
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
"Beres bos, dia sudah ditangkap dan digiring ke kantor polisi."
"Bagus, semoga dia bisa mendekam di penjara bahkan kalau bisa lebih lama dari kakakku."
"Sepertinya begitu bos, karena dia juga melakukan tindakan KDRT pada istrinya."
"Apa!!! hahaha... jadi bagaimana keadaan istrinya?"
"Sekarang dia sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan."
"Jadi masih hidup? kenapa istrinya tidak mati saja hahaha..."
Sambungan diputus sepihak oleh seseorang yang di panggil bos. Dia adalah Adelia. Ia berhasil membalas dendam pada Sandi karena menurutnya Sandi sudah lancang memenjarakan kakaknya, sehingga dirinya harus sendirian dan tidak ada yang melindunginya.
Adelia sedang duduk menunggu kakaknya yang sedang di panggil petugas polisi untuk menemuinya di ruang kunjungan rutan. Lalu beberapa saat kemudian, Max muncul di hadapannya. Seperti biasa, kakak beradik itu saling berpelukan.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Max pada adiknya.
Adelia tersenyum sumringah menandakan ia baik-baik saja. Bahkan sangat baik sekali. Kening Max mengerut menatap adiknya yang menjawab pertanyaannya hanya dengan senyuman sumringah.
"Ada denganmu, Del?" tanya Max lagi.
"Aku hari ini sangat bahagia sekali. Karena misiku yang kujalani sudah berhasil dan sangat memuaskan."
"Misi?"
"Yupsss, misi yang waktu itu aku katakan padamu."
"Ya, kamu pernah mengatakan akan menjalankan sebuah misi, misi apa?"
"Seseorang yang berhasil memenjarakanmu, kini sudah berhasil kupenjarakan."
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud? kamu jangan bermain-main dengan bahaya, Del. Aku tidak bisa menolongmu jika kamu dalam bahaya," Max panik mendengar ucapan Adelia tadi.
Adelia tertawa renyah, "Aku berhasil menjebak Sandi masuk dalam perangkapku."
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu."
"Hahaha... "
Adelia tertawa dengan suara melengking memenuhi ruangan, hingga beberapa orang yang juga sedang menjenguk keluarga mereka di rutan itu pun menoleh kearah Adelia. Namun detik berikutnya ia mendekatkan mulutnya ke telinga Max dan berbisik.
"Aku berhasil menyuruh orang menjual serbuk haram ke Sandi. Dan dia tergoda, lalu membelinya dari orang suruhanku itu," Adelia menjauhkan mulutnya lagi dari telinga Max lalu tersenyum pada Max.
"Sandi itu licik, bagaimana kalau ternyata dia bisa memutar balikkan keadaan. Dan dia tahu ternyata kamu dalang dari semua kejadian yang menimpanya, bagaimana? Aku tidak bisa menolongmu dan kita berdua bakal mendekam di penjara."
"Tidak usah terlalu parno, lihat saja Sandi bakal masuk penjara seperti kamu. Dan mungkin hukumannya akan lebih lama dari kamu, karena dia juga melakukan KDRT pada istrinya. Polisi langsung yang menjadi saksi atas tindakannya itu."
"Mengapa Sandi melakukan KDRT pada istrinya?"
"Aku tidak tahu, yang pasti aku senang kalau rumah tangganya hancur. Masih juga seumur jagung."
"Aku tidak berharap lebih, yang aku harapkan semoga Sandi tidak mengetahui jika kamu yang menjebaknya."
Adelia tertawa, ia sangat yakin jika misinya kali ini untuk menjebak Sandi akan berhasil dan tidak diketahui Sandi.
Tari sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia di bawa oleh polisi pagi itu untuk mendapatkan perawatan luka-luka yang ada ditubuhnya atas tindakan kekerasan yang dilakukan Sandi.
Selama dua hari itu pula tidak ada yang datang menjenguknya. Ia sudah mengabarkan pada bapak dan ibu tirinya jika ia sedang berada di rumah sakit. Namun bapak dan ibunya tidak kunjung datang menjenguknya. Saat dihubungi melalui ponselnya, Bu Rosita juga tidak menjawabnya.
Keluarga Sandi juga belum satu orangpun menjenguknya. Bahkan menanyakan kabar melalui ponsel juga tidak.
Pada sore harinya Tari sudah diizinkan pulang oleh dokter. Ia pulang sendiri, dan tujuannya tidak lain adalah rumah mertuanya.
Kini ia sudah berada di depan pintu gerbang rumah mertuanya, rumah itu tampak sepi. Di halaman rumah besar itu berdiri sebuah tenda dan bangku-bangku tampak tersusun menumpuk sampai tinggi. Sofa ruang tamu juga berada diluar.
Tari terus melangkah ke pintu masuk rumah itu. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama hampir seminggu ini.
Ketika ia masuk, yang pertama dilihatnya adalah ruang tamu. Ruang tamu itu tampak kosong, karena sofa yang biasa bertengger disana sekarang sudah berada diluar.
Ada apa gerangan? Tari terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Assalamu'alaikum," Tari mengucapkan salam ketika masuk.
__ADS_1
Bu Hanifa keluar menyambut Tari dengan tatapan nyalang. Ketika sudah di dekat Tari, Tari di jambak, di pukul dan di tendang kakinya.
"Gara-gara ulah kamu anak saya masuk penjara, dan yang lebih parahnya suami saya meninggal karena serangan jantung mendengar anak kesayangannya melakukan KDRT dan mengkonsumsi serbuk haram," ucap Bu Hanifa penuh amarah.
Tari terkejut mendengar ucapan Bu Hanifa barusan yang mengatakan bahwa Pak Irsyad meninggal. Air matanya luruh mendengar hal itu.
"Maafkan saya, Bu," ucap Tari dengan isakan dan air mata.
Plak!!!
Satu tamparan di pipi kiri Tari.
"Maaf kamu bilang? apa maaf kamu bisa mengembalikan nyawa suami saya? apa maaf kamu itu bisa membebaskan Sandi dengan mudah?" Bu Hanifa sangat murka dengan Tari. Ingin sekali di cekiknya gadis itu hingga menyusul suaminya, tapi itu tidak ia lakukan karena ia tidak ingin ikut mendekam bersama Sandi di penjara.
Tari mengaku salah, mungkin ia pantas mendapatkan tamparan dan bahkan pukulan yang dilakukan Bu Hanifa tadi.
Karena mendengar suara berisik Wahyu dan Dian datang dari arah belakang. Mereka sudah tidak ingin melihat Tari lagi berada di rumah itu.
"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Wahyu sang abang tertua.
Tari menunduk, "Maafkan saya, saya tidak tahu kalau akan seperti ini dampaknya."
"Dasar pembohong!!! penipu!!! Ibunya mengatakan kalau dia ini rajin sholat dan mengaji tapi bukan hanya itu dia juga rajin berbohong," sentak Dian yang sangat geram melihat Tari.
Bu Hanifa pun tak kalah geramnya melihat Tari. Dengan cepat ia menyambar rambut Tari dan menariknya.
Tari Kesakitan, ia meringis merasakan sakit dikepalanya. Seolah rambut itu akan terlepas dari kepalanya. Tapi melawan Bu Hanifa pun percuma. Disana ada Wahyu dan Dian yang siap membela ibunya jika ia melawan pada Bu Hanifa. Jadilah ia membiarkan saja rambutnya di tarik Bu Hanifa.
Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Wahyu segera melerai mereka.
"Sudah bu sudah, jangan kotori lagi tangan ibu menyentuh perempuan pembohong ini. Karena kebohongannya banyak sekali yang ia rugikan."
"Sekarang kamu pergi dari sini, bereskan semua barang-barang kamu. Pergi jauh dari pandangan mata saya," ucap Bu Hanifa dengan mata nyalang kerah Tari.
Dengan kasar Dian mendorong Tari agar segera masuk kamar untuk membereskan barang-barangnya.
"Sudah cepat tunggu apalagi, tidak ada yang mengharapkan kamu disini lagi, termasuk Sandi."
Tari melangkah dengan badan bergetar karena isakan tangisnya.
Beberapa saat kemudian Tari keluar dari kamar yang ia tempati di rumah itu dengan membawa tas besar.
__ADS_1
"Saya tidak mau melihat kamu di rumah ini maupun di kampung ini. Dan saya juga sudah mengusir Bapak dan ibu kamu dari rumah saya."
Tari tercengang, satu kenyataan lagi yang harus ia terima. Bapak dan ibunya sudah diusir, dimana mereka tinggal sekarang. Ternyata begitu besar sekali konsekuensi yang harus ia bayar atas kebohongannya pada Sandi.