Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Kencan Pertama


__ADS_3

Fadly mengetahui jika Tari selalu pulang jam lima sore. Tidak selalu, tapi ia sering melihat Tari sampai ke rumah di jam lima sore.


Akhirnya karena tidak mau kalah saing oleh pria yang menurut Fadly adalah pria kampung. Ia membawa motor sport nya yang sekarang ini banyak digandrungi oleh para pria.


Motor milik Fadly itu yang biasa dipakai para pembalap moto GP. Yang memiliki body besar di depan namun kecil di belakang bak binaragawan yang berotot.


Pukul lima sore tepat Fadly mengendarai motor sport nya menuju kios Tari, dengan memakai jaket hoodie nya seperti biasa dan kaca mata hitam. Ia sungguh terlihat tampan sekali.


sampai disana belum ada ia nampak keberadaan pria yang ia tidak ketahui namanya itu. Ia membuka kaca mata hitamnya dan menghampiri Tari yang berada di dalam kios.


Disapanya gadis cantik itu. Tari tersenyum menoleh kearah Fadly. Memang Fadly lah yang diharapkannya untuk datang terlebih dahulu.


Fadly melihat Tari sore ini agak berbeda, entah apa yang dilihatnya berbeda padahal Tari seperti biasa, hanya memakai bedak baby dan memoles liptint agar bibirnya tampak basah.


Dan Tari, ia selalu terpesona melihat Fadly. Ia selalu tersenyum bila melihat Fadly, hatinya berbunga-bunga bila melihat Fadly.


"Sudah siap?" tanya Fadly


"Sudah mas," Tari menjawab sambil tersenyum.


Tari beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri dan berjalan menghampiri Fadly.


"Gue naik motor, gak apa-apa kan, kalau gak naik mobil seperti temen lo itu?" ucap Fadly.


Tari yang mendengar itu langsung terdiam dan menghentikan langkahnya, keningnya mengkerut. Bukan karena Fadly mengatakan ia naik motor, tetapi karena Fadly berkata 'lo-gue' lagi bukan 'aku-kamu' seperti ketika ada Kemal tadi siang.


Tari kecewa, senyumnya luntur. Ia kira Fadly sudah memiliki rasa yang sama dengannya sehingga panggilannya pun berubah.


"Kenapa? gak seneng ya naik motor?" tanya Fadly lembut.


Ia salah mengartikan keterdiaman dan perubahan mimik wajah Tari.


Sedetik kemudian kembali senyum Tari mengembang.


"Bukan karena itu kok mas, yaudah yuk kita berangkat!" ucap Tari tidak ingin membuat Fadly salah faham dan mengartikan dirinya gadis matre.


Lebih dulu Fadly menaiki motornya, kemudian disusul Tari yang menaiki diboncengan belakang motor besar itu.


BRUUMMMM!! BRUUUMMMMMM!!


Motor sport Fadly memasuki jalanan aspal yang tidak mulus itu.


Dari kejauhan di dalam mobil jenis Hatchback seseorang melihat Tari sudah berada diboncengan belakang motor sport hitam yang dia perkirakan itu adalah Fadly.


"Ah! Si*l.." Kemal memukul-mukul setirnya berulang kali.


Ia kalah cepat dengan Fadly. Ia memaki dirinya sendiri.


Sementara di jalanan, Fadly melajukan motornya dengan santai, jalanan sore itu tidak terlalu ramai sehingga dengan cepat mereka telah sampai di cafe yang dimaksud Fadly tadi siang.


Karena itu adalah hari minggu, pengunjung sangat ramai yang memenuhi cafe itu. Maklum di daerah tempat tinggal Tari hanya cafe itulah yang bernuansa alam.

__ADS_1


Ketika akan masuk, satpam mengatakan kalau di dalam sudah penuh, pengunjung sudah tidak di izinkan masuk lagi karena sudah tidak ada tempat.


Akhirnya Fadly memutuskan membawa Tari pergi ke cafe biasa yang tidak terlalu ramai, namun kulinernya sangat enak dilidah.


Selama makan di cafe tersebut, Tari banyak diam. Jika Fadly bertanya ia menjawab, jika Fadly diam ia pun akan diam saja.


Tari yang sudah berekspektasi tinggi, bahwa ia diajak oleh Fadly karena Fadly menyukainya. Namun ekspektasi nya jauh dari realita. Fadly terlihat cuek dan percakapannya pun hanya membahas seputar hobinya main game yang sama sekali Tari tidak mengetahui tentang game sedikitpun.


Sungguh Tari sangat kecewa. Oleh sebab itu ia diam saja. Tapi Tari tidak mau terlihat sedih dan rapuh ia harus menutupnya dengan senyum yang rapih.


Baru kali ini perasaan itu datang dihati Tari, perasaan menyayangi dan mencintai lawan jenis. Namun orang yang dicintainya sangat tidak peka akan perasaannya. Atau ia peka tapi ia tidak memiliki perasaan yang sama. Entahlah Tari tidak mengetahui hati Fadly.


Setelah makanan yang mereka pesan habis disantap, Tari memberanikan diri untuk mengajak Fadly pulang ia tidak ingin berlama-lama lagi disini. Fadly menyetujuinya.


Hari sudah menjelang gelap ketika mereka keluar dari cafe tempat mereka barusan makan.


Di jalan ternyata hujan lebat, sambil terus berjalan Fadly mencari tempat untuk mereka berteduh.


Kemudian tidak lama Fadly membelokkan motor sport nya disebuah toko dipinggir jalan yang sudah tutup.


Ketika motor berhenti Tari turun. Ia tidak sadar jika sekarang kemeja putih yang dipakainya sudah menerawang memperlihatkan pa* k*i*n d*l*mnya.


Ia berdiri bersedekap dada karena kedinginan. Melihat hal itu, Fadly membuka jaket hoodie nya dan menyuruh Tari untuk memakainya.


Awalnya Tari menolak, kemudian Fadly memberi kode dengan mengangkat dan mengarahkan dagunya ke tubuh Tari yang basah dan bajunya yang terawang.


"Kalau cuma gue yang ngelihat sih gak apa-apa, tapi gue gak mau orang lain juga ikut ngelihat trus berbuat yang gak semestinya sama lo, Tari," ucap Fadly.


Ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Wajah Tari memerah menahan malu.


Hari ini sangat berwarna sekali baginya. Siang tadi hatinya sangat bahagia karena ia menyangka Fadly menyukainya dengan mengucapkan panggilan 'kamu' padanya dan bukan 'lo' seperti biasa.


Namun sore harinya, hatinya sungguh pilu karena panggilan 'kamu' yang siang tadi diucapkan ternyata hanya untuk memanas-manasi Kemal.


Dan sekarang, ketika matahari menyingsing dan akan beranjak gelap, ia sangat malu akan tampilannya. Seolah ia sengaja memakai baju seperti itu untuk menggoda Fadly. Apalagi tadi ia sempat menolak jaket yang dipinjamkan Fadly.


Saat ini ia benar-benar tidak ingin menampakkan wajahnya pada Fadly. Ia memakai topi jaket itu dan menundukkan kepalanya sehingga wajahnya tidak terlihat Fadly.


Meskipun ia menunduk tapi kakinya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti orang gelisah.


"Tari, kamu kenapa?" tanya Fadly dengan lembut.


Ia menyentuh tangan Tari. Tari dengan cepat menepis tangan Fadly.


"Tadi sebelum ke kios, gue udah izin sama bokap dan nyokap lo, kalau gue mau ajak lo jalan. Dan udah diizinin sama nyokap lo," ucap Fadly mencoba menenangkan Tari.


Bukan itu yang saat ini membuat Tari gelisah. Karena siang tadi juga ia sudah berkirim pesan dengan ibu tirinya kalau ia pulang terlambat karena akan pergi dengan Fadly.


Ia ingin menangis saat ini. Baginya ini adalah kencan pertamanya. Kencan yang sangat diharapkannya menjadi hal terindah ketika memulai menjalin hubungan dengan seorang pria tapi nyatanya kencan pertama ini sangat tidak ingin diingatnya sepanjang hidupnya.


Ia salah mengartikan perlakuan manis Fadly.

__ADS_1


Fadly sejak tadi memandangi Tari, ia tidak tahu mengapa gadis itu sejak tadi diam saja dan hanya menunduk. Ketika diajak bicarapun dia hanya menundukkan kepalanya.


Fadly berusaha memegang tangan Tari lagi, namun tetap ditepis. Kali ini Fadly berdiri di depan Tari, disentuhnya dagu gadis itu. Lagi-lagi tangan Fadly ditepisnya.


Fadly bingung, kesalahan apa yang dilakukannya sehingga membuat Tari seperti ini. Tidak ada senyum malu-malu yang biasa ia lihat.


Gadis-gadis yang biasa ia kenal sangat mudah ia taklukan. Jika mereka marah, Fadly dengan mudah menanganinya. Hanya memandang wajah mereka dan menyentuh tangan mereka saja mereka akan melihat Fadly seperti orang yang dihipnotis.


Tapi Tari, mengapa begini? Ah Fadly bingung sekali sekarang. Apa yang harus ia lakukan pada gadis ini, pikirnya.


"Tari,,," Fadly mencoba berbicara lagi, dengan sangat lembut.


Namun tidak ada tanggapan dari Tari. Tari tetap menunduk. Tari malu, ia tidak berani menatap wajah Fadly. Saat ini ia hanya ingin cepat sampai rumah, namun hujan belum reda.


"Ka-kamu marah ya? kamu kecewa sama ak-aku?" Fadly canggung sekali berbicara seperti itu. Dan ia juga tidak tahu kenapa menyebut aku-kamu dengan gadis itu.


Tidak ada respon apa-apa dari Tari.


"Tadi cafenya rame banget, trus kita gak jadi kesana. Trus karena aku gak naik mobil jadi kita kehujanan. Itukan yang membuat kamu marah?" ucap Fadly dengan hati-hati.


Ia tidak mau menambah kemarahan Tari. Karena ia tahu setiap wanita itu berbeda-beda.


Kali ini ia berjongkok di depan Tari agar bisa melihat wajah Tari yang menunduk.


Tari berkedip menatap wajah lucu Fadly yang mendongak menatapnya.


"Maaf ya, udah buat ka-kamu kecewa" ucapnya tergagap dengan wajah lucu.


Tari tersenyum. Lalu Fadly berdiri, kemudian dibukanya topi jaket yang dikenakan Tari. Diangkatnya dagu gadis itu. Kini mereka berpandangan. Fadly tersenyum.


"Maaf ya" kembali Fadly meminta maaf.



Lestari Syafira


Ini baju yang dipakai kencan pertama kena hujan jadi nerawang deh 😂😂



Fadly Anggara Dewantara


Jaket hoodie adalah pakaian favorite nya..


Visual dunia halu.. ini versi author ya, kalau readers membayangkan aktor dan aktris lain gak apa-apa terserah.. 😊


#####


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih


__ADS_2