
Sepertinya Fadly mengenal gadis yang sedang berlari dan tidak sengaja menjatuhkan gawai bututnya itu. Ia melihat Tari agak lama.
'Itu cewek kampung tetangga gue itukan? , kenapa dia lari? ' gumamnya sendirian.
Ia berjongkok dan memunguti ponsel keluaran lama yang sudah ketinggalan zaman milik Tari yang sudah terpisah semuanya dari tempatnya masing-masing. Ia tidak berniat untuk menyatukannya kembali.
'Ckk.. Ngerepotin aja sih! males banget jumpa tuh cewek' gumamnya lagi.
Setelah jalan lagi dan sampai depan rumah Tari, ia hendak mengembalikan ponsel butut itu. Namun ketika akan mengetuk pintu suara tangis seorang perempuan terdengar dari dalam kamar, disusul suara perempuan lain yang terdengar mengeluh dan sepertinya sedang marah.
Iapun mengurungkan niatnya lalu berbalik badan dan akan melangkah menuju rumahnya yang terletak di sebelah rumah Tari. Namun detik berikutnya Tari keluar dari kamar, lalu berlari kearah Fadly dan memegang tangannya. Ia kembali berbalik dan menghadap Tari.
Baru kali ini Tari memandang wajah tampan tetangganya itu. Baru kali ini juga sepertinya Tari melihat lelaki tampan seperti tetangganya itu. Malam itu Tari tidak jelas melihatnya karena suasana malam yang gelap.
Rahang yang kokoh dengan mata berwarna cokelat terang. Wajahnya halus dan bersih, memiliki bentuk wajah yang seperti karya seni. Dengan bahu lebar, postur tubuh yang cukup sempurna, tinggi menjulang, Tari memperkirakan tetangganya itu memiliki tinggi 190 cm. Ia memakai hoodie hitam dan menutupi kepalanya sama seperti yang ia kenakan malam itu.
Lama mereka saling menatap. Fadly juga baru kali ini melihat Tari dari jarak dekat dan terang. Mereka berdua seperti sedang disinari lampu ditengah-tengah paggung.
Bagi Fadly, Tari cukup cantik tanpa riasan apapun diwajahnya. Berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini ia kenal dan pacari termasuk Adelia yang memakai riasan tebal meskipun cocok dengan wajah mereka tapi Tari yang alami kelihatan lebih cantik dari mereka.
Fadly berkedip ketika tiba-tiba tangan Tari yang memegangi tangannya terasa bergerak dan mengencang.
"Astaghfirullah," Tari melepaskan pegangannya pada Fadly. Kemudian ia menyeka air matanya.
"Mas, tolong saya. Bantu saya angkat bapak saya ya! kami mau membawa bapak ke klinik."
Kalimat permohonan itu terdengar seperti perintah ditelinga Fadly. Keningnya mengkerut, mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu.
Tapi Tari lebih dulu berucap "Tunggu sebentar ya mas, saya panggil becak di depan."
Gegas Tari berlari. Tapi dengan cepat Fadly mengejarnya.
"Tunggu!!" kali ini Fadly yang memegang tangannya.
Tari cepat melihat tangannya yang dipegang Fadly. Fadly tersadar dan langsung melepaskan tangannya yang memegang tangan Tari.
"Lo mau panggil becak di depan gang maksud lo?" tanya Fadly.
"Iya," jawab Tari cepat.
"Lama, udah gak usah. Ntar gue telpon temen gue aja, biar pake mobil temen gue."
__ADS_1
Tari yang tidak bisa berfikir cepat pada saat itu dan langsung saja ia meng-iyakan tawaran Fadly.
Beberapa menit kemudian Andi datang dengan mobil berwarna hitam yang berkilat. Memang Andi diminta Fadly untuk tinggal dan juga mencari kontrakan dekat dengannya. Tapi dia tidak mau terlalu sangat dekat, padahal di sebelah rumahnya masih ada kontrakan kosong.
Melihat mobil datang Bu Rosita langsung berlari keluar. Mobil yang bertuliskan pajero sport di belakangnya itu membuat Bu Rosita terkesima karna ia tahu itu mobil mewah yang harganya mahal. Bahkan Bu Hanifa saja yang memiliki predikat 'orang terkaya' di kampung itu tidak punya mobil seperti itu.
Andi turun dari mobil dan langsung menemui majikannya yang duduk di teras depan rumah. Ia merasa heran, karena biasanya majikannya tidak pernah menyuruhnya datang membawa mobil masuk. Bahkan saat majikannya itu mabuk pun ia tidak mau diantarkan dengan mobilnya.
Tapi kali ini hal genting apa gerangan yang membuat majikannya itu meneleponnya dan menyuruhnya membawa mobil ke depan rumah kontrakan.
Fadly berdiri dan menghampiri Andi.
"Bos-... " sapa Andi yang belum menyelesaikan perkataannya dan langsung disuruh diam oleh Fadly dengan isyarat meletakkan jari telunjuk di bibir dan sedikit memonyongkan bibir itu.
"Diem aja jangan bas bos bas bos lo," kata Fadly dengan suara berbisik. Menurutnya keluarga Tari tidak perlu mengetahui dirinya siapa.
Fadly Kembali ke teras rumah Tari. Ia melihat ke dalam mencari keberadaan Tari. Ternyata Tari sedang di kamar ingin menolong bapaknya untuk duduk.
Fadly melihat Tari iba, ia masuk ke dalam kamar dan mengatakan,
"Mobil temen gue udah datang."
"Oh iya, bisa tolong bantu saya mas?" kali ini ia mengatakannya penuh dengan permohonan dan sambil menangis, air matanyapun tidak berhenti membasahi pipinya sejak tadi.
Setelah keluar kamar Andi melihat mereka lalu langsung berlari menolong mereka yang sedang membawa Pak Syabani.
Kini Pak Syabani sudah beralih, Fadly dan Andi yg memapah Pak Syabani sekarang.
Pintu mobil sudah terbuka, mungkin Bu Rosita yang membukakannya.
Pak Syabani didudukkan dibangku tengah dibarisan kedua. Andi sudah berada di depan, dibalik setir. Dia heran melihat Bu Rosita sudah duduk manis di sampingnya sambil tersenyum.
"Anda siapa?" tanya Andi merasa heran melihat Bu Rosita.
"Dia ibu saya," jawab Tari, yang sudah duduk di samping bapaknya dan tepat di belakang Andi.
Yang ditanya hanya diam dan senyam-senyum saja karena senang bisa menumpangi mobil mewah yang selama ini ia idam-idamkan.
Fadly yang duduk di belakang Bu Rosita berucap pada Tari "Mau ke rumah sakit mana?"
Tari tampak terdiam dan memandang wajah Bapaknya yang pucat.
__ADS_1
"Ke Klinik Bersalin Pratama, Mas," jawabnya dengan sedih dan air mata yang terus mengalir.
"Klinik bersalin?" jawab Fadly dan Andi bersamaan.
"Kami itu orang miskin Mas, mana sanggup mau ke rumah sakit, ya dibawanya ke klinik bersalin," jawab Bu Rosita enteng, kemudian menunduk memainkan ponselnya yang terlihat berbeda dengan kepunyaan Tari.
"Iya Mas, saya masih nabung untuk membawa bapak ke rumah sakit. Untuk sekarang tolong antar ke Klinik Bersalin Pratama ya," jawab Tari sambil terus mengeluarkan air matanya.
Kembali Andi menoleh kebelakang memperhatikan majikannya. Yang diperhatikan tampak berfikir namun tetap diam.
"Gak apa-apa kok, di Klinik Bersalin Pratama dulu saja biar bapak dapat pertolongan pertama karena bapak tadi muntah darah dan obat bapak juga sudah habis. Jadi, kita kesitu aja dulu," kembali Tari berkata, untuk meyakinkan Fadly dan Andi yang tidak percaya jika orang tua yang sudah muntah darah bukannya dibawa ke rumah sakit tapi dibawa ke klinik bersalin.
Andi menunggu keputusan majikannya. Ia masih menoleh ke belakang, mata Fadly dan Andi saling menatap. Namun sang majikan hanya terdiam tidak tahu harus melakukan apa.
Akhirnya Andi menghidupkan mesin mobil.
"Kemana arahnya mbak?" tanya Andi pada Tari.
"Terus saja Mas. Kalau jalan lurusan ini lumayan besar kok, jadi mobilnya gak takut lecet tergores karena berbenturan dengan mobil lain" jawab Tari. Ia sungguh sungkan dengan teman tetangganya ini, yang sudah berbaik hati mau membawa mobilnya untuk membawa Bapaknya ke klinik.
Mobilpun berjalan, Tari mengarahkan kemana mobil bergerak.
Ternyata letak klinik itu tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Mobil hanya tinggal jalan lurus saja kemudian belok kekiri, tidak jauh dari belokan itu sampailah mereka di Klinik yang dituju.
Sampai di klinik, kembali Fadly dan Andi memapah Pak Syabani masuk ke ruang periksa klinik itu.
Perawat yang berjaga hanya memeriksa tekanan darah Pak Syabani, kemudian meminta persetujuan kepada Tari untuk memasang infus di punggung tangan bapaknya dan Tari pun menyetujuinya.
Para medis itu menyarankan untuk membawa Pak Syabani dirujuk ke rumah sakit saja agar mendapat perawatan yang tepat.
Tari tidak punya cukup uang untuk membawa bapaknya ke rumah sakit. Ia bingung harus meminta tolong siapa.
Bu Rosita tidak mau tahu tentang itu. Baginya sudah merawat Pak Syabani di rumah itu sudah sangat membantu meringankan Tari.
Kini ia duduk di teras klinik, memainkan ponselnya, dan sesekali ia selfie di depan, di samping dan di belakang mobil pajero hitam milik teman si tetangga.
Sedangkan Tari sibuk memikirkan tindakan selanjutnya, apa yang harus ia lakukan untuk bapak tercintanya itu.
#####
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca.. Semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊