
...Terimakasih yang sudah mendukung dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
Tari sudah berada di dalam mobil milik Fadly, setelah tadi Fadly menjemputnya ke rumahnya. Namun Tari belum siap apapun. Bahkan matanya sembab karena menangis.
Fadly sedikit heran, dan ketika ditanyapun Tari tidak mau menjawab pertanyaan Fadly. Hampir setengah jam Fadly menunggu Tari, tetapi Tari tak kunjung mau bersiap-siap.
Akhirnya Fadly memutuskan untuk pergi saja dengan Tari dan tak lupa pamit pada bapak dan ibu Tari. Didalam mobilpun Tari tak banyak bicara.
Lalu Fadly bermaksud akan membawa Tari untuk dirias ke salon, karena wajah Tari sangat sembab. Jadi tidak mungkin dalam keadaan wajah seperti itu bertemu dengan mama dan papa Fadly.
Setelah sampai di kota, Fadly menghentikan mobilnya di depan salah satu salon yang ia ketahui.
Setelah masuk ke salon, ternyata di salon itu juga terdapat butik yang berada di lantai dua. Fadly meminta salah satu pekerja salon itu untuk merias Tari dengan riasan minimalis saja, kemudian memilihkan bajunya juga yang pas untuk dipakai Tari.
Sementara Fadly duduk di sofa panjang yang tersedia di salon itu, menunggu Tari.
Tari dirias oleh pegawai salon itu, seorang laki-laki berbadan tinggi, tegap, dan rambut pendek tetapi sangat kemayu, terlihat dari gaya jalannya, gaya berbicaranya dan laki-laki itu memakai lipstick di bibirnya yang tampak merah.
"Hai nona cantik," sapa laki-laki kemayu itu pada Tari.
Tari tersenyum, "Hai-," kemudian Tari tidak melanjutkan dengan panggilan sapaan, karena ia bingung harus memanggil apa pada laki-laki itu.
"Donna, beb. Panggil aja Donna, Gak usah pakai embel-embel kak atau mbak, no. Just Donna," ucapnya seraya memberikan senyum manisnya.
Taripun membalas senyuman Donna. Sebenarnya Tari ingin tertawa melihat tingkah lucu Donna yang sangat gemulai sebagai seorang laki-laki.
"Di ktp nya namanya Donni mba," ucap pegawai lain sambil tertawa mengejek Donna.
Kemudian diberi juluran lidah oleh Donna yang memiliki nama asli Donni tersebut. Tari jadi ikut tertawa melihat tingkah para pekerja salon itu.
Donna memulai menggerakkan tangannya memoles wajah Tari.
"Nama beb siapa?" tanya Donna.
"Tari," jawab Tari singkat.
Lalu dengan cepat Donna merias wajah Tari degan riasan minimalis sesuai permintaan Fadly tadi.
Kini wajah Tari sangat cantik, Donna sangat pintar merias, wajah Tari yang diriasnya benar-benar tampak natural, seolah tidak memakai make up apapun. Mata sembab Tari yang tadi juga hilang karena riasan tangan Donna.
Lalu, Donna membawa Tari naik ke lantai atas untuk memilih baju yang akan dipakainya menemui keluarga Fadly.
"Memangnya beb Tari mau pergi kemana? biar eike sesuaikan sama baju yang mau dipakai," tutur Donna setelah sampai di lantai atas.
"Mau jumpa keluarga pacar saya kak."
Donna menowel hidung mancung Tari, "No kak-kak ya beb, Just Donna, ok!"
Tari menutup mulutnya dengan tangan kanannya, "Oh iya, maaf lupa."
"It's ok beb, jadi mau ketemu calon mertua nih ceritanya."
Tari menggigit bibir bawahnya dan mengangguk malu.
Tidak terlalu sulit bagi Donna memilihkan baju yang pas untuk Tari. Ketika Donna memberikan satu baju kemeja berwarna biru terang, memiliki aksen garis vertikal berwarna putih.
__ADS_1
Dan juga baju itu terlihat oversize dibadan Tari, Tari langsung menyukainya. Baju itu juga memiliki ikat pinggang yang senada dengan warna baju, namun Tari tidak mau memakai ikat pinggang itu. Untuk bawahannya, Donna memilihkan celana berbahan jeans berwarna putih.
Setelah Tari memakai baju itu, Donna mempunyai ide. Donna mengikatkan ikat pinggang yang tidak mau dipakai Tari tadi menjadi ikat rambut Tari. Setelah berkaca, Tari menyukainya.
Tari siap bertemu calon mertua 😊
Kemudian Tari menuruni anak tangga dengan perlahan, karena Donna memberikan alas kaki berwarna putih yang memiliki tumit 5 Cm, tidak terlalu tinggi, tumitnya juga besar tampak seperti kaca. Tapi bagi Tari yang tidak terbiasa, itu sedikit sulit.
Tapi Tari tetap memakainya karena ia menyukai alas kaki yang dipilihkan Donna untuknya, itu benar-benar sangat minimalis. Tari akan berusaha memakainya.
Fadly yang menunggu Tari sejak tadi, ia masih tertunduk memainkan ponselnya. Sehingga ketika Tari sudah berada dihadapannya ia tidak tahu.
"Mas," panggil Tari pada Fadly.
Fadly mendongak melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Sejenak ia memperhatikan Tari dari atas sampai ke bawah, dan diulangi lagi kembali ke atas.
Lalu ia berdiri berhadapan dengan Tari dan tersenyum, "Kamu cantik."
"Terimakasih, Mas," jawab Tari sambil tersenyum.
"Yuk!" ajak Fadly menggenggam tangan Tari.
Sebelum keluar dari salon itu, Fadly membayar terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
"Aku lihat, kamu tadi tersenyum terus waktu di rias sama tuh banci," ucap Fadly, ketika mobil sudah melaju.
Tari menoleh ke arah Fadly, "Mas, gak boleh gitu ngomongnya. Dia bukan banci, hanya sedikit gemulai."
Fadly tertawa dan mencubit pipi Tari yang menggemaskan bagi Fadly, "Iya deh, pacar aku yang cantik."
"Maaf."
"Namanya Donna."
"Pffftt," Fadly ingin tertawa namun ditahan olehnya, karena mendengar ucapan Tari yang menyebutkan lelaki tinggi dan tegap tadi bernama Donna.
"Kok ketawa sih mas, dia tadi banyak banget cerita, tukar pikiran sama aku tentang make up, fashion. Jadi aku suka, makanya aku banyak senyum sama dia tadi."
"Oh gitu."
"Jadi.. Kamu sudah siap kan bertemu mama dan papa aku?" lanjut Fadly.
"Siap gak siap, ya harus siap dong, Mas."
"Yup! bener banget sayang. Nanti kamu banyak senyum aja ya, soalnya senyum kamu tuh meluluhkan hati semua orang."
"Kamu aja kali yang luluh, gak semua orang kok."
"Soalnya mama aku tuh juga suka lihat orang yang ramah, murah senyum. Apalagi senyumnya manis kaya kamu."
"Ih gombal banget sih kamu, Mas."
"Ya, gak apa-apa dong, ngegombalin pacar sendiri."
"Iya deh, terimakasih atas pujian kamu."
"Sama-sama sayang."
__ADS_1
Hati Tari sangat bahagia, sehingga ia melupakan kesedihannya pagi tadi. Uang kontrakan yang sejak tadi ia pikirkan bagaimana harus membayarnya juga ia lupa.
Setelah beberapa saat berkendara, akhirnya mobil pun memasuki gerbang tinggi mansion milik keluarga Dewantara yang sangat megah.
Tari menoleh kekiri dan kanan, ia takjub, ia terpana dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
Fadly menuruni mobil, kemudian ia berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Tari. Tari masih belum tersadar dari keterpanaannya masih diam saja di dalam mobil.
Fadly menyentuh bahu Tari, "Sayang."
Kemudian Tari pun berlonjak sedikit karena terkejut dengan panggilan Fadly tadi. Tari hanya tersenyum kemudian turun dari mobil.
Fadly dan Tari saling pandang. Kini degup jantung Tari mulai memompa semakin kuat sehingga membuat Tari semakin gugup, ia menjadi takut untuk memasuki mansion besar dihadapannya itu. Namun Tari mencoba tersenyum untuk mengusir rasa takutnya.
Apa yang akan terjadi di dalam sana?, bagaimana respon orang tua Fadly saat bertemu dengannya? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dikepalanya. Karena ia sangat tidak terbiasa di lingkungan seperti ini.
Fadly merasakan perubahan pada Tari, ia tahu apa yang dirasakan Tari saat ini. Ia menggenggam tangan Tari yang terasa dingin. Ia memberikan kekuatan dari genggamannya. Fadly sangat kuat menggenggam tangan Tari, sehingga Tari menoleh kearahnya.
Fadly tersenyum, "Gak apa-apa, mama papa aku baik kok."
Tari hanya membalasnya dengan senyuman.
'Semoga mama papa kamu bisa terima aku ya, mas," Tari berkata di dalam hatinya.
Fadly mengajak Tari masuk ke dalam, 'Bismillah' ucap Tari dalam hatinya.
Seperti yang dikatakan Fadly tadi, Tari terus memasang senyum di wajahnya. Sepertinya ia semakin gugup sekarang.
Ketika sudah masuk ke dalam mansion, hanya para pelayan yang menyambut kedatangan mereka, Fadly mengajak Tari duduk di sofa ruang tamu. Kemudian muncul dari tangga, kakak Fadly, Lea.
Sambil menuruni anak tangga itu, Lea terus menatap Tari. Melihat tatapan tajam dari Lea, rasanya jantung Tari ingin keluar dari tempatnya. Setelah Lea sudah berhadapan dengan Fadly dan Tari. Lea mengulas senyum ramah.
"Hai," sapa Lea pada Tari, yang masih dengan senyum ramahnya.
Tari yang merasa gugup mencoba untuk tersenyum ramah seperti kakak Fadly itu. Tapi, bagaimana wajahnya sekarang ia tidak tahu. Apakah senyum itu terlihat ramah atau malah terlhat kaku, ia sulit mengendalikannya.
Lalu Lea beralih menatap Fadly, "Ini pacar kamu?"
"Iya, kak. Cantik kan?" tanya Fadly pada sang kakak.
"Cantik," Lea mengangguk.
"Tari, ini kak Lea, kakak aku satu-satunya."
Tari mengulurkan tangannya dan disambut oleh Lea. Kemudian mereka berkenalan dan mengucapkan nama mereka masing-masing.
"Mama papa kemana?" tanya Fadly.
"Ada, di kamar. Tadi papa santai di halaman belakang, terus katanya dia ngantuk. Yaudah mama bawa papa ke kamar."
"Yaudah santai aja dulu ya, biar pelayan yang memanggilkan mama sama papa turun," lanjut Lea, Lea mengucapkannya seraya menyentuh bahu Tari, Kemudian Lea berlalu pergi ke dapur.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤