Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
71. Bola Tanah


__ADS_3

Dari sungai desa Kejora tampak matahari hampir tenggelam seluruhnya di balik perbukitan. Cahayanya semakin temaram, namun cahaya keceriaan dalam jiwa tiga orang bocah yang duduk di tepi sungai itu begitu terang, dan agaknya tak akan pernah redup karena ketiga bocah tersebut selalu bahagia.


"Indah, ya ... Aku tidak pernah bosan melihat matahari terbenam," kata Lapen, sambil meriak-riakkan air sungai dengan kedua kakinya. Ia, Taro, dan juga Lennon kini tengah duduk di tepi sungai.


"Dan besok matahari itu akan muncul lagi. Kata ibuku, kalau sehari saja matahari tidak bersinar, akan terjadi bencana besar di bumi ini." Lennon yang bicara. "Lalu ayahku menyambungnya. Katanya, meski matahari sampai sekarang selalu bersinar, masih saja banyak orang yang tidak bersyukur tentang itu."


Taro tertawa. "Omonganmu seperti kakek-kakek di desa kita saja, Lennon," katanya. Ia lalu melihat jauh ke arah matahari yang akan terbenam sepenuhnya. "Tapi memang benar, tak semua orang mau bersyukur tentang sinar matahari. Ayahku bilang, kebanyakan orang-orang di jaman modernc tidak mau menyisihkan waktu mereka untuk bersyukur.


"Mereka menyibukkan diri mengejar karier dan uang. Lalu, ketika karier dan uang itu mereka dapatkan, jiwa mereka tetap hampa. Mereka jauh dari bahagia."


Sekarang Lapen yang tertawa. "Lihat, kalian berdua sekarang sama-sama bicara seperti kakek-kakek." Ia lalu melambaikan tangannya pada matahari yang kini sudah sepenuhnya terbenam, diikuti oleh Taro dan juga Lennon. "Nah, Tuan Matahari sudah tidur, mari kita pulang!" ajak Lapen.


Lapen, Lennon, dan Taro kemudian berdiri dan melihat sejenak ke bagian sungai tempat mereka tadi melepaskan lima ekor ikan hias. Ketika mereka hendak melangkah, terdengar suara tangisan dari arah pintu hutan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ketiga sahabat itu saling pandang.


"Kalian dengar?" tanya Lapen pada kedua sahabatnya. Lennon dan Taro mengangguk pelan.


"Ayo, kita cepat pulang!" ajak Lennon dengan nada takut.


"Benar. Ayo, Lapen, hari sudah hampir malam," sambung Taro.


Lapen tersenyum lebar lalu membesarkan matanya pada Taro dan Lennon. "Kalian takut, kan?"


Taro dan Lennon menggeleng. Di depan mereka, Lapen telah melangkah ke arah pintu hutan sambil berkata, "Palingan itu suara binatang yang sedang terluka. Lagi pula, kalaupun itu suara hantu, kenapa tidak kita tolong saja? Hantu itu ‘lan menangis, pasti dia terluka."


Lennon dan Taro saling berpandangan. Keduanya kemudian mengangguk dan mulai mengangkat kaki. Tapi, belum lagi langkah yang mereka angkat itu diinjakkan, suara tangisan tadi terdengar lagi dan kali ini semakin keras.


Wajah Taro dan Lennon memucat. Mereka kembali diam mematung melihat Lapen yang sudah hampir tiba di pintu hutan.


"Ayo lah! Penakut sekali kalian," kata Lapen, ketika ia menoleh ke belakang namun kedua temannya ternyata masih berdiri. Akhirnya, setelah kembali saling pandang, Lennon dan Taro mengikuti Lapen.


Mereka sampai di pintu hutan, dan suara tangisan itu terdengar semakin dekat. Lapen, Taro, dan Lennon sama-sama melihat ke langit yang mulai tampak gelap untuk memperkirakan jam pulang mereka. Mereka tidak ingin membuat orang tua dan tetangganya khawatir.


"Di sana!" kata Lapen, sambil menujuk ke sebuah pohon kecil yang tumbang tak jauh dari pintu hutan. Ia kemudian mendekat. Kedua sahabatnya berdiri tak jauh di belakang. Lapen membungkukkan badannya dan menyipitkan mata untuk memperhatikan bagian tengah pohon kecil tersebut.


"Oi, Taro, Lennon, cepat ke sini. Musang ini kakinya terhimpit pohon!" teriak Lapen. Ia lalu mengusap kepala musang tersebut.


Lennon dan Taro menghembuskan nafas lega. Mereka segera menghampiri Lapen dan langsung mengangkat pohon yang mengimpit kaki musang tersebut. Setelah pohon itu terangkat dan dipindahkan oleh kedua sahabatnya, Lapen membantu musang itu berdiri.


"Coba lepaskan, Lapen," kata Taro. "Aku rasa dia akan bisa berjalan karena hanya satu kakinya yang luka.”


Lapen melepaskan tangannya. Untuk beberapa saat musang itu tampak mencoba menyeimbangkan diri dengan berdiri tiga kaki. Kari kiri depannya diangkat karena terluka. Ia lalu melihat ke arah Taro, Lapen, dan Lennon.


"Sepertinya musang itu mengucapkan terima kasih," kata Taro. Ketiga sahabat itu lalu tersenyum dan melambaikan tangan mereka. Musang itu kemudian berbalik dan berlari dengan tiga kaki ke dalam hutan.


"Cepat sembuh!" sorak Lapen, Taro dan Lennon, serentak.


"Hampir gelap!" seru Lennon. "Ayo, balap!" ia langsung memutar badan dan berlari.

__ADS_1


"Curang kau, Lennon!"


***


Pagi itu, Prapto, Nimo, dan Tri telah bersiap untuk membantu Pak Rahul berkebun. Mereka duduk merokok di tepi parit sambil menunggu Pak Tua itu datang.


"Banyak sekali kicau burung pagi di sini," ujar Nimo.


Tri menoleh ke arah barisan pohon oak. Lalu katanya, "Aku pernah membaca ada beberapa burung yang menyukai pohon oak, lalu membuat sarang di sana.”


Prapto dan Nimo mengangguk-angguk paham.


Pak Rahul datang membawa empat buah keranjang lalu memberikan masing-masing keranjang pada Prapto, Tri, dan Nimo. "Kita akan panen sayuran dan beberapa tanaman. Setelah itu kita makan," katanya, tersenyum.


Selama membantu Pak Rahul panen, Prapto dan Nimo terus memperhatikan setiap detail kebun tersebut dan cara pak tua itu memanen tanamannya. Selain dari pengelompokan tanaman, Prapto dan Nimo tidak melihat hal lain yang berbeda dari cara bertani Pak Rahul.


"Bagaimana ini, Bos?" tanya Nimo dengan suara yang dipelankan. Ia tengah memanen sayuran di samping Prapto. “Mungkin Pak Rahul memang tidak akan mewariskan ilmu tersebut.


"Aku juga berpikir begitu, Nimo. Lihatlah," kata Prapto sambil memperlihatkan sayur kangkung yang baru saja ia panen. "Aku pikir sayuran kita di desa Kejora lah yang paling bagus, tapi ternyata sayur di sini lebih segar. Keren."


“Iya, Bos. Tanamannya Pak Rahul lebih subur bila dibandingkan degan tanaman kita.”


***


Sudah tiga hari Prapto, Tri, dan Nimo tinggal di kawasan rumah Pak Rahul.


Demikian juga halnya dengan Pak Rahul. Meskipun ia begitu baik pada Tri, Nimo, dan Prapto, tapi ia tidak pernah membahas tentang pertanian alami sedikit pun.


Malam itu, Prapto, Nimo, dan Tri duduk di tepi parit sambil merokok dan minum kopi. Mereka diam dalam waktu yang cukup lama sambil terus menatapi barisan pohon oak nan dilatari langit malam.


"Sepertinya kita akan pulang membawa angin, Bos. Semoga saja kita tidak masuk angin selama perjalanan pulang nanti," kata Nimo tanpa menoleh. Ia lalu meneguk kopinya.


"Besok pagi kita harus makan banyak sebelum pulang, Nimo, supaya selain membawa angin kita juga akan membawa makanan dalam perut," sahut Prapto, tertawa.


Tri yang duduk di samping kanan Prapto mengernyitkan wajahnya dan menoleh. "Kalian masih bisa ceria, ya, padahal Pak Rahul tidak mau mewariskan ilmunya meskipun kalian sudah datang jauh-jauh dari Endonesa. Tanya lagi saja besok pagi, mana tahu Pak Rahul berkenan mewariskannya."


Prapto tersenyum. "Tidak ada alasan murung karena itu, Pak Tri," katanya. "Tidak usah, Pak. Kalau Pak Rahul berubah pikiran dia pasti akan mengatakannya pada kita."


"Sebenarnya aku tak pernah keberatan untuk mewariskan ilmu pertanian alami itu pada kalian, Prapto, Nimo, Tri. Tapi aku harus menguji tekad belajar kalian dulu dan melihat bagaimana pola pikir kalian. Ilmu pertanian alami tidak akan berhasil jika diterapkan oleh orang yang pola pikirnya salah."


Prapto, Nimo, dan Tri kaget lalu menoleh ke belakang. Mereka tidak salah dengar, suara barusan memang suara Pak Rahul yang kini berdiri di depan mereka sambil tersenyum. Senyum damai yang semakin menambah raut-raut kebijaksanaan di wajahnya. Pak Tua itu lalu duduk di belakang mereka.


"Menghadaplah ke sini," kata Pak Rahul. "Tri, kau juga bisa menerapkan ilmu pertanian alami ini meskipun tinggal di kota. Kau bisa menanam dalam pot, lahan kotak, dan lain sebagainya."


"Iya, Pak. Setelah ikut berkebun dengan Bapak dan kedua sahabatku ini, aku telah memutuskan untuk berkebun di rumah," jawab Tri, yang kini duduknya sudah menghadap Pak Rahul.


Pak Rahul mengangguk. "Walaupun hasilnya tidak cukup untuk dijual, yang jelas dengan berkebun sendiri berarti kau memastikan bahwa makanan di rumahmu adalah makanan yang sehat dan bergizi."

__ADS_1


Prapto dan Nimo masih menatap Pak Rahul dengan wajah tak percaya. Pak Rahul lalu tersenyum pada mereka dan berkata, "Perhatikan baik-baik. Aku akan membahasnya."


Pak Rahul menyulut cangklongnya. Setelah menghembuskan asap, ia mulai menjelaskan. "Salah satu arti dari pertanian alami itu adalah, kita menumbuhkan tanaman dengan mengikuti bagaimana cara alam menumbuhkan tanaman. Ada yang kurang dari cara kalian menjalankan pertanian alami. Di kebun kalian, berapa kira-kira bibit yang tidak tumbuh sampai panen?"


"Hampir lima puluh persen, Pak," jawab Nimo.


Pak Rahul mengangguk. "Jika delapan puluh persen dari bibit-bibit tersebut tumbuh hingga bisa dipanen, maka hasil panen kalian akan jauh lebih dari cukup untuk dipasok ke perusahaan-perusahaan itu. Coba katakan padaku, bagaimana caranya bibit tanaman bisa menyebar dan tumbuh di hutan-hutan tanpa ada orang yang menanamnya?"


Prapto, Tri, dan Nimo tertegun. Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab.


Pak Rahul kembali tersenyum. "Bibit-bibit itu disebar oleh hewan-hewan, terutama burung. Burung adalah penyebar bibit paling efektif dibandingkan hewan lainnya. Mereka menyebar bibit melalui makanan dan buah-buahan yang baru saja mereka makan. Burung memakan daging buah yang ada di pohon lalu membuang jauh isinya dari pohon tersebut.


"Dan tak hanya itu saja cara burung menyebar bibit. Ada cara kreatif lainnya, yaitu melalui benih yang melekat di kaki mereka. Burung sangat mungkin membawa sejumlah besar bibit tanaman yang dibaluri dengan lumpur yang menempel pada kaki mereka. Burung adalah petani bersayap."


Prapto, Tri, dan Nimo tercengang sekaligus kagum. Pak Rahul melanjutkan, "Itulah sebabnya bibit yang kalian tanam hampir lima puluh persen mati. Pertanian alami berarti mengikuti cara alam, bukan melawan cara alam."


"Kalau begitu, bagaimana caranya agar bibit-bibit tanaman kami disebar oleh burung, Pak Rahul?" tanya Prapto.


Pak Rahul tertawa. "Bukan begitu kesimpulannya, Prapto. Tapi kita harus menanam tanaman dengan cara yang sama seperti cara burung menyebar bibit tanaman." Pak Rahul kemudian meraih kantong kemejanya. Di telapak tangannya kini ada sebuah bola tanah. "Petani di negara barat menamai bola tanah ini seed ball," katanya.


Pak Rahul kemudian meletakkan bola tanah tersebut di atas rumput dan menyenternya dengan ponsel. "Bola tanah ini berisi bibit-bibit tanaman. Aku mencampur bibit-bibit tanaman dengan tanah liat, memberinya sedikit air, lalu membentuknya menjadi bola tanah seperti ini.


"Bola-bola tanah itulah yang nanti aku tebarkan di kebunku. Bola tanah ini akan melindungi bibit dari dimakan serangga atau hewan lainnya. Dengan menerapkan cara ini, aku yakin hasil panen kalian akan meningkat ke angka delapan puluh persen.


Prapto, Nimo, dan Tri kembali tercengang. Mereka lalu mengangguk-angguk.


"Kenapa tanaman Bapak tidak dikelompokkan per jenis tanaman, Pak Rahul?" tanya Prapto.


"Lihatlah tanaman-tanaman yang tumbuh di hutan, Prapto, tak ada yang tumbuhnya berkelompok. Semakin beraneka ragam tanaman yang tumbuh berdekatan, maka akan semakin banyak pula jenis mikro organisme penyubur tanah yang datang ke tempat itu, dan tanah akan menjadi semakin subur. Mikro organisme yang suka akar tomat belum tentu akan suka akar mentimun,” terang Pak Rahul.


Prapto, Nimo, dan Tri berdiri lalu mengucapkan terima kasih pada Pak Rahul.


Keesokan paginya, mereka makan terlebih dahulu lalu pamit. Pak Rahul memberi oleh-oleh berupa buah-buahan hasil kebunnya pada Prapto, Tri, dan Nimo.


Prapto dan Nimo diantar ke bandara oleh Tri. Mereka bertukar alamat dan nomer ponsel. "Sampai jumpa lagi, Pak Tri. Jangan malas mengurus surat izin mengemudimu," kata Nimo, tertawa.


Prapto tersenyum. "Kalau pulang ke Endonesa berkunjunglah ke desa kami, Pak Tri,” katanya.


Tri tersenyum. "Pasti. Sampai jumpa lagi, Prapto, Nimo. Jika kalian ke India, hubungi aku."


Mereka lalu saling melambaikan tangan.


***


Setelah tiba di Endonesa, Prapto dan Nimo menginap di penginapan dekat bandara lalu besok paginya pulang ke desa Kejora. Mereka tiba pada siang hari.


Ketika Prapto hendak memasuki pintu pagar rumahnya, ia tertegun.

__ADS_1


__ADS_2