Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Diagnosis


__ADS_3

Mentari pagi sudah muncul dari arah timur, cahayanya pun masuk menyinari kamar rawat inap Pak Syabani.


Tadi malam setelah Fadly mengatakan ingin membantu Tari untuk biaya rumah sakit bapaknya. Tanpa berpikir panjang, Tari menerima tawaran itu dan menyetujuinya. Karena memang sekarang ini ia sedang sangat membutuhkan uang. Tari akan membayar uang itu sebulan sekali. Belum dipastikan jumlah yang harus dibayar setiap bulannya, yang jelas Fadly tidak ingin memberatkan Tari.


Akhirnya Pak Syabani dirujuk ke rumah sakit. Cukup jauh, satu setengah jam perjalanan dari rumah tempat tinggal mereka. Karena itulah rumah sakit yang terdekat yang lumayan dikatakan rumah sakit besar.


Dengan mobil Fadly yang tentu saja dibawa Andi mereka membawa Pak Syabani ke rumah sakit. Pukul Sembilan malam mereka sampai di rumah sakit.


Malam itu juga dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, pemeriksaan darah lengkap, dan karena Pak Syabani juga batuk-batuk, maka juga dilakukan foto rontgen dada.


Sejak semalam Fadly menemani Tari. Tidak tega rasanya meninggalkan Tari sendirian menjaga bapaknya. Sedangkan Andi sudah disuruh pulang oleh Fadly.


Lalu ibu tirinya, setelah meminjam uang dari Fadly tanpa sepengetahuan Tari, ibu tirinya itu sudah tidak nampak berada di klinik tempat semula bapaknya dirawat.


Terakhir Tari menitipkan bapaknya pada sore hari karena Tari akan pulang untuk mengambil uang simpanan milik bapaknya. Kemudian saat kembali malamnya ibunya sudah pergi tidak tahu kemana.


Fadly sangat perhatian pada Tari, ia bukan hanya membantu biaya rumah sakit Pak Syabani, ia juga menemani Tari semalaman. Membantu Tari mengurus semua keperluan yang diperlukan Pak Syabani dan Tari selama berada di rumah sakit itu untuk beberapa hari.


Perhatiannya pada Tari membuat Tari menjadi salah tingkah. Karena Tari sebelumnya memang tidak pernah dekat dengan laki-laki kecuali dulu dengan Sandi.


Pagi itu diajaknya Tari sarapan nasi uduk, mereka berdua makan di kantin rumah sakit. Sedangkan Pak Syabani sudah sarapan, karena pasien yang dirawat inap di rumah sakit mendapatkan jatah makan dari rumah sakit dan gizinya juga diatur oleh para medis di rumah sakit itu.


Itu semua Fadly lakukan karena iba dengan Tari. Karena dilihatnya Tari sendirian. Tidak ada yang membantu dan menemaninya. Menurutnya Tari adalah gadis kuat dan tangguh.


Namun perasaan berbeda dirasakan Tari. Ia begitu senang berada di samping Fadly. Bahkan melihat wajahnya saja pun Tari sudah bahagia. Ia merasa bahagia, ia merasa disayangi sosok pria selain bapaknya, dan entah rasa apalagi yang ada dihatinya saat berada di samping tetangga tampannya itu, ia tidak bisa mengartikannya.


Setelah mereka menghabiskan sarapan, Fadly pamit untuk pulang kerumahnya.


***


Keesokan harinya...


Setelah hasil dari cek darah dan hasil foto rontgen dada selesai dokter memberitahu Tari bahwa diagnosis penyakit bapaknya adalah TBC (Tuberkulosis).


Dokter menjelaskan bahwa tuberkulosis paru atau TBC paru adalah penyakit sistem pernafasan yang menyerang organ paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.


Penyakit TBC ini bisa menular melalui udara.


Oleh sebab itu dokter menyarankan Tari dan yang tinggal satu rumah dengan Pak Syabani juga harus diperiksa untuk mengetahui apakah tertular atau tidak.


Kemudian dokter memberitahu Pak Syabani bahwa dia harus meminum obat selama 6 bulan lamanya.

__ADS_1


"Mbak Tari sebagai anak juga harus mengingatkan bapak ya jangan sampai lupa harus minum obat ini setiap hari selama 6 bulan. Jangan sampai terhenti, kalau terhenti saya akan memberikan obat dalam jangka waktu lebih lama lagi bisa sampai 9 bulan lamanya. Paham ya!" ucap dokter itu menjelaskan dengan rinci.


Perasaan Tari campur aduk. Kini ia telah mengetahui penyakit yang diderita bapaknya. Tidak bisa dibilang kalau penyakit TBC itu adalah penyakit ringan. Tapi ia berharap semoga saja dengan mengkonsumsi obat setiap hari yang diberikan dokter selama enam bulan bapaknya bisa sembuh total.


Setelah dokter keluar dari ruang rawat inap bapaknya, Tari mendapat panggilan telepon.


Karena di ruangan itu ada banyak pasien lain, bukan hanya bapaknya saja, jadi ia merasa tidak enak harus menerima telepon di ruangan itu.


Karena ruangan tempat Pak Syabani dirawat adalah ruangan kelas tiga. Itulah kemauan Tari. Tidak penting kamarnya baginya, yang terpenting adalah mengetahui penyakit bapaknya dan dokter segera memberikan obat dan penanganan yang tepat.


"Pak, Tari terima telepon di luar sebentar ya pak!" ia meminta izin pada bapaknya.


Segera setelah mendapatkan anggukan kepala dari bapaknya, ia keluar dari ruangan itu.


"Assalamu'alaikum, Tari," sapa seseorang dari seberang telepon.


Dari suaranya Tari sudah mengenal dia siapa. Bu Salma, salah satu pelanggan yang setia memakai jasanya untuk menjahitkan baju.


"Wa'alaikumsalam, bu salma," jawab Tari dengan lembut.


"Bagaimana keadaan bapak kamu, sudah baikan?" tanya Bu Salma


"Oh, Alhamdulillah. Begini Tari, baju yang mau ibu jahitkan ke kamu itu kan mau ibu pakai buat lusa. Sekarang kan kamu belum bisa pulang, harus nemenin bapak kamu. Ibu gak masalah sih, ibu gak maksa kamu buat jahitkan baju ibu. Tapi ibu mau ambil bahannya saja bolehkan? biar ibu jahitkan ke tukang jahit lain saja. Karena bajunya benar-benar mau ibu pakai lusa," tutur pelanggan Tari disambungan telepon.


Tari sedikit kecewa, tapi karena ini semua kesalahannya yang tidak bisa menyelesaikan jahitannya tepat waktu, maka Tari tidak ingin membuat pelanggannya itu kecewa.


Ia memutuskan pulang sebentar untuk memberikan bahan kain yang akan dijahitnya namun batal itu kepada sang pemiliknya kembali.


Ia berjanji akan sampai ke kios jahitnya dalam waktu satu setengah jam, karena memang sangat jauh jarak dari rumah sakit ke daerah tempat Tari tinggal. Pelanggan Tari tadipun menyetujui untuk bertemu di kios jahit milik Tari.


Setelah keduanya sepakat membuat janji, dan Bu Salma berulang kali meminta maaf pada Tari karena tidak jadi menjahitkan baju dengannya.


Sehingga membuat Tari menjadi sungkan, karena dalam hal ini dialah yang tidak menepati janjinya. Akhirnya keduanya pun memutuskan sambungan telepon masing-masing.


Tari melangkah masuk ke ruang rawat inap bapaknya lagi untuk berpamitan karena ia akan pulang. Ketika sampai dipintu, kembali ada yang meneleponnya. Kali ini dari Bu Hanifa, 'orang terkaya' di kampung tempatnya tinggal yang meneleponnya.


"Hal -" belum sempat ia berbicara, namun sudah dipotong oleh Bu Hanifa.


"Tari, kamu ini ya, selalu aja gak tepat waktu. Gimana baju saya? pasti belum selesai kamu jahitkan?" Bu Hanifa berucap dengan nada yang agak tinggi.


"Maaf bu, bapak saya sakit. Sekarang saya di rumah sakit, bajunya masih seminggu lagi kan mau ibu pakai?" ucap Tari dengan sopan.

__ADS_1


"Terus karena saya pakai seminggu lagi jadi kamu bisa santai-santai gitu? belum saya fitting lagi, kalau bajunya gak pas bagaimana?" ucap Bu Hanifa lagi-lagi dengan nada tinggi.


"Pasti selesa-" lagi-lagi perkataannya dipotong Bu Hanifa.


"Alah sudahlah, saya ambil aja bahan kain baju saya itu. Saya mau jahitkan ke taylor yang profesional saja," jelasnya dengan sombong.


Tari sudah biasa mendengar kata-kata sombong Bu Hanifa, oleh sebab itu ia tidak heran tapi tetap sedikit emosi.


Ia pun berjanji dengan Bu Hanifa akan sampai di kios jahitnya dan mengembalikan bahan kain itu sekitar satu setengah jam lamanya.


Ia kembali masuk ke ruangan rawat inap bapaknya. Untuk berpamitan karena ia akan pulang.


Setelah perjalanan satu jam setengah ia lewati, akhirnya ia sampai dan langsung di sambut oleh Bu Salma yang sudah menunggu di depan kios. Tidak banyak yang mereka bicarakan, Bu Salma hanya mengambil bahan kain saja, kemudian dia pamit pulang.


Sedangkan Tari masih menunggu Bu Hanifa karena beliau juga akan mengambil bahan kainnya.


Namun setelah tiga puluh menit menunggu Bu Hanifa tak kunjung datang. Karena Tari tidak bisa lama-lama meninggalkan bapaknya sendirian di ruang rawat inap rumah sakit, ia memutuskan untuk mengantar bahan kain milik Bu Hanifa ke rumahnya.


Sampailah ia di depan rumah Bu Hanifa, Tari mengetok pintu. Bu Hanifa sendirilah yang membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum, ini bahan kainnya bu. Saya tadi nunggu ibu di kios saya, tapi ibu gak datang-datang makanya saya yang datang kesini mengantarkan," Tari berucap sambil menyerahkan paper bag yang berisikan bahan kain milik Bu Hanifa.


"Memang saya sengaja gak datang, biar sengaja kamu yang antarkan," jawab Bu Hanifa.


Sesungguhnya Tari bukanlah gadis yang penyabar, ia juga ingin sekali membalas perkataan Bu Hanifa yang tanpa dosa itu. Namun mengingat Bu Hanifa adalah pelanggan setia yang selalu menggunakan jasanya untuk menjahit baju maka Tari membendung sedikit emosinya.


"Kenapa ibu gak langsung telepon saya saja biar saya langsung kesini, jadi saya gak nunggu lama. Saya sudah menunggu ibu setengah jam loh. Dan saya gak bisa meninggalkan bapak saya lama-lama sendirian di rumah sakit, takut bapak kenapa-kenapa," Tari menimpali dengan sedikit emosi.


"Halah kamu ini, baru nunggu setengah jam. Kamu gak lupakan kalau kamu dulu pernah membiarkan anak saya nunggu kamu sampai berhari-hari lamanya? dan bukan sekali, tapi sampai tiga kali," jawab Bu Hanifa yang tak kalah emosi.


Tari hanya beristighfar berkali-kali dalam hatinya agar emosinya tidak meluap-luap. Selalu seperti ini kalau berbicara dengan Bu Hanifa. Selalu mengungkit masalalu.


#####


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca..


Oh ya diawal-awal cerita emang alurnya lambat ya, semoga gak bosen..


Semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊

__ADS_1


__ADS_2