
Tari tahu pasti ini akan terjadi. Mengingat bapaknya sejak setahun lalu sudah tidak bisa pergi ke kios jahit miliknya yang ia rintis sejak Tari masih kecil.
Tari sudah mempersiapkan tabungan untuk biaya berobat bapaknya sewaktu-waktu bila dibutuhkan. Namun ia tidak yakin uang tabungannya cukup.
Kini Tari sudah berada di rumah kontrakan kecilnya. Ia membongkar tabungannya, lebih tepatnya celengan recehan yang ia punya.
Ia hanya sanggup mengumpulkan uang sepuluh hingga dua puluh ribu rupiah setiap ia mendapatkan uang dari hasil ia menjahit.
"Bismillah"
Brukkkh
Ia memecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu.
Dikutipnya uang dari celengan yang barusan ia pecah tadi lalu dihitungnya. Tidak banyak yang didapat, hanya empat juta delapan ratus dua puluh ribu rupiah saja. Ia menyesal mengapa tidak menabung lebih banyak, mengapa selama setahun hanya dapat segini. Ia benar-benar menyesal sekarang.
Tidak lama setelahnya, dengan berjalan kaki saja ia pergi dan kini sudah berada di klinik tempat bapaknya dirawat itu lagi. Lelah sungguh lelah sekali pikiran, batin, dan raganya.
Ini semua ia lakukan demi bapaknya yang telah merawatnya, melindunginya, membiayainya dan menyayanginya hingga ia dewasa. Sekarang gilirannya lah yang harus membalas semua itu. Semua itu ia lakukan dengan ikhlas.
Fadly dan Andi sudah tidak terlihat di klinik, hanya Bu Rosita yang masih duduk di teras klinik. Dan masih terus menunduk memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Padahal suaminya sedang sakit dan terbaring lemah di dalam klinik.
"Bu, tetangga kita dan temannya yang mengantar tadi kemana?" tanya Tari pada ibu tirinya.
"Udah pulang," jawabnya acuh, tanpa melihat kearah Tari.
Tari melihat ibu tirinya itu jengah, kemudian melangkah masuk hendak menemui bapaknya. Sampai dipembaringan bapaknya, bapaknya melihat kearah datangnya suara langkah kaki lalu tersenyum pada Tari, Tari pun tersenyum pada bapaknya. Ingin sekali ia menangis, tapi ia tahan. Ia ingin terlihat kuat dan menguatkan bapaknya.
"Kita ke rumah sakit ya pak, biar segera mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter," Tari mengatakan itu sambil tersenyum dan menahan tangisnya sampai terasa sesak didadanya.
"Di sini saja, lagian disini kan bapak juga dapat obat," desis bapaknya.
"Di klinik ini tidak ada dokter yang khusus menangani penyakit bapak, kalau di rumah sakit kan ada dokternya pak, obatnya lengkap, alat-alatnya juga lengkap," jawab Tari menatap bapaknya dengan rasa sayang.
"Bapak gak mau menyusahkan kamu, nak. Rumah sakitkan biayanya besar, dan jauh dari rumah kita," kali ini kata-kata bapaknya benar-benar membuat Tari tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Maafkan bapak ya nak, sudah menyusahkan kamu," desis bapaknya.
"Ya Allah, gak pak.. Bapak gak pernah menyusahan Tari," tangannya menyeka air mata yang terus jatuh.
Tangan lemah bapaknya bergerak mengelus kepala Tari.
"Ikhlaskan saja bapakmu ini nak, yang sakit-sakitan, yang selalu menyusahkan kamu, gak pernah kasih kamu kebahagiaan," ucap bapaknya dengan lemah.
__ADS_1
"Jangan gitu pak, bapak harus optimis. Bapak pasti sembuh, ada Allah yang bantu kita pak. Tari punya uang kok untuk bawa bapak ke rumah sakit. Gak usah pikirkan biayanya, Tari kan setiap hari dapat penghasilan. Yang jahit sama Tari itu banyak pak, bapak sama sekali gak menyusahkan Tari kok" ucapnya untuk menyemangati dan meyakinkan bapaknya.
"Terimakasih sudah menjadi putri bapak yang baik. Kalau memang bapak harus dibawa ke rumah sakit. Bapak ada tabungan sedikit dari yang kamu kasih setiap bulan gak pernah bapak pakai. Ada di rumah, bisa untuk tambah-tambah biaya rumah sakit bapak," sambung bapaknya.
Setelah mendengar itu dan menanyakan dimana bapaknya meletakkan uang simpanannya, kembali Tari pulang ke rumah.
Tidak lupa ia menitipkan bapaknya pada Bu Rosita yang ia lihat sekarang sedang menikmati makanannya yang ia pesan melalui ojek online.
Hari sudah hampir gelap ketika ia sudah sampai di halaman rumahnya. Terlihat Fadly sedang duduk di teras rumah dan akan beranjak masuk ke dalam.
"Mas," panggilnya sedikit berteriak karena Fadly sudah membuka pintu rumah dan hendak masuk ke dalam.
Fadly menoleh ke belakang mencari sumber suara, ia melihat Tari. Kedua tangannya ia masukkan kedalam kantong celana. Ia memakai celana warna hitam selutut dan kaos dalam warna putih yang ngepas dan membentuk dadanya yang bidang dan otot lengan yang tegap juga perut yang rata.
Ia tidak bersuara, ia hanya menunggu Tari ingin mengatakan apa.
"Terimakasih atas bantuannya tadi. Tadi saya belum mengucapkan terimakasih sama mas dan teman mas yang punya mobil tadi, eh! mas-nya udah pulang duluan," ucapnya sambil tersenyum tipis.
Fadly terdiam. Dilihatnya Tari sangat kelelahan. Rambut yang dikucir kuda di belakang kepala kini sudah berserakan tidak berbentuk. Ia iba melihat gadis itu.
Cukup lama ia memperhatikan Tari dari atas hingga bawah. Begitu juga dengan Tari, tanpa sadar ia terus memperhatikan tetangganya itu. Cuek, begitulah yang ia tangkap. Tari sangat tidak suka dengan laki-laki seperti itu yang cuek, jutek dan tidak merespon orang berbicara.
Dipertemuan pertama mereka juga Fadly terlihat sombong. Benar-benar bukan tipikal laki-laki yang disukainya.
Namun detik berikutnya ia tersadar, ia harus cepat mandi dan menunaikan ibadah sholat maghrib karena harus membawa bapaknya ke rumah sakit. Cukup lama ia menunggu jawaban atas ucapannya, namun nihil.
"Kalau gitu saya masuk dulu ya, Mas," ujar Tari karena lama tidak ada respon dari lawan bicaranya.
"Eh! ini handphone lo. Tunggu ya, gue ambil di dalam," Fadly melangkah ke dalan rumah meninggalkan Tari.
Kemudian ia keluar sambil membawa ponsel butut milik Tari yang terjatuh tadi yang sudah terpisah semuanya. Entah masih bisa terpakai lagi atau tidak ponsel itu.
Fadly mengulurkan tangannya dan menyerahkan ponsel yang sudah terpisah menjadi tiga bagian. Tari melihatnya dan menerima benda itu.
"Udah rusak, tadi waktu lo lari terjatuh," desis Fadly.
"Terimakasih, Mas. Ini gak rusak kok," Tari merangkai ponsel itu, memasukkan baterainya, dan menutup casing belakangnya.
Kemudian ia menekan lama tombol power dan sekejab kemudian benda itu menyala menampilkan dua tangan yang berpegangan erat khas milik Nokia.
Dan ia menunjukkan pada Fadly benda itu telah menyala sambil tersenyum kearah Fadly.
"Sudah sering begini, kalau jatuh pasti begini," cicitnya, padahal tidak ditanya. Senyum masih menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Sejenak ia melupakan kesedihannya, ia bisa tersenyum sumringah entah karena ponsel itu atau Fadly yang membuatnya terus tersenyum.
Karena tidak ada perbincangan yang berarti Tari pun kembali pamit ingin masuk ke dalam rumah nya. Dan hanya ditanggapi datar oleh tetangganya itu.
Setelah mandi dan selesai sholat maghrib, Tari berencana akan keluar dan kembali ke klinik tempat bapaknya dirawat. Iapun sudah mengambil uang simpanan bapaknya untuk biaya rumah sakit bapaknya tentunya.
Uang itu juga tidak banyak, tapi lumayan sebagai tambahan biaya rumah sakit bapaknya nanti.
Ketika membuka pintu depan rumah ia terkejut dengan kehadiran si tetangga juteknya itu. Ada apa gerangan gumamnya dalam hati.
"Bokap lo gimana keadaannya?," tanya sang tetangga membuka percakapan.
"Oh, masih sama seperti tadi, Mas. Saya akan membawa bapak ke rumah sakit saja, karena kondisinya semakin tidak memungkinkan jika harus terus dirawat di klinik itu," jawab Tari jujur.
"Uang yang tadi cukup kan?," tanya sang tetangga lagi.
Tari tidak bisa menutupi keterkejutannya. Keningnya mengkerut, berpikir sejenak. Uang apa yang dimaksud tetangganya itu, pikirnya.
"Tadi nyokap lo pinjem uang ke gue, satu juta. Katanya lo yang nyuruh dan nanti lo yang bakal bayar," sepertinya Fadly tahu kebingungan gadis yang berada di depannya makanya ia sengaja menjawab meski tidak ditanya uang apa yang dimaksud.
Tari memaki Bu Rosita dalam hati. Ia menggeretakkan giginya. Sudah muak sekali ia dengan tingkah ibu tirinya yang semena-mena itu.
"Terimakasih sudah berbaik hati meminjamkan uang pada ibu saya. Saya gak ada menyuruhnya untuk meminjam uang pada anda. Dan sekarang ini saya sangat butuh uang untuk biaya rumah sakit bapak saya. Jadi, saya belum bisa memastikan untuk membayar uang itu kapan. Mohon anda bersabar ya," tutur Tari menjelaskan panjang lebar.
Melihat dan mendengarkan penuturan Tari ia sungguh merasa iba. Ingin sekali ia menawarkan bantuan, bahkan jika Tari mau meminjam uang lebih banyak juga ia tidak keberatan memberikannya.
Tapi laki-laki itu takut jika tawarannya ditolak dan malah menjadi membuat mereka merasa tidak enak hati.
"Kalau butuh uang gak papa, eh maksudnya-" kata-katanya terhenti. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana harus mengucapkannya.
"Ehemm.. " kembali ia ingin berucap, namun seperti ada yang tersangkut ditenggorokannya.
"Mau bilang apa? maaf, Mas. Saya janji setelah bapak saya pulang dari rumah sakit, saya akan giat bekerja dan membayar hutang ibu say eee.. hutang saya," Tari ragu untuk mengucapkan bagian terakhir kalimatnya, karena bukan dialah yang berhutang tapi dia yang harus menanggung.
"Maksud gue gak gitu," susah sekali laki-laki itu mengatakannya.
"Maksud gue... "
#####
Bersambung...
Terimakasih sudah membaca.. Semoga suka dengan ceritanya ya readers.. 😊😊
__ADS_1