
...Terimakasih yang sudah mendukung dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
Pagi itu, Sandi tampil beda dengan yang dulu ketika datang ke rumah Tari.
Sandi memakai setelan yang sangat rapi, kemeja berlengan panjang, yang ia gulung hingga siku berwarna biru muda yang ngepas di badannya. Dan dipadukan dengan celana semata kaki berwarna hitam dari bahan kain Thai Silk yang mewah dengan potongan yang juga sangat pas dikakinya.
Dan Rambutnya yang dipangkas rapi, lalu dengan sentuhan sedikit pomade. Agar terlihat basah dan segar.
Sepatunya, ia memakai sepatu jenis loafer yang terbuat dari bahan kulit sintetis. Sepatu itu tidak bertali yang menambah kesan casual dan simpel sekali. Sepatu yang Sandi gunakan sangat mahal harganya, yang tentunya ia beli di Luar Negeri.
Wajahnya yang tampan ditumbuhi dengan jambang dan bulu-bulu halus tipis disekitar dagunya menambah kesan maskulin.
Dan tentunya ia tidak lupa menyemprotkan parfum mahal yang ia beli dari Luar Negeri ketika berlayar. Membuat siapapun yang didekatnya mencium aroma yang sangat harum, bahkan dalam jarak dua meter pun parfum mahal itu akan tercium.
Sandi menebak, laki-laki yang menjadi kekasih Tari itu tidak lebih kaya darinya. Oleh sebab itu, ia sudah punya sedikit cara bagaimana menaklukan hati Tari. Ia yakin kali ini Tari tidak akan menolaknya.
Ia mengklakson mobilnya ketika sudah sampai di depan rumah kontrakan milik ibunya yang ditinggali Tari dan keluarganya.
Tiiin Tiiin !!!
Tari yang belum menyelesaikan persiapannya terkejut dengan klakson mobil, pikirnya itu adalah klakson mobil Fadly. Ia sudah memakai baju, namun dikepalanya masih ada handuk yang melilit rambutnya, ia menggunakannya untuk mengeringkan rambutnya selesai mandi tadi.
Tari mendongak keatas melihat jam dinding.
"Kok cepat sekali mas Fadly sudah datang, masih jam delapan. Sudah gak sabar mungkin ya," gumamnya sendirian di kamarnya seraya tersenyum senang.
Lalu dengan cepat ia keluar kamar dan membuka pintu rumahnya. Betapa terkejutnya Tari ternyata yang keluar dari mobil bukanlah Fadly melainkan adalah Sandi.
__ADS_1
Sudah tiga tahun Tari tidak melihat pria yang pernah ia tolak lamarannya itu. Tari berdiri diambang pintu, matanya masih tertuju kearah depan tempat Sandi berdiri.
Tidak dipungkiri, Tari sedikit terpesona dengan penampilan Sandi yang seperti sekarang ini. Tari tentu mengetahui jenis kain apa yang dipakai Sandi untuk kemeja dan celananya, karena Tari sudah banyak membaca majalah fashion dari Bang Dodi waktu itu.
Untuk beberapa kali kesempatan Fadly juga pernah memakai jenis kain seperti yang dipakai Sandi saat ini.
Kemudian Sandi melangkah ke teras, mendekat ke Tari. Sandi membawa beberapa paper bag, yang tidak diketahui Tari apa isi di dalamnya.
Sandi menyerahkan paper bag yang paling kecil itu pada Tari, "Ini buat kamu, oleh-oleh dari Bangkok, waktu kemarin kapal mendarat disana, mas teringat sama kamu."
Tari tersenyum kaku, tapi tetap menerima paper bag itu. Sandi sedikit menilik ke dalam rumah, "Bapak dan ibu kamu kemana? kok sepi?"
"Bapak ada di belakang rumah, sedang berjemur. Karena kata dokter, matahari pagi bagus untuk berjemur. Kalau ibu, mungkin lagi belanja ke pasar, Mas."
Sandi mengangguk, "Oh, yaudah ini mas titip sama kamu aja ya. Ini ada obat herbal bagus buat bapak. Dan ini buat ibu kamu."
Tari menerima kembali dua paper bag yang diserahkan Sandi, "Terima kasih ya, Mas."
"Ehemmm.. Gak dipersilahkan masuk nih?" ucap Sandi, sedikit menyindir.
Tari bertekad kali ini ia harus tegas pada Sandi. Agar Tari tidak dicap sebagai pembari harapan palsu.
Dengan sedikit canggung Tari berkata, "Emmm, tapi maaf, Mas. Tari mau pergi. Jadi, sepertinya Tari tidak bisa menemani Mas Sandi untuk berbincang meskipun sebentar."
Tentu hal itu sangat menyinggung perasaan Sandi. Rasa sakit dan malu yang bertahun-tahun dulu ia rasakan kembali ia rasakan saat ini. Ia memaki Tari dalam hatinya. Baginya, kesombongan Tari semakin bertambah semenjak punya kekasih, apalagi kekasihnya kaya dan mengendarai mobil.
Sandi tersenyum kecut, "Oh gitu ya, oke gak apa-apa."
sandi berbalik badan, ketika akan melangkah pergi, namun ia hentikan seketika saat teringat sesuatu. Ia pun kembali membalikkan badannya berhadapan dengan Tari lagi.
"Oh ya, kata ibu, rumah kontrakkan belum kamu bayar ya untuk tiga atau empat bulan ini?"
__ADS_1
Tari tercekat, ia melupakan kewajibannya membayar kontrakan, dengan tergagap ia menjawab, "Eee, i-iya mas, sa-saya lupa."
Karena beberapa bulan terakhir ini memang Tari sibuk bekerja, yang diingatnya hanya mencari uang untuk biaya perobatan bapaknya.
Sandi tersenyum miring, ia memang di pesankan oleh ibunya untuk menagih uang kontrakan rumah pada Tari, namun tadi ia menolaknya. Tetapi, karena Tari bersikap sombong, bahkan setelah diberi oleh-oleh mahal yang ia beli dari Bangkok, gadis itu tidak merubah pendiriannya sedikitpun. Bahkan hanya masuk ke rumahpun Sandi tidak dipersilahkannya.
"Seingat kamu, berapa bulan kamu belum bayar kontrakan?" tanya Sandi.
"Emm, seingat saya sudah lima bulan, Mas."
"Oke, ini pesan dari ibu. Bukan dari mas sendiri, karena rumah ini juga rumah ibu. Kata beliau, kalau kamu gak membayar kontrakan sampai besok. Malamnya kamu dan keluarga kamu bisa langsung mengosongkan rumah ini," ucap Sandi dengan tegas.
Sebenarnya Bu Hanifa tidak ada berpesan seperti itu, namun Sandi yang sudah sangat kesal dengan sikap Tari yang semena-mena padanya, membuatnya ingin mengerjai gadis ini. Ia ingin sekali mematahkan kesombongan gadis penjahit ini.
"Mas, kok gitu sih mas, apa gak bisa dikasih tenggat waktu lagi. Minimal satu minggu, baru kali ini kok Tari lupa bayar kontrakan," jawab Tari agak gelisah.
"Kamu bisa langsung ke rumah mas saja, langsung jumpa sama ibu, bicara sama ibu," ucap Sandi dengan ketus.
Kemudian Sandi melangkah menuju mobil dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Tari, terdiam membisu diambang pintu. Ia harus bekerja, menjahit agar mendapatkan uang secepatnya. Tapi, ia sudah berjanji akan pergi dengan Fadly dan bertemu keluarga Fadly hari ini.
Ia menyesal karena tidak mengingat harus membayar rumah kontrakan. Tari takut, bagaimana kalau apa yang dikatakan Sandi tadi benar terjadi, akan tinggal dimana ia dan keluarganya. Sementara, ia tidak mempunyai uang simpanan sedikitpun sekarang ini untuk membayar rumah kontrakan.
Tari gelisah, ia masuk ke kamarnya dan meletakkan paper bag yang diberikan Sandi tadi diatas nakas. Lalu, ia duduk dipinggir tempat tidurnya. Ia menutup wajahnya dan menangis.
#####
Next >>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤