Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
10. Pertemuan Silvi dengan CEO Cuek


__ADS_3

Prapto baru saja selesai berbenah. Kokok ayamnya membuat Prapto sudah bangun pagi-pagi sekali. Ia kemudian melangkah menuju dapur rumah papannya lalu memasak air untuk membuat kopi.


Prapto menyulut rokoknya. Ia tersenyum mendengar kicau burung di tengah udara pagi yang bersih dan segar dari polusi. Bunyi lonceng sepeda terdengar memasuki pagar rumah Prapto. Bunyi lonceng itu lalu diiringi oleh Nimo dengan sapaannya, "Pagi, Bos! Santai sekali pagi-pagi ngopi dan rokok an di teras."


"Kukira kau masih tidur, Nimo. Buatlah kopi ke dapur! Aku mau membuatkanmu tadi, tapi aku takut kopinya keburu dingin sampai kau datang."


"Beres, Bos."


Mereka pun berbincang di teras Prapo yang terdapat empat kursi rotan mengelilingi sebuah meja bulat.


"Mang Kari tadi malam meneleponku, Nimo. Kata Mang Kari, kedua orang tuaku marah padanya karena telah menyembunyikan nomer telepon baruku."


Nimo mengernyitkan kening. "Lalu, apakah Mang Kari dan Bi Asih itu dipecat, Bos?"


"Tidak. Mana mau orang tuaku memecat mereka. Susah mencari asisten rumah tangga yang jujur sepeti mereka, Nimo," jawab Prapto.


"Terus, apa kata Mang Kari? Apa orang tua bos akan mencari sampai ke desa Kejora untuk memaksa Bos pulang dan rujuk dengan feminis yang bernama Silvi itu?"


Prapto menggeleng. "Tidak ada gunanya mereka mencariku sekarang, NImo, karena aku sudah resmi menjadi warga desa Kejora. Aku juga tidak akan mau rujuk dengan Silvi itu."


Nimo kembali mangut-mangut. "Lalu, Bos?"


Giliran Prapto yang mengernyitkan keningnya sekarang. "Lalu apa lagi, NImo? Itu saja kok."


"Kukira ada berita lain, Bos. Aku rasa, andai nanti kita kaya dalam bertani dan beternak ini, sebaiknya kita memperkerjakan Mang Kari dan Bi Asih di sini."


"Aku juga berpikir begitu, Nimo. Semoga saja profesi baru kita ini lancar."


NImo melihat jam di ponselnya. "Sudah pukul enam lewat, Bos. Mari, kita mulai!


Mereka pun menghabiskan kopi dan menyulut sebatang rokok lagi, lalu melangkah menuju gudang perlengkapan untuk memasang sepatu dan mengambil keperluan berkebun. "Kau sudah tahu urutannya 'kan, Bos? Buka rumah ternak dan beri makan mereka dulu, setelah itu baru ke lahan kosong untuk menanam," kata Nimo tertawa.


"Tentu saja."

__ADS_1


Prapto dan Nimo membuka rumah-rumah ternak dan memberi makan. Kemudian mereka memagari petak tanah yang akan ditanami dengan tanaman yang disukai oleh ternak, agar tanaman-tanaman itu nanti tidak dimakan oleh ternak mereka.


Semua tanah yang akan ditanam tidak dibedeng terlebih dahulu, karena dari apa yang diajarkan oleh Pak Dwipangga, pertanian alami berbeda dengan pertanian organik meskipun kedua cara bertani itu sama-sama tidak menggunakan bahan kimia.


Pertanian organik memakai sistem mengolah tanah, walaupun tidak sampai dibajak. Pertanian organik juga masih menggunakan kompos buatan sebagai pupuk. Pertanian organik pun juga membunuh hama dengan racun yang diracik menggunakan bahan-bahan organik.


Sedangkan pertanian alami tidak menganggap hama sebagai musuh dan tidak pula menggunakan kompos buatan. Pertanian alami adalah menanam, lalu membiarkan alam memproses tanaman itu.


Intinya, pertanian alami mencontoh kepada hutan. Hutan tidak diberi kompos buatan dan hama di hutan tidak diracun.


Prapto dan Nimo sepenuhnya setuju dengan gagasan pertanian alami tersebut. Mereka juga tidak mau bila untuk makan atau mendapatkan uang harus membunuh makhluk yang tidak bersalah, kecuali disembelih untuk dikonsumsi.


***


Telah berlangsung sebuah pertemuan yang singkat dan padat antara tiga orang pria tua bernama Subarja, Rohan, Roni, dan seorang pria berusia dua puluh sembilan tahun yang raut wajahnya tanpa ekspresi.


Mereka bertemu untuk membicarakan perjodohan antara Silvi, anak Pak Subarja, dengan pria tampan yang wajahnya tak memiliki ekspresi itu, yang merupakan anak Pak Roni.


Maka kesempatan ini, yaitu perceraian Silvi, tidak disia-siakan oleh pria tersebut. Dalam pertemuan itu mereka pun mengatur perjodohan.


***


"Dia 'kan seorang CEO," kata Rini. Matanya berkilau sekilas memancar kelicikan, "nanti kau bujuk saja CEO Cuek itu untuk membangun bisnis di desa tempat tinggalnya Prapto, agar desa itu tergusur dan Prapto semakin sengsara!


"Lalu Prapto pasti menyesal telah menceraikanmu, karena kalau kalian tidak bercerai, tentu dia tidak akan jatuh miskin sampai harus tinggal di rumah papan dan harus tergusur pula. Ia pun akan memohon-mohon kepadamu nanti."


"Jangan lupa, Girl! Kita ini adalah kaum feminis yang mandiri dan tidak akan tunduk kepada suami. CEO itu nanti pasti akan bertekuk lutut pada cintamu dan tunduk pada semua permintaanmu. 'Kan di novel-novel yang kita baca, CEO itu cuek tapi bucin dan penurut, meskipun awalnya tampak cuek dan tegas," lanjut Rini, sang feminis sejati.


Silvi mulai tersenyum, senyum pertama setelah terus menangis selama tiga hari. Ia akhirnya memutuskan untuk menerima perjodohan yang direncanakan oleh kedua orang tuanya. 'CEO Cuek itu pasti ganteng dan setuju dengan paham feminis-ku,' ujar Silvi dalam hati.


***


"Tumben keluar kamar?" tanya Bu Salini kepada anak perempuannya yang sudah mengurung diri selama tiga hari.

__ADS_1


Bu Salini tengah menunggu suami untuk pergi ke rencana perjodohan anak mereka.


"Silvi mau ikut Mama dan Papa menemui CEO Cuek itu."


Wajah Bu Salini mendadak berseri. Ia langsung bersorak, "Pa! Pa! Ke sinilah, Pa!"


Pak Subarja yang baru saja selesai menyisir rambut itu segera melempar sisirnya sembarangan. Pak Subarja melakukan tindakan pelemparan sisir tersebut bukan karena ia takut istrinya itu berteriak karena jatuh atau melihat kecoa, melainkan karena Pak Subarja tidak ingin mendapat dampratannya dari istrinya.


Bu Salini adalah salah satu dari sekian banyak wanita feminis yang hidup di negara ini. Bila suaminya telat sedikit saja ketika ia panggil, Bu Salini akan mendiamkan suaminya itu sampai tiga jam lebih.


Tiga jam itu akan menjadi neraka bagi Pak Subarja yang sejak awal menikah sudah tidak tegas sebagai suami, sehingga sampai sekarang istrinya tidak menghormati Pak Subarja sama sekali.


Pak Subarja juga tak henti-hentinya memberi bunga dan hadiah kepada istrinya. Semua itu ia lakukan agar sang istri terus bersikap manis kepadanya dan tidak mendiamkannya.


Itulah sebabnya kenapa Bu Salini berhasil menduduki daftar atas dari urutan wanita feminis yang ada di Endonesa, karena ia sudah berhasil membuat suaminya takut dan tunduk dengan sempurna.


"Ada apa, Ma?" tanya Pak Subarja yang heran melihat Silvi sudah keluar kamar.


Bu Salini tersenyum. "Ini, Pa, putri cantik kita mau ikut. Dia akhirnya setuju dijodohkan dengan CEO Cuek itu."


Pak Subarja mengelus kepala putrinya. "Itu baru anak Papa."


Mobil yang membawa Silvi dan kedua orang tuanya pun melaju di bawah merahnya semburat senja yang indah. Semburat senja itu memang indah, dan akan selalu tetap indah.


Meskipun diulang terus di dalam lagu dan syair masa sekarang oleh sekelompok orang yang menamai diri mereka penyuka kopi dan senja, yang membuat para penyair gaya 45 jadi berpikir dua kali untuk memasukkan kata 'senja' dalam syair mereka, semburat senja tetap saja lah indah.


Mereka pun sampai di sebuah restoran mewah yang tak akan sanggup dikunjungi oleh Prapto yang sekarang hanya tinggal di sebuah rumah papan. Berdebar hati Silvi memikirkan melihat calon suaminya itu. Ia memang telah melihatnya di foto, namun foto jaman sekarang sering kali berbeda dengan yang aslinya, bukan?


Pak Subarja, Bu Salini, dan Silvi tiba di sebuah meja dimana sepasang suami istri dan seorang anak mereka telah duduk menunggu. Kedua orang tua mereka bersalaman lalu duduk, hanya anak merekalah yang masih berdiri sambil saling menatap dengan hati berdebar.


"Tristan," kata pria tampan yang sedang bersalaman dengan Silvi.


"Silvi."

__ADS_1


__ADS_2