Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Di Fitnah


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


.


.


Jenazah Pak Syabani telah selesai di kebumikan. Tari menangis hingga matanya membengkak, kini ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Ia berharap semoga Bu Rosita masih tetap mau menjadi ibunya meskipun bapaknya sudah tiada.


Tari mengutuk dirinya sendiri, karena kebodohannya, karena kebohongannya sehingga dua nyawa telah melayang. Sungguh ia tidak menyangka ini semua akan terjadi dan menimpa dirinya.


Kini Tari sedang duduk di depan mesin jahitnya. Sudah beberapa hari berlalu sejak bapaknya meninggal, namun tidak ada satu orang pun yang datang untuk menjahitkan baju padanya. Bahkan sekedar untuk permak baju saja tidak ada.


Bu Rosita sejak dua hari lalu pergi mencari pekerjaan, apapun pekerjaannya akan ia lakukan selama itu masih halal. Bu Rosita berharap agar segera dapat pekerjaan supaya ia bisa meringankan beban Tari.


Pak Syabani sudah meninggal, tentu saja Bu Rosita tidak mau terus-terusan hanya meminta pada Tari. Sedangkan Tari saja sekarang sedang susah mendapat jahitan.


Satu bulan berlalu, jahitan yang datang pada Tari bisa dihitung jari. Awalnya ia tidak tahu mengapa orang-orang tidak mau menjahitkan baju lagi padanya.


Tapi belakangan setelah Bu Rosita mencari tahu, ternyata semua itu ulah Bu Hanifa. Ia menghasut semua orang kampung agar tidak menjahitkan baju mereka lagi pada Tari.


Bu Hanifa memutar balikkan fakta bahwa Tari telah menjebak Sandi. Bahwa Tari lah yang memberikan serbuk haram itu pada Sandi dan memberikan seorang wanita malam untuk menghibur Sandi agar Tari terbebas dari melayani suaminya.


Tari tidak mau berhubungan suami istri pada Sandi karena ia memiliki selingkuhan. Tari menikah dengan Sandi hanya mengincar harta saja. Oleh karena itulah Tari menjebak Sandi.


Itulah yang dikatakan Bu Hanifa pada warga kampung. Bu Hanifa adalah orang terpandang di kampung itu, mengingat Bu Hanifa adalah orang terkaya di kampung itu. Sehingga apa yang dikatakannya warga kampung mudah percaya.


"Jadi, kalian tetap mau pakai jasa jahit si Tari itu? kalau saya jadi kalian, saya sudah tidak sudi baju saya di pegang-pegang sama perempuan seperti Tari. Perempuan penipu, yang sudah menjebloskan suaminya yang sangat baik, tampan dan juga kaya ke penjara, kan kurang ajar dia itu. Karena dia juga suami saya jadi shock mendengar anaknya di penjara jadi suami saya kena serangan jantung dan meninggal."


Tidak hanya pada satu ataupun dua orang tetapi pada semua warga kampung Bu Hanifa menebar fitnah kejamnya.


Lambat laun Tari menjadi tidak punya penghasilan dari menjahit baju.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, Bu Rosita sudah mendapatkan pekerjaan, sehingga sudah beberapa bulan ini Bu Rosita yang membiayai kehidupan Tari. Bu Rosita tidak keberatan sama sekali.


Saat ini Tari dan Bu Rosita masih tinggal di kios jahit milik Tari. Tidur hanya beralaskan tikar, makan seadanya. Karena memang gaji Bu Rosita yang bekerja sebagai buruh cuci hanya sedikit.


Tiba-tiba Tari teringat akan sesuatu. Ia masih punya simpanan perhiasan emas yang diberikan Sandi waktu itu. Tari dengan cepat bergerak memeriksa tasnya dan segera mencari benda berharga itu.


"Alhamdulillah," ucap Tari ketika menemukan dua kotak bludru tempat perhiasan-perhiasan itu tersimpan.


Tiba-tiba.


Praaang!!!


Kaca jendela kios jahitnya dilempar batu oleh seseorang dari luar.


"Akh!!!" Tari berteriak karena terkejut.


Hal ini bukan yang pertama kalinya. ia sering diteror oleh orang yang tidak dikenal. Kadang kiosnya dilempari tanah, kadang dilempari lumpur yang membuat kiosnya sangat kotor dan beberapa baju-baju yang akan dijahitnya menjadi kotor.


Tapi yang paling parah adalah hari ini. Karena sangat membahayakan dirinya. Bisa saja ketika orang dari luar melempar batu dan mengenai dirinya, tentu saja hal itu bisa mencelakainya.


Waktu itu Tari sempat berpikir untuk pergi dari kampung itu agar mereka tidak bisa mencelakainya lagi. Tapi akan pergi kemana ia tidak tahu. Dan tentunya tidak punya biaya untuk hidup diluar.


Sore hari, saat Bu Rosita sudah pulang dari kerjanya. Bu Rosita terkejut mendapati kaca kios jahit Tari pecah.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Kenapa dengan kaca itu, Tari?" tanya Bu Rosita penasaran.


"Ada yang memecahkannya, Bu. Mereka melempar batu dari luar," jawab Tari dengan sedih.


"Ya Allah... semakin lama semakin parah tindakan mereka sama kamu, Tari. Kita harus melaporkan mereka sama polisi."


"Mereka siapa yang ibu maksud? kalau mau lapor polisi gak ada bukti apa-apa, Bu."

__ADS_1


"Ya, merekalah siapa lagi kalau bukan keluarga Bu Hanifa."


"Kita pergi aja dari desa ini, Bu. Kita mulai hidup baru ditempat yang baru. Ibu mau?"


"Tapi, sayang tanah ini, Tari. Meskipun hanya sepetak tapi lumayan kalau dijual," ucap Bu Rosita.


Ternyata sifat matre Bu Rosita belum hilang.


"Biarkan aja tanah ini, Bu. Yang penting surat-suratnya masih ada sama kita. Kita tinggal juga gak akan ada yang bisa ganggu tanah ini. Tari punya perhiasan, nanti Tari akan jual perhiasan itu dan kita pakai untuk modal usaha ditempat yang baru, tidak di kampung ini."


Akhirnya Bu Rosita menyetujuinya dan akan ikut Tari, karena ia juga tidak tahu akan tinggal dengan siapa jika tidak dengan Tari.


Malam itu juga mereka mengemasi barang-barang mereka, mereka dibantu Dodi untuk mengangkati barang-barang yang berat. Tari membawa dua buah mesin jahitnya yang akan menjadi modalnya untuk mencari rezeki ditempat baru yang akan ditujunya. Tari menyewa mobil pick up untuk mengangkut barang-barang mereka semua.


Malam itu Tari dan Bu Rosita berpamitan dengan Dodi dan istrinya.


Pagi harinya, Bu Hanifa kembali menyuruh orang untuk mencelakai Tari. Tapi, saat orang itu akan melemparkan sesuatu yang kotor ke dalam kios Tari, orang itu mendapati kios Tari sudah kosong tidak berpenghuni dan tidak ada barang apapun disana.


Orang itu segera melaporkannya ke Bu Hanifa, Bu Hanifa tersenyum mengejek, "Sampai kapan mereka akan bersembunyi, mereka kan tidak punya apa-apa."


***


Satu bulan kemudian...


Nyatanya Bu Hanifa tetap tidak mendapatkan kabar bahwa Tari kembali ke kiosnya. Bu Hanifa mulai geram, karena ia masih sangat dendam pada Tari. Ia belum puas jika Tari belum menderita seperti anak kesayangannya yang sekarang nendekam di penjara.


Karena dendamnya tidak terbalaskan Bu Hanifa kembali menyuruh orang. Kali ini Bu Hanifa menyuruh orang untuk menghancurkan kios jahit Tari. Agar ketika Tari dan Bu Hanifa kembali nanti mereka benar-benar tidak memiliki tempat tinggal lagi.


Sementara itu ditemoat lain, sudah satu bulan ini Tari dan Bu Rosita memulai hidup baru mereka di tempat yang baru dan tidak ada yang mengenal mereka.


Tari Merasa hidupnya lebih tenang, tidak ada lagi teror, tidak ada lagi cemooh orang-orang kampung yang nengatai dirinya gadis penipu dan gadis tidak tahu diri.


Meskipun ditempat yang baru ia harus memperkenalkan dirinya lagi sebagai seorang penjahit. Harus mencari pelanggan baru, tapi itu semua ia jalani dengan senang hati dan yakin suatu hari nanti akan banyak orang yang mempercayainya jika ia adalah penjahit handal.


.

__ADS_1


.


Next >>>>>>>


__ADS_2