Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
68. Polisi India


__ADS_3

Prapto dan Nimo merasa menjadi orang paling pendek di bandar udara umum yang terletak di Aurangabad, Maharashtra, India. Mereka baru saja turun dari pesawat dan sekarang tengah mencari-cari seseorang yang wajahnya terpampang di ponsel Prapto.


Nimo melihat ke sekitar dengan kacamata hitamnya yang ia beli ketika baru tiba di Brazil. "Orang-orang di sini tinggi sekali, Bos, banyak yang berkumis juga," kata Nimo.


Prapto tertawa. "Banyak juga, kok, yang tidak berkumis. Apalagi anak-anak, tak satupun di antara mereka yang kulihat berkumis, Nimo."


"Aku dulu ketika lahir langsung punya kumis, Bos," sahut Nimo, dengan nada datar.


Prapto menoleh, "Eh? kau serius, Nimo?"


Nimo tertawa.


"Apakah kalian ini Tuan Prapto dan Tuan Nimo?"


Prapto dan Nimo menoleh ke tempat suara yang menanyai mereka dengan bahasa Inggris barusan berasal. Di sana berdiri seorang pria berusia paruh baya yang tingginya tak jauh beda dengan mereka berdua dan mengenakan penutup kepala khas India. Pria itu kemudian tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


"Namaku Tri. Aku diminta Ziko untuk menemani kalian ke tempat terpencil yang ingin kalian tuju. Mari, kita ke mobil!" ajak pria yang bernama Tri tersebut. Ia melangkah mendahului Prapto dan Nimo.


Agak jauh di belakang Tri, Prapto dan Nimo berjalan sambil berbisik-bisik. "Menurutmu dia orang India, Bos?" tanya Nimo.


"Aku kurang yakin, Nimo. Tapi nama Tri kulihat ada dipakai di film-film India."


Nimo mengangguk. "Tapi wajahnya tidak seperti orang India, Bos."


"Silakan!" kata Tri. Ia menunjuk ke mobil sedan berwarna biru.


Prapto mengangguk lalu membuka pintu mobil. Ia duduk di bangku depan dan Nimo duduk di bangku belakang. Tri membetulkan spion depan mobilnya sejenak, melepas rem tangan, dan mobil sedan biru itu kemudian melaju di jalanan Maharashtra.


Prapto dan Nimo melihat gedung-gedung tinggi di sepanjang jalan. Tak jauh beda dengan Jakarta, tempat yang kini mereka lewati itu juga padat bangunan dan ramai manusianya. Entahlah di sini juga ada macet atau tidak, pikir Prapto.


Sejak mobil mulai melaju tadi, Prapto dan Nimo sama-sama merasa bahwa mereka terus dilihat oleh Tri. Prapto dilihatnya dengan sedikit menoleh, sementara Nimo dilihatnya melalui spion depan. Mereka malas membuka pembicaraan, karena Tri sendiri sejak tadi hanya diam sambil sesekali bersiul kecil menyanyikan lagu Kabhi Khushi Kabhie Gham.


Kini mobil mereka melewati jalan lurus yang panjang, dan Tri akhirnya bersuara. "Kalian berdua ingin belajar ilmu pertanian di tempat itu, Prapto, Nimo?" tanyanya dalam bahasa Endonesa.


"Eh?" Prapto dan Nimo berseru kaget.

__ADS_1


Tri menoleh ke samping lalu tersenyum. "Aku orang Endonesa juga, tepatnya di Solo."


"Kenapa tidak bilang dari tadi, Pak?" tanya Prapto.


"Supaya lebih surprise saja, Prapto," jawab Tri, tertawa.


Prapto menoleh ke belakang, Nimo tampak mengernyitkan wajahnya. Mereka tidak tertawa, karena kata-kata Tri barusan memang tidaklah terdengar lucu.


Tahu bahwa leluconnya tidak menyebabkan tawa, Tri mengakalinya dengan bertanya, "Tempatnya tak begitu jauh. Tapi, apa kalian sudah membuat janji bertemu dengan Pak Tua itu?"


"Belum, Pak. Pak Ziko hanya mengatakan agar kami mencari Bapak begitu tiba di bandara," jawab Prapto.


Tri mengangguk-angguk. "Sudah kuduga," katanya. "Agaknya memang tidak akan bisa membuat janji bertemu dengannya. Mungkin kalian sudah mendengarnya dari Ziko bahwa Pak Tua itu adalah orang yang aneh. Aku sudah mengantar berpuluh-puluh pak tani yang ingin belajar ke sana, tapi mereka ditolak semua."


"Sesulit itu, Pak Tri?" tanya Nimo dengan nada heran.


Tri mengangguk. "Begitulah. Tapi, jika kalian berhasil mendapatkan ilmu bertani dan beternak dari Pak Tua itu, aku jamin hasil panen kalian akan meningkat, dan waktu panennya juga akan jadi lebih cepat."


"Pak!" Nimo berseru.


Terdengar suara peluit yang ditiup dengan keras dari arah belakang. Mereka bertiga menoleh. Di persimpangan yang baru saja mereka lewati, tampak seorang polisi sudah naik ke atas motornya.


"Sial," umpat Tri, tertawa.


Prapto dan Nimo saling pandang karena mereka heran melihat Tri yang malah tertawa dikejar polisi lalu lintas. Mereka kembali melihat ke belakang, polisi bermotor tersebut tampak semakin dekat. Polisi tersebut mengenakan helm berwarna putih dan kacamata hitam, dan di bawah kacamata hitamnya tersebut, kumis tebalnya bergerak-gerak ditiup angin.


Tri lalu membelokkan mobilnya ke kiri ketika mereka bertemu pertigaan. "Tenang saja, Prapto, Nimo, aku tahu jalan yang memungkinkan kita berhasil kabur," katanya.


"Pak Polisi berkumis tebal itu semakin dekat, Pak Tri," kata Nimo yang dari tadi terus melihat ke belakang.


Tri memperlambat laju mobilnya lalu berbelok dengan cepat ke kanan, memasuki jalan kecil yang diapit oleh gedung-gedung tinggi di kiri kanannya.


Nimo melihat motor polisi tersebut melambat karena ada kendaraan yang melintas di depannya. Dan setelah polisi itu kembali terlihat, saat itu pula sirine motornya berbunyi. Tri melihat kaca spion kanannya, polisi itu sudah kembali memperpendek jarak dengan mereka.


"Apa kita bisa kabur dengan lancar, Pak Tri?" tanya Prapto.

__ADS_1


"Aku rasa bisa," kata Tri, menyeringai.


Prapto mengernyitkan keningnya. Instingnya mengatakan bahwa seringai Tri barusan adalah pertanda bahwa pria itu akan melakukan sesuatu yang mengejutkan.


"Pegang bangku kalian kuat-kuat!" seru Tri. Tak lama setelah itu, ia menarik rem tangan dan membanting strir. Sedan biru itu berputar seratus delapan puluh derajat lau berhenti.


Prapto bisa melihat betapa Tri kini menatap tajam motor polisi yang tengah melaju ke arah mereka. Setelah dua buah mobil lewat di samping, yang masing-masing pengemudinya menatap dengan wajah heran, Tri menyeringai lalu menginjak pedal gasnya.


"Apa-apaan, Pak Tri?" teriak Prapto.


"Jangan becanda, Pak! Empat bulan lagi aku akan menikah, padi sudah kutanam." Nimo menutup mata dengan kedua tangannya sambil berdoa.


Prapto menatap Tri dengan wajah cemas. Baik Tri maupun pak polisi berkumis tebal, tampaknya sama-sama tak memiliki keraguan sedikit pun meski mereka akan bertabrakan jika salah satu tidak menghindar.  Tatapan mata Tri semakin tajam, ia bisa melihat sudut kumis sang polisi India naik.


Sedikit lagi kedua kendaraan itu akan bertabrakan, polisi India cepat-cepat menghindar ke samping dan menjatuhkan dirinya dengan cara yang aman.


Prapto dan Nimo langsung menghela napas lega. Di belakang mereka, Nimo melihat sang polisi baru saja berdiri, namun Tri kini sudah membelokkan mobil ke jalan yang lebih kecil dan banyak simpangnya.


"Maafkan aku, Prapto, Nimo," kata Tri. "Surat izin berkendaraku mati. Jika tadi kita tertangkap, aku harus membayar denda dalam jumlah yang besar."


"Tidak apa-apa, Pak," kata Prapto. Suaranya masih bergetar karena cemas tadi.


"Boleh merokok di mobilmu, Pak?" tanya Nimo. Suaranya juga masih bergetar.


"Boleh, Nimo." Tri kemudian menekan tombol untuk menurunkan kaca mobilnya.


***


Mobil sedan biru yang dikendarai Tri kini telah memasuki jalan tanah yang pada kiri kanannya tumbuh banyak pohon oak. Prapto melihat ke luar kaca mobil dan tersenyum melihat dua ekor tupai yang tengah berlarian pada cabang salah satu pohon oak. Ia baru mengalihkan pandangannya dari pohon-pohon tersebut setelah Tri menarik rem tangan mobilnya.


Mereka bertiga turun dari mobil dan kini berada di atas hamparan rumput hijau nan luas. Lalu pandangan mereka beralih ke sebuah rumah kayu kecil berlatarkan barisan pohon oak yang terlihat seperti lorong-lorong panjang.


Angin bertiup. Daun-daun pohon yang telah menguning melayang turun. Tri, Prapto, dan Nimo bergumam kagum meresapi pemandangan daun berguguran di tengah sepoinya angin.


Mereka baru menoleh, ketika dari belakang rumah papan muncul seorang pria tua membawa keranjang buah yang terbuat dari rotan. Rambut sepunggung dan jenggot panjangnya yang sudah putih berkibar ditiup angin. Pria tua itu menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Prapto, Tri, dan Nimo.

__ADS_1


__ADS_2