
Pak Oscar lalu tersenyum. "Nak Nimo tidak pernah cerita soal itu padamu, Nak Prapto?" tanyanya.
Nimo nyengir, ketika Pak Oscar, Pak Ino, dan Pak Dwipangga melihat ke arahnya secara bersamaan. "Aku lupa, Pak Kepala Desa."
Pak Oscar menggelengkan kepalanya. "Setiap tahun ada dua festival di desa Kejora, Nak Prapto. Festival yang pertama diadakan pada bulan Februari, yaitu Festival Musim Gugur. Dan festival yang kedua, yaitu festival musim semi, diadakan pada bulan Juli.
"Masing-masing festival memiliki acara inti yang berbeda, Nak Prapto. Dan sebelum acara inti itu dimulai, akan ada tarian alam desa yang akan dibawakan oleh anak-anak desa Kejora. Di festival desa selalu banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjualan makanan. Dan Pak Kuncoro, Si Pedagang keliling juga selalu hadir saat ada festival.
“Dalam festival musim gugur, setiap keluarga akan membawa makanan yang mereka masak di rumah untuk nanti diberikan pada keluarga lain. Setiap keluarga akan bertukar makanan. Ini adalah acaranya ibu-ibu dan anak-anak.
"Lalu pada Festival Musim Semi, setiap keluarga akan bertukar buah-buahan atau hasil ngebun yang lain. Yang ini juga acaranya ibu-ibu dan anak-anak. Maka dari itu, berdasarkan dari pembicaraan kita kemarin, sepertinya desa Kejora harus punya satu festival lagi, yang dimana bapak-bapak dan pria seusiamu bisa ikut serta."
"Benar juga," sahut Pak Dwipangga, tertawa. "Festival apa gerangan, Pak Kades?"
Pak Oscar menghembuskan asap cangklongnya. "Festival memancing di sungai, Pak Dwipangga. Pada bulan Oktober, bulan depan. Nah, mari, kita umumkan pada warga!" ajaknya.
"Sekarang, Pak Kepala Desa?" tanya Nimo sedikit kaget.
"Iya, Nak Nimo, mumpung sekarang sebagian besar warga berkumpul di balai desa ini."
Pak Oscar segera bangkit lalu melangkah ke depan balai desa untuk menyampaikan tentang festival baru desa Kejora, yaitu festival memancing di sungai, yang akan diadakan pada bulan Oktober nanti.
***
Pagi ini adalah pagi pertama yang cerah di musim hujan kali ini. Langit tampak cerah meskipun tadi malam hujan turun dengan deras. Setelah semua kegiatan mereka di kebun dan di rumah nanti selesai, hampir semua warga desa Kejora akan pergi ke balai desa untuk melihat acara peresmian kedua bangunan penampung.
Di Jakarta, di kediaman mereka masing-masing, Pak Gumiro, Timo, Pak Handoko, dan Pak Reynaldi Hijau, baru saja selesai berbenah. Mereka kini tengah bersiap-siap pergi ke desa Kejora untuk menghadiri acara peresmian dua bangunan penampung. Mereka akan membawa istri masing-masing, kecuali Timo, karena ia adalah seorang jomblo.
***
__ADS_1
"Akhirnya, Ino. Kedua bangunan ini selesai juga," kata Pak Oscar dengan Haru.
Pak Ino tersenyum mengangguk. “Iya, Pak Kades.”
Nimo datang menghampiri Pak Oscar dan mengatakan bahwa pimpinan dari perusahaan yang bekerja sama dengan desa Kejora sudah tiba. Pak Kepala Desa itu lalu bangkit untuk menyambut mereka.
Setelah bercakap-cakap sebentar sambil menyantap hidangan, Pak Oscar maju ke hadapan para hadirin. Ia berdiri menghadap ke balai desa.
Pak Oscar berbalik sejenak untuk memandangi kedua bangunan penampung. Setelah kembali menghadap pada para hadirin, Pak Oscar berkata, "Pertama-tama, marilah kita bersyukur kepada Tuhan. Lalu selanjutnya, saya mengucapkan terima kasih untuk semua warga desa Kejora yang telah bergotong royong sehingga kedua bangunan penampung ini akhirnya bisa selesai.
"Terima kasih untuk pria desa Kejora. Terima kasih untuk wanita desa Kejora. Dan terima kasih untuk anak-anak desa Kejora yang juga ikut membantu. Kemudian, saya ucapkan selamat datang kepada pimpinan perusahaan dan keluarga mereka yang hadir. Saya akan memperkenalkan Bapak dan Ibu sekalian kepada warga desa Kejora."
Pak Oscar menyulut cangklongnya terlebih dahulu. Ia lalu melanjutkan, "Para warga desa Kejora sudah mengenal Pak Gumiro dan Timo, maka saya akan memperkenalkan istrinya, yaitu Bu Tari. Bapak yang mengenakan setelan jas hitam adalah Pak Handoko, panggilannya 'Pak Hann', 'n' nya dua.
"Beliau adalah pemilik restoran mewah Dawn, yang akan menyediakan makanan dari hasil ngebun alami dari desa Kejora di rumah makan mewahnya. Istri Pak Handoko bernama Bu Sinta. Lalu, Bapak yang mengenakan setelan jas hijau, adalah pimpinan dari perusahaan Indah Hijau. Beliau bernama Reynaldi Hijau dan istrinya adalah Bu Titin."
Semua yang diperkenalkan oleh Pak Oscar berdiri lalu mengangguk tersenyum pada warga desa Kejora.
"Apanya, Lennon?" Lapen balik bertanya setelah ia menoleh pada Lennon.
"Nama perusahaannya Indah Hijau, jas-nya warna hijau, lalu nama kakek itu Reynaldi Hijau," jawab Lennon.
"Bisa jadi itu memang nama aslinya, Lennon." Taro yang menjawab.
"Ya, bisa saja," timpal Lapen. "Oh iya, nanti akan ada festival memancing. Sudah pasti kita yang akan dapat ikan paling banyak. Rumahku dan rumah kakek akan penuh dengan ikan nanti."
"Kabarnya ada beberapa jenis ikan baru yang bermigrasi ke sungai desa kita," sahut Taro. "Kita belum tahu apa umpan yang cocok untuk ikan-ikan baru itu."
Lapen dan Lennon mengangguk.
__ADS_1
"Aku juga mendengar soal itu," kata Lennon. "Kata ayahku, mungkin itu adalah ikan-ikan yang bermigrasi dari kawasan kota, atau desa lain yang sungainya sudah tercemar."
"Hei, pemotongan pita akan dimulai!" seru Lapen. "Ayo, kita lihat! Setelah itu kita akan makan enak."
Semua warga kini berdiri di depan kedua bangunan penampung. Pak Oscar, Pak Gumiro, Pak Handoko, dan Pak Reynaldi Hijau tampak tengah memegang sebuah gunting besar secara bersamaan.
Tepuk tangan terdengar begitu pita hijau telah digunting. Keempat pimpinan yang bekerja sama itu saling bersalaman.
"Akhirnya, Bos," kata Nimo pada Prapto.
Prapto menepuk bahu sahabatnya. "Syukurlah, Nimo," sahutnya, tersenyum.
Bu Intan, Arini, Bu Harni, dan Pinaka, yang tidak jauh berdiri dari Nimo dan Prapto juga mengucapkan syukur atas diresmikannya kedua bangunan penampung.
"Kabarnya, nama belakang dari kakek dan ayahnya Pak Reynaldi hijau itu juga 'Hijau', Bu Intan," ucap Bu Harni.
Bu Intan mengernyitkan keningnya. "Tahu dari mana, Bu Harni? Bu Harni kenal dengan istrinya?"
Bu Harni tersenyum. "Bukan, Bu Intan. Aku barusan gugling mencari tahu profil mereka masing-masing beserta profil istrinya," jawabnya.
Bu Intan menggelengkan kepalanya. "Astaga, Bu Harni. Bu Harni gerak cepat sekali mencari info."
Bu Harni tertawa. "Ya, kan ada bagusnya, Bu Intan. Jika para wanita desa Kejora ingin kabar berita terbaru, tinggal tanyakan saja padaku. Baru-baru ini juga ada berita tentang pasangan artis dangdut di negara tetangga yang akan bercerai.
"Si Riski Balir dan Lesti Kanjara." Bu Harni lalu menggelengkan kepalanya. "Petir perceraian menyambar di mana-mana," lirihnya.
***
Setelah acara peresmian kedua bangunan penampung itu selesai, setelah orang-orang yang hadir dalam acara tersebut telah pulang ke kediaman mereka masing-masing, hujan turun dengan deras. Seakan-akan cuaca tadi sengaja cerah agar acara peresmian bangunan ktu berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Prapto duduk di pintu rumah papannya sambil merokok melihat hujan. Ia tengah memikirkan kapan waktu yang pas untuk berkunjung ke rumah Pinaka dan berkenalan dengan kedua orang tuanya.