidak ada mesin jahit di rumahnya.
Malam terus larut, memikirkan biaya yang akan dikelurkan untuk berobat bapaknya yang sangat besar, yang tidak tahu harus ia cari dimana. Ditambah rindunya pada seseorang sehingga matanya tak kunjung terpejam. Ia beranjak dari kasurnya dan keluar kamar, lalu menyetel tv yang ada di ruang tamu. Tidak ada yang ia tonton, ia hanya ingin mengusir kesepian.
Bu Rosita yang berada di kamarnya sayup-sayup mendengar suara tv yang sedang menyala. Ia pun terbangun dan melihat Tari yang sedang duduk bersandar di kursi yang tidak jauh dari tv. Namun Bu Rosita tahu Tari tidak benar-benar menonton acara itu.
Bu Rosita duduk di sebelah Tari, di sebuah kursi plastik yang sama dengan yang di duduki Tari.
"Kamu kenapa Tari? tumben malam-malam gini nonton tv. Mikirin apa?" tanya Bu Rosita.
Tari menggeleng tanpa menoleh, "Gak ada kok bu, lagi gak bisa tidur aja."
Bu Rosita menebak, Tari saat ini sedang bingung memikirkan biaya untuk berobat bapaknya. Sebenarnya Bu Rosita waktu itu sudah sangat yakin bahwa Tari dan Fadly sedang ada hubungan, minimal mereka berdua sudah pacaran, sehingga Bu Rosita tidak terlalu memikirkan bagaimana nanti jika suaminya kambuh lagi penyakitnya. Karena ada Fadly, calon menantu kaya yang akan siap membantu biaya perobatan suaminya.
Tapi ternyata diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa. Karena buktinya Fadly ketika pergi tidak mengatakan apapun pada Tari, begitu juga dengan Tari. Tari hanya memandang diam kearah Fadly.
Sehingga membuat Bu Rosita ragu ingin mengatakan pada Tari siapa Fadly sesungguhnya. Tapi malam ini sepertinya ia harus memberitahukan Tari tentang Fadly. Siapa tahu Tari ingin meminta bantuan lagi pada Fadly. Tentu Fadly akan menolongnya, karena ia tahu Fadly adalah anak yang baik.
Bu Rosita melangkah masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah majalah bekas yang sudah ia simpan lama dilemarinya.
Tari menoleh ketika Bu Rosita keluar kamar lagi. Tari melihat apa yang dibawa Bu Rosita. Tari mengerutkan keningnya. Ia merasa heran, untuk apa Bu Rosita membawa majalah segala. Ingin menghibur dirinya dengan majalah itukah? tanyanya dalam hati.
Bu Rosita duduk kembali, dan memberikan majalah bekas itu pada Tari. Tari masih menatap heran pada Bu Rosita, ia tidak mengatakan apapun, ia menunggu Bu Rosita memberikan alasan mengapa memberikan majalah bekas itu padanya.
Seolah tahu apa yang Tari harapkan dari dirinya, akhirnya Bu Rosita mengeluarkan suaranya, "Itu majalah bekas dari Dodi, waktu itu katanya kamu yang pesan sama Dodi. Trus kamu sakit, kamu suruh ibu ke kios karena ada yang mau ambil baju yang udah selesai kamu jahit, kamu inget gak?"
__ADS_1
Tari mengangguk "inget bu". Tentu Tari mengingat itu, karena pada hari itu Tari bisa jadi sakit sampai demam dan lemas karena hatinya sakit yang mendapat perlakuan ketus dan cuek dari lelaki yang ia cintai. Dirinya sungguh lebay karena hal seperti itu saja bisa membuatnya menjadi sakit.
Lalu Bu Rosita melanjutkan ceritanya, "Terus ibu buka-buka majalahnya dan ada yang membuat ibu terkejut sampai jantung ibu mau copot. Tapi disisi lain ibu juga seneng, karena kamu dekat sekali dengan orang yang membuat ibu terkejut tadi. Bahkan bukan cuma kamu, tapi kita sekeluarga sangat dekat dengan dia."
"Siapa memangnya orang itu bu?" tanya Tari penasaran.
"Kamu buka aja halaman yang udah ibu tandai itu," jawab Bu Rosita.
Tari menunduk menatap majalah itu, kemudian mendongak kembali menatap wajah ibu sambungnya. Bu Rosita mengangguk dan tersenyum, seolah menyuruh Tari segera membuka halaman yang sudah ditandai Bu Rosita.
Tari membuka halaman yang dimaksud Bu Rosita. Ia membuka lipatan majalah itu. Yang pertama kali ia lihat adalah tema yang tertulis tebal dan besar disana tertulis WISUDA PUTRI SULUNG KELUARGA DEWANTARA.
Tari tidak mengetahui dengan jelas siapa dan seperti apa tampang keluarga Dewantara, ia hanya mengetahui ada produk rokok, makanan dan minuman yang dikeluarkan oleh perusahaan Dewantara Corp.
Putri sulung keluarga Dewantara yang wisuda bernama Lea Feriskha Dewantara, nama yang tidak dikenali Tari. Lalu apa istimewanya? Lagi-lagi Tari dibuat bingung oleh Bu Rosita.
Tidak semua Tari membaca tulisan dihalaman itu, kemudian matanya beralih kehalaman sebelahnya dimana ada foto keluarga Dewantara yang sedang tersenyum lebar.
Kini mata Tari membulat sempurna, mulutnya terbuka sedikit lebar. Ekspresi wajahnya sama dengan ekspresi Bu Rosita ketika melihat foto itu.
Disana ada foto Fadly yang sangat tampan, dengan balutan jas berwarna silver. Ia tersenyum manis dan tampak bahagia. Tari menatap foto Fadly, kali ini rindunya sedikit terobati. Ia mengusap majalah itu, dimana ada wajah Fadly dijari telunjuknya.
Mata Tari mengarah ke Bu Rosita, "Jadi bu, mas Fadly itu anak dari pemilik Dewantara Corp?
"Iya Tari," jawab Bu Rosita dengan tersenyum.
__ADS_1
"Makanya ibu ngizinin Tari dekat dengan mas Fadly?" lagi Tari bertanya.
"Iya Tari, tapi kamu harus tahu, ibu seperti ini, sering menjodoh-jodohkan kamu sama orang kaya, karena mikirin kamu juga. Coba kalau kamu sudah menikah dengan orang kaya pasti kamu gak bingung mikirin biaya berobat bapak," jawab Bu Rosita.
Hal itu sedikit dibenarkan Tari. Karena sekarang ini ia sangat bingung bagaimana caranya mencari uang untuk biaya berobat bapaknya. Sudah kerja siang dan malampun tidak bisa mengumpulkan biaya untuk operasi bapaknya. Jika berhutangpun pasti ia nantinya akan bingung membayarnya bagaimana.
Ternyata... Fadly bukan orang biasa seperti dirinya. Fadly anak orang kaya. Tari melamun sejenak, ia memikirkan bagaimana nasib cinta pertamanya,,
Sekarang ini Tari sudah mengetahui bahwa Fadly adalah anak dari pemilik Dewantara Corp. Anak orang kaya nomor satu di Indonesia. Tari kini hanya mempunyai sedikit harapan untuk bisa hidup bersama dengan Fadly suatu hati nanti.
Apakah Fadly menyukainya, sedangkan sudah pasti banyak wanita-wanita cantik diluar sana yang jauh kebih cantik dari dirinya yang mendekati Fadly.
Begitu juga dengan orang tua Fadly, apakah mau menerimanya sebagai menantu. Kehidupan mereka jauh berbeda.
Tari jadi teringat saat pertama kali memasuki rumah yang ditinggali Fadly, mulai dari barang-barang dapurnya semua terlihat baru dan tampak mahal juga mewah. Sangat jauh berbeda dibandingkan isi dapurnya. Sangat nampak kesenjangan antara mereka.
#####
Next >>>>>>>>>
Mohon dukungannya
dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..
Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤
__ADS_1