
Tidak lama, hanya tiga puluh menit Lea dan andi menunggu. Kemudian Lea menerima pesan dari pegawai toko bahwa buku tamu yang dipesannya sudah selesai.
Saat buku sudah selesai dihias, ia sangat suka dengan hasilnya. "Yang! Lihat deh, cantik banget ya hasilnya," ucap Lea sedikit meninggikan suaranya karena Andi berdiri agak jauh darinya.
Berhubung mereka agak jauh, Andi pun hanya menganggukkan kepala dan memberi jempol tanda mengiyakan bahwa buku tamu itu memang cantik.
Lea berjalan kearah kasir hendak membayar buku tamu sepasang dengan penanya tadi. Karena terlalu terpesonanya dengan buku tamu berwarna pink itu ia sampai tidak melihat jalan, sehingga ia tidak sengaja menabrak seseorang dan hampir saja orang itu terjatuh.
"Aduh! jalan itu pakai mata dong!" sentak orang itu.
"Maaf!"
Belum selesai Lea melanjutkan perkataannya orang itu berbalik. Dan terlihatlah siapa yang tidak sengaja Lea tabrak tadi. Mereka berdua saling tatap.
"Hah! Kak Lea?"
"Adelia?"
Ucap keduanya bersamaan.
"Kak Lea apa kabar?" tanya Adelia dengan senyum yang sulit diartikan Lea.
Lea sebenarnya enggan sekali bertemu gadis ini. Mengapa harus bertemu sih! Pikirnya. Sebenarnya mereka tidak punya masalah apa-apa. Tapi Lea hanya enggan saja bertemu mantan calon adik ipar .
Akhirnya dengan malas Lea menjawab "Baik," singkat, padat dan jelas. Lea juga mengulas senyum yang susah diartikan oleh Adelia.
Mata Adelia cepat tertuju pada buku berwarna pink yang dibawa Lea. Dengan jelas Adelia melihat dibuku itu tertulis nama Lestari & Fadly. Tentu saja Adelia sudah mengetahui jika esok hari adalah hari pernikahan Tari dan Fadly, karena semua kalangan tengah membicarakannya sekarang ini.
"Kak Lea sedang membeli buku tamu ya?" tanya Adelia berbasa-basi.
Duh! Ingin sekali Lea menjawab, "Bukan, gue lagi beli beras!"
__ADS_1
Tapi tentu saja itu tidak ia katakan. Sebagai anak dari keluarga Dewantara yang memiliki kehormatan yang tinggi, dan juga Lea adalah seorang wakil direktur perusahaan raksasa Dewantara Corp. Ia juga direktur utama Hotel Lea Dewantara. Jadi mana mungkin ia mengatakan sesuatu yang bar-bar seperti yang dalam pikirannya tadi, meskipun ia sangat ingin mengatakannya.
Adelia dulu pernah mendengar jika Tari sudah pernah menikah dengan Sandi. Sedangkan Sandi sudah ia jebak dengan barang haram. Bukan itu saja, Adelia juga mendengar bahwa Sandi melakukan KDRT pada istrinya sehingga hukumannya diperberat. Dan sekarang Adelia mendengar Tari, mantan istri Sandi itu akan menikah dengan Fadly. "Apakah Fadly sudah mengetahuinya?" begitulah pikiran Adelia saat ini. Lea juga telah mengetahui bahwa Sandi pernah bekerja di kapal pesiar Dewantara Corp. Point yang akan digunakan Adelia untuk mengolok-olok Fadly.
"Semoga besok pestanya berjalan lancar ya, Kak!" ucap Adelia.
"Iya, semoga saja, terima kasih ya! Kalau begitu kakak duluan ya, Del."
Lea dengan gerakan cepat melangkah meninggalkan Adelia, menyudahi perbincangan mereka yang sama sekali tak bermakna itu.
"Oh ya kak!" seru Adelia. Adelia sangat tidak puas dengan pertemuan mereka tanpa membongkar sesuatu yang ia ketahui.
Jelas saja membuat Lea langsung menghentikan langkahnya. Namun Lea tidak membalikkan badan.
"Salam ya kak buat Fadly. Sayang sekali, laki-laki tampan dan mapan seperti dirinya harus mendapatkan bekas orang lain. Apalagi bekas dari bawahannya, oops!" tutur Adelia, dan mengakhirinya dengan menutup mulutnya dengan ujung-ujung jarinya.
Kening Lea mengerut, dan ia pun membalikkan badannya menghadap Adelia. "Maksud kamu?"
"Oh ya kak! Aku mau kasih tahu kak Lea, kalau Lestari yang cantik jelita, calon adik ipar kak Lea, si gadis penjahit itu, yang akan menjadi calon menantu keluarga Dewantara yang terhormat adalah mantan istri seorang narapidana. Suaminya sekarang sedang berada di balik jeruji besi," tutur Adelia santai.
Lea tercengang mendengar penuturan Adelia barusan. Namun dengan cepat Lea merubah mimik wajahnya, ia tersenyum manis dan berkata, "Oh ya? Kamu sengaja kan bilang begitu karna kamu gagal jadi menantu perempuan di keluarga Dewantara sehingga memfitnah Tari sebegitu kejamnya."
Lea mendengus kencang, sangat tidak feminim sekali. Mengingat itu adalah tempat umum. Namun Lea sedikit kesal dengan apa yang dikatakan Adelia.
"Oh, jadi kak Lea gak percaya sama aku? ...."
"Sudah selesaikan?" tanya Andi pada Lea. Ia langsung memotong Adelia yang akan mengucapkan sesuatu.
Tadi, dari jauh Andi melihat Lea menabrak seseorang. Dan Andi mengenal orang itu yang tak lain adalah mantan pacar Fadly. Agar tidak terjadi percakapan yang lebih panjang lagi antara keduanya, yang ditakutkan, Adelia akan membongkar status Tari, maka dengan cepat Andi mendatangi Lea. Namun terlambat, Adelia sudah mengatakan status Tari pada Lea.
Lea tersenyum pada Andi, "Sudah, ayo! Aku bayar ini dulu ya!"
Lea berjalan terlebih dahulu untuk membayar buku tamu yang ia beli tadi di kasir. Tanpa berpamitan dan pada Adelia. Sedangkan Andi menoleh menatap tajam Adelia. Ia tahu tadi ia terlambat. Lea sudah mendengar hal yang diucapkan Adelia si biang kerok. Tapi tak apa, sepertinya tadi Lea masih tidak percaya dengan ucapan Adelia. Nanti ia yang akan menjelaskan pada Lea.
__ADS_1
Andi masih menatap tajam Adelia, "Saya peringatkan anda agar jangan mengganggu keluarga Dewantara! Atau anda akan mendapatkan akibatnya!"
"Iiih atuuut," ucap Adelia geli.
Andi berlalu dari gadis bule itu.
"Siapa kamu berani ngancam-ngancam saya? cuma supir ngancam-ngancam lagi huh!" tambah Adelia. Meskipun Andi sudah berlalu darinya, namun kata-kata Adelia masih didengar oleh Andi.
Lea sudah selesai membayar barang yang dibelinya. Lalu Lea dan Andi berjalan beriringan menuju mobil. Mobilpun berjalan pelan, sengaja Andi melambatkan laju mobil agar lama sampai ke mansion Dewantara. Karena ada yang ingin dibicarakannya pada Lea.
"Tadi, Adel bilang apa sama kamu?" tanya Andi membuka suara.
"Alahhh... Dia itu karena iri dan dengki makanya memfitnah Tari," jawab Lea berapi-api.
"Iya, dia bilang apa?" ulang Andi.
"Katanya, Kasian Fadly dapat bekas. Karena Tari itu janda. Suaminya dipenjara. Bisa bener dia ngomong gitu," tutur Lea masih dengan berapi-api.
"Sudah, kamu yang tenang ya!" Andi mengelus lengan kanan Lea dengan tangan kirinya.
Lea menoleh kearah Andi dan tersenyum padanya. "Iya sayang."
"Mmm... Tapi yang dikatakan Adel tadi memang benar, sayang. Tari memang sudah pernah menikah. Dengan Sandi anaknya pak Irsyad, kepala pelayan keluarga Dewantara yang lama," jelas Andi.
Andi sebenarnya sangat gugup, ia tidak tahu apakah memberitahu Lea adalah hal yang benar atau tidak.
"Apa???"
.
.
To Be Continued...
__ADS_1