Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Kecelakaan


__ADS_3

Bu Rosita jatuh, lengan kanannya terkilir dan kaki kanannya pun mengalami luka goresan tapi tidak banyak karena pengendara motor tadi juga tidak kencang melajukan motornya.


Tapi pengendara motor itu langsung pergi saja meskipun dia mengetahui Bu Rosita terjatuh akibat dirinya. Akhirnya dengan susah payah Bu Rosita bangun sendiri.


Tiba-tiba ada tangan yang menolongnya untuk berdiri, ketika Bu Rosita melihatnya dia adalah Fadly.


Wajah yang tadinya meringis kesakitan, kini Bu Rosita menjadi sumringah kembali seperti saat sebelum motor tadi menyenggol dirinya.


"Bu, gak apa-apa kan?" tanya Fadly sedikit panik melihat keadaan Bu Rosita.


"Aduh Fadly, sssshh sakit sekali ini lengan ibu sepertinya terkilir," jawab Bu Rosita kembali menampakkan wajah kesakitannya. Padahal dalam hatinya sangat senang melihat Fadly.


Tadinya dimatanya Fadly adalah pemuda biasa saja, tapi semenjak pagi tadi dia menganggap Fadly adalah raja. Fadly juga tampak sangat tampan sekarang, meskipun Fadly memang tampan tapi waktu itu, bahkan sebelum dia melihat majalah tadi Fadly sangat biasa saja. Justru Andi terlihat lebih tampan baginya.


Sekarang, Fadly sangat tampan. Pikir Bu Rosita, baju Fadly pasti sangat mahal, motornya juga pasti bukan motor murahan seperti yang ia kira selama ini. Bahkan ia sempat mengira Fadly hanya meminjam motor itu dari temannya. Fadly juga harum, pasti parfum yang dipakainya adalah parfum mahal mungkin dia membelinya dari luar negeri.


Fadly melambaikan tangannya di depan mata Bu Rosita dan berulang kali memanggil Bu Rosita.


"Bu!"


"Bu!" kali ini Fadly mengeluarkan suara kerasnya memanggil Bu Rosita, Fadly tidak sengaja menyentuh lengan Bu Rosita yang terkilir.


Bu Rosita tersadar dari lamunannya. Ia kembali meringis merasakan sentuhan Fadly yang agak kasar saat memanggilnya.


"Maaf, Bu. Ibu melamun ya?"


Bu Rosita tidak menjawab, dia berpikir sejenak. Lalu dia berakting kesakitan dan pura-pura menangis.


Fadly kembali panik.


"Saya antar ibu ke Klinik dekat sini mau gak? oh ya, ke klinik yang waktu itu tempat bapak Tari di rawat," bujuk Fadly.


"Gak usah nak Fadly, ibu duduk disini aja sebentar," Bu Rosita menunjuk bangku di depan rumah tetangganya.


Bu Rosita yang biasanya hanya memanggil laki-laki itu Fadly saja. Namun hari ini dia memanggilnya dengan sebutan 'nak'.


Lalu Fadly menuntun Bu Rosita dibangku yang dimaksud. Setelah Bu Rosita duduk, Bu Rosita kembali menangis. Dan mengucapkan terimakasih karena sudah menolongnya.


Namun Fadly tidak bisa membiarkan Bu Rosita sendiri dan dirinya pergi begitu saja. Memang jarak rumah mereka tinggal sedikit lagi. Tapi Fadly tidak tega.

__ADS_1


"Nak Fadly sepertinya mau pergi ya?" tanya Bu Rosita, dia pura-pura mengelap air matanya.


"Iya, Bu. Makanya biar saya antar dulu ibu ke klinik atau kalau tidak pulang ke rumah saja," jawab Fadly.


"Gak usah nak, Ibu gak mau mengkhawatirkan Tari ataupun bapak. Biar ibu disini dulu nanti ibu jalan sendiri saja beli obat di warung. Karena kalau pergi ke klinik Tari gak ada uang untuk biaya berobat ibu nantinya."


Fadly sangat tidak tega melihat yang seperti ini. Pagi ini ia sangat terburu-buru sebenarnya, tapi karena menolong Bu Rosita jadi ia terpaksa berhenti. Kalau tidak pasti ia akan memaksa Bu Rosita untuk pergi ke klinik, agar luka-lukanya segera diobati. Sekilas ia melihat jam ditangannya.


Fadly merogoh kantongnya untuk mengambil dompet. Dikeluarkan uang merah bergambar Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta itu, dan diberikan pada Bu Rosita sekitar lima lembar.


"Ini bu buat ibu berobat ke klinik ya. Maaf saya gak bisa nganter ibu, saya sangat buru-buru. Gak apa-apa ya bu?" ucap Fadly seraya menyodorkan uang dari dompetnya tadi.


Dalam hati Bu Rosita bersorak senang.


"Tidak usah nak! kan bukan kamu yang nabrak ibu, kenapa kamu yang kasih uang. Seharusnya orang yang nabrak ibu tuh yang tanggung jawab," ucap Bu Rosita pura-pura.


"Gak apa-apa, Bu. Ambil ya," pinta Fadly pada Bu Rosita.


"Gak nak! Terimakasih, lagian uang yang waktu itu ibu pinjam juga belum ibu bayar," ucap Bu Rosita menampilkan wajah sedihnya.


"Uang yang waktu itu mau dibayar sama Tari katanya. Jadi gak usah ibu pikirkan ya!" ucap Fadly meyakinkan.


Tiba-tiba Fadly teringat mamanya, ia merindukan sang mama. Fadly menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa rindu pada mamanya itu. Sekarang ia sangat terburu-buru akan pergi ke kampus dan sekarang ini juga tetangganya sedang kecelakaan dan membutuhkan bantuannya.


Kembali Fadly menyodorkan uang tadi.


"Ini, Bu. Ambil ya saya gak tega lihat ibu kesakitan gini. Nanti ibu naik ojek atau becak motor trus pergi ke klinik, biar luka-luka ibu segera diobati," ucap Fadly.


"Yaudah deh kalau nak Fadly maksa."


Bu Rosita cepat mengambil uang itu sebelum Fadly berubah pikiran. "Sungguh menantu idaman" ucapnya dalam hati.


Setelah memberikan uang itu, Fadly kembali menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.


Bu Rosita mendongak melihat Fadly yang sedang menatap jam tangannya yang berada ditangan sebelah kiri. "Pasti jamnya mahal tuh!" ucapnya lagi dalam hati.


Akhirnya Fadly tidak bisa lebih lama lagi, dia harus segera pergi. Pagi-pagi sekali teman di kampusnya menelepon, karena pagi ini ada ujian susulan untuk mahasiswa yang belum mengikuti ujian diawal.


Sebenarnya Fadly adalah mahasiswa tingkat akhir. Sudah tiga bulan ini ia tidak masuk kuliah karena kabur dari rumah sehingga kuliahnya pun ia lupakan begitu saja. Seharusnya tahun ini ia sudah harus menyelesaikan kuliahnya

__ADS_1


Setelah pamit pada Bu Rosita, Fadly langsung tancap gas dengan cepat ia melesat dan sudah sampai di jalan raya. Karena jarak dari rumah kontrakannya dengan kampus sangat jauh. Belum lagi ia harus menghindari macet jalanan ibu kota.


Sesampainya di kampus ia berlari cepat menuju kelasnya, demi mengikuti ujian susulan itu. Karena teman-teman yang lain sudah menyelesaikannya. Ia tidak mau tertinggal saat wisuda nanti.


Setelah Fadly pergi dengan motornya, Bu Rosita berdiri dan berjalan tertatih seraya membawa majalah bekas ditangannya. Kakinya memang tidak banyak luka, namun tangannya yang sangat terasa sakit karena terkilir, ia akan pergi ke tukang urut nanti, karena sudah mengantongi uang yang diberikan Fadly tadi.


'Tidak apa-apa deh uang dari Tari dipotong sama Dodi tadi. Ini dapat gantinya lebih banyak. Tapi harus nahan sakit gini,' ia bergumam sendirian sambil berjalan. Ia kembali meringis menahan sakit dilengan kanannya.


Pak Syabani yang sedang duduk di teras rumah melihat heran kearah datangnya Bu Rosita yang berjalan sedikit pincang. Pak Syabani berdiri dan berjalan keluar teras membantu Bu Rosita berjalan.


"Ibu kenapa? jalannya kok pincang begini? tangannya juga lecet-lecet?" ucap Pak Syabani sembari memegangi lengan Bu Rosita membantu Bu Rosita berjalan.


"Keserempet motor pak, motornya terus aja gak berhenti, gak mau tanggung jawab," jawab Bu Rosita, sambil nyengir kesakitan.


Kini ia benar-benar merasakan kesakitan. Luka-luka lecet yang ada dikaki dan tangannya baru terasa sekarang.


"Aduh pak sakit," Bu Rosita merintih kesakitan.


Pak Syabani masuk ke dalam rumah mengambil obat antiseptik dan kapas pembalut luka.


Mendengar suara rintihan kesakitan Bu Rosita, Tari keluar dari kamarnya menghampiri bapak dan ibu tirinya.


"Ibu kenapa?" tanya Tari terkejut melihat luka-luka di tangan dan kaki Bu Rosita.


Bu Rosita membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu dan marahnya akan meledak pada Tari. Tiba-tiba ia teringat akan majalah yang sejak tadi ia pegang. Marahnya pun berangsur menurun.


'Kali ini hubungan Tari dengan Fadly tidak boleh gagal. Mereka berdua harus segera menikah. Tahan emosi, tidak boleh memarahi Tari," Bu Rosita bergumam dalam hati.


"Ibu kesempet motor Tari, tadi pas mau nyebrang motornya ngebut aja," Bu Rosita berujar, ia menutupi kebohongannya.


Padahal dialah yang melamun dijalan dan tidak memperhatikan kendaraan saat menyebrang jalan.


"Ya ampun, Bu. Maafin Tari ya, gara-gara Tari ibu jadi kecelakaan begini," ucap Tari menyesal.


"Gak apa-apa kok, cuma lecet sedikit, ini udah diolesin antiseptik sama bapak, nanti juga kering. Tapi ibu minta tolong ya, panggilkan tukang urut," ucap Bu Rosita, padahal ia benar-benar menahan emosinya sekarang ini.


#####


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih


__ADS_2