
Malam itu Fadly berhasil membuat alasan pada Bu Rosita bahwa ia lelah sehingga tidak bisa menjenguk Tari.
Ia sedikit terusik dengan kata-kata Bu Rosita tentang keadaan Tari. Jika benar yang dikatakan Bu Rosita tadi, bahwa Tari sakit setelah bertemu dengan dirinya, ia akan merasa sangat bersalah.
Fadly adalah orang yang penyayang, ia tidak tega jika melihat orang lain sakit atau kesusahan. Apalagi sakit karena dirinya.
Kini Fadly sudah merebahkan tubuhnya di kasur. Kedua tangannya ia letakkan di bawah kepala dekat leher, matanya menatap langit-langit kamarnya.
'Apa bener Tari sakit?, gara-gara ketemu sama gue tadi pagi?, emang gue ada ngomong apaan ya?,' Ia berbicara sendiri di kamarnya.
Perasaannya pada Tari sekarang ini tidak lain yang ia rasakan adalah rasa aneh. Awalnya ia tidak ingin bertemu dengan Tari lagi karena ia malu akan kejadian salah buka pintu di awal pertemuan mereka. Kemudian Fadly menjadi iba melihat Tari yang mengurus bapaknya sendirian, sementara ibu sambungnya tidak perduli dengan mereka berdua.
Dan sekarang perasaannya benar-benar sungguh aneh. Ia ingin selalu bertemu dengan Tari, tapi sebenarnya ia membenci gadis itu. Menurutnya Tari sok jual mahal padanya sedangkan yang dilihat Fadly, Tari bisa dekat dengan pria lain. Mengapa dengan dirinya gadis itu menolak. Itulah yang membuat Fadly membenci Tari.
Ia membenci Tari, tapi selalu ingin bertemu Tari. Rasa itu datang bersamaan. Ia tidak pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya. Jika membenci seseorang, apalagi seorang gadis. Ia tidak mau lagi melihat wajahnya dan akan segera melupakan gadis itu dalam hidupnya.
Tapi dengan Tari, mengapa begini? batinnya sungguh tersiksa. Membenci tapi sekaligus selalu ingin bertemu.
Ia berniat untuk bertemu dengan Tari besok. Malam itu ia habiskan dengan banyak memikirkan Tari.
Pagi harinya, setelah bangun tidur ia mengurungkan niatnya untuk bertemu Tari dan pergi keluar rumah. Ia takut Bu Rosita akan mencecar berbagai pertanyaan padanya.
Seperti malam tadi, ketika Fadly sudah masuk rumah dan keluar lagi, Fadly mengira sudah tidak ada orang ternyata ia dikejutkan oleh Bu Rosita yang masih duduk di depan teras rumahnya.
Padahal hari ini hari libur, yang biasanya ia akan keluar rumah dengan motornya. Meskipun tidak ada kegiatan yang dilakukan. Fadly merasa dirinya kini menjadi orang yang paling bebas, hidup seperti apapun tidak ada yang mengaturnya. Hal ini sudah berjalan tiga bulan lamanya.
Dan sementara Tari yang seharian kemarin tidak berselera makan, sehingga membuatnya hari ini kembali tidak bisa pergi ke kios jahit karena badannya semakin lemas.
Ternyata memikirkan sesuatu yang berlebihan bisa membuat energi terkuras. Itulah yang dialami Tari saat ini. Ia terlalu berlebihan memikirkan Fadly sehingga energinya terkuras, ditambah tidak ada asupan makanan yang masuk sehingga membuatnya menjadi semakin lemah dan tidak berdaya.
Bu Rosita dibuat kerepotan oleh Tari dan bapaknya pagi ini. Ia harus memasak pagi-pagi, Membereskan rumah, mencuci pakaian mereka bertiga dan menjemurnya. Ditambah pagi-pagi tadi Pak Syabani kambuh lagi batuk-batuknya. Sedangkan Tari tidak bisa membantu karena dia juga sedang sakit.
__ADS_1
Ini adalah kali pertama Tari mencintai seseorang, ketika orang yang dicintainya seolah menolaknya ia jadi sakit. Bukan hanya hati, tapi tubuhnya juga ikut merasakan seperti yang dirasakan hatinya.
Semenjak dulu Tari tidak mempunyai tujuan hidup. Hidupnya hanya ingin membalas jasa bapaknya dan kasih sayang yang diberikan bapaknya. Ia lelah dan letih bekerja pun bukan untuk dirinya, melainkan untuk bapaknya, untuk membuat bapaknya bahagia. Untuk pengobatan bapaknya yang sakit sejak lama.
Tapi setelah bertemu, mengenal, apalagi ia sekarang telah mencintai Fadly ia seolah menemukan kebahagiaannya selain membuat bahagia bapaknya.
Ia ingin membuat kebahagiaannya sendiri bersama lelaki yang dicintainya, yaitu Fadly. Tapi ia tidak tahu ternyata cinta semenyakitkan ini.
Fadly pun merasakan hal yang sama, tapi ia tidak mau cepat-cepat mengakui jika ia jatuh cinta pada Tari. Ia tidak ingin hatinya dibuka oleh Tari. Tari bukan type wanita yang ia sukai. Berulang kali ia memikirkan hal itu, tapi ia menapiknya. Ia tidak ingin cepat mengambil kesimpulan bahwa rasa aneh yang sekarang ini ia rasakan adalah rasa cinta. Tidak semudah itu baginya.
Ia terus berdiam di rumah, bahkan untuk makanpun ia tidak mau keluar rumah atau memesan makanan online. Ia memilih makan mie instan cup.
Sungguh tersiksa rasa ini. Rasa benci pada seseorang tapi sekaligus selalu ingin bertemu. Kemarin pagi ia terakhir bertemu Tari, tapi hari ini ia sangat rindu pada gadis itu. Apalagi gadis itu sedang sakit, ia ingin tahu keadaannya.
Lebay sekali kah dirinya? tapi itulah yang ia rasakan sekarang.
Tidak ada kegiatan yang membuatnya fokus. Bermain game sejak tadi, ia selalu kalah. Membuka laptop dan berniat akan mencari judul untuk tugas akhirnya, ia tidak tahu apa yang akan dibuatnya. Membuka ponsel, tidak ada yang menghibur hatinya.
Sebagai laki-laki yang gentleman akhirnya ia keluar rumah. Dilihatnya rumah kontrakan di samping rumahnya, sepi.
Ia memikirkan satu hal, kemudian ia keluar rumah dengan motor sport nya akan membeli buah dan berkunjung ke rumah Tari untuk melihat keadaan gadis yang membuatnya uring-uringan sejak semalam.
Ketika kembali dan membawa parcel buah untuk Tari. Di halaman rumah mereka, tepatnya di depan rumah Tari sudah terparkir sebuah mobil.
Fadly terus masuk ke halaman rumah dan memarkirkan motornya di depan teras rumahnya. Dari teras itu sudah terlihat siapa yang membawa mobil yang sedang terparkir di depan rumah Tari.
Fadly cukup familiar dengan wajah itu. Seorang pria berkulit sawo matang, badannya tegap tapi tidak tinggi. Tingginya hanya diatas Tari sedikit saja. Pria yang pernah datang ke kios jahit Tari waktu itu, Fadly tidak mengetahui siapa namanya dan tidak berniat untuk mengenalnya.
Fadly melangkah ke depan teras rumah Tari, setelah sampai depan pintu ia mengetuk pintu rumah itu. Dengan cepat Bu Rosita menyambut kedatangan Fadly.
"Wah nak Fadly datang," ucap Bu Rosita dengan senyum sumringah.
__ADS_1
Fadly tersenyum dan menatap Tari yang tampak pucat dengan memakai jaket hoodie hitam yang sangat ia kenal.
Tari yang duduk di kursi kayu ruang tamunya menatap kearahnya. Ia salah tingkah karena ketahuan memakai jaket milik Fadly yang dipinjamkan Fadly waktu mereka kehujanan.
Seketika Tari menunduk, seraya menyelipkan rambutnya ke telinga.
Dan orang yang berada di depan Tari, lagi-lagi menatap tidak suka kearah laki-laki yang baru saja datang. Mengapa sewaktu dirinya mengunjungi Tari selalu laki-laki ini saja yang mengganggunya, pikirnya.
Pria tegap dan tidak tinggi itu adalah Kemal. Ia datang dengan mobil barunya yang waktu itu ia pamerkan dan belum sempat dilihat Tari.
"Duduk nak Fadly," ucap Bu Rosita.
"Terimakasih bu," jawab Fadly. Seraya tersenyum ramah.
Ia mengambil tempat duduk di sebelah Tari, namun di kursi yang terpisah. Kemudian ia meletakkan parcel buah yang dibelinya barusan.
Bu Rosita berbinar menatap buah-buah itu.
'Masih awal, yang dibawa masih yang murah-murah dulu gak apa-apa deh' ucapnya dalam hati.
"Kok repot-repot sih nak Fadly?" ucap Bu Rosita lagi.
"Gak repot kok bu, kan cuma bawa buah," jawab Fadly dengan sungkan.
Tari meminum air yang disediakan Bu Rosita sejak tadi. Tenggorokannya terasa kering tiba-tiba.
#####
Bersambung...
Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih