Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Rumah Baru


__ADS_3

"Aw," pekik Tari, sembari memegangi bahu kanannya.


"Eh, maaf Mba," ucap seorang pria bertubuh tinggi dan tegap yang menyenggol bahu Tari.


Tari sedang berjalan berkeliling di pusat pasar untuk mencari bahan topi yang akan ia rancang. Ia sudah berjalan dipinggir dan sangat hati-hati, namun pria bertubuh tinggi dan tegap tadi memang sedang tidak memperhatikan jalan karena ia mengarahkan matanya ke ponselnya sehingga menabrak Tari.


Tari masih memegangi bahu kanannya dengan tangan kirinya. Matanya tertuju pada pria yang menabraknya. Pria tersebut pun sama, ia memandang Tari dengan dahi mengernyit. Lalu pria itu menunjuk Tari dengan jari telunjuknya.


"Sepertinya saya pernah melihat kamu," ucap pria itu.


Tari juga merasa seperti itu, ia tidak asing dengan wajah pria yang berada di depannya. "Saya juga, sepertinya memang pernah mengenal kamu, dimana ya?" ucap Tari.


"Mmm, apa kamu pernah ke salon Life Beauty?" tanya pria itu.


Tari mengingat-ingat sejenak, "Life Beauty?" ia mengulang nama salon itu dalam hatinya. Seumur-umur ia hanya sekali pergi ke salon dan itu terjadi pada saat sebelum ia dan Fadly pergi ke mansion keluarga Dewantara. Fadly membawa Tari ke salon untuk di rias agar terlihat tidak pucat karena pada saat itu Tari habis menangis, sehingga matanya sembab. Namun Tari tidak terlalu memperhatikan nama salon itu. Apakah yang dimaksud pria yang menabraknya tadi Life Beauty adalah salon yang ia datangi waktu itu bersama Fadly?


"Salon Life Beauty itu di kota ya, Mas? Saya gak tahu nama salonnya dan alamat salon itu, tapi memang saya pernah ke salon dan di lantai dua salon itu terdapat butik. Jadi pada saat selesai di make up kita bisa langsung membeli baju yang kita ingin pakai di salon itu, apa salon itu yang Mas maksud?" ucap Tari panjang lebar.


"Oh iya benar, Mba. Itu salon Life Beauty. Saya pernah kerja disana. Mba gak ingat sama saya?" ucap pria itu.

__ADS_1


Tari tertegun, ia memperhatikan pria dihadapannya lebih intens lagi. Ah, iya. Kini Tari mengingatnya, pria bertubuh tinggi dan tegap ini mirip dengan Dona, pria gemulai yang meriasnya waktu itu.


"Saya bekerja di salon itu sebagai Make Up Artist (MUA), Mba. Dulunya gaya saya tidak seperti ini," ucap pria yang memiliki potongan rambut seperti tentara itu.


"Iya, Mas. Saya sudah ingat sekarang, nama Mas Dona kan?" ucap Tari.


Pria itu tertawa, "Itu hanya nama panggilan saat itu saja, Mba. Kalau begitu perkenalkan nama saya Handoko."


"Oh Handoko ya? Bukannya Doni? Saya pikir Dona itu pelesetan dari Doni," ucap Tari yang juga ikut tertawa.


Lagi-lagi Handoko tertawa, "Ya, banyak teman sesama MUA yang mengejek saya seperti itu. Padahal nama asli saya ya Handoko. Nama Mba siapa? Maaf, saya lupa."


"Nama saya Tari."


Wanita itu bertempat tinggal di desa Kayu Manis, desa itu bersebelahan dengan desa Pandanan tempat tinggal Tari yang dulu. Rencananya Handoko sedang membeli sesuatu di pusat pasar, kemudian barulah ia bertolak ke rumah sang kekasih.


Kini Tari paham, memang sangat disayangkan bila Handoko terlalu menghayati perannya sebagai seorang MUA sehingga menjadi terbawa dan ikut menjadi gemulai seperti wanita yang kebanyakan memakai jasanya. Karena Handoko memiliki tubuh tinggi dan tegap. Mungkin dulunya ia sering ikut gym sehingga badannya menjadi terbentuk seperti itu.


Handoko ingat, dulu saat ia merias Tari. Tari bercerita jika dirinya adalah seorang penjahit. Maka kebetulan sekali, karena saat ini di salon Life Beauty sedang membutuhkan perancang busana. Perancang busana lama mereka sudah pindah ke luar negeri sehingga bangku perancang busana di salon itu sedang kosong.

__ADS_1


"Apa kamu mau menjadi perancang busana di salon kami?" Handoko menawarkan.


Tari tidak langsung menjawab, saat itu Tari meminta nomor ponsel Handoko. Jika ia sudah ada keputusan akan mengabarkan Handoko lewat ponselnya. Tari tidak yakin dengan kemampuannya. Ia hanya seorang penjahit desa yang hanya tamatan Sekolah Dasar. Selama inipun ia hanya merancang topi bukan merancang busana. Dan pekerjaannya lebih banyak menjahit dari pada merancang.


Setelah selesai berbelanja bahan topi di pusat pasar. Tari pulang ke rumahnya. Tari sudah tidak lagi tinggal di daerah pesisir pantai Green. Usahanya menjahit topi pantai maju pesat, sehingga ia bisa membeli sebidang tanah dan membangun rumah agar tidak lagi hidup mengontrak dengan orang lain.


Topi pantai rancangan Tari kini sudah banyak yang menjualnya. Toko-toko souvenir di pinggir jalan yang berada di sekitaran pantai Green juga memajang topi rancangan Tari di etalase untuk dijual. Semua itu tentu saja membuat Tari meraup banyak keuntungan. Sehingga sedikit demi sedikit ia bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebidang tanah dan membangun rumah di tanah tersebut.


Hari-hari dilalui Tari di rumah barunya. Ia turut serta mengajak Bu Rosita ke rumah baru miliknya. Pekerjaannya sebagai penjahit kini sudah jarang ia lakukan, karena ia sekarang hanya merancang topi-topi pantai maupun topi biasa yang terbilang unik dan juga kain pantai.


Tari sudah memiliki beberapa pekerja. Ia mempekerjakan Tina, Ibu dari Rian. Ia mempercayakan Tina dan dua orang lainnya untuk menjahit topi-topi dan kain pantai yang sudah ia rancang. Brand Lestari Hat Collection dengan sendirinya Tari menggantinya menjadi Lestari Collection. Karena sekarang cakupannya telah meluas, tidak lagi hanya merancang topi tapi ada juga kain pantai.


Bu Rosita juga sudah tidak berkeliling menjajakan barang-barang rancangan Tari. Tari sudah melarangnya. Bu Rosita kini bertugas memantau para pekerja Tari di rumah baru Tari. Pekerjaan Bu Rosita lebih ringan dari yang dulu, tapi Tari memberikan gaji yang lebih besar dari pada yang dulu.


Begitu juga dengan Rian, si remaja laki-laki penjaja topi pantai yang di cari-cari Fadly selama ini juga sudah tidak menjajakan barang-barang rancangan Tari di pantai maupun di pesisir pantai lagi. Tari menugaskan dirinya untuk memantau dan mencatat siapa saja yang menjajakan topi maupun kain pantai.


Rian yang sudah tidak lagi menjadi penjaja topi otomatis sudah jarang pergi ke pesisir pantai maupun ke pantai Green itu, sehingga pada saat Fadly mencari-carinya tidak pernah ketemu.


.

__ADS_1


.


To Be Continued...


__ADS_2