
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Tari melangkah mendekat ke arah teras rumah kontrakannya yang disana sudah ada Sandi dan ibunya. Apakah benar, jika Bu Hanifa dan Sandi akan mengusir dirinya dan keluarganya malam ini juga jika ia tidak membayar uang kontrakan rumah yang sudah menunggak. Tari mulai ketakutan.
Sekarang sudah mulai gelap dan sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Tapi ibu dan anaknya itu malah keluyuran. Tidak tahu adab sekali.
Sandi menyunggingkan senyuman pada Tari, "Sudah ada uangnya?"
"Be-belum mas Sandi," jawab Tari terbata.
"Kalau belum ada kenapa gak kerja? malah jalan sama cowok!" ucap Sandi menyindir Tari.
Ya, Sandi sempat melihat Tari di jemput seorang laki-laki yang mengendarai mobil. Namun lagi-lagi Sandi tidak punya kesempatan untuk melihat wajah pacar Tari yang menjemputnya tadi pagi.
Ia semakin geram saja pada Tari. Kali ini Sandi tidak main-main dengan perkataannya tadi padi yang mengatakan, jika Tari tidak bisa membayar uang kontrakan rumah malam ini juga, ia akan mengusir Tari dan keluarganya.
"Jadi bagaimana? sesuai dengan yang anak saya katakan sama kamu tadi pagi. Masih ingat kan kamu?" Bu Hanifa mengambil alih pembicaraan.
"Sebentar ya, Bu. Saya masuk rumah dulu. Saya akan menghubungi teman saya, saya akan coba meminjam uang pada teman saya," ucap Tari.
"Kenapa gak minta bayari pacar kamu? pacar kamu kan kaya, naik mobil kan? sudah pasti kaya kan..." ucap Bu Hanifa.
Bu Hanifa tersenyum miring, tanda ia mengejek Tari. Lalu ia bergeser sedikit dari tempatnya berdiri, agar Tari bisa lewat. Tari pun langsung melewati Bu Hanifa dan Sandi, lalu membuka pintu rumah dan masuk.
Dengan gerakan cepat ia mencharger ponselnya, setelah menunggu beberapa saat ia menyalakan ponselnya. Segera setelah ponsel menyala ia mencari-cari nomor Kemal dan menghubunginya.
Namun setelah Tari mencoba menelepon Kemal beberapa kali, nomor Kemal sedang tidak aktif. Tari mulai kebingungan. Ia mencari-cari lagi nomor orang yang dikenalnya yang kira-kira bisa membantunya.
Setelah panggilan tersambung, seseorang diseberang sana menyapa, "Hallo, Tari."
__ADS_1
Tari tersenyum, ia sangat berharap orang yang dihubunginya kali ini dapat membantunya.
"Hallo, Bang Dodi, Assalamu'alaikum," sapa Tari.
"wa'alaikumsalam."
"Bang Dodi lagi dimana?"
"Di klinik bersalin Pratama, Tari. Kak Winda lahiran," ucap Dodi. Terdengar dari suaranya sepertinya ia sedang senang sekali menyambut anak pertama mereka.
"Oh begitu."
Tari jadi ragu apakah ia akan mengutarakan niatnya meminjam uang pada Dodi atau tidak. Karena sudah pasti Dodi juga mengeluarkan biaya untuk persalinan istrinya. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba, pikirnya.
"Bang, Tari lagi butuh uang untuk bayar kontrakan yang udah nunggak. Bang Dodi ada? dan bisa pinjamkan Tari gak?" ucap Tari dengan hati-hati.
"Mmm... abang ada, tapi gak banyak. Memangnya kamu butuh berapa?"
"Dua juta, Bang."
"Waduh! kalau segitu gak ada Tari, Bang Dodi cuma pegang uang satu juta. Tadi sih ada, tapi udah abang bayarin untuk biaya persalinan Kak Winda. Sekarang sisanya tinggal satu juta, itupun bakal abang pakai untuk keperluan bayi. Palingan abang bisa kasih pinjam ke kamu lima ratus ribu aja."
"Aamiin, makasih Tari. Maaf ya, Abang gak bisa bantu."
"Iya Bang, gak apa-apa."
Setelah sambungan telepon terputus antara keduanya, Tari mencoba menghubungi pelanggan-pelanggannya yang biasa menjahitkan baju dengannya. Ia mulai menghubungi Kak Mia, Bu Salma, Bu Hera, Bu Jamilah, Bu Siti dan yang terakhir Kak Rini. Namun satupun tidak ada yang memberikannya pinjaman. Karena memang saat ini mereka sedang tidak ada uang sebesar itu untuk dipinjamkan.
Tari pun berniat meminjam ke tetangga depan rumahnya yang ada di seberang jalan. Tetangganya itu memiliki sebuah kios kecil, mereka berjualan sembako.
Ia melangkah keluar dan saat bertemu Bu Hanifa dan Sandi di teras, "Sebentar ya, Bu. Mas Sandi. Saya akan coba pinjam ke tetangga saya yang jualan sembako itu."
Bu Hanifa dan Sandi saling pandang mereka seperti sedang mengejek Tari dan mereka tertawa pelan saat Tari sudah melangkah dari teras rumah. Mereka menertawakan Tari.
Saat ini Sandi sedang tertawa bahagia melihat Tari kebingungan. Tapi ia belum puas membalas dendam pada Tari. Ia akan membuat Tari sama malunya dengan dirinya tiga tahun yang lalu. Karena perbuatan Tari yang menolak lamarannya.
Saat Tari mengatakan pada tetangganya itu untuk meminjam uang, Tari hanya dapat makian dari sang tetangga. Karena hutang ibu tirinya masih banyak yang belum di bayar.
__ADS_1
Tari mengingat, jika dirinya memang jarang memberikan uang untuk belanja lagi pada ibu tirinya itu, karena jika mendapat upah dari hasil jahitannya, maka ia gunakan untuk membeli obat untuk bapaknya.
Tari mulai menangis, ia tidak tahu lagi harus meminjam kemana dan apa yang harus diberikan pada Bu Hanifa untuk membayar uang rumah kontrakan yang sudah menunggak ini.
Tadi pagi, saat bersama Fadly, ia lupa untuk meminjam pada Fadly. Hatinya terlalu senang ditambah gugup karena akan bertemu keluarga Fadly.
Dan disaat seperti ini untuk datang ke rumah sakit meminjam uang pada keluarga Fadly mungkin dirinya akan dikatakan perempuan tidak tahu diri. Sudah diusir, malah datang meminjam uang. Tari tidak akan melakukan itu.
Tapi apapun masalahnya bukankah Tari harus menghadapinya, karena menangis tidak bisa menyelesaikan masalah. Akhirnya Tari pulang untuk menemui Bu Hanifa dan Sandi yang sedang menunggu di teras rumah.
Adzan Maghrib berkumandang saat Tari sudah sampai dihadapan ibu dan anak itu. Lalu Tari mempersilahkan Bu Hanifa dan Sandi untuk masuk ke dalam rumah.
"Bu, Mas Sandi. Masuk ke dalam dulu yuk! soalnya Maghrib."
Mereka berdua pun menurut dan mengikuti Tari masuk. Namun belum sempat Tari meminta izin untuk menunaikan sholat Maghrib, Bu Hanifa lebih dulu bersuara.
"Kamu gak usah menunda-nunda lah, sekarang bagaimana? ada atau tidak uangnya?"
Tari menghela napas panjang, "Gak ada, Bu. Tapi saya mohon keringanannya untuk tidak mengusir saya dan kedua orang tua saya dari rumah ini."
Tari mulai meneteskan air matanya, ia benar-benar merasa hidupnya sangat sulit. Saudara, tetangga, teman, bahkan pacar tidak ada yang bisa membantu. Ia seperti hidup sendiri di dunia ini.
Tari menatap Bu Hanifa dan Sandi bergantian, karena tidak ada respon dari mereka berdua.
"Tolong Bu, Mas Sandi. Lagian saya dan keluarga saya juga udah lama tinggal di sini. Baru sekali ini kejadian menunggak bayar. Karena sejak dulu bapak selalu tepat waktu kalau bayar," ucap Tari sembari terisak pilu. Berulang kali ia menghapus air matanya yang membasahi pipinya.
Bu Hanifa menatap Tari tajam, sedangkan Sandi bersedekap dada.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤