
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Siang harinya operasi Pak Syabani segera dilakukan oleh dokter dan sudah berjalan dengan lancar. Ruangan rawat inap Pak Syabani yang tadinya di kelas tiga, sekarang di naikkan ke lantai tiga ruang VIP. Semua itu Sandi lah yang sudah membiayai.
Selama menunggu bapaknya, Tari dan Bu Rosita tidak pernah pulang ke rumahnya. Sehingga membuat Sandi jadi sering-sering datang ke rumah sakit itu untuk menemui Tari. Memastikan Tari memegang janjinya untuk mau menikah dengannya.
Setelah beberapa hari berlalu, luka Tari yang disebelah kanan kini sudah waktunya untuk di buka perbannya. Luka itu jauh tampak lebih terang dibanding yang disebelah kiri.
Saat Sandi datang dan melihat luka yang begitu mengerikan di pipi kanan Tari yang baru di buka perbannya, Sandi kembali bertanya, "Sebenarnya luka ini bukan karena kamu kecelakaan kan?"
Tari menatap Sandi, mereka beradu pandang sejenak. Tari menimbang apakah ia perlu menceritakan kejadian itu atau tidak. Setelah dipikir beberapa saat, tidak ada salahnya ia menceritakannya pada Sandi.
"Waktu itu, sekitar dua minggu yang lalu. Saya dari Rumah Sakit Setia Sehat mau ke Rumah Sakit Kasih Medica naik angkot. Terus ditengah jalan, angkot itu dihadang sebuah mobil, mungkin mobil itu mau merampok supir ataupun kami para penumpang yang ada diangkot itu," sejenak Tari menjeda ucapannya.
Namun segera dipotong oleh Sandi, "Mobil yang menghadang, mobil apa?"
"Saya gak perhatiin, Mas. Karena waktu itu saya panik sekali. Semua orang dihajar hingga pingsan oleh orang itu."
"Plat nomor polisinya kamu juga gak lihat?"
"Gak, Mas."
Sandi menghela napas dan memalingkan mukanya ke sembarang arah.
"Ckk, sayang sekali. Terus gimana? lanjutkan ceritanya," Sandi mengintruksi.
Taripun menceritakan kejadian naasnya pagi itu. Sandi mendengarkan Tari dengan seksama. Saat Tari menceritakan bagian ketika orang itu mengiris pipinya dengan silet, Sandi bergidik ngeri.
Namun, ada yang membuat Sandi heran. Pria itu ingin merampok, dia menghajar semua orang termasuk supir, kecuali Tari.
"Kita harus melaporkannya ke polisi, sayang. Lihat pipi kamu seperti itu Mas gak tega. Mas akan cari siapa yang berbuat seperti itu sama kamu."
"Sudah gak usah, Mas. Lagian Tari sudah sembuh sekarang."
__ADS_1
"Ya, tapi pipi kamu jadi tergaris seperti ini," Sandi memegang pipi Tari.
"Mas bisa sih, belikan obat mahal buat kamu. Biar bekas luka ini cepat hilang. Tapi tetap saja kan ini gak adil buat kamu. Kamu pasti trauma kan?"
Benar sekali apa yang Sandi katakan, Tari kini jadi trauma setiap kali mengendarai angkutan umum. Padahal, tidak setiap waktu ketika akan pergi ia sanggup membayar ongkos ojek online. Alternatifnya adalah angkot yang murah di ongkosnya. Tetapi kalau sudah trauma begini, Tari harus bagaimana?
"Iya, Mas. Saya sedikit trauma."
"Tuh kan. Kita lapor polisi ya. Belum lagi biaya perobatan untuk ini, pasti cukup besar juga kan kamu keluarkan?"
"Untuk biaya perobatan luka sampai sembuh sudah ada yang bayarkan, Mas. Dari seorang. kenalan."
"Kenalan? siapa?" tanya Sandi menyelidik.
Sandi heran, selama ini Tari yang sudah berulang kali menolak lamarannya. Kenapa tiba-tiba datang menemui dirinya dan bersedia menikah dengannya. Jika masih ada seorang teman yang bisa membantu meminjamkan uang. Karena pada saat ia datang dengan ibunya ke rumah Tari untuk menagih uang kontrakan yang sudah menunggakpun, Tari masih tetap berusaha untuk meminjam uang temannya lewat sambungan telepon dan meminjam pada tetangganya juga tanpa rasa malu.
"I-iya mas, kenalan," jawab Tari terbata.
"Perempuan atau laki-laki kenalan kamu itu?"
"Laki-laki, Mas."
"Terus dia tahu dari mana kalau kamu sedang tertimpa musibah."
"Kamu bilang, orang yang mau merampok tadi sudah menghajar semua orang termasuk supirnya juga, kok dia bisa nolongin kamu dan bawa kamu ke rumah sakit sampai bisa bayarin kamu seluruh biaya perobatan kamu. Sampai sembuh lagi."
"Ya, bisa saja kan waktu saya pingsan mereka terbangun. Terus gak ada bukti apapun, Mas. Kecuali luka di pipi saya ini."
"Sudah, ayo! kita segera ke kantor polisi. Mas ada teman polisi dan pengacara, nanti mereka yang akan bantu."
Dengan ke arogansiannya, Sandi tidak akan tinggal diam membiarkan orang yang telah berbuat jahat pada calon istrinya. Akhirnya mereka pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tragis dua minggu yang lalu yang menimpa Tari.
Setelah laporan dari Sandi dan Tari masuk, tidak sampai 2x24 jam, polisi sudah memanggil Max ke kantor polisi sebagai saksi untuk dimintai keterangan.
Polisi mengetahui Max dari hasil pemeriksaan cctv yang ada di area Rumah Sakit Kasih Medica. Hanya Max yang terlihat di cctv itu, sehingga Max saja yang dipanggil untuk dimintai keterangan oleh polisi.
Pada saat Max berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan, Tari sebagai korban dan pihak pelapor juga di panggil guna mencocokkan keterangan yang diberikan Max.
Max mengatakan, jika dia mengantarkan Tari dengan mobilnya. Sedangkan penjelasan Tari, Max tidak membawa mobil karena Max ikut naik angkot bersama dengan Tari.
Meskipun awalnya Max tidak berkata dengan jujur, namun dengan keahliannya, polisi berhasil mengorek lebih dalam informasi dari Max, ternyata Max lah dalang dari kejahatan penyiksaan yang mengakibatkan Tari terluka parah dan juga banyak orang yang babak belur.
__ADS_1
Keesokan harinya...
Setelah mendengarkan keterangan yang di berikan Max pada polisi kemarin, polisi menangkap Max dan juga Evan yang turun tangan secara langsung dalam melakukan tindak kejahatan. Max dan Evan ditangkap di rumahnya dengan tuduhan pemukulan beberapa orang dan melakukan penyiksaan pada satu orang gadis, yaitu Tari.
***
Sementara itu, di Rumah Sakit di Jakarta. Setelah dua minggu dirawat di ruang Intensive akhirnya Fadly sudah sadarkan diri.
Fadly membuka matanya perlahan, lalu para perawat dan dokterpun dengan sigap segera memeriksa keadaan Fadly.
Dan semuanya sudah membaik. Mulai dari tanda vitalnya, seperti jantung, pernapasan, dan keseluruhannya sudah membaik. Namun masih butuh waktu pemulihan yang cukup lama untuk cidera kepalanya.
Perawatpun memberitahukan kabar baik ini pada keluarga Fadly. Nyonya Shofia menangis terharu memeluk sang suami, Tuan Haris Dewantara.
Tadinya Tuan Haris ingin membawa Fadly ke Rumah Sakit di Singapura jika Fadly belum juga sadar. Namun mereka bersyukur Fadly sudah sadar lebih cepat.
Ketika tersadar, orang yang pertama diingat Fadly adalah Tari. Saat diperiksa oleh dokter, Fadly berulang kali menyebut nama Tari.
Dokterpun berpikir, mungkin dengan membawa Tari didekat Fadly akan membuat semangat Fadly untuk sembuh semakin cepat.
"Saya mama nya suster, saya sudah sangat rindu pada anak saya. Kenapa Tari yang suster panggil?" jawab Nyonya Shofia ketika perawat memberitahu keluarga Fadly untuk membawa Tari ke ruangan Fadly sekarang juga.
"Maaf Nyonya, bukan saya, tapi Tuan Fadly sendiri yang memanggil Tari, sejak dia membuka matanya dia berulang kali menyebut nama Tari," jawab perawat tersebut.
"Kami tidak tahu keberadaan Tari dimana suster, apa boleh kami saja yang masuk menemui Fadly? suster tahu sendirikan kalau kami orang tuanya?" tanya Tuan Haris pada perawat itu.
"Sebenarnya Tuan Fadly masih dalam pemeriksaan dokter, Tuan. Jadi, belum bisa dijenguk untuk saat ini. Tapi Tuan Fadly berulang kali menyebut nama Tari. Jadi dokter menganjurkan untuk memanggil Tari agar Tuan Fadly bisa lebih cepat melewati masa pemulihannya, khususnya pemulihan cidera kepalanya. Siapa tahu Tari adalah semangatnya untuk pulih."
"Tapi Tari tidak ada disini, dan kami tidak tahu keberadaannya dimana," jawab Tuan Haris dengan asal.
Padahal ia bisa saja menemukan Tari dengan cepat. Dengan menyuruh orang-orangnya, tapi Tuan Haris tidak mau melakukan itu.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤