Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Menjenguk Tari


__ADS_3

"Padahal Tari cukup dijenguk nak Fadly saja sudah senang loh, dan setelah itu pasti dia sembuh. Ya 'kan Tari?" celetuk Bu Rosita dengan entengnya.


Membuat Tari yang sedang minum tersedak dan terbatuk-batuk.


Fadly yang berada di sebelahnya refleks berdiri, lalu menepuk-nepuk pelan punggung atas Tari. Setelah sudah agak reda, Fadly mengelus-elus pelan punggung Tari. Membuat pria yang berada di depan Tari menjadi sedikit kepanasan.


Kemal sungguh jengah melihat akting Fadly yang seperti artis sinetron, saat ini ia ingin sekali bertepuk tangan tepat di wajah Fadly. Kemal tidak mau kalah kali ini, ia tidak mau terus-terusan menonton kemenangan rivalnya itu.


"Ekhem... Tari, sebentar ya, aku mau ke mobil, ada sesuatu yang mau aku ambil di mobil," ucap Kemal seraya berdiri. Ia menekan setiap mengatakan kata mobil.


"Iya Kemal, lama juga gak apa-apa kok," jawab Bu Rosita yang tidak ditanya.


Tari menoleh kearah dimana Bu Rosita duduk. Keningnya mengkerut membuat alisnya bersatu. Tari merasa heran mengapa ibu tirinya bersikap manis sekali pada Fadly. Biasanya dia akan bersikap manis pada orang yang mengendarai mobil. Tetapi hari ini ia ketus sekali pada Kemal, semenjak kedatangan Kemal tadi hingga sekarang.


Setelah Fadly merasa batuk Tari sudah mereda ia duduk kembali. Ia menatap wajah Tari yang pucat. Tari yang ditatap tampak tersenyum malu.


Sudah lama sekali Fadly tidak melihat senyum malu-malu itu di wajah Tari. Tangan Fadly bergerak menyentuh tangan Tari. Sedangkan Tari menoleh kearah ibu tirinya. Ia malu jika adegan ini dilihat Bu Rosita.


"Bu, mas Fadly belum dibuatkan minum," ucap Tari.


Bu Rosita sedikit paham, ia mengangguk dan tersenyum, lalu berjalan ke dapur hendak membuatkan minum untuk Fadly.


Tangan besar itu belum terlepas dari tangan Tari. Fadly semakin menggenggam tangan Tari yang terasa hangat. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Tari dan tangan kirinya ia gunakan untuk mengecek suhu tubuh Tari. Punggung tangannya ia arahkan ke dahi Tari. Hangat, bahkan panas yang Fadly rasakan ketika menyentuh dahi Tari.


"Kamu sudah pergi ke dokter?" tanya Fadly dengan wajah khawatir.


'Ke dokter?' Tari membeo dalam hati.


Tari menghembuskan nafasnya perlahan.


"Sudah minum obat demam kok mas, ibu yang belikan di warung."


"Badan kamu panas banget Tari, kamu harus dibawa ke dokter."


"Sudah biasa mas, bahkan dulu pernah lebih panas dari ini bisa sembuh kok, tanpa harus pergi ke dokter," ucap Tari meyakinkan.


"Tapi Tari-"


"Tari, ini buat kamu. Aku bawa dari kota khusus buat kamu."


Ucapan Fadly terpotong oleh Kemal yang sudah berada diambang pintu. Dengan membawa kotak-kotak yang berisi kue.


Perlahan Fadly melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Tari.


Kemal membawa tiga macam bolu. Ia membuka kotak bolu itu satu persatu. Ada bolu mentega yang diatasnya ditaburi tepung gula dingin. Ada juga bolu gulung yang isinya keju dan butter cream. Dan ada juga bolu pandan yang diatasnya ditaburi keju.


Seraya membukanya ia melirik ke arah Fadly dengan senyum mengejek.

__ADS_1


Sementara itu Bu Rosita yang baru saja datang dari dapur melihat apa yang di bawa Kemal untuk Tari, ia bersikap biasa saja. Dia langsung meletakkan minuman yang dibuatnya untuk Fadly.


"Diminum nak Fadly," ucap Bu Rosita.


"Ia bu, terimakasih bu, " jawab Fadly.


"Wah!, ini dari Kemal ya?" tanya Bu Rosita menunjuk bolu yang tersedia di meja.


"Iya bu," jawab Kemal, lagi-lagi ia melirik ke arah Fadly.


"Boleh dimakan kan?" tanya Bu Rosita lagi.


"Boleh dong bu," jawab Kemal.


"Kalau begitu bantu ibu yuk! bawa ke dapur biar dipotongin bolunya," ucap Bu Rosita.


Kemal mengangguk, kemudian menutup kotak bolu-bolu itu kembali. Dan membawanya ke dapur mengikuti langkah Bu Rosita.


Bu Rosita sengaja menyuruh Kemal agar Fadly dan Tari bisa leluasa berbincang berdua saja.


Sesampainya di dapur Bu Rosita menyuruh Kemal untuk mengangkat air dari kamar mandi untuk dimasak, yang sebelumnya air itu harus ditampung terlebih dahulu sampai penuh satu panci, kemudian diangkat dan dimasak diatas kompor.


Tentu Kemal tidak mungkin menolaknya. Kini ia sedang menunggu air sampai penuh.


Di ruang tamu, Fadly dan Tari masih sama-sama terdiam. Tari tidak tahu harus mengatakan apa.


"Aku antar kamu ke klinik ya! mau ya!" Fadly membujuk Tari agar mau dibawa berobat.


"Gak usah mas, beneran, nanti sore palingan sudah turun kok panasnya," jawab Tari meyakinkan.


"Kamu yakin?" Fadly sangat mengkhawatirkan keadaan Tari.


"Yakin mas," jawab Tari seraya menampilkan senyum dibibirnya.


Perasaan Tari sungguh senang sekarang ini. Benar yang dikatakan ibu tirinya tadi, cukup dijenguk saja tidak usah dibawakan apa-apa Tari pasti sudah sembuh.


"Kata ibu kamu, kamu sakit karena aku ya? aku minta maaf ya! meskipun aku gsk tshu salah aku sda dimana," ucap Fadly penuh penyesalan.


Seketika mata Tari membeliak menatap Fadly. Dari mana ibu tirinya tahu jika dia sakit karena Fadly, pikir Tari.


"Eng-enggak kok mas, saya kemarin pagi gak sarapan.." ucap Tari salah tingkah.


"Iya saya gak sarapan, ja-jadi sakit. Karena saya sudah terbiasa sarapan kalau pagi, jadi ketika gak sarapan perut saya langsung gak enak," jawab Tari sedikit terbata, karena malu mengakui jika memang benar kenyataannya dirinya sakit karena Fadly.


Fadly yang melihat tingkah Tari yang lucu itu pun tersenyum.


"Tari, dia siapa kamu? pacar kamu ya?" ucap Fadly menanyakan Kemal.

__ADS_1


Karena Fadly memang tidak mengenal siapa pria itu.


"Bukan, bukan, mas," ucap Tari melambai-lambaikan tangannya di depan dada berulang kali.


"Dia bang Kemal, kakak kelas saya sewaktu SD dulu mas, selama beberapa tahun ini dia rutin menjahitkan baju sama saya, jadi sering bertemu. Dan tadi katanya dia ke kios dulu, terus pas lihat kios tutup dia langsung ke sini," sambung Tari menjelaskan panjang lebar.


"Ohh, tapi kelihatannya dia suka sama kamu. Kelihatan banget malah," ucap Fadly.


Mendengar ucapan Fadly, Tari jadi tidak enak hati pada tetangganya itu. Ia tidak mau jika Fadly salah paham. Biarlah Kemal suka dengan Tari. Tapi Tari hanya mencintai Fadly. Tapi Tari tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.


Karena tidak ada jawaban dari Tari, Fadly kembali mengeluarkan suaranya.


"Bapak kamu kemana? kok aku jarang lihat akhir-akhir ini?"


"Bapak lagi tidur mas, bapak sedang sakit batuk-batuk sekarang. Seperti yang waktu itu, tapi tidak terlalu parah," jawab Tari.


Sementara keadaan di dapur sudah selesai semua. Bu Rosita juga bingung mau menyuruh Kemal mengerjakan apa lagi. Akhirnya Kemal diizinkan kembali ke ruang tamu.


Kemal membawa potongan bolu yang ia bawa tadi ke ruang tamu, untuk dimakan bersama. Dilihatnya Tari dan Fadly sedang asik berbincang. Ia tidak akan membiarkan Tari dan Fadly menjalin hubungan, kalaupun mereka sudah ada hubungan, Kemal akan berusaha untuk membuat mereka berpisah, itulah sumpahnya.


Kemal duduk, masih duduk ditempatnya yang tadi. Dan meletakkan piring bolu di atas meja.


"Jadi, maksud kamu bapak sakitnya kambuh?" tanya Fadly melanjutkan perbincangan mereka tadi.


"Iya mas, rencana besok mau check up ke rumah sakit, ditemani ibu," jawab Tari.


"Oh begitu," Fadly membulatkan bibirnya.


Merasa dicuekin atas kehadiran dirinya, Kemal memgambil sepotong bolu dan berniat akan memyuapi Tari.


"Tari, buka mulut aaaaa," ucap Kemal.


Tari spontan membuka mulutnya dan menggigit sedikit bolu itu. Lalu dikunyah olehnya. Tidak lupa Kemal mengambil gelas dan memberikannya pada Tari. Setelah itu Kemal memberikan lagi sisa potongan bolu tadi, masih dengan cara menyuapinya.


Tari sedikit melirik kearah Fadly. Ternyata Fadly pun tengah menatapnya tajam. Pandangan mata mereka bertemu. Sepersekian detik kemudian Kemal menyentuh pipi Tari agar Tari tidak menatap Fadly lagi, tapi mengarahkan pandangannya kearahnya.


Fadly yang merasa sudah puas berbincang dengan Tari sejak tadi akhirnya pamit untuk pulang. Ia juga bosan melihat wajah Kemal yang lagi-lagi menunjukkan wajah mengejek bak anak kecil yang menjulurkan lidahnya.


Akhirnya Fadly pamit pada Tari dan Bu Rosita tentunya. Yang mana membuat Bu Rosita menunjukkan wajah tidak sukanya pada Kemal dan Tari.


#####


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2